Abstrak
Data Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) Tahun 2024 menunjukkan bahwa sebesar 46,3% perempuan Indonesia usia 15–49 tahun pernah mengalami praktik sunat perempuan (Female Genital Mutilation/Cutting). Meskipun pemerintah telah menerbitkan kebijakan yang mendukung penghapusan praktik sunat perempuan, praktik tersebut masih dipertahankan di berbagai daerah. Orang tua sebagai pengambil keputusan utama memiliki peran penting dalam keberlangsungan praktik tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua tentang sunat perempuan (Female Genital Mutilation/Cutting) pada bayi perempuan di Kabupaten Pati Tahun 2026. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi tertutup terhadap informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan orang tua mengenai sunat perempuan masih didominasi oleh informasi yang diperoleh secara turun-temurun dari keluarga dan lingkungan sekitar, sementara pemahaman mengenai dampak kesehatan, regulasi pemerintah, dan prosedur tindakan masih terbatas. Sikap orang tua cenderung menerima dan mendukung pelaksanaan sunat perempuan karena dipandang sebagai tradisi, bagian dari ajaran agama, serta dianggap lebih aman apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan. Praktik sunat perempuan umumnya dilakukan pada usia bayi, dengan keputusan yang dipengaruhi oleh orang tua, keluarga besar, norma sosial, dan tokoh agama, serta dilaksanakan oleh bidan maupun dukun. Oleh karena itu, diperlukan penguatan edukasi kepada masyarakat melalui kolaborasi antara Dinas Kesehatan, puskesmas, tenaga kesehatan, tokoh agama dan masyarakat mengenai dampak kesehatan serta tidak adanya manfaat medis dari praktik sunat perempuan.
The 2024 National Survey on Women's Life Experiences (SPHPN) reported that 46.3% of Indonesian women aged 15–49 years had undergone Female Genital Mutilation/Cutting (FGM/C). Despite government policies supporting the elimination of FGM/C, the practice continues to be maintained in various regions. As the primary decision-makers, parents play a crucial role in the continuation of this practice. This study aimed to explore the knowledge, attitudes, and practices of parents regarding FGM/C among infant girls in Pati Regency in 2026. This study employed a qualitative approach, with data collected through in-depth interviews and non-participant observations involving purposively selected informants. The findings revealed that parents' knowledge of FGM/C was predominantly derived from intergenerational transmission within families and the surrounding community, while their understanding of its health consequences, government regulations, and medical procedures remained limited. Parents generally demonstrated supportive attitudes toward FGM/C, perceiving it as a cultural tradition, a religious practice, and a safer procedure when performed by healthcare providers. The practice was commonly carried out during infancy, with decisions influenced by parents, extended family members, social norms, and religious leaders, and was performed by either midwives or traditional birth attendants. Therefore, strengthening community education through collaboration among the District Health Office, primary healthcare centers, healthcare professionals, religious leaders, and community leaders is necessary to increase public awareness of the health risks and the lack of medical benefits associated with FGM/C.