Abstrak
Latar Belakang: Kekerasan seksual merupakan salah satu masalah kesehatan&nbsp; masyarakat yang berdampak pada kesehatan fisik, mental, dan sosial pada korban. Salah&nbsp; satu faktor yang berkontribusi terhadap keberlangsungan kekerasan seksual adalah rape&nbsp; myth acceptance (RMA), yaitu penerimaan terhadap keyakinan yang menyalahkan&nbsp; korban, membenarkan tindakan pelaku, atau meminimalkan terjadinya kekerasan seksual.&nbsp; Penelitian mengenai RMA pada mahasiswa kesehatan masyarakat di Indonesia masih&nbsp; terbatas, padahal kelompok ini merupakan calon tenaga kesehatan masyarakat yang&nbsp; berperan dalam upaya promotif, preventif, dan edukasi terkait pencegahan kekerasan&nbsp; seksual. Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan mengenai kekerasan seksual dan tingkat&nbsp; rape myth acceptance pada mahasiswa aktif S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat&nbsp; Universitas Indonesia tahun ajaran 2025/2026. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak&nbsp; 305 responden dipilih menggunakan teknik convenience sampling dan mengisi kuesioner&nbsp; daring pada April 2026. Pengetahuan mengenai kekerasan seksual diukur menggunakan&nbsp; kuesioner yang dikembangkan peneliti, sedangkan rape myth acceptance diukur&nbsp; menggunakan Updated Illinois Rape Myth Acceptance Scale (uIRMA) versi 22 item&nbsp; dengan rentang skor teoretis 22-110. Analisis data dilakukan secara deskriptif&nbsp; menggunakan distribusi frekuensi, rerata, median, dan simpangan baku.. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai&nbsp; kekerasan seksual (74,1%). Meskipun demikian, masih ditemukan kesenjangan&nbsp; pengetahuan mengenai marital rape serta pelecehan seksual verbal dan digital. Rerata&nbsp; skor rape myth acceptance sebesar 43,27 dari rentang skor teoretis 22-110, yang&nbsp; menunjukkan tingkat rape myth acceptance relatif rendah. Dimensi He Didn't Mean To memiliki rerata skor tertinggi, sedangkan dimensi It Wasn't Really Rape memiliki rerata&nbsp; skor terendah. Kesimpulan: Mahasiswa S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas&nbsp; Indonesia memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai kekerasan seksual dan&nbsp; tingkat rape myth acceptance yang relatif di bawah nilai tengah teoretis (55). Meskipun&nbsp; demikian, masih terdapat bentuk mitos tertentu yang berkaitan dengan minimisasi&nbsp; tanggung jawab pelaku serta kesenjangan pengetahuan mengenai beberapa bentuk&nbsp; kekerasan seksual. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan edukasi mengenai&nbsp; kekerasan seksual yang secara eksplisit membahas konsep persetujuan (consent),&nbsp; perspektif kekerasan berbasis gender, dan pembongkaran mitos pemerkosaan di&nbsp; lingkungan perguruan tinggi.<hr /><div>Background: Sexual violence is a major public health issue with significant physical,&nbsp; psychological, social, and reproductive health consequences for survivors. One factor&nbsp; contributing to its persistence is rape myth acceptance (RMA), which refers to beliefs&nbsp; that blame victims, excuse perpetrators, or minimize acts of sexual violence. Research&nbsp; examining RMA among public health students in Indonesia remains limited, despite their&nbsp; future role in health promotion, prevention, and education related to sexual violence. Objective: To describe knowledge of sexual violence and the level of rape myth&nbsp; acceptance among undergraduate students of the Faculty of Public Health, Universitas&nbsp; Indonesia, in the 2025/2026 academic year. Methods: A descriptive quantitative study with a cross-sectional design was conducted&nbsp; among 305 respondents recruited through convenience sampling. Data were collected&nbsp; using an online questionnaire in April 2026. Knowledge of sexual violence was assessed&nbsp; using a researcher-developed questionnaire, while rape myth acceptance was measured&nbsp; using the 22-item Updated Illinois Rape Myth Acceptance Scale (uIRMA), with a&nbsp; theoretical score range of 22 to 110. Data were analyzed descriptively using frequency&nbsp; distributions, means, medians, and standard deviations. Results: Most respondents demonstrated good knowledge of sexual violence (74.1%).&nbsp; However, gaps in understanding remained regarding marital rape and verbal and digital&nbsp; sexual harassment. The mean RMA score was 43.27 out of a theoretical range of 22 to&nbsp; 110, indicating a relatively low level of rape myth acceptance. The highest mean score&nbsp; was observed in the He Didn't Mean To dimension, whereas the lowest was found in the&nbsp; It Wasn't Really Rape dimension. Conclusion: Undergraduate students of the Faculty of Public Health, Universitas&nbsp; Indonesia demonstrated good knowledge of sexual violence and a relatively low level of rape myth acceptance. Nevertheless, misconceptions related to minimizing perpetrator&nbsp; responsibility and gaps in understanding certain forms of sexual violence remain. These&nbsp; findings highlight the importance of strengthening university-based education that&nbsp; explicitly addresses consent, gender-based violence, and the deconstruction of rape&nbsp; myths.</div>