Abstrak
Industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang tinggi, tetapi kualitas pengungkapan K3 dalam laporan keberlanjutan perusahaan belum banyak dievaluasi. Penelitian ini bertujuan menilai kualitas pengungkapan K3 pada perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas pengungkapan tersebut. Penelitian menggunakan metode campuran dengan desain sekuensial eksplanatori terhadap laporan keberlanjutan, laporan tahunan, dan laporan keuangan dari 28 emiten kelapa sawit selama periode 2022–2024. Kualitas pengungkapan diukur menggunakan indeks yang dikembangkan berdasarkan standar GRI 403:2018 dan POJK No. 51/POJK.03/2017. Analisis kuantitatif dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat, dilanjutkan analisis tematik kualitatif terhadap narasi pengungkapan K3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kualitas pengungkapan K3 sebesar 61,25 dengan variasi antarperusahaan yang besar. Pengungkapan didominasi informasi kebijakan, sistem, dan program (leading indicators), sementara data hasil aktual seperti angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (lagging indicators) masih terbatas. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kerangka pelaporan, external assurance, dan leverage memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kualitas pengungkapan K3. Sebaliknya, ukuran perusahaan, profitabilitas, kepemilikan institusional, dan independensi dewan komisaris tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas pengungkapan K3 lebih ditentukan oleh tata kelola pelaporan, kredibilitas informasi, dan akuntabilitas eksternal daripada karakteristik ekonomi perusahaan. Penguatan standar pelaporan K3 nasional dan mekanisme verifikasi independen diperlukan untuk mendorong pengungkapan K3 yang lebih substantif.
The palm oil industry is one of the sectors with a high level of occupational health and safety (OSH) risk, yet the quality of OSH disclosure in corporate sustainability reports remains underexamined. This study aims to assess the quality of OSH disclosure among palm oil companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) and to identify the factors associated with disclosure quality. The study employs a mixed-methods explanatory sequential design, examining the sustainability reports, annual reports, and financial statements of 28 palm oil issuers over the 2022–2024 period. Disclosure quality is measured using an index developed based on GRI 403:2018 and POJK No. 51/POJK.03/2017. Quantitative data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analyses, followed by a qualitative thematic analysis of the OSH disclosure narratives. The results show that the average OSH disclosure quality was 61.25, with considerable variation across companies. Disclosures were dominated by information on policies, systems, and programs (leading indicators), whereas actual outcome data, such as work-related accident and occupational disease figures (lagging indicators), remained limited. The multivariate analysis reveals that reporting framework, external assurance, and leverage are positively and significantly associated with OSH disclosure quality, whereas firm size, profitability, institutional ownership, and board of commissioners' independence show no significant association. These findings indicate that the quality of OSH disclosure is determined more by reporting governance, information credibility, and external accountability than by firms' economic characteristics. Strengthening national OSH reporting standards and independent assurance mechanisms are needed to promote more substantive OSH disclosure.