Abstrak
Kabupaten Gunungkidul menunjukkan prevalensi anemia ibu hamil yang relatif tinggi meskipun cakupan program suplementasi zat besi telah mencapai 100%. Kondisi tersebut menunjukkan adanya faktor lain yang memengaruhi kejadian anemia salah satunya kemungkinan faktor sosial-budaya berupa praktik food taboo selama kehamilan. Daerah ini dikenal memiliki budaya dan kepercayaan lokal yang masih kuat, termasuk mengenai larangan mengonsumsi jenis makanan tertentu selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor perilaku food taboo dan hubungannya dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data perilaku food taboo diperoleh melalui wawancara sedangkan data anemia diperoleh dari hasil pemeriksaan antenatal care (ANC). Responden penelitian adalah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan di puskesmas. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode multistage random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku food taboo berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Faktor yang berhubungan dengan perilaku food taboo adalah pengetahuan sebagai faktor predisposisi dan dukungan keluarga sebagai faktor penguat. Hasil analisis multivariat menunjukkan dukungan keluarga merupakan faktor yang paling dominan. Praktik food taboo pada ibu hamil berupa pantangan terhadap beberapa jenis makanan sumber protein hewani berpotensi menurunkan asupan zat gizi sehingga meningkatkan risiko anemia. Dukungan keluarga menyebabkan kecenderungan ibu hamil untuk melakukan perilaku food taboo karena adanya anjuran atau kepercayaan yang dianut keluarga serta keinginan ibu untuk menjaga keharmonisan dan menghindari konflik dalam keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku food taboo berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Pengetahuan dan dukungan keluarga merupakan faktor yang berhubungan dengan perilaku food taboo, dengan dukungan keluarga sebagai faktor yang paling dominan. Oleh karena itu, pencegahan anemia pada ibu hamil tidak hanya melalui intervensi gizi, tetapi juga edukasi yang melibatkan keluarga.

Gunungkidul Regency has a relatively high prevalence of anemia among pregnant women despite achieving 100% coverage of iron supplementation programs. This condition indicates the presence of other factors influencing the occurrence of anemia, one of which may be socio-cultural factors in the form of food taboo practices during pregnancy. The region is known for its strong cultural values and local beliefs, including restrictions on the consumption of certain foods during pregnancy. This study aimed to analyze the factors associated with food taboo behavior and its relationship with anemia among pregnant women in Gunungkidul Regency. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. Data on food taboo behavior were collected through interviews, while anemia data were obtained from antenatal care (ANC) records. The respondents were pregnant women who attended antenatal care services at community health centers (Puskesmas) in Gunungkidul Regency. The samples were selected using a multistage random sampling technique. The results showed that food taboo behavior was significantly associated with anemia among pregnant women. Factors associated with food taboo behavior included knowledge as a predisposing factor and family support as a reinforcing factor. Multivariate analysis revealed that family support was the most dominant factor associated with food taboo behavior. Food taboo practices among pregnant women commonly involved avoiding certain animal-source protein foods, which may reduce nutrient intake and increase the risk of anemia. Family support was found to encourage pregnant women to practice food taboo due to family recommendations or beliefs, as well as the desire to maintain family harmony and avoid conflict within the household. In conclusion, food taboo behavior is associated with anemia among pregnant women. Knowledge and family support are factors associated with food taboo behavior, with family support being the most dominant factor. Therefore, efforts to prevent anemia among pregnant women should not rely solely on nutritional interventions but should also include educational programs that actively involve family members.