Abstrak
Latar Belakang: Kanker payudara merupakan keganasan dengan beban kasus tertinggi pada perempuan dan penatalaksanaannya banyak bertumpu pada kemoterapi intravena. Standar internasional mengarahkan pemberian kemoterapi intravena pada layanan rawat jalan karena dinilai aman dan efisien, namun praktik di Indonesia masih banyak menunjukkan pemberian melalui rawat inap, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah pemilihan rawat inap didasari indikasi klinis atau faktor lain di luar kebutuhan medis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat layanan kemoterapi intravena pada pasien kanker payudara di FKRTL berdasarkan rawat jalan dan rawat inap serta faktor-faktor yang berhubungan dengannya dalam sistem JKN tahun 2024. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Data sekunder bersumber dari Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2025 periode pelayanan 2024 dengan teknik total sampling, mencakup 2.373 kunjungan tidak berbobot dari 471 pasien atau setara 218.598 kunjungan setelah pembobotan. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji kai kuadrat, dan multivariat menggunakan regresi logistik biner berbobot. Hasil Penelitian: Layanan kemoterapi intravena didominasi rawat jalan sebesar 74,5%, sedangkan rawat inap sebesar 25,5%. Seluruh variabel independen berhubungan bermakna secara bivariat (p<0,001). Berdasarkan nilai Wald, tiga determinan paling dominan adalah wilayah FKRTL, metastasis, dan segmen kepesertaan, dengan peluang rawat inap tertinggi pada wilayah Sulawesi (OR=25,223), pasien metastasis (OR=6,066), dan segmen PBPU (OR=3,200). Pembahasan: Dominasi pengaruh wilayah FKRTL menunjukkan bahwa pemanfaatan rawat inap kemoterapi lebih banyak didorong oleh faktor struktural fasilitas dan ketersediaan kapasitas layanan antarwilayah dibandingkan dengan kebutuhan klinis murni. Metastasis sebagai determinan klinis terkuat mencerminkan kompleksitas kondisi pasien yang membutuhkan pemantauan lebih intensif, sementara tingginya peluang rawat inap pada segmen PBPU mengindikasikan adanya pengaruh karakteristik sosial peserta terhadap pola pemanfaatan layanan. Kesimpulan: Layanan kemoterapi intravena pada pasien kanker payudara peserta JKN tahun 2024 didominasi rawat jalan, dengan wilayah FKRTL, metastasis, dan segmen kepesertaan sebagai tiga determinan paling dominan. Temuan ini menegaskan pentingnya pemerataan fasilitas dan tenaga onkologi di luar Jawa, penguatan kapasitas kemoterapi rawat jalan atau one-day care, penerapan kriteria klinis baku dalam penentuan setting layanan, serta peninjauan skema pembiayaan INA-CBG agar tidak menimbulkan disinsentif terhadap layanan rawat jalan.

Background: Breast cancer is the malignancy with the highest case burden among women, and its management relies heavily on intravenous chemotherapy. International standards direct the delivery of intravenous chemotherapy toward outpatient care because it is considered safe and efficient, yet in Indonesia, chemotherapy is still frequently delivered through inpatient care, raising the question of whether the choice of inpatient care is based on clinical indication or on factors beyond medical need. Objective: This study aimed to analyze the level of intravenous chemotherapy service among breast cancer patients in advanced referral health facilities (FKRTL) based on outpatient and inpatient care and the factors associated with it within the national health insurance (JKN) system in 2024. Methods: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. Secondary data were drawn from the 2025 BPJS Kesehatan Sample Data for the 2024 service period using total sampling, covering 2,373 unweighted visits from 471 patients, equivalent to 218,598 visits after weighting. Univariate, bivariate chi-square, and multivariate weighted binary logistic regression analyses were performed. Results: Intravenous chemotherapy was dominated by outpatient care at 74.5%, while inpatient care accounted for 25.5%. All independent variables were significantly associated in the bivariate analysis (p<0.001). Based on the Wald statistic, the three most dominant determinants were facility region, metastasis, and membership segment, with the highest odds of inpatient care found in the Sulawesi region (OR=25.223), patients with metastasis (OR=6.066), and the PBPU segment (OR=3.200). Discussion: The dominant influence of facility region indicates that inpatient chemotherapy utilization is driven more by structural facility factors and the availability of service capacity across regions than by purely clinical need. Metastasis as the strongest clinical determinant reflects the complexity of patient conditions requiring more intensive monitoring, while the high odds of inpatient care in the PBPU segment indicate an influence of patients' social characteristics on service utilization patterns. Conclusion: Intravenous chemotherapy service among breast cancer patients under JKN in 2024 was dominated by outpatient care, with facility region, metastasis, and membership segment as the three most dominant determinants. These findings underscore the importance of equalizing oncology facilities and personnel outside Java, strengthening outpatient or one-day care chemotherapy capacity, applying standardized clinical criteria for determining service setting, and reviewing the INA-CBG financing scheme to avoid disincentives against outpatient services.