Abstrak
Pertalite dan B40 merupakan produk minyak yang diidentifikasi sebagai cairan yang dapat menyala lalu memicu kilatan api (flash fire) atau ledakan. PT XYZ, sebuah perusahaan distribusi, menggunakan jalur maritim dan kapal tanker untuk mendistribusikan produk BBM ini. Salah satu jenis kapal tanker yang digunakan adalah Self Propelled Oil Barge (SPOB) dan Oil Barge (OB). Risiko tinggi bahaya kebakaran dan ledakan pada kapal tanker berasal dari produk minyak yang tergolong extremely flammable liquid. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pemodelan kuantitatif yang menggunakan data sekunder perusahaan, studi literatur, serta wawancara pekerja. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak Areal Locations Of Hazardous Atmosphere (ALOHA) berdasarkan skenario terburuk. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis konsekuensi kebakaran dan ledakan dari kebocoran tangki berupa jangkauan radiasi termal dari skenario kebakaran pool fire dan overpressure threat zone atau blast area dari skenario ledakan vapor cloud explosion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsekuensi kebakaran dan ledakan pada kapal pengangkut bahan bakar dipengaruhi secara signifikan oleh jenis bahan bakar, luas puddle area, serta karakteristik penguapan bahan mudah terbakar. Pemodelan menggunakan perangkat lunak ALOHA pada skenario pool fire menunjukkan bahwa surrogate Pertalite (Isooctane) menghasilkan intensitas kebakaran dan jangkauan radiasi termal yang lebih besar dibandingkan surrogate HSD B40 (N-Dodecane) pada kedua kapal. Pada SPOB, jangkauan Radiasi Termal Pool fire mencapai 145 meter pada yellow zone, sedangkan pada OB. mencapai 228 meter sebagai jarak konsekuensi terbesar dari seluruh skenario. Sementara itu, skenario Vapor Cloud Explosion (VCE) hanya terjadi pada surrogate Pertalite karena konsentrasi uap N-Dodecane tidak mampu mencapai Lower Explosive Limit (LEL) di area perairan terbuka. Hasil pemodelan VCE menunjukkan bahwa overpressure maksimum tidak mencapai tingkat destruktif struktural (>8 psi), namun masih berpotensi menyebabkan cedera serius hingga jarak 98 meter dan pecahnya kaca hingga 114 meter pada OB. Secara keseluruhan, OB menghasilkan threat zone lebih besar dibandingkan SPOB akibat puddle area yang lebih luas. Dengan demikian, yellow zone pool fire OB sebesar 228 meter direkomendasikan sebagai acuan minimum safety buffer zone dalam operasi bongkar muat bahan bakar di area perairan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memperhitungkan konsekuensi kebakaran dan ledakan ini, mempertahankan sistem keselamatan kebakaran dan tanggap darurat yang sudah ada, serta melakukan sosialisasi mengenai konsekuensi kebakaran dan ledakan kepada pekerja, masyarakat, serta pihak dermaga.
The results of this study indicate that the consequences of fire and explosion on fuel transport vessels are significantly influenced by the type of fuel, puddle area, and evaporation characteristics of flammable substances. Modeling using the ALOHA software in pool fire scenarios demonstrated that the Pertalite surrogate (Isooctane) produced higher fire intensity and wider thermal radiation threat zones compared to the HSD B40 surrogate (N-Dodecane) on both vessels. On SPOB, the thermal radiation distance from the pool fire scenario reached 145 meters in the yellow zone, while on OB it reached 228 meters, representing the largest consequence distance among all modeled scenarios. Meanwhile, the vapor cloud explosion (VCE) scenario only occurred for the Pertalite surrogate because the vapor concentration of N-Dodecane was unable to reach the Lower Explosive Limit (LEL) under open-water conditions. The VCE modeling results showed that the maximum overpressure did not reach the destructive structural level (>8 psi); however, it still had the potential to cause serious injuries up to 98 meters and glass breakage up to 114 meters on OB. Overall, OB consistently produced larger threat zones than SPOB due to its larger puddle area. Therefore, the 228-meter yellow zone from the pool fire scenario on OB is recommended as the minimum safety buffer zone reference for fuel loading and unloading operations in marine areas.