Latar Belakang : Kemampuan kognitif anak dipengaruhi oleh kondisi gizi anak pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau saat anak usia dini. Upaya dalam peningkatan kemampuan kognitif anak salah satunya dengan menanggulangi masalah stunting anak baduta di Indonesia. Kondisi kejar tumbuh anak memberikan pengaruh pada kemampuan kognitif saat usia sekolah hingga remaja akhir. Tujuan: Menganalisis pengaruh kejar tumbuh dengan kemampuan kognitif anak di Indonesia.Metode : Penelitian menggunakan data longitudinal Indonesia Family Life Survey (IFLS) dengan desain studi observasional metode retrospektif. Penelitian dibagi menjadi 2 model sesuai periode pengamatan yaitu model 1 usia 0-23 bulan s/d 10-12 tahun (643 anak) dan model 2 usia 0-23 bulan s/d usia 17-19 tahun (515 anak). Penelitian ini menggunakan 2 model pengamatan karena pengukuran kemampuan kognitif menggunakan kuesioner yang berbeda saat usia 10-12 tahun dan usia 17-19 tahun. Anak dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan perubahan nilai HAZ >-1 SD, menjadi (1) kelompok tidak stunted, (2) stunted kejar tumbuh, (3) tidak stunted menjadi stunted, dan (4) stunted tidak kejar tumbuh. Hasil Penelitian : Hasil multivariat model 1 menunjukkan anak yang stunted tidak kejar tumbuh saat usia balita memiliki kemampuan kognitif usia 10-12 tahun 1,7 poin lebih rendah dibandingkan dengan anak tidak pernah stunted (p=0,001). Model 2 menunjukkan bahwa kelompok anak stunted kejar tumbuh memiliki kemampuan kognitif 0,9 poin lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak stunted (p=0,020). Anak stunted yang kejar tumbuh memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak kejar tumbuh pada usia 10-12 tahun, namun memiliki skor kemampuan kognitif yang lebih rendah pada usia 17-19 tahun. Kesimpulan : Stunted pada usia 0-23 bulan merupakan faktor penting dalam menentukan kemampuan kognitif anak pada usia selanjutnya. Kejar tumbuh setelah stunted pada usia sebelumnya mengindikasikan hubungan dengan kemampuan kognitif pada usia selanjutnya (usia 10-12 tahun dan 17-19 tahun), walaupun usia terjadinya berbeda pada model 1 dan 2. Penelitian ini merekomendasikan anak yang sudah terlanjur stunted harus didukung untuk kejar tumbuh, dengan cara harus tetap dipantau dalam pemberian makan, stimulasi dan pertumbuhannya agar memenuhi kebutuhan pertumbuhan linier dan perkembangan otak sehingga meningkatkan kemampuan kognitif