Anemia di Indonesia masih menjadi masalah gizi utama di berbagai kalangan usia termasuk balita sebagai salah satu kelompok paling rentan. Balita anemia dapat terjadi akibat berbagai faktor dan perlu diintervensi sedini mungkin untuk mencegah akibat lain yang memengaruhi kesehatan dan pertumbuhan nya di kemudian hari. Provinsi NTB menunjukkan prevalensi tinggi masalah gizi seperti stunting, gizi buruk dan gizi kurang dibandingkan tingkat nasional sehingga memiliki potensi risiko tingginya kejadian anemia pada balita yang belum diteliti di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya anemia pada balita usia 12-59 bulan berdasarkan faktor individual, faktor orang tua, faktor makanan, dan faktor lingkungan. Data diperoleh dari IFLS 5 Tahun 2014/2015 yang dilakukan oleh RAND Corporation sebanyak 376 balita usia 12-59 bulan di Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilakukan melalui analisis kuantitatif secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian diperoleh faktor risiko dominan terjadinya anemia adalah usia dengan p-value=<0,001 (OR=3,798 (2,139-6,743)) setelah dikontrol oleh variabel status gizi menurut TB/U, status prematur, dan wilayah tempat tinggal. Usia 12-24 bulan adalah usia penting yang harus menjadi perhatian orang tua untuk memenuhi kebutuhan asupan gizi serta kesehatannya untuk mencegah risiko terjadinya anemia.