Abstrak
Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada perempuan, risiko DMT2 dapat meningkat seiring bertambahnya usia, perubahan komposisi tubuh, serta penumpukan lemak abdominal. Lingkar perut merupakan salah satu indikator antropometri yang digunakan untuk menilai obesitas sentral, yaitu kondisi penumpukan lemak di area perut yang berkaitan dengan gangguan metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus tipe 2 pada perempuan usia 15 tahun ke atas di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sumber data sekunder SKI 2023 yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Sampel akhir dalam penelitian ini berjumlah 320.601 perempuan usia 15 tahun ke atas. Variabel dependen adalah diabetes melitus tipe 2, sedangkan variabel independen utama adalah obesitas sentral yang dikategorikan menjadi obesitas sentral dan tidak obesitas sentral. Analisis data dilakukan menggunakan Complex Samples Cox Regression dengan waktu konstan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus tipe 2 setelah melakukan kontrol pada variabel perancu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lingkar perut responden adalah 81,77 cm (95% CI: 81,68–81,85). Lebih dari separuh responden mengalami obesitas sentral, yaitu sebesar 53,8% (95% CI: 53,5–54,1). Perempuan dengan obesitas sentral memiliki prevalensi DMT2 sebesar 2,21 kali dibandingkan perempuan yang tidak mengalami obesitas sentral setelah dikontrol usia dan IMT (aPR=2,21; 95% CI: 1,95–2,52; p<0,001). Temuan ini menekankan pentingnya pengukuran lingkar perut secara rutin, baik untuk skrining kelompok berisiko maupun pemantauan pasien diabetes melitus tipe 2, disertai pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur sebagai upaya pencegahan dan pengendalian diabetes melitus tipe 2.
Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disease and remains a major public health problem in Indonesia. Among women, the risk of T2DM may increase with age, changes in body composition, and abdominal fat accumulation. Waist circumference is an anthropometric indicator used to assess central obesity, a condition characterized by fat accumulation in the abdominal area that is associated with metabolic disorders. This study aimed to examine the association between central obesity and type 2 diabetes mellitus among women aged 15 years and above in Indonesia based on data from the 2023 Indonesian Health Survey (IHS). This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 IHS, which covered all regions of Indonesia. The final sample consisted of 320,601 women aged 15 years and above. The dependent variable was type 2 diabetes mellitus, while the main independent variable was central obesity, categorized into central obesity and non-central obesity. Data were analyzed using Complex Samples Cox Regression with constant time to determine the association between central obesity and type 2 diabetes mellitus after controlling for confounding variables. The results showed that the mean waist circumference of respondents was 81.77 cm (95% CI: 81.68–81.85). More than half of the respondents had central obesity, accounting for 53.8% (95% CI: 53.5–54.1). Women with central obesity had a 2.21 times higher prevalence of T2DM than those without central obesity after controlling for age and BMI (aPR=2.21; 95% CI: 1.95–2.52; p<0.001). These findings emphasize the importance of routine waist circumference measurement for screening high-risk groups and monitoring patients with T2DM, along with healthy eating patterns and regular physical activity as part of T2DM prevention and control efforts.