Abstrak
Dismenore merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang [AA1.1]umum dialami oleh perempuan termasuk mahasiswi dan dapat mengganggu aktivitas akademik maupun aktivitas sehari-hari. Untuk mengatasi nyeri menstruasi, banyak mahasiswi melakukan swamedikasi. Keputusan untuk melakukan swamedikasi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat dijelaskan melalui Health Belief Model (HBM). Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam persepsi mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia terhadap swamedikasi dismenore berdasarkan komponen Health Belief Model. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap tujuh informan utama, satu informan kunci, dan satu informan pendukung, serta didukung dengan logbook selama periode menstruasi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh informan melakukan swamedikasi melalui penggunaan obat pereda nyeri, kompres hangat, konsumsi jamu, istirahat, dan metode nonfarmakologis lainnya. Persepsi kerentanan terbentuk dari pengalaman dismenore berulang, sedangkan persepsi keparahan berkaitan dengan dampak nyeri terhadap aktivitas sehari-hari. Persepsi manfaat tercermin dari keyakinan bahwa swamedikasi dapat mengurangi nyeri. Persepsi hambatan meliputi keterbatasan waktu, biaya, dan akses pelayanan kesehatan. Efikasi diri terbentuk dari pengalaman keberhasilan mengatasi nyeri, sedangkan isyarat bertindak berasal dari munculnya nyeri, pengalaman sebelumnya, keluarga, teman, tenaga kesehatan, internet, dan media sosial.

Dysmenorrhea is a common reproductive health problem among female university students and may interfere with academic and daily activities. Many students practice self-medication to relieve menstrual pain. This study aimed to explore the perceptions of female students at the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, regarding dysmenorrhea self-medication based on the Health Belief Model (HBM). This study employed a qualitative descriptive exploratory design. Data were collected through in-depth interviews with seven main informants, one key informant, and one supporting informant, complemented by menstrual-period logbooks. Data were analyzed using thematic analysis. The findings showed that all informants practiced self-medication using pain relievers, warm compresses, herbal remedies, rest, and other non-pharmacological methods. Perceived susceptibility was shaped by recurrent dysmenorrhea experiences, while perceived severity was related to the impact of pain on daily activities. Perceived benefits reflected the belief that self-medication could reduce pain. Perceived barriers included limitations in time, cost, and access to healthcare services. Self-efficacy developed through previous successful experiences in managing pain, whereas cues to action originated from pain experiences, family, peers, healthcare professionals, the internet, and social media.