Abstrak
Gizi lebih terjadi ketika tubuh menerimaa asupan energi melebihi kebutuhannya sehingga kelebihannya disimpan dalam bentuk lemak. Kondisi ini merupakan faktor risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung koroner, serta dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi sindrom metabolik yang berdampak pada penurunan kualitas hidup dan peningkatan risiko kematian. Tujuan peenelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian status gizi lebih pada Warga Binaan Pemasyarakatan. Metode Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan variabel dependen status gizi lebih dan variabel independen meliputi asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, tingkat pendidikan, pengetahuan gizi, aktivitas fisik, durasi tidur, tingkat stres, status merokok, dan riwayat konsumsi alkohol. Pengambilan data dilakukan terhadap 126 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuesioner secara langsung. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil status gizi lebih pada responden sebesar 52,4%. Sebagian besar responden memiliki asupan energi tidak lebih (93,7%), karbohidrat tidak lebih (92,9%), protein tidak lebih (95,2%), dan lemak tidak lebih (65,1%). Karakteristik responden menunjukkan Sebagian besar berpendidikan tinggi (72,2%), pengetahuan gizi baik (59,5%),  aktivitas fisik kurang (93,7%), durasi tidur cukup (77,0%), tingkat stres tinggi (65,1%) berstatus perokok (95,2%), dan memiliki riwayat konsumsi alkohol (58,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi (p = 0,027; OR = 0,116) dan durasi tidur (p = 0,042; OR = 2,464) dengan kejadian status gizi lebih. Variabel lainnya, yaitu asupan karbohidrat, protein, lemak, tingkat pendidikan, pengetahuan gizi, status merokok, riwayat konsumsi alkohol, dan tingkat stres tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Asupan energi dan durasi tidur merupakan faktor yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian status gizi lebih pada WBP. Oleh karena itu, disarankan kepada pihak lembaga pemasyarakatan untuk melakukan pemantauan status gizi secara berkala, memperbaiki kualitas dan kecukupan asupan makan, menyediakan pilihan pangan bergizi di kantin, serta mengadakan edukasi gizi dan program aktivitas fisik secara rutin. Kementerian Kesehatan diharapkan memperluas program gizi hingga menjangkau kelompok WBP melalui kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Overnutrition occurs when the body receives excess energy intake beyond its needs, which is then stored as fat. This condition is a risk factor for non-communicable diseases such as hypertension, diabetes mellitus, and coronary heart disease, and in the long term can develop into metabolic syndrome, leading to reduced quality of life and increased risk of mortality. This study aimed to analyze factors associated with overnutrition among prison inmates, including energy, carbohydrate, protein, and fat intake, education level, physical activity, nutritional knowledge, sleep duration, smoking status, stress level, and history of alcohol consumption. This study used a cross-sectional design with overnutrition as the dependent variable and energy intake, carbohydrate, protein, fat, education level, nutritional knowledge, physical activity, sleep duration, stress level, smoking status, and history of alcohol consumption as independent variables. Data were collected from 126 respondents who met the inclusion and exclusion criteria through direct interviews and questionnaire completion. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-square test. The prevalence of overnutrition among respondents was 52.4%. Most respondents had normal energy intake (93.7%), carbohydrate (92.9%), protein (95.2%), and fat (65.1%). The majority had high education (72.2%), good nutritional knowledge (59.5%), insufficient physical activity (93.7%), adequate sleep duration (77.0%), high stress levels (65.1%), smoking status (95.2%), and history of alcohol consumption (58.7%). Bivariate analysis showed significant associations between energy intake (p = 0.027; OR = 0.116) and sleep duration (p = 0.042; OR = 2.464) with overnutrition. Other variables including carbohydrate, protein, and fat intake, education level, nutritional knowledge, smoking status, alcohol consumption history, and stress level showed no significant associations. Energy intake and sleep duration are factors significantly associated with overnutrition among prison inmates. Therefore, correctional facilities are advised to conduct regular nutritional status monitoring, improve food quality, provide nutritious food options in the canteen, and organize nutrition education and physical activity programs routinely. The Ministry of Health is expected to expand nutrition programs to reach prison inmates through collaboration with the Directorate General of Corrections.