Abstrak
Fenomena underreporting diare di Indonesia menyebabkan stakeholder kekurangan informasi untuk pengembangan kebijakan dan program. Surveilans penyakit bawaan pangan perlu dilengkapi dengan surveilans faktor Risiko. Sistem informasi dapat mempermudah pencatatan, pelaporan, dan analisis data untuk menunjang pengembangan program penyehatan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Sistem Informasi Inspeksi Kesehatan Lingkungan yang sudah ada di Kota Depok agar dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk pemantauan patogen pencemar pangan. Metodologi yang digunakan adalah riset operasional untuk mengembangkan sistem informasi menggunakan metode prototyping. Tahapan pengembangan sistem pada penelitian ini terdiri dari analisis kebutuhan, perancangan dan pengembangan prototipe sistem informasi, uji coba oleh pengguna, dan perbaikan prototipe. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam pengumpulan data yang digunakan pada tahap analisis kebutuhan. Penentuan informan pada penelitian ini menggunakan purposive sampling, dengan kriteria tenaga sanitasi lingkungan Puskesmas dan Tim Kerja Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Depok yang masih atau pernah bertugas pada bidang terkait minimal 1 tahun terakhir, pernah menggunakan sistem informasi inspeksi kesehatan lingkungan minimal 1 bulan terakhir, dan terlibat dalam proses administrasi pengawasan keamanan pangan di Kota Depok. Sistem informasi dikembangkan untuk memanfaatkan data yang dikumpulkan oleh TSL pada kegiatan inspeksi kesehatan lingkungan. Sistem informasi dapat mengolah data dan menyajikan hasilnya dalam bentuk grafik potensi faktor risiko, grafik sampel pangan tercemar E.coli, dan grafik perbandingan wilayah yang ditemukan cemaran E.coli. Informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program penyehatan lingkungan maupun keamanan pangan.

The phenomenon of underreporting of diarrhea in Indonesia causes stakeholders to lack information for policy and program development. Foodborne disease surveillance needs to be complemented with risk factor surveillance. Information systems can facilitate data recording, reporting, and analysis to support the development of environmental health programs. This study aims to develop the existing Environmental Health Inspection Information System in Depok City to provide the information needed for monitoring food contaminant pathogens. The methodology used is operational research to develop the information system using the prototyping method. The system development stages in this study consist of needs analysis, design and development of an information system prototype, user trials, and prototype improvements. This study uses a qualitative approach in collecting data used in the needs analysis stage. The determination of informants in this study used purposive sampling, with the criteria of environmental sanitation workers from Community Health Centers and Environmental Health Work Teams of the Depok City Health Office who are currently or have worked in related fields for at least the past 1 year, have used the environmental health inspection information system for at least the past 1 month, and are involved in the administrative process of food safety supervision in Depok City. An information system was developed to utilize data collected by TSL during environmental health inspections. The information system can process the data and present the results in the form of graphs of potential risk factors, graphs of E. coli-contaminated food samples, and comparison graphs of areas where E. coli contamination was found. The information generated by this information system is expected to be used in the development of environmental health and food safety programs.