Abstrak
Latar Belakang: Kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) merupakan salah satu populasi kunci dengan risiko tinggi terhadap infeksi HIV. Proporsi kasus HIV pada kelompok LSL meningkat dari 25% pada tahun 2023 menjadi 30% pada tahun 2024 di Kota Depok. Identifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian HIV perlu dilakukan sebagai dasar penyusunan program pencegahan yang tepat sasaran. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2023. Sampel penelitian terdiri dari 351 LSL di Kota Depok yang dipilih menggunakan metode Respondent-Driven Sampling (RDS). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, serta multivariat menggunakan regresi Cox constant-time untuk memperoleh adjusted Prevalence Ratio (aPR). Hasil: Prevalensi HIV pada LSL di Kota Depok sebesar 16,3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menghindari pelayanan kesehatan karena stigma/diskriminasi (45,2%), riwayat dibentak (38,1%), riwayat suspek TB (36,8%), riwayat diancam (37,5%), tidak terbiasa membawa kondom (22,9%),  seks dengan pasangan pria tidak tetap (22,6%), pendidikan perguruan tinggi (23,7%), tidak menggunakan kondom (20,1%), dan berkumpul di gym/sauna (19,0%) berhubungan dengan kejadian HIV. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa menghindari pelayanan kesehatan karena stigma/diskriminasi (aPR=3,40; 95% CI:1,85–6,25), seks dengan pasangan pria tidak tetap (aPR=2,10; 95% CI:1,16–3,67), tidak menggunakan kondom (aPR=2,25; 95% CI:1,15–4,42), pendidikan perguruan tinggi (aPR=1,88; 95% CI:1,07–3,31) dan riwayat sirkumsisi (aPR=1,27; 95% CI:0,46 – 3,60) merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian HIV. Kesimpulan: Faktor perilaku seksual dan stigma-diskriminasi berperan penting dalam kejadian HIV pada kelompok LSL di Kota Depok. Upaya pencegahan HIV perlu difokuskan pada pengurangan stigma dan diskriminasi, peningkatan akses layanan kesehatan yang ramah LSL, serta promosi perilaku seksual yang lebih aman.

Background: Men who have sex with men (MSM) are one of the key populations at high risk of HIV infection. In Depok City, the proportion of HIV cases among MSM increased from 25% in 2023 to 30% in 2024. Identifying factors associated with HIV infection is essential to provide evidence for developing targeted HIV prevention programs. Methods: This cross-sectional study utilized secondary data from the 2023 Integrated Biological and Behavioural Survey (IBBS). A total of 351 MSM in Depok City were included using Respondent-Driven Sampling (RDS). Data were analysed using univariate analysis, bivariate analysis with the Chi-square test, and multivariable analysis using constant-time Cox regression to estimate adjusted prevalence ratios (aPR). Results: The prevalence of HIV among MSM in Depok City was 16.3%. Bivariate analysis showed that avoiding healthcare services due to stigma/discrimination (45.2%), a history of being verbally abused (38.1%), a history of suspected tuberculosis (36.8%), a history of being threatened (37.5%), not routinely carrying condoms (22.9%), having sex with non-regular male partners (22.6%), having a university education (23.7%), not using condoms (20.1%), and gathering at gyms/saunas (19.0%) were associated with HIV infection. Multivariable analysis demonstrated that avoiding healthcare services due to stigma/discrimination (aPR = 3.40; 95% CI: 1.85–6.25), having sex with non-regular male partners (aPR = 2.10; 95% CI: 1.16–3.67), not using condoms (aPR = 2.25; 95% CI: 1.15–4.42), having a university education (aPR = 1.88; 95% CI: 1.07–3.31), and circumcision status (aPR = 1.27; 95% CI: 0.46–3.60) were the dominant factors associated with HIV infection. Conclusions: Sexual risk behaviors and stigma-related discrimination play important roles in HIV infection among MSM in Depok City. HIV prevention efforts should prioritize reducing stigma and discrimination, improving access to MSM-friendly healthcare services, and promoting safer sexual behaviors.