Abstrak
Latar Belakang: Masyarakat marjinal pemulung di permukiman informal perkotaan menghadapi berbagai determinan sosial kesehatan yang berpotensi meningkatkan risiko terjadinya luaran persalinan yang buruk (adverse birth outcome). Penelitian mengenai hubungan antara karakteristik masyarakat marjinal pemulung dengan luaran persalinan yang buruk di tingkat lokal masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik masyarakat marjinal pemulung dengan luaran persalinan yang buruk di Kampung Pemulung Pondok Labu, Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Kota Administrasi Jakarta Selatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan teknik total sampling terhadap 46 ibu usia reproduksi yang pernah melahirkan pada periode 2024–2026. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil: Prevalensi luaran persalinan yang buruk mencapai 56,5%. Mayoritas responden memiliki skor komposit karakteristik masyarakat marjinal dalam kategori buruk. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat marginalisasi dengan kejadian luaran persalinan yang buruk (OR = 4,5; 95% CI = 1,129–17,930; p = 0,027). Ibu dengan karakteristik masyarakat marjinal kategori buruk memiliki peluang lebih tinggi mengalami luaran persalinan yang buruk. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara karakteristik masyarakat marjinal pemulung dengan luaran persalinan yang buruk. Temuan ini mendukung kerangka Commission on Social Determinants of Health (CSDH) WHO dan menegaskan pentingnya intervensi yang menyasar determinan struktural dan intermediat pada populasi marjinal pemulung di permukiman informal perkotaan.
Background: Marginalized waste picker communities in urban informal settlements face multiple social determinants of health that may increase the risk of adverse birth outcomes. Research examining the relationship between the characteristics of marginalized waste picker communities and adverse birth outcomes at the local level remains limited. This study aimed to analyze the association between the characteristics of marginalized waste picker communities and adverse birth outcomes in Kampung Pemulung Pondok Labu, Pondok Labu Village, Cilandak Sub-district, South Jakarta Administrative City. Methods: This cross-sectional study employed a total sampling of 46 reproductive-aged women who had given birth between 2024 and 2026. Data were collected through structured interviews and analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test. Results: The prevalence of adverse birth outcomes was 56.5%. The majority of respondents had a composite marginalization score in the poor category. There was a significant association between the level of marginalization and the occurrence of adverse birth outcomes (OR = 4.5; 95% CI = 1.129–17.930; p = 0.027). Mothers with poor marginalized characteristics had higher odds of experiencing adverse birth outcomes. Conclusion: There is a significant relationship between the characteristics of marginalized waste picker communities and adverse birth outcomes. These findings support the WHO Commission on Social Determinants of Health (CSDH) framework and highlight the need for interventions targeting structural and intermediary determinants in marginalized waste picker populations living in urban informal settlements.