Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33308 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurmah Yasinta; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Arif Rachman Iryawan
S-8111
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berdita; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Indang Trihandini, Besral, Kristina, Vinny Sutriani Tobing
T-4071
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yeni; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Agustin Kusumayati, Ratna Djuwita, Wenita Indra Sari, Fatcha Nuraliyah
T-3867
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suliati; Pembimbing: Indang Trihandini, Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ari Wulan Sari
Abstrak: Prevalensi HIV pada penasun meningkat dari 27%(2009) menjadi 39,2% pada tahun 2013. Akan tetapi pada kelompok penasun konsistensi pemakaian kondom hanya 17%, Perilaku membeli seks mencapai 19% dan perilaku berbagi jarum suntik 22%. Penularan HIV pada pengguna narkoba suntik tidak hanya dari pemakaian jarum suntik bersama, tetapi bisa juga melalui hubungan seksual tanpa menggunakan kondom. Penelitian ini bertujuan untuk melihat model perilaku seks berisiko pada penasun di kota Tangerang, Pontianak, Samarinda dan Makassar tahun 2013. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan jumlah sampel sebesar 261 responden. Hasil analisis dengan GSEM memperlihatkan perilaku menyuntik dan pengetahuan secara langsung mempengaruhi perilaku seks berisiko (koef path = 0,24 dan 0,016). Secara tidak langsung pengetahuan juga dapat mempengaruhi perilaku seks berisiko (koef path = 0,019). Secara keseluruhan perilaku menyuntik memberikan pengaruh lebih besar dibandingkan dengan pengetahuan. Perilaku berbagi basah, berbagi jarum dan membeli NAPZA secara patungan (koef path = 3,5 ; 2,1 dan 1,8) merupakan faktor penting yang mempengaruhi perilaku seks berisiko. Oleh sebab itu, diperlukan kerjasama lintas sektor dalam menjangkau kelompok penasun, pelayanan terpadu layanan alat suntik steril dan pemberian kondom bagi penasun merupakan langkah untuk mengurangi risiko penularan HIV /AIDS
Kata kunci : GSEM, Penasun, Perilaku Seks Berisiko
Read More
T-4326
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sugiarto; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Toha Muhaimin, R. Sutiawan, Nurhalina Afrianti, Maya Trisiswati
Abstrak: Konsistensi penggunaan kondom pada Penasun masih rendah. MenurutLaporan STBP 2013, konsistensi penggunaan kondom pada Penasun sebesar 17%pada pasangan tetap, 17% pasangan tidak tetap dan 16% pasangan komersial.Penelitian ini bertujuan untuk melihat determinan penggunaan kondom padaPenasun di 4 Kota di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data STBP Penasuntahun 2013. Cara pengambilan sampel STBP Penasun adalah Responden DrivenSampling (RDS). Analisis data secara univariat, bivariat dan multivariabel.

Hasil penelitian menunjukkan proporsi penggunaan kondom pada saatberhubungan seks sebesar 18% pada pasangan tetap, 17% pada pasangan tidaktetap, 17% membeli seks dan 5% menjual seks. Determinan penggunaan kondompada 4 pasangan berbeda, namun tidak memiliki kondom selalu ada pada semuajenis pasangan. Determinan penggunaan kondom pada pasangan tetap adalahtidak memiliki kondom, tidak merasa berisiko, pengetahuan rendah, tidakmengakses LASS, tidak menikah dan merasa kondom tidak bermanfaat dalammencegah HIV merupakan determinan dari perilaku penggunaan kondom Penasunpada pasangan tetap. Determinan penggunaan kondom pada pasangan tidak tetapadalah tidak memiliki kondom dan tidak menikah merupakan determinanpenggunaan kondom Penasun pada pasangan tidak tetap. Determinan penggunaankondom pada Penasun yang membeli seks adalah tidak memiliki kondommerupakan determinan penggunaan kondom Penasun saat membeli seks.

Kata Kunci : Penasun, Penggunaan Kondom
Consistent condom use in IDUs remains low. According to the report IBBS2013, the consistent use of condoms in 17% IDU steady partner, 17% of couplesare not fixed and 16% commercial partner. This study aims to look at thedeterminants of condom use among IDU in four cities in Indonesia. This studyuses IBBS IDU 2013. How sampling IBBS IDU is Respondent Driven Sampling(RDS). Analysis of univariate, bivariate and multivariable.

The results showed the proportion of condom use during sex by 18% on aregular partner, 17% on casual partners, 17% and 5% purchase sex sell sex.Determinants of condom use on four different couples, but does not have acondom always exist in all types of couples. Determinants of condom use on aregular partner is not having a condom, do not feel at risk, low knowledge, noaccess LASS, not married and feel condoms are not useful in preventing HIV is adeterminant of condom use behaviors of IDUs in couples staying. Determinants ofcondom use in casual partners is not to have condoms and abstaining frommarriage is the determinant of condom use in casual partners of IDUs. The Determinants of condom use among IDU who buy sex is not having a condom is a determinant of the use of condoms when buying sex IDU.

Keywords: IDU, Condom Use
Read More
T-4741
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andini Ayu Lestari; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Milla Herdayati, Nurhalina Afriana
Abstrak: Kelompok Penasun merupakan kelompok berisiko HIV dengan agka prevalensi HIV lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok berisiko HIV lainnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku berisiko HIV pada Penasun dewasa muda dan dewasa madya di 3 kota di Indonesia. Desain penelitian ini adalah cross sectional menggunakan data STBP tahun 2011 dan 2015. Sampel dalam penelitian ini adalah Penasun di kota Medan, Bandung, dan Malang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Hasil penelitian menunjukkan prevalensi HIV lebih tinggi pada Penasun dewasa madya, namun meningkat 10% pada Penasun dewasa muda. Analisis multivariabel menunjukkan perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif tahun 2011 pada Penasun dewasa muda adalah mulai menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, tidak mengurangi praktik setting basah, pernah melakukan hubungan seks, berhubungan seks dengan lebih dari 1 orang, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik dan berhubungan seks pada usia ≤ 18 tahun dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya.

Pada tahun 2015 perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif pada Penasun dewasa muda adalah menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, pinjam meminjam jarum, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik pada usia ≤ 18 tahun, dan memiliki pasangan seks tidak tetap dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya. Perlu adanya peningkatan layanan pencegahan HIV ke Penasun dewasa muda dan intervensi terhadap jejaring Penasun.

Kata kunci : Penasun, dewasa muda, dewasa madya, perilaku berisiko HIV

IDU is population-at-risk that has the highest HIV prevalance in Indonesia. This study aims to know different risk behavior among young adult and middle-aged adult IDU in 3 cities in Indonesia. This study design is cross sectional by using IBBS data 2011 and 2015. Samples in this study were IDU in 3 cities in Indonesia that meet inclusion and exclusion criteria.

The result shows that HIV prevalence is higher among middle-aged adult IDU, but increase 10% among young adult IDU. Multivariable analysis shows risk behaviors that increase risk of HIV positive among young adult IDU in 2011 are age at first injection ≤ 18 years, not reduce sharing drugs with water, ever had sex, and having multiple sex partners; whereas first injection and first had sex at ≤ 18 years old increase risk of HIV positive status among middle-aged adult IDU.

In 2015, risk behaviors that increase HIV positive status among young adult IDU are age at first injection ≤ 18 years, sharing syringes to inject, and not consistent using condom; whereas first injection at ≤ 18 years old and having casual sex partner increase risk of HIV positive among middle-aged adult IDU. Prevention HIV services should be improved for young adult IDU and also network intervention should be improved.

Keywords : IDU, young adult, middle-aged adult, hiv risk behavior
Read More
S-9554
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firli Kusuma Ardiati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Martya Rahmaniati, Novera Parulian Sandi
S-6083
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kurniawati; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Fitra Yelda, Rahmadewi
Abstrak: Prevalensi pengguna kontrasepsi modern penting ditingkatkan dalam upayamenurunkan Angka Fertilitas Total. Akan tetapi, angka nasional prevalensipengguna kontrasepsi modern belum mencapai target dengan disparitas yangtinggi antar provinsi. Dalam upaya menurunkan disparitas tersebut, dibutuhkaninformasi berbasis wilayah sesuai dengan faktor-faktor penentunya untukmendapatkan kebijakan spesifik. Faktor-faktor tersebut digambarkan dari sisipengguna dan penyelenggara program KB. Penelitian deskriptif ini menggunakandesain studi crosssectional dengan data sekunder agregat tingkat provinsi darilaporan rutin BKKBN dan BPS serta SDKI 2012. Hasil segmentasi didapatkan 4segmen optimal dan segmen 4 dipilih sebagai segmen prioritas dalam upayamenurunkan disparitas prevalensi pengguna kontrasepsi modern.
Kata Kunci:segmentasi, prevalensi pengguna kontrasepsi modern, disparitas
The prevalence of modern contraceptive users is important to be increased inorder to reduce the Total Fertility Rate. However, the national prevalence rate ofmodern contraceptive users has not reached the target with a high disparity interprovince. In an effort to decrease the disparity, region based information isrequired in accordance with influencing factors that described in terms of demandand supply of family planning program to get specific policies. This descriptivestudy used a cross-setional study design and secondary data aggregate atprovincial level from BKKBN and BPS routine reports and IDHS 2012. Theprovincial segmentation results in 4 segments as the number of optimal segmentand segment 4 as the priority in effort to decrease the disparity.
Key Words:Segmentation, Contraceptive Prevalence Users, Disparity
Read More
S-8216
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khusnul Khotimah; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Siti Nadia Tarmizi
S-8615
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melisa Rahmadini; Pembimbing: Besral; Penguji: Poppy Yuniar, Rahmadewi
S-8155
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive