Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 15740 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Deny Hidayati
JKI Vol.VII, No.1
Jakarta : LIPI, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Nur Anggraini; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Udit
S-7862
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Rezeki; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Yuni Kusminanti
S-6965
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Widiastari; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Wachyu Sulistiadi, Nurbaiti Yuliana
Abstrak: Wilayah Indonesia secara geografis merupakan area yang rawan bencana. Jikaterjadi bencana biasanya akan ada penyakit-penyakit menular tertentu yang timbuldan mengalami peningkatan melebihi batas normalnya di masyarakat yangterdampak oleh bencana tersebut. Pada akhirnya hal tersebut dapat dikategorikansebagai darurat kesehatan masyarakat. Masyarakat adalah pihak pertama yanglangsung berhadapan dengan ancaman dan bencana karena itu kesiapanmasyarakat menentukan besar kecilnya dampak bencana di masyarakat. Indonesiasebagai negara berkembang tentunya memiliki wilayah perkotaan dan pedesaanyang berbeda dari aspek pembangunan, pemerintahan serta kondisi geografisnya.Perbedaan potensi aspek tersebut tentunya berpengaruh terhadap kemungkinanadanya perbedaan juga dari sisi kesiapsiagaan masyarakatnya dalam menghadapikondisi darurat kesehatan masyarakat dan kebencanaan. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui seperti apa gambaran kesiapsiagaan masyarakatperkotaan dan pedesaan di Indonesia yang dalam penelitian ini mengambil contohdi wilayah Kampung Makasar-Jakarta Timur dan Desa Campaka-Cianjur yangdipilih berdasarkan pertimbangan bahwa kedua wilayah tersebut berpontensi akanadanya masalah darurat kesehatan masyarakat baik dari segi bencana maupunpeningkatan kasus penyakit. Penelitian ini menggunakan gabungan dari metodekuantitatif data analisis deskriptif berdasarkan penilaian kesiapsiagaan masyarakatyang mengkombinasikan dari unsur Desa Siaga Aktif dan Desa Tangguh Bencanadan kualitatif (wawancara mendalam, telaah dokumen). Hasil dari penelitian inimengungkap bahwa ada perbedaan nilai kesiapsiagaan di masyarakat pedesaaandan perkotaan. Pada wilayah perkotaan, hasil persentase kesiapsiagaan yangdidapat adalah sebesar 62.3% sedangkan untuk wilayah pedesaan sebesar 41.3%.Dari 20 indikator hampir memenuhi dalam hal keberadaan dan juga bervariasiantara daerah pedesaan dan perkotaan. Poin yang masih kurang adalahpelaksanaan indikator dan kinerja belum seperti yang diharapkan sebagaimanamestinya. Penyebab perbedaan yang paling mencolok hasil antara pedesaan danperkotaan perbedaan struktural, aksesibilitas, pendanaan dan pengetahuanmasyarakat. Untuk itu diperlukan pengawasan pihak stakeholder (dalampenelitian ini adalah Puskesmas, pemerintah di pedesaan dan perkotaan)Kata kunci : kesiapsiagaan masyarakat, darurat kesehatan masyarakat, pedesaan,perkotaan.
Indonesia teritory geographically is a disaster-prone area. In the event of a disasterthere will usually be certain infectious diseases that arise and have increasedbeyond normal limits in communities affected by the disaster. In the end it can becategorized as a public health emergency. Community is the first to directly dealwith the threat and disaster. Preparedness in community will determines the sizeof the impact of disasters on communities. Indonesia as a developing country haveurban and rural areas that different from the aspect of development, governmentand geography. The potential difference aspects certainly affect the possibility ofdifferences also in terms of community preparedness in the face of public healthemergencies and disasters. The purpose of this study was to determine aboutcommunity preparedness in urban and rural communities in Indonesia, which inthis study took a sample in Kampung Makasar-East Jakarta and Desa Campaka-Cianjur that were selected based on the consideration that the two regions areequally harmful for any problems public health emergencies both in terms ofdisaster as well as an increase in cases of the disease. This study uses acombination of quantitative methods (descriptive analysis data based on anassessment of the preparedness of community that combines elements of DesaSiaga Aktif and Desa Tangguh Bencana) and qualitative methods (in-depthinterviews, review of documents). The results of this study reveal that there areany differences in preparedness in rural and urban communities. In urban areas,the percentage of community preparedness is 62.3%, while in rural areas is 41.3%.Almost all of 20 indicators meet in existence and also vary between rural andurban areas. Points are still lacking is the implementation and performanceindicators were not as expected as it should be. The cause of the most strikingdifference between the results of the structural differences in rural and urbanareas, accessibility, funding and knowledge society. It is necessary for thesupervise of the stakeholders (in this research are health centers, the governmentin rural and urban)Keywords: community preparedness, public health emergency, rural, urban.
Read More
T-4826
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ronny Sutanto; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Amal Chalik Sjaaf, Syahrir A. Pasinringi; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Idrus A. Paturusi, Djazuli Chalidyanto, Andreasta Meliala, Sukamto Koesnoe
Abstrak:

Indonesia berpotensi rawan terjadi bencana alam gempa bumi. Kerugian negara akibat bencana alam sejak  tsunami Aceh bulan desember tahun 2004 hingga gempa di sumatera barat mencapai 150 triliun lebih. Selain kerugian harta benda gempa mengakibatkan korban jiwa masif, korban luka, dan kerusakan infrastruktur. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir kerugian tersebut terus berulang terjadi hal tersebut diakibatkan oleh karena kegagalan tata kelola. Tata kelola bencana yang baik harus didukung Good Coorporate Governance dan Good Cinical Governance. Bencana gempa bumi di Lombok, Palu, Cianjur dan Turki telah menyebabkan kerusakan infrastruktur kesehatan, menelan korban jiwa massal dan mengakibatkan korban luka berat yang banyak. Korban umumnya adalah kasus patah tulang yang ditangani oleh dokter orthopedi. Pada saat tanggap darurat bencana gempa bumi pertolongan korban menjadi lambat disebabkan oleh beberapa hal antara lain : tenaga medis lokal turut menjadi korban, distribusi logistik terganggu, peran pemerintah dan lembaga non pemerintah dalam komando, koordinasi dan komunikasi antar lembaga kebencanaan belum sepenuhnya terintegrasi dengan regulasi yang ada, akses menuju layanan rujukan kesehatan dan fasilitas kesehatan yang terganggu. Hal tersebut menambah keparahan tata kelola bencana gempa bumi bahkan disertai tsunami, likuifaksi, longsor maupun wabah pandemi. Tujuan dari penelitian ini untuk menyusun model tata kelola darurat orthopedi pada fase tanggap darurat bencana gempa bumi berbasis sistem input proses dan output yang terjadi. Menggunakan multi case study methods di Lombok, Palu, Cianjur dan Turki rancangan penelitian ini disusun melalui lima tahapan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian yang didapat dari hasil analisis kesenjangan menunjukkan bahwa tata kelola pada dimensi karakteristik gempa, faktor eksternal dan resiliensi bangunan fasilitas kesehatan mempengaruhi faktor existing condition yang sudah ada pada tata kelola darurat orthopedi fase tanggap darurat bencana gempa bumi. Konstruksi model dihasilkan dari analisis pengembangan tata kelola lama melalui analisis kesenjangan dari dimensi existing condition dan precondition yang telah dilakukan prediksi acceptancenya berdasar governansi klinis, organisasi dan kebencanaan sebagai rancang bangun adaptive model dari tata kelola bencana yaitu model MELFASSER. Model MELFASSER merupakan penyempurnaan dari tata kelola lama yang disusun dengan memperhitungkan dimensi karakteristik gempa antara lain Magnitude, Epicentrum dan Locations, Fore and After Shock, Side Effect dan juga mempertimbangkan faktor eksternal dan Resiliensi bangunan layanan kesehatan. Hasil temuan ini dikembangkan menjadi ajuan rancangan borang MELFASSE untuk penilaian pemberdayaan local resources dan rekomendasi aktifasi existing condition dan borang RVAHBR untuk penilaian ketahanan gedung faskes sebagai preliminary assessment pada tata kelola darurat orthopedi fase tanggap darurat bencana gempa bumi. borang MELFASSE-R yang disusun diharapkan akan lebih luas pemanfaatannya dan dapat digunakan dengan mudah sesuai dengan kapasitas sumberdaya lokal dalam menyusun rekomendasi aksi selanjutnya pada saat fase tanggap darurat bencana gempa bumi.


 

Indonesia is prone to potential earthquake natural disasters. State losses due to disasters since the Aceh tsunami in December 2004  to West Sumatra earthquake reached more than 150 trillion rupiah. Apart from significant property lossess, the earthquake resulted in massive loss of life, injuries and infrastructure damages. Over the past 5 years, these losses have continued to occur repeatedly, this is due to failures in governance. Good disaster governance must be supported by Good Corporate Governance and Good Clinical Governance. Earthquake disasters in Lombok, Palu, Cianjur and Turkey lead to many health infrastructures damage, severe mass casualties, and resulted in many serious injuries. Victims of serious injuries most commonly suffer from bone fractures that require treatment by an orthopedic surgeon. During the earthquake response phase, humanitarian aid to victims was slow due to several things, including : local medical personnel became victims, logistics distribution was disrupted, the role of government and non-governmental institution in command, coordination and communication among disasters institution  was not fully integrated with existing regulations, access to health referral services and health facilities is disrupted. This increases to the severity of earthquake disaster governance, even accompanied by tsunamis, liquefaction, landslides and pandemic outbreaks. The aim of this research is to establish a model for orthopedic emergency governance in an earthquake disaster response phase based on the process input and output systems. Using multi case study methods in Lombok, Palu, Cianjur and Turkey, this research design was structured through five stages with a qualitative approach. The research results obtained from the gap analysis showed that governance in the dimensions of earthquake characteristics, external factors and resilience of health facility buildings influenced existing condition factors that already established in orthopedic emergency governance during the response phase earthquake disasters. The model generated from development analysis of existing disaster governance through gap analysis of existing conditions dimensions and preconditions whose acceptance predictions have been carried out based on clinical, organizational and disaster governance as a design for an adaptive model of disaster governance, namely the MELFASSER model. The MELFASSER model is an adaptive model from an established existing disaster governance systems in consideration of earthquake characteristics dimensions including Magnitude, Epicenter and Location, Fore and AfterShock, Side effects and also considering External factors and the Resilience of health service buildings. The results of these findings were developed into a proposal to design the MELFASSE form for assessing the empowerment of local resources and recommendations for activating existing conditions and the RVAHBR form for assessing the resilience of health facility buildings as a preliminary assessment in orthopedic emergency management during the earthquake emergency response phase.  The proposed MELFASSE-R forms is hopefully will have a broader use and to be easily adapted and carried out by existing local resources as a recommendation for further action in the response phase of an earthquake disaster.

 

 

Read More
D-562
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Medika, No.3, XXVI, Maret 2000, hal. 194-195, ( Cat. ada di bendel 2000 - 2005 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Handayani; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Wachyu Sulistiadi, Nurbaeti Yuliana
Abstrak: Kondisi negara Indonesia memiliki banyak potensi bencana, baik bencana alam dan non-alam. Kesiapsiagaan organisasi dan masyarakat dalam menghadapi darurat kesehatan masyarakat menjadi salah satu isu yang penting dalam usaha pengurangan resiko bencana. Darurat kesehatan masyarakat Intervensi kesiapsiagaan KLB merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan organisasi dalam menghadapi wabah dan Kejadian Luar Biasa (KLB) yang merupakan manifestasi dari darurat kesehatan masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesiapsiagaan organisasi dan masyarakat pada wilayah intervensi dalam menghadapi darurat kesehatan masyarakat. Studi ini merupakan descriptive study menggunakan metode kuantitatif yang diperkuat juga dengan metode kualitatif untuk mengetahui dinamika proses kesiapsiagaan. Penilaian tingkat kesiapsiagaan organisasi diukur dengan menggunakan sembilan tahap pada undang-undang penanganan bencana. Penilaian kesiagsiagaan masyarakat diukur dengan memadukan indikator desa siaga aktif dan desa tangguh bencana. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesiapsiagaan dari BPBD dan PMI di Kabupaten Cianjur dan Kotamadaya Jakarta Pusat masuk dalam kategori belum siap karena belum dapat memenuhi semua tahap kesiapsiagaan darurat kesehatan masyarakat, sedangkan Dinas Kesehatan masuk dalam kategori siap dalam menghadapi darurat kesehatan masyarakat. Hasil penilaian kesiapsiagaan masyarakat di tiga desa intervensi di Kabupaten Cianjur menunjukkan level sedang atau hampir siap, sedangkan dua kelurahan di Kotamadya Jakarta Pusat masuk dalam kategori siap menghadapi darurat kesehatan masyarakat. Ada perbedaan tingkat kesiapsiagaan menghadapi darurat kesehatan masyarakat antara wilayah pedesaan dan perkotaan. Hal ini disebabkan karena prioritas dan strategi pembangunan yang cukup berbeda pula di kedua wilayah tersebut. Kata kunci: kesiasiagaan organisasi, kesiapsiagaan masyarakat, darurat kesehatan masyarakat Under condition of Indonesia which has a lot of potential disaster,both natural ond non-natural disasters, community preparednes in public health emergency become the most important issue of disaster risk reduction. Emergency response are often being a triggers of public health emergency. Major trigger of public health emergencies is disease outbreak which cause the damage of public health system. Epidemic Preparedness project is a program which aims to improve organization and community preparedness to deal with outbreak and epidemic as public health emergency. This study aimed to analyze the organization and community preparedness as result of epidemic preparedness project. The study used the method of qualitative analysis and descriptive statistical analysis which refer to existing indicators of resilient both health and disaster. The study shows the role and responsibilities of Health District Office in term of public health emergency categorized ready while BPBD and PMI have not been ready yet. BPBD, District Health Office and PMI in the two intervention project areas (Cianjur District, Central Jakarta District) have a good coordination mechanis, otherwise the leading sector for handling public health emergencies is still dominated by the Health Sector. Analysis of community preparedness in Cianjur district showed at moderate level while Centre Jakarta showed advance level. Keywords: Organization Preparedness, Community Preparedness, Public Health Emergency
Read More
T-4802
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kliping koran kompas 2015
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive