Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan proporsi food neophobia berdasarkan determinan karakteristik individu, psikologis, dan lingkungan pada mahasiswa Program Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 119 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan kuesioner yang terdiri atas Food Neophobia Scale (FNS), Perceived Academic Stress Scale (PASS), kuesioner pengetahuan gizi, serta kuesioner karakteristik responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% serta perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 53,8% responden termasuk dalam kategori food neophobia. Terdapat perbedaan proporsi food neophobia yang bermakna berdasarkan tingkat pengetahuan gizi (p=0,005; OR=2,942; 95% CI: 1,373–6,304), tingkat stres akademik (p<0,001; OR=4,653; 95% CI: 2,138–10,127), dan riwayat paparan makanan (p=0,009; OR=2,698; 95% CI: 1,269–5,737). Sementara itu, tidak terdapat perbedaan proporsi food neophobia yang bermakna berdasarkan tingkat semester, suku bangsa, alergi makanan, status tempat tinggal, pantangan makanan, pendidikan orang tua, maupun uang saku (p>0,05). Disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan gizi, tingkat stres akademik, dan riwayat paparan makanan merupakan faktor yang berhubungan dengan perbedaan proporsi food neophobia pada mahasiswa, sedangkan karakteristik demografi dan sosial ekonomi yang diteliti tidak menunjukkan perbedaan proporsi yang bermakna.

This study aimed to analyze the differences in the proportion of food neophobia based on individual, psychological, and environmental determinants among undergraduate students of the Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Indonesia, in 2026. A cross-sectional study design was employed involving 119 students selected using a consecutive sampling technique. Data were collected through an online questionnaire consisting of the Food Neophobia Scale (FNS), the Perceived Academic Stress Scale (PASS), a nutrition knowledge questionnaire, and a respondent characteristics questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test at a 95% confidence level, followed by the calculation of Odds Ratios (ORs). The results showed that 53.8% of the respondents were classified as having food neophobia. Significant differences in the proportion of food neophobia were found according to nutrition knowledge (p = 0.005; OR = 2.942; 95% CI: 1.373–6.304), academic stress level (p < 0.001; OR = 4.653; 95% CI: 2.138–10.127), and childhood food exposure history (p = 0.009; OR = 2.698; 95% CI: 1.269–5.737). In contrast, no significant differences were observed according to academic semester, ethnicity, food allergy history, living arrangement, household food restrictions, parental education, or monthly allowance (p > 0.05). In conclusion, nutrition knowledge, academic stress level, and childhood food exposure history were associated with differences in the proportion of food neophobia among undergraduate students, whereas the demographic and socioeconomic characteristics examined were not significantly associated with food neophobia.