Abstrak
Latar Belakang: Unmet need keluarga berencana (KB) masih menjadi tantangan dalam pelayanan kesehatan reproduksi karena berkaitan dengan peningkatan risiko kehamilan tidak diinginkan serta berbagai dampak buruk terhadap kesehatan ibu dan anak. Berdasarkan SDKI 2017, prevalensi unmet need KB nasional sebesar 10,6%, sedangkan di Provinsi Sumatra Selatan sebesar 8,6%. Meskipun lebih rendah dari angka nasional, penelitian yang secara khusus menganalisis determinan unmet need KB pada wanita usia subur di Provinsi Sumatra Selatan menggunakan pendekatan analisis multivariat masih sangat terbatas, sehingga faktor-faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian tersebut di tingkat provinsi ini belum banyak dipahami. Tujuan: Menganalisis determinan kejadian unmet need KB pada wanita usia subur di Provinsi Sumatra Selatan berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Metode: Penelitian menggunakan data sekunder SDKI 2017 dengan desain cross-sectional pada wanita usia subur di Provinsi Sumatra Selatan yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel usia dikategorikan menjadi 15–24, 25–34, dan 35–49 tahun, sedangkan jumlah anak hidup dikategorikan menjadi ≤2 anak dan >2 anak. Variabel outcome adalah kejadian unmet need KB. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil: Prevalensi unmet need KB pada wanita usia subur di Provinsi Sumatra Selatan sebesar 8,6%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia, jumlah anak hidup, dan persetujuan suami terhadap penggunaan KB berhubungan bermakna dengan kejadian unmet need KB. Setelah dikontrol oleh variabel lain, wanita dengan jumlah anak hidup >2 memiliki peluang 2,05 kali lebih besar mengalami unmet need KB dibandingkan wanita dengan ≤2 anak (aOR=2,05; 95% CI 1,12–3,78). Wanita yang suaminya menyetujui penggunaan KB memiliki peluang 0,15 kali (atau 6,5 kali lebih rendah) mengalami unmet need KB dibandingkan wanita yang suaminya tidak menyetujui (aOR=0,15; 95% CI 0,05–0,45), dan merupakan faktor yang paling dominan. Usia tidak lagi berhubungan bermakna setelah dikontrol variabel lain. Kesimpulan: Kejadian unmet need KB pada wanita usia subur di Provinsi Sumatra Selatan lebih ditentukan oleh faktor reproduksi dan dukungan pasangan dibandingkan karakteristik sosiodemografi. Temuan ini mengindikasikan bahwa strategi penurunan unmet need KB perlu diarahkan pada penguatan keterlibatan suami dalam pengambilan keputusan ber-KB serta konseling kontrasepsi yang mempertimbangkan riwayat reproduksi perempuan, bukan semata-mata intervensi berbasis karakteristik demografi.
Background: Unmet need for family planning remains a reproductive health challenge, as it is associated with an increased risk of unintended pregnancy and adverse maternal and child health outcomes. Based on the 2017 IDHS, the national prevalence of unmet need for family planning was 10.6%, while in South Sumatra Province it was 8.6%. Although lower than the national figure, studies specifically examining the determinants of unmet need among women of reproductive age in South Sumatra Province using a multivariable approach remain very limited, so the dominant factors at the provincial level are not yet well understood. Objective: To analyze the determinants of unmet need for family planning among women of reproductive age in South Sumatra Province using data from the 2017 IDHS. Methods: This study used secondary data from the 2017 IDHS with a cross-sectional design among women of reproductive age in South Sumatra Province who met the inclusion criteria. Age was categorized into 15–24, 25–34, and 35–49 years, while the number of living children was categorized into ≤2 and >2 children. The outcome variable was unmet need for family planning. Data were analyzed using univariate, bivariate (chi-square test), and multivariable logistic regression analyses. Results: The prevalence of unmet need for family planning was 8.6%. Bivariate analysis showed that age, number of living children, and husband's approval of family planning use were significantly associated with unmet need. After adjustment, women with >2 living children had 2.05 times higher odds of unmet need than those with ≤2 children (aOR=2.05; 95% CI 1.12–3.78). Women whose husband’s approved of family planning use had 0.15 times the odds (i.e., 6.5 times lower odds) of unmet need compared to those whose husband’s did not approve (aOR=0.15; 95% CI 0.05–0.45), making it the most dominant factor. Age was no longer significantly associated after adjustment. Conclusion: Unmet need for family planning among women of reproductive age in South Sumatra Province is more strongly determined by reproductive factors and spousal support than by sociodemographic characteristics. These findings suggest that strategies to reduce unmet need should prioritize strengthening husband’s involvement in family planning decision-making and providing contraceptive counseling that accounts for women's reproductive history, rather than relying solely on demographic-based interventions.