Krisis kesehatan jiwa di Indonesia terus meningkat dengan prevalensi gangguan jiwa berat mencapai 630 ribu orang dan lonjakan angka bunuh diri hingga 180% pada 2023, di tengah keterbatasan rasio psikiater yang hanya 1:250.000 penduduk. Kondisi ini menempatkan keluarga sebagai garda terdepan (family caregiver) yang memikul beban multi-dimensi. Penelitian kualitatif ini bertujuan mendeskripsikan secara mendalam proses appraisal dan coping mechanism keluarga di Rumah Jiwa Cipayung, Jakarta Timur, inovasi layanan komunitas di wilayah dengan kasus ODGJ yang tinggi (471 kasus). Menggunakan Model Transaksional Stres Lazarus dan Folkman, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap primary appraisal, keluarga awalnya memaknai perawatan sebagai situasi menekan (stressful) sebelum berproses menuju penerimaan sebagai ujian hidup. Dalam secondary appraisal, keterbatasan sumber daya internal keluarga diperkuat oleh dukungan eksternal dari tenaga kesehatan dan lingkungan Rumah Jiwa. Mekanisme koping yang digunakan merupakan kombinasi problem-focused coping melalui manajemen pengobatan serta emotion-focused coping melalui pendekatan religius dan dukungan sosial. Konteks layanan Rumah Jiwa Cipayung terbukti mentransformasi penilaian keluarga dari persepsi ancaman menjadi tantangan melalui dukungan sistem yang terstruktur. Penguatan sumber daya komunitas ini mendorong keluarga menggunakan mekanisme koping yang lebih adaptif, baik secara praktis maupun emosional, dalam merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa.
The mental health crisis in Indonesia is escalating, with severe mental disorder prevalence reaching 630,000 cases and a 180% surge in suicide rates in 2023, coupled with a critical psychiatrist ratio of only 1:250,000. This situation positions families as frontline caregivers (family caregivers) bearing multidimensional burdens. This qualitative study aims to describe the appraisal processes and coping mechanisms of families at Rumah Jiwa Cipayung, East Jakarta—a community-based service innovation in an area with high psychiatric cases (471 cases). Grounded in Lazarus and Folkman’s Transactional Model of Stress, data were collected through in-depth interviews and observations. Findings indicate that during primary appraisal, families initially perceive caregiving as a stressful situation before transitioning toward acceptance as a life trial. In secondary appraisal, limited internal resources are bolstered by external support from healthcare workers and the Rumah Jiwa environment. Coping mechanisms involve a combination of problem-focused coping through medication management and emotion-focused coping via religious approaches and social support. The Rumah Jiwa Cipayung service context proved to transform family appraisal from a perceived threat into a manageable challenge through structured systemic support. This strengthening of community resources enables families to employ more adaptive coping mechanisms, both practically and emotionally, in caring for family members with mental disorders.