Abstrak
Tenaga kesehatan di lingkungan rumah sakit menghadapi risiko paparan biologis, kimia, dan fisik yang signifikan. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan upaya fundamental dalam memutus rantai penularan infeksi dan melindungi tenaga kesehatan. Akan tetapi, kepatuhan penggunaan APD tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan individu, melainkan sangat dipengaruhi oleh budaya keselamatan organisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara 11 dimensi budaya keselamatan terintegrasi yang diukur menggunakan instrumen Integrated Safety Culture in Hospitals Assessment (ISCHA) dengan persepsi penggunaan APD pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). Penelitian ini menggunakan desain studi analitik cross-sectional dengan data sekunder hasil survei ISCHA tahun 2025. Populasi penelitian adalah seluruh tenaga kesehatan RSUI (N=1.206), dengan sampel sebesar 503 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya keselamatan terintegrasi di RSUI secara keseluruhan telah mencapai Level 5–Progressive dengan capaian 95,99%. Sebanyak 499 responden (99,2%) memiliki persepsi positif terhadap penggunaan APD. Dari 11 dimensi yang dianalisis, terdapat 4 dimensi yang terbukti berhubungan dengan persepsi penggunaan APD, yaitu dukungan manajemen terhadap keselamatan pasien (OR=13,257; 95% CI 1,812–96,968), pembelajaran organisasi dan peningkatan berkelanjutan (OR=15,633; 95% CI 2,128–114,872), respons yang tidak menghukum terhadap kesalahan (OR=13,820; 95% CI 1,421–134,408), dan pengembangan kapasitas (pelatihan) budaya keselamatan (OR=19,792; 95% CI 2,672–146,593), sementara 7 dimensi lainnya tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun budaya keselamatan RSUI secara umum sudah sangat baik, penguatan pada aspek dukungan manajemen, pembelajaran organisasi, sistem respons terhadap kesalahan, serta pelatihan dan pengembangan kapasitas merupakan strategi prioritas yang dapat dilakukan RSUI untuk meningkatkan persepsi dan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap penggunaan APD di lingkungan rumah sakit

Healthcare workers in hospital settings face significant risks of biological, chemical, and physical exposure. The use of Personal Protective Equipment (PPE) is a fundamental measure in breaking the chain of infection transmission and protecting healthcare workers. However, PPE compliance is not solely determined by individual knowledge; it is greatly influenced by the organizational safety culture. This study aims to analyze the relationship between 11 integrated safety culture dimensions, measured using the Integrated Safety Culture in Hospitals Assessment (ISCHA) instrument, and the perception of PPE use among healthcare workers at the University of Indonesia Hospital (RSUI). This study employed a cross-sectional analytical design using secondary data from the 2025 ISCHA survey. The study population comprised all healthcare workers at RSUI (N=1,206), with a sample of 503 respondents who met the inclusion criteria. Data analysis was conducted using Fisher's Exact Test. The results indicated that the integrated safety culture at RSUI has overall achieved Level 5–Progressive, with an attainment rate of 95.99%. A total of 499 respondents (99.2%) had a positive perception of PPE use. Of the 11 dimensions analyzed, 4 were found to have a significant relationship with the perception of PPE use: management support for patient safety (OR=13.257; 95% CI 1.812–96.968), organizational learning and continuous improvement (OR=15.633; 95% CI 2.128–114.872), non-punitive response to error (OR=13.820; 95% CI 1.421–134.408), and capacity development (training) of safety culture (OR=19.792; 95% CI 2.672–146.593), while the remaining 7 dimensions did not show statistically significant relationships. This study concludes that although RSUI's overall safety culture is already strong, strengthening management support, organizational learning mechanisms, non-punitive error-response systems, and capacity-building training represents a priority strategy for improving healthcare workers' perception and compliance with PPE use in hospital settings.