Abstrak
Menstrual hygiene yang buruk meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi, namun praktiknya di kalangan mahasiswi Indonesia masih belum optimal, dan mekanisme persepsi yang mendasarinya belum banyak dikaji menggunakan kerangka Health Belief Model (HBM), khususnya dengan membandingkan mahasiswi rumpun kesehatan dan non-kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara rumpun fakultas dan lima komponen HBM (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, dan self-efficacy) dengan praktik menstrual hygiene pada mahasiswi Universitas Indonesia tahun 2026. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 362 mahasiswi S1 Reguler aktif Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) yang dipilih secara accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur secara daring dan luring, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan 52,5% responden memiliki praktik menstrual hygiene yang baik. Rumpun fakultas terbukti berhubungan signifikan dengan praktik menstrual hygiene (p<0,001; OR=3,436), mahasiswi FKM 3,4 kali lebih mungkin berpraktik baik dibandingkan mahasiswi FIB. Empat dari lima komponen HBM, yaitu perceived severity (p=0,003; OR=1,880), perceived benefits (p<0,001; OR=4,142), perceived barriers (p<0,001; OR=0,340), dan self-efficacy (p<0,001; OR=6,128), berhubungan signifikan dengan praktik menstrual hygiene, sedangkan perceived susceptibility tidak menunjukkan hubungan bermakna (p=0,424). Self-efficacy merupakan prediktor terkuat dalam penelitian ini. Disimpulkan bahwa latar belakang pendidikan kesehatan dan persepsi individu, terutama keyakinan diri, berperan penting dalam membentuk praktik menstrual hygiene mahasiswi, sehingga diperlukan program edukasi kesehatan reproduksi yang lebih kontekstual bagi mahasiswi rumpun non-kesehatan.

Poor menstrual hygiene increases the risk of reproductive tract infections, yet menstrual hygiene practices among Indonesian female university students remain suboptimal, and the underlying perceptual mechanisms have rarely been examined using the Health Belief Model (HBM) framework, particularly by comparing health and non-health students. This study aimed to analyze the relationship between faculty cluster and the five HBM components (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, and self-efficacy) with menstrual hygiene practices among female students at Universitas Indonesia in 2026. This quantitative study used a cross-sectional design involving 362 active undergraduate female students from the Faculty of Public Health (FKM) and the Faculty of Humanities (FIB), selected through accidental sampling. Data were collected using a structured questionnaire distributed online and offline, then analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test and Odds Ratio (OR). The results showed that 52.5% of respondents had good menstrual hygiene practices. Faculty cluster was significantly associated with menstrual hygiene practices (p<0.001; OR=3.436), with FKM students being 3.4 times more likely to practice good menstrual hygiene than FIB students. Four of the five HBM components, namely perceived severity (p=0.003; OR=1.880), perceived benefits (p<0.001; OR=4.142), perceived barriers (p<0.001; OR=0.340), and self-efficacy (p<0.001; OR=6.128), were significantly associated with menstrual hygiene practices, while perceived susceptibility showed no significant relationship (p=0.424). Self-efficacy was the strongest predictor in this study. It is concluded that health education background and individual perceptions, particularly self-efficacy, play an important role in shaping students’ menstrual hygiene practices, highlighting the need for more contextual reproductive health education programs for non-health students.