Abstrak
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit prioritas dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang memerlukan pembiayaan pelayanan kesehatan berkelanjutan. Pada pelayanan rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL), total biaya pelayanan yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan dapat bervariasi antar peserta maupun antar fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis peserta JKN berdasarkan karakteristik peserta dan karakteristik fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Sampel penelitian terdiri atas 25.886 peserta JKN penderita tuberkulosis yang memperoleh pelayanan rawat jalan di FKRTL dan memenuhi kriteria penelitian. Variabel independen meliputi kelompok umur, jenis kelamin, status perkawinan, segmentasi kepesertaan, hak kelas rawat, kepemilikan FKRTL, dan tipe FKRTL. Variabel dependen adalah total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis per pasien selama tahun 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Mann–Whitney dan Kruskal–Wallis. Hasil penelitian menunjukkan median total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis sebesar Rp598.250 per pasien per tahun. Terdapat perbedaan total biaya klaim yang bermakna secara statistik berdasarkan kelompok umur (H(2)=783,60; p<0,001; ε²=0,030), jenis kelamin (Z=3,64; p<0,001; r=0,023), status perkawinan (H(2)=436,99; p<0,001; ε²=0,017), segmentasi kepesertaan (H(4)=912,08; p<0,001; ε²=0,035), hak kelas rawat (H(2)=68,47; p<0,001; ε²=0,003), kepemilikan FKRTL (H(4)=381,99; p<0,001; ε²=0,015), dan tipe FKRTL (H(3)=675,39; p<0,001; ε²=0,026). Variabel segmentasi kepesertaan menunjukkan ukuran efek terbesar, sedangkan hak kelas rawat menunjukkan ukuran efek terkecil. Meskipun seluruh variabel menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik, sebagian besar ukuran efek berada pada kategori kecil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis peserta JKN tahun 2024 bervariasi menurut karakteristik peserta dan karakteristik FKRTL. Temuan ini dapat menjadi masukan bagi BPJS Kesehatan dalam monitoring dan evaluasi pembiayaan pelayanan tuberkulosis pada program JKN.
Tuberculosis (TB) remains one of the priority diseases within Indonesia’s National Health Insurance (JKN) program and requires substantial healthcare financing. In advanced outpatient care settings, total healthcare expenditures reimbursed by BPJS Kesehatan may vary across participants and healthcare facilities. This study aimed to analyze outpatient tuberculosis claim costs among JKN participants based on participant characteristics and advanced referral healthcare facility (FKRTL) characteristics in 2024. This study employed a quantitative cross-sectional design using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan sample dataset. The study population consisted of 25,886 JKN participants diagnosed with tuberculosis who received outpatient services at FKRTL and met the study criteria. Independent variables included age group, sex, marital status, membership segment, entitlement class, FKRTL ownership, and FKRTL type. The dependent variable was the total outpatient tuberculosis claim cost per patient during 2024. Data were analyzed using descriptive statistics and bivariate analysis with Mann–Whitney and Kruskal–Wallis tests. The results showed that the median outpatient tuberculosis claim cost was IDR 598,250 per patient per year. Statistically significant differences in total claim costs were observed according to age group (H(2)=783.60; p<0.001; ε²=0.030), sex (Z=3.64; p<0.001; r=0.023), marital status (H(2)=436.99; p<0.001; ε²=0.017), membership segment (H(4)=912.08; p<0.001; ε²=0.035), entitlement class (H(2)=68.47; p<0.001; ε²=0.003), FKRTL ownership (H(4)=381.99; p<0.001; ε²=0.015), and FKRTL type (H(3)=675.39; p<0.001; ε²=0.026). Membership segment demonstrated the largest effect size, while entitlement class showed the smallest. Although all variables were statistically significant, most effect sizes were small. This study concludes that outpatient tuberculosis claim costs among JKN participants in 2024 varied according to participant and healthcare facility characteristics. These findings may provide useful evidence for BPJS Kesehatan in monitoring and evaluating tuberculosis financing within the JKN program.