Latar Belakang: Waktu tunggu sering kali dijadikan untuk menilai kualitas pelayanan rumah sakit oleh pasien. Penelitian ini menunjukkan bahwa waktu tunggu penjadwalan operasi pada pelayanan bedah elektif onkologi di RSUD Kota Bogor masih lebih dari 90 hari, jauh melampaui standar nasional maupun internasional yang idealnya berada di bawah 30–45 hari. Persentase pasien yang sudah dioperasi di tahun 2024 mencapai 46,1%. Banyak pasien mengalami nyeri berkepanjangan, kecemasan, bahkan satu kasus meninggal dunia dalam masa tunggu, yang menandakan bahwa sistem belum responsif terhadap kebutuhan klinis yang mendesak. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dari total 154 pasien bedah elektif onkologi, sebanyak 72 pasien (46,8%) telah mendapatkan jadwal operasi, sementara 82 pasien (53,2%) belum dijadwalkan hingga waktu pengumpulan data dilakukan. Data ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh pasien belum memperoleh kepastian waktu tindakan medis, meskipun telah memenuhi indikasi untuk menjalani operasi. HasiI: Hasil penelitian ditemukan faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tunggu penjadwalan operasi elektif onkologi sangat mempengaruhi proses pelayanan yang akhirnya berdampak pada outcome berupa kepuasan dan keterlambatan tindakan medis. Kesimpulan : Permasalahan di dalam pelayanan operasi elektif pasien onkologi di RSUD Kota Bogor adalah keterbatasan sumber daya manusia, fasilitas, dan sistem yang belum terdigitalisasi, serta kurangnya penguatan koordinasi antar elemen pelayanan.
Background: Waiting time is often used to assess the quality of hospital services by patients. This study shows that the waiting time for scheduling surgery in elective oncology surgery services at Bogor City Hospital is still more than 90 days, far exceeding national and international standards which are ideally below 30-45 days. The percentage of patients who have been operated on in 2024 reached 46.1%. Many patients experience prolonged pain, anxiety, and even one case died during the waiting period, indicating that the system is not yet responsive to urgent clinical needs. Methods: This study used a qualitative method. Of the total 154 elective oncology surgery patients, 72 patients (46.8%) had received a surgery schedule, while 82 patients (53.2%) had not been scheduled until the time of data collection. These data indicate that more than half of the patients have not received certainty about the time of medical action, even though they have met the indications for surgery. Results: The results of the study found that factors that influence the waiting time for scheduling elective oncology surgery greatly affect the service process which ultimately has an impact on outcomes in the form of satisfaction and delays in medical action. Conclusion: Problems in elective surgery services for oncology patients at Bogor City Hospital are limited human resources, facilities, and systems that have not been digitized, as well as the lack of strengthening coordination between service elements.