Ditemukan 15818 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Suma'mur P.K.
Hiperkes Vol.XVIII, No.4; Vol.XIX, No.1
Jakarta : Depnakertrans, 1985/1986
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Su'mamur Prawira Kusumah; Promotor: Asri Rasad; Kopromotor: Nur Asikin
Abstrak:
ABSTRAK Ruang Lingkup dan Cara Penelitian : Batas Sehat Pemaparan Kerja (BSPK) dan standar operasional Batas Pemaparan Kerja Operasional (BPKO) merupakan konsep yang terakhir dalam perlindungan kesehatan tenaga kerja. Penelitian ini menguji penerapan BSPK sebagai suatu standar praktek higene perusahaan dan kesehatan kerja (Hiperkes). Pengujian penerapan BSPK kepada timbal (Pb) pada pabrik aki bertujuan menentukan besarnya BSPK untuk timbal, menilai standar yang sekarang berlaku yaitu kadar timbal udara sebesar 150 pg/m3 dan menyusun BPKO untuk timbal atas dasar nilai BSPK tersebut. Untuk pengujian penerapan BSPK timbal dipergunakan kelompok kelola yang terdiri atas 97 dan 44 orang laki-laki dan wanita yang sehat, tidak mengalami pemaparan timbal dan berusia lebih dari 20 dan kurang dari 55 tahun, dan tenaga kerja pria yang mengalami pemaparan timbal pada pabrik aki nomor 1, 2, 3, dan 4 dengan masing-masing 153, 112, 41 dan 111 orang serta 43, 20 dan 38 tenaga kerja wanita pada pabrik aki nomor I, 2 dan 4. Kadar timbal darah atau larutan sampel debu timbal udara ditentukan dengan metoda spektrofotometri absorpsi atom tanpa nyala api. Kadar seng-protoporfirin sel darah merah diukur secara flu orometri menurut metoda ekstraksi dengan etanol. Pengambilan sampel debu dari udara dilaksanakan dengan mempergunakan alat pengambil sampel debu perorangan. Selain itu, diperiksa pula kesehatan, kadar Hb, hematokrit, dan adanya sel darah merah bernoktah basofil. Hasil dan Kesimpulan: Pada kelompok kelola pria dan wanita yang berusia rata-rata 33,1 (DS = 8,3) dan 27,6 (DS = 5,4) tahun, rata-rata kadar timbal darah adalah 117,3 (DS = 61,0) dan 102,2 (DS = 49,4) pg/l masing-masing untuk pria dan wanita. Adapun rata-rata kadar sengprotoporfirin sel darah merah pada kelompok kelola adalah 534,2 (DS = 174,2) dan 571,5 (DS = 173,6) pg/l masing-masing untuk pria dan wanita. Kadar seng-protoporfirin sel darah merah yang dipakai untuk menetapkan BSPK timbal darah dan didapat dari rumus nilai rata-rata kadar normal + 2 deviasi standar dengan ditambah 50 % dan nilai jumlah tersebut adalah 1324 dan 1378 pig/1 masing-masing bagi pria dan wanita. Nilai BSPK timbal darah untuk pria ditemukan sebesar 376,8 gel dengan batas nilai dari 331,2 sampai dengan 422,4 pg/l (p 0,05). Nilai BSPK timbal darah bagi pria ini diperoleh dengan menggunakan persamaan-persamaan garis regresi dari masing-masing, pecahan atau gabungan tenaga kerja pabrik aid nomor 2, 3 dan 4. Koefisien korelasi antara kadar seng-protoporfirin sel darah merah dan kadar timbal darah pada tenaga kerja terse but secara statistik adalah bermakna atau sangat bermakna ( p adalah < 0,05, <0,01 atau <0,001 ). Nilai BSPK ini adalah nilai rata-rata dari seluruh nilai BSPK yang dihasilkan oleh delapan persamaan garis regresi. Nilai BSPK timbal darah untuk wanita adalah 306,9 pg/l dengan batas nilai dari 269,7 sampai dengan 344,0 pg/1 (p = 0,05). Nilai BSPK timbal darah untuk wanita ini ditetapkan dengan menggunakan nilai BSPK timbal darah untuk pria setelah diadakan penyesuaian atas dasar data kadar timbal darah dan kadar seng-protoporfirin set darah merah pada kelompok kelola pria dan wanita. Nilai BSPK tersebut dapat dikatakan sama dengan nilai yang ditetapkan oleh Kelompok Studi Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) yaitu 400 pg/l dan 300 pbf l masing-masing untuk pria dan wanita (masing-masing p > 0,05). Kadar timbal udara ternyata tidak berkorelasi secara statistik bermakna dengan kadar timbal darah (masing-masing p > 0,05). Sebagai standar BPKO, kadar tertinggi timbal darah yang tidak boleh dilewati guna melindungi kesehatan tenaga kerja adalah 700 pgf 1 bagi pria dan 600 pg/l bagi wanita. Se-lain itu, pada kadar timbal darah 500-599 pg/l terjadi kenaikan secara kentara reaksi dalam bentuk kadar seng-protoporfirin sel darah nierah yang sama atau lebih besar dari 3000 pg/l. Selanjutnya, kadar timbal udara yang tidak boleh dilewati sebagai standar operasional higene dan lingkungan dianjurkan sebesar 70 pgjm3 debu timbal yang respirabel dalam udara. Kadar timbal udara ini tidak boleh dipakai untuk pemantauan dan pengendalian tingkat pemaparan timbal kepada tenaga kerja, melainkan hanya petunjuk bagi aplikasi dan penilaian ketepatan teknologi pengendaiian kadar timbal dalam udara tempat kerja. Dengan demikian, maka standar NAB sebesar 150 pgfm3 timbal dalam udara perlu ditinjau kembali serta disesuaikan dengan standar BPKO untuk timbal sebagai hasil penelitian ini.
Read More
D-46
Jakarta : FK UI, 1986
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Soeripto, Hadiyanto, H. Pasaribu
Hiperkes Vol.XV, No.3&4
Jakarta : Depnakertrans, 1982
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sukmayati Alegantina, Ani Isnawati, Darohan Mutiatikum
MPPK Vol.XVIII, No.4
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ladyka Viola Aulia Armawan; Pembimbing: Haryoto Kusno Putranto, Bambang Wispriyono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Didi Purnama, Inswiasri
Abstrak:
Timbal adalah salah satu bahan kimia beracun yang menyebabkan polusi udara berbahaya di lingkungan dan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia yang toksisitasnya bertahan seumur hidup karena timbal terakumulasi dalam tubuh manusia. Timah hitam adalah salah satu komponen baterai yang sangat dibutuhkan sebagai bahan dasar pembuatan baterai. Baterai bekas dapat didaur ulang dengan melelehkan timbal yang terkandung di dalam lempengan menjadi batangan hitam yang dapat digunakan kembali sebagai bahan baku untuk membuat baterai baru. Penelitian ini bertujuan untuk menilai besarnya risiko kesehatan yang muncul dari paparan Pb udara ambien ke tempat tinggal di area baterai smelter. Penelitian ini menggunakan desain analisis risiko kesehatan masyarakat atau disebut juga Public Health Assessment. Subjek penelitian ini adalah populasi manusia yang berisiko terpapar Pb dalam hal ini orang- orang yang tinggal di sekitar bekas pabrik peleburan baterai di Desa Cinangka. Konsentrasi Pb di udara ambien tertinggi terukur di kawasan peleburan aki bekas sebesar 0,91 μg/Nm3 dan konsentrasi terendah 0,04 μg/Nm3. Intake realtime terbesar yang diterima invidu 12,64×10-5 mg/Kg/hari. Hasil perhitungan RQ individu ditememukan sebanyak 10,9% (11 responden) yang memiliki risiko non karsinogen dan memmerlukan tindakan manajemen risiko. Sebagian besar responden yang diteliti minimal mengalami sakit salah satu dari gejala gangguan pernafasan sebanyak 86,1%. Penelitian lebih lanjut tentang evaluasi toksikologi partikel direkomendasikan untuk dilakukan di masa depan.
Keyword : Lead, Public Health Assesment, Ambient Air Inhahalation
Lead is one of the toxic chemicals causing dangerous air pollution in the environment and its very dangerous for human health whose toxicity lasts for a lifetime because lead accumulates in the human body. Lead is one of the components of the battery that is needed as the basic material for making batteries. Used batteries can be recycled by melting the lead contained in the plates into black bars that can be reused as raw material for making new batteries. This research was aimed to assess the magnitude of emerging health risk of ambient air Pb exposure to residence at smelter batteries area. This study uses a design of public health risk analysis or also called Public Health Assessment. The subject of this study is the human population at risk of being exposed to Pb in this case the people living around the former battery smelter in Cinangka Village. The highest concentration of Pb measured in the former battery smelting area was 0,91 μg/Nm3 and the lowest concentration was 0,04 μg/Nm3. The biggest intake realtime received by individual was 12,64 × 10-5 mg/Kg/day. The results of the calculation of individual RQ were found that 10,9% (11 respondents) who had a non-carcinogen risk and needed risk management actions. Most of the respondents were experienced one of the symptoms of respiratory problems as much as 86,1%. Further research on particle toxicology evaluation is recommended.
Keyword : Lead, Public Health Assesment, Ambient Air, Inhalation
Read More
Keyword : Lead, Public Health Assesment, Ambient Air Inhahalation
Lead is one of the toxic chemicals causing dangerous air pollution in the environment and its very dangerous for human health whose toxicity lasts for a lifetime because lead accumulates in the human body. Lead is one of the components of the battery that is needed as the basic material for making batteries. Used batteries can be recycled by melting the lead contained in the plates into black bars that can be reused as raw material for making new batteries. This research was aimed to assess the magnitude of emerging health risk of ambient air Pb exposure to residence at smelter batteries area. This study uses a design of public health risk analysis or also called Public Health Assessment. The subject of this study is the human population at risk of being exposed to Pb in this case the people living around the former battery smelter in Cinangka Village. The highest concentration of Pb measured in the former battery smelting area was 0,91 μg/Nm3 and the lowest concentration was 0,04 μg/Nm3. The biggest intake realtime received by individual was 12,64 × 10-5 mg/Kg/day. The results of the calculation of individual RQ were found that 10,9% (11 respondents) who had a non-carcinogen risk and needed risk management actions. Most of the respondents were experienced one of the symptoms of respiratory problems as much as 86,1%. Further research on particle toxicology evaluation is recommended.
Keyword : Lead, Public Health Assesment, Ambient Air, Inhalation
T-5502
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Deborah Dwipartidrisa; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Sifa Fauzia
Abstrak:
Mengingat daur ulang aki bekas informal masih banyak dilakukan di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, dan anak-anak adalah kelompok paling rentan, maka peneliti tertarik untuk meneliti faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan pajanan timbal lingkungan pada anak di sekitar lokasi tersebut. Menggunakan desain systematic review dengan pendekatan kualitatif dan berpedoman pada PRISMA-P (Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyse Protocols), sebanyak 10 artikel jurnal dan penelitian akademis ditinjau. Sampel diperoleh dari pangkalan data Google Scholar dan Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) yang dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir (2011-2021). Pada kelompok usia 1-5 tahun, 47% anak memiliki kadar timbal darah sebesar ≥5 µg/dL dan 9% sebesar ≥10 µg/dL dan anak usia sekolah sebesar 16,65±13,18 µg/dL. Kadar tersebut telah melebihi rekomendasi (<5µg/dL). Rata-rata konsentrasi timbal lingkungan di udara dan tanah masing-masing sebesar 2,94±10,7 µg/mᶾ dan 2254,5±1925,25 mg/kg. Faktor risiko yang berhubungan diantaranya usia, status ekonomi, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, sumber dan pola asupan nutrisi, kebiasaan dan perilaku anak, lokasi rumah, dan konsentrasi timbal di lingkungan.
Read More
S-10794
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ririn A. Wulandari; Pembimbing: Umar F. Achmadi
T-297
Depok : FKM UI, 1992
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Basuki Rachmat; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: I Made Djaja, Ririn Arminsih, Inswiasri, Sunersi Nurlaila
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi pajanan timbal di udara terhadap kejadian anemia diantara anak-anak berusia 7 hingga 13 tahun yang tinggal di sekitar lokasi daur ulang aki bekas informal di wilayah Jabotabek. Sebuah studi Cross-sectional dilakukan di tiga lokasi (Tangerang, Bogor, Bekasi dan Depok) yang terdapat kegiatan daur ulang aki bekas informal. Populasi penelitian adalah anak usia 7 hingga 13 tahun di wilayah daur ulang aki bekas informal, dengan total sampel 418 orang. Sampel lingkungan adalah mengukur kosentrasi timbal di udara mengunakan High Volume Air Sampler (HVAS) dan dianalisis dengan spektrometri serapan atom (AAS). Untuk mengatahui kejadian anemia dilakukan pengukuran Hb darah dengan HemoCue® Hb 201+ System. Analisis multivariat dilakukan untuk mengevaluasi faktor yang terkait dengan kejadian anemia pada anak. Hasil penelitian didapatkan rata-rata konsentrasi timbal di udara (n=52) adalah 2,96 μg/m3 dengan kisaran 0,01 hingga 78,05 μg/m3 dan standar deviasi 13,23. Rata-rata kadar Hb darah anak-anak adalah 11,89 g/dL kisaran 7,7 hingga 16,10 g/dL, dengan prevalensi anemia 51,2%. Konsentrasi timbal tinggi di udara sangat terkait dengan peningkatan kejadian anemia pada anak (OR: 3,96; 95% CI: 1,83-8,56) setelah di kontrol faktor prilaku konsumsi kalsium (OR: 0,68; 95% CI: 0,46-1,01). Studi ini menunjukan hubunan antara paparan timbal di udara dengan kejadian anemia dan menyoroti perlunya memperkuat kebijakan, pengawasan dan pengembangan strategi untuk mengurangi paparan timbal.
Read More
T-5654
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suharti; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Ridwan Z Sjaaf, Mayarni
T-1331
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
D. Mutiatikum, Suryadi Sukiman, Ani Isnawati
CDF-No.13
Jakarta : [s.n.] :
1992
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
