Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40787 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Endang Darajat; Pembimbing: Dewi Susanna, Yasep Setiakarnawijaya; Penguji: Arminsih Ririn Wulandari, Cecep Suherlan Alamsyah, Abdul Syukur
Abstrak: Latar Belakang : Berdasarkan data Dinas Olahraga DKI Jakarta tahun 2005 diperkirakan 8000 orang setiap harinya melakukan aktifitas berenang. Kebutuhan air bersih untuk kegiatan ini besar jumlahnya. Air bersih yang digunakan berasal dari air tanah dan Perusahaan Air Minum DKI Jakarta. Banyaknya orang yang berenang sangat mempengaruhi kualitas air kolam renang. Kualitas air ini harus terus dipertahankan agar terhindar dari risiko pencemaran. Dengan melakukan surveilans melalui kegiatan inspeksi sanitasi diharapkan dapat diketahui nilai kesesuaian antara hasil pengukuran tingkat risiko pencemaran dengan hasil pemeriksaan kualitas bakteriologik air kolam renang.

Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian antara hasil pengukuran tingkat risiko pencemaran dengan inspeksi sanitasi dan hasil pemeriksaan bakteriologik pada air kolam renang di dki jakarta tahun 2005

Bahan dan Cara Kerja: Penelitian ini menggunakan disain cross sectional. Besarnya populasi pada penelitian ini sebanyak 35 kolam renang dengan jumlah sampel 30 kolam renang. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah variabel inspeksi sanitasi berjumlah 13 variabel dengan analisis yang dipakai adalah univariat dan bivariat.

Hasil: Hasil analisis diketahui bahwa 13 (44 %) air kolam renang menunjukkan tingkat risiko pencemaran rendah dan 17 (56%) air kolam renang menunjukkan tingkat risiko pencemaran tinggi. Sedangkan untuk kualitas bakteriologik diketahui 11 (36,7%) air kolam renang berkualitas baik dan 19 (63,3%) air kolam renang berkualitas buruk.

Kesimpulan: Besarnya nilai kesesuaian yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 0,733 artinya terdapat nilai kesesuaian baik. Variabel isi air merupakan variabel yang memiliki tingkat risiko pencemaran paling tinggi. Berdasarkan aspek inspeksi sanitasi didapat 8 aspek prediktif dan 5 aspek non-prediktif.Perlunya pemeriksaan air kolam renang secara berkala serta dilaksanakan penyuluhan dan bimbingan pada pengelola kolam renang dan masyarakat akan arti penting dari baiknya kualitas air kolam renang terhadap kesehatan.

Kata Kunci : Kesesuaian, Tingkat risiko pencemaran, Inspeksi Sanitasi, Kualitas Bakteriologik, Air Kolam Renang, DKI Jakarta.
Background: According to the data on Sport Department of DKI Jakarta, it was estimated that 8000 people do swimming everyday. Clean water required in this activity. It has proven us that this activity deeds big amount of clean water. Clean water that used in that activity comes from ground water as well as DKI Jakarta Municipal Water Corporation. The number of people swimming. The number of people swimming in that pool will effect very much to the quality of the swimming pool water. The quality of the water must be saved from its pollution. It is hoped that by conducting surveillance we are able to know the compatibility value between the compatibility result of pollution risk level with the inspection result of quality bacteriology of the swimming pool water.

Objective: Objective of this research is to obtain informatin about compatibility between measurement results of pollution risk level from sanitary inspection and bacteriological assessment results of swimming pool water at dki jakarta 2005.

Methods: This research used a sectional cross design. Total population of this research are 35 swimming pool with its 30 samples. Variable used in this research are 13 sanitation inspection variables by using univariate and bivariate analyses.

Result: The analyses resulted that 13 (44%) of swimming pool water shows the low pollution risk level and 17 (56%) of it is in high pollution risk level. For the quality of bacteriology, it is proven that 11(36,7%) of the water is in good quality meanwhile 19(63,3%) of it is in bad quality.

Conclution: Total compatibility value got from this research is 0,733. It means that there is a good compatibility value. Volume water variable is a variable that has a high pollution risk level. Based on sanitation inspection aspect, there are 8 predictive aspects and 5 non predictive aspects. It is useful and important to inspect the swimming pools water periodically, to explain and to guide the swimming pools organizers as well as the society about the importance of swimming pools water quality to the health.

Keywords : Compatibility, Pollution risk level, Sanitary Inspection, Bacteriological assessment, Swimming pool water, DKI Jakart
Read More
T-2197
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deni Mulyana; Pembimbing: Agustin Kusumayati, I Made Djaja
T-1700
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Dwi Wardhany; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Abdur Rahman, Rahmawati
S-6266
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Darajat
KJKMN Vol.1, No.2
Depok : FKM UI, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edwin Nasli; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Fachrudin Ali Achmad, Edwan NS
Abstrak:

Kolam renang adalah salah satu tempat yang diminati masyarakat, namun mempunyai potensi gangguan kesehatan karena pajanan gas klor ketika hasil disinfeksi yang menggunakan kaporit. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat risiko kesehatan yang disebabkan oleh pajanan gas klor pada pengguna kolam renang Cilandak Sport Centre Cilandak Jakarta Selatan Tahun 2013.Penelitian ini menggunakan metode estimasi risiko kesehatan lingkungan dengan disain tipe I (ATSDR, 1998) dengan besar sampel 100 pengguna kolam renang. Data konsentrasi dan variable lainnya dikumpulkan melalui pengukuran, wawancara dan observasi. Tingkat risiko kesehatan non karsinogenik diestimasi dengan membagi rata-rata asupan harian gas klor dengan dosis respon gas klor (0,00006 mg/M3).Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi klor (0,1004; 0,0690 - 0,1389) mg/M3 (SD=0,0299), dengan RQ>1 98% (1 - 447) dan hanya 2% yang mempunyai RQ≤1. Keluhan pengguna adalah mata merah dan perih, iritasi kulit dan hidung dan tenggorokan panas/rasa terbakar.Disimpulkan bahwa penggunaan disinfeksi dengan kaporit saat ini sangat berisiko mengganggu kesehatan oleh pajanan gas klor. Dirumuskan pengendalian penggunaan kaporit harus dikurangi dari 8 kg menjadi 0,167 kg dan waktu beraktivitas tidak lebih dari 1,82 jam per hari.


Swimming pool is one place that the public interest, but have potential health problems due to exposure to chlorine gas when the result of disinfection using chlorine. The purpose of this study was to estimate the health risks caused by exposure to chlorine gas among the swimming pool attendant in Cilandak Sport Center Swimming Pool Cilandak South Jakarta Year 2013.

This study uses estimates of environmental health risk assessment (EHRA) with design of Type-I (ATSDR, 1996) with a sample of 100 attendant. Concentration chlorine gas and data of other variables collected through measurements, interviews and observation. Non carcinogenic health risk estimated by dividing the average daily intake of chlorine gas with chlorine gas response dose reference (0,00006 mg/M3).The result of research shows us that of chlorine concentrate (0,1004; 0,0690 - 0,1389) mg/M3 (SD=0,0299) with RQ>1 is 98% (1 - 447) and only 2% have RQ≤1. The complaints are red and burning eyes, skin irritation and nose and throat hot/burning sensation.The conclusion is health risk of non carsinogenic affects all attendant. By being so, it’s a must to do risk management by reducing chlorine from 8 kg to 0,167 kg and time dose not more than 1,82 hours per day.

Read More
T-3787
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elnesa Fitma S; Pembimbing: A Rahman; Penguji: Budi Hartono, Muslina Handayani
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang rancangan perlengkapan rekam medis berdasarkan value analysis di RSIA SamMarie Basra. Berdasarkan hasil observasi didapatkan ukuran rekam medis rawat jalan yang terlalu kecil dan terpisahnya rekam medis pasien rawat jalan dan rawat inap yang berdampak pada dokter yang sulit untuk menetapkan/merencakan pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada seorang pasien. Oleh karena itu diperlukan suatu rancangan perlengkapan penyimpanan dokumen rekam medis berdasarkan value analysis di RSIA SamMarie Basra. Perancangan ini bertujuan untuk mendapatkan suatu rancangan perlengkapan yang sesuai dengan fungsinya dalam menampung serta menjaga isi/formulir rekam medis di RSIA SamMarie Basra, sehingga tercipta suatu penyimpanan rekam medis yang memudahkan untuk pengelolaan rekam medis. Perancangan ini juga bertujuan agar rekam medis di RSIA SamMarie Basra terintegrasi menjadi satu dokumen yang berisikan catatan medis pasien baik di rawat jalan, rawat inap, gawat darurat, dan pelayanan lainnya. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah operational research (riset operasi) dengan objek pada penelitian adalah perlengkapan penyimpanan rekam medis terutama map/file folder. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan kajian literatur, observasi, telaah dokumen, penyebaran form isian dan wawancara mendalam, dengan analisis data yang menggunakan enam fase/tahapan dalam Value Analysis. Hasil akhir dari penelitian ini, bahwa rancangan perlengkapan penyimpanan dokumen rekam medis (map/file folder) belum dapat meningkatkan daya tampung ruang penyimpanan rekam medis, akan tetapi rancangan perlengkapan ini telah memenuhi fungsi ideal yang harus dimiliki oleh sebuah rancangan map/file folder dalam menampung serta menjaga isi/formulir rekam medis. Kata kunci: Rekam Medis, Peralatan Penyimpanan, Perlengkapan Penyimpanan, Map/File Folder, Value Analysis.
Read More
S-9015
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Esti Tyastirin; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Ririn Arminsih, Sjarifah Salmah, Fachrudin Ali A.
Abstrak:

Abstrak Di Indonesia diperkirakan 70%. pencemaran udara bersumber pada emisi kendaraan bermotor. Dampak terbesar dari pencemaran udara adalah gangguan pernapasan. Sebagai upaya pengendalian emisi kendaraan dilakukan uji emisi kendaraan yang sejak 2005. Pada penelitian ini akan dilakukan korelasi hasil emisi kendaraan, kualitas udara dan faktor meteorologis terhadap kejadian ISPA, sepanjang 2010. Selain itu dilakukan pula survei pengetahuan, sikap dan perilaku (PSP) terhadap 311 pemilik kendaraan mengenai kegiatan uji emisi kendaraan. Setelah dilakukan analisis diketahui angka kejadian ISPA di Jakarta sebesar 93 kasus/1000 penduduk, dengan kejadian terbesar di wilayah Jakarta Pusat, yaitu 215 kasus/1000 penduduk. Sedangkan analisis emisi kendaraan bermotor didapatkan presentase kendaraan bermotor dengan tahun pembuatan 2007 ke atas, yang tidak lulus uji emisi, paling besar adalah 23,6 % di wilayah Jakarta Selatan. Sedangkan, kualitas udara di wilayah Jakarta Pusat memiliki tingkat kosentrasi CO, SO2, O3 dan NO2 yang tinggi dibandingkan wilayah lain. Pada gambaran periode bulanan didapatkan angka kejadian ISPA tertinggi pada bulan Agustus 2010, sebesar 96,9 kasus/1000 penduduk. Begitu pula dengan presentase kendaraan bermotor dengan tahun pembuatan lebih dari 2007 yang tidak lulus uji emisi pada Agustus 2010 mencapai titik tertinggi sebesar 50%. Korelasi ini secara statistic dinyatakan signifikan dengan nilai p 0,0005. Kepada seluruh pemilik kendaraan bermotor diharapkan rutin melakukan perawatan kendaraan/uji emisi guna mengurangi polutan emisi kendaraan di DKI Jakarta.


 

Estimated air pollution originates from motor vehicle emissions, In Indonesia is 70%.. Meanwhile, the greatest impact of the air is pencemaraan respiratory distress. This research will be conducted on the correlation results of vehicle emissions, air quality and meteorological factors on the incidence of respiratory infections, during 2010. In addition it also conducted a survey of knowledge, attitudes and behavior (KAB) against 311 vehicle owners regarding vehicle emissions testing activities. After analyzing known incidence of ARI in Jakarta is 93 cases/1000 population, with the largest events in the area of Central Jakarta (215 cases/1000 population). While the analysis found in South Jakarta, 23.6% of motor vehicle with year of manufacture 2007 and up, did not pass the emissions test. Meanwhile, the air quality in Central Jakarta has a level of concentration of CO, SO2, O3 and NO2 Keywords: are higher than in other regions. The highest incidence rate of ARI in August 2010 (96.9 cases/1000 population). Similarly, the percentage of vehicles with year of manufacture 2007 and up, which did not pass the emissions test in August 2010 reached its highest point at 50%. This correlation is statistically significant (P=0,0005). It is suggest for vehicles owner to check their vechicle routinely/ doing emissions test, so that its can reduce pollution in Jakarta.

Read More
T-3739
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resa Wulantika; Pembimbing: Sri Tjahyani Utami; Penguji: Zakianis, Rina F. Bahar
S-6639
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kuat Prabowo; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Agustin Kusumayati, Bambang Wispriyono, Zaenal Abidin
Abstrak:

"Untuk mengembangkan upaya pencegahan kcracunan pada penggunaan pestisida oleh petani, maka perlu dHPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubumgan antara karakteristik individu dan karakteristxk pekerjaan dengan aktivitas cholineszerase darah pada pelani pengguna pestisida di Kabupaten Bandung. Penelilian ini menggunakan dcsain penelitian potong lintang (Cross Sectional), dengan memanfaatkan data sekunder dari hasil pemexiksaan aktivitas cholinesrerase darah pczani pengguna pestisida oleh Dinas Kesehatan Kabupalen Bandung tahun 2001.Hasil analisa univariat mcnuqiukkan bahwa dari 230 responden yang diteliti, scbanyak 49,6% mempunyai tingkat aktivitas cholinesremse darah dalam katagori keracunan. Karakteristik individu responden melipuli jenis kelamin (8l,3% laki-laki), umur (58,3% bemsia tua), lingkat pendidikan (57,8% berpendidikan kurang), tingkat pengetahuan (55,7% berpengelahuan kurang), dan perilaku (58,3% berperiaku balk): Karakteristik pekerjaan responden melipnti waktu kerja (58,7% sedang), frckuensi penyemprotan (53,9% sedang), metoda penyemprotan (66,l_% beuaf), dan penggunaan APD (69,1% tidak menggunakan). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa dari 5 (lima) variabel karakteristik individu (ienis kelamin, umur, tiugkat pendidikan, tingkat pengetahuan, dan perilaku) temyata hanya 2 (dua) veriabel yang berhubungan secara befmakna dengan aktivitas cholinesterase darah yaitu lingkat pengetahuan (0R=9,25), dan perilaku responden (OR=3,36). Dari 4 (empat) variabel karakteristik pekerjaan, semuanya berhubungan secara bermakna dengan aktivitas cholinesterase darah. yaitu waktu kerja (0R=2,38), frekuensi penyemprotan (OR=O,38), metoda penyemproun (0R°3,36), dan penggunaan APD (OR=3,06).Hasil analisis multivariat dengan analisis statistik regresi logistik pada lima vaxiabel bebas menunjukkan bahwa yang Apaling bsar hubungannya (dominan) dengan aktivitas clzolme.stcrase darah adalah tmgkat pengetahuan (OR-6,75 setelah dikontrol oleh variabel perilakmg Rekuensi penyemprotan, metoda penyemprotan, dan penggunaan APD).Dengan hasil penelitian tersebut diatas, penulis menyarankan peningkaum penyuluhan secara lintas sektoral antara Departemen Kesehatan dan Departemen Pertanian melalui Upaya Kesehatan. Kc1ja (UKK) di wilayah kexja Puskesmas dengan penekanan pada mated tentang, cara masuk pestisida ke dalam tubuh dan keterangan pada label kemasan pestisida , agar petani pengguna pestisida dapat mcningkatkan pengetahuan dau keterampilan dalam penggmaan pestisida secara aman. Selain itu perlu dilakukan pcmericsaan cholinesterase pre-eksposure sebagai baseline dam dan pemericsaan cholinesterase pada plasma darah selain pemeriksaan rutin cholinesterase pada_ se] darah merah yang sudah dilakukan agar dapat dianalisis secara lebih jelas dari keadaan cholinesterase yang sebenamya.


 

To develop efforts of prevention of poisoning in using pesticide by farmers, we should know factors that influenced. As on indicator of poisoning result of using pesticide, we use the result of measuring cholinesterase activity of b1ood_ to the farmers who using pesticide. As the information about factor of working environmental in agricultural sector is difticult to find, so in this thesis just analyze factors of individual and working characteristics that associated with cholinesterase activity of blood to the farmers who using pesticide.The object of this research is to know the relationship between individual and working characteristics with cholinesterase activity of blood to the farmers who using pesticides in Bandung District, West Java. This research used cross sectional design, by using secundary data from health service of bandung District in 2001.The result of univariate analyze from 230 respondents, there were 49,6% respondents had level of cholinesterase activity of blood at poisoning category. Individual characteristics consist of sex (Sl ,3% men), age (58,3% old), level of education (57,8% low level of education), level of knowledge (55,7% low level of knowledge) and behavior (58,3% good behavior). Working haracteristics consist of working time (58,7% average), frequency of spraying (53,9% average), spraying method (66,l% right method) and using of personal protective equipment (69,l% not using personal protective equipment). The result of bivariate analyze from 5 variable of individual characteristics (sex, age, level of education, level of knowledge, and behavior), only 2 variable that have signiticant associated with cholinesterase activity of blood, there were level of knowledge (OR=9,25) and respondent behavior (0R=3,36).All of variable of working characteristics are signiiicant related with cholinesterase activity of blood, there were working time (OR-=2,38), frequency of spraying (OR=0,38), spraying method (OR=3,36) and using of personal protective equipment (OR=3,06). The result of multivariate by analyze of logistic regression on tive independent variables indicate the dominant relation with cholinesterase activity of blood is level of knowledge (0R=6,75 atter controlled by behavior, frequency of spraying, spraying method, and using of personal protective equipment.According to the result of research, we suggest to improve the intbrmation by cross sectoral between Health Department and Agricultural Department by "Upaya Kesehatan Keija" (Occupational Health Efforts) in working area of ?Puskcsmas" which is stressed in how pesticides enter into the human body and remark of pesticides label, in order the farmer who using pesticides could improve their knowledge and skill in using pesticides safety. Besides it's necessary to inspection of cholinesterase pre-exposure as data base and inspection of cholinesterase in plasm blood beside routin cholinesterase on erytrochyte that already done could be analyze deeply from the station of the pure cholinesterase."Depok: Universitas Indonesia, 2002

Read More
T-1496
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosi Purnama Sari; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Hartono, Desy Mery Dorsanti
Abstrak: Pada tahun 2018, KLB diare di DKI Jakarta sebanyak 124 kasus yang tersebar di beberapa Kecamatan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan menganalisis secara statistik faktor lingkungan, permukiman kumuh dan bantaran sungai, kepadatan penduduk dengan kasus KLB diare di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan yakni studi ekologi dengan menggunakan data sekunder yang berasal dari data Potensi Desa Tahun 2018 dan data Kependudukan yang berasal dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta dan menampilkan hasil dengan analisis spasial, meliputi variabel-variabel kasus KLB diare, pembuangan sampah, tempat pembuangan sampah sementara (TPS), jamban keluarga, tempat pembuangan akhir tinja, pembuangan limbah cair, sumber air bersih, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai, dan kepadatan penduduk. Hasil penelitian ini ditemukan hubungan signifikan antara permukiman kumuh dengan kasus KLB diare tahun 2018 di DKI Jakarta. Secara spasial mengindikasikan adanya hubungan antara keberadaan TPS, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai dan kepadatan penduduk dengan kejadian KLB diare. Kesimpulan dari penelitian ini yakni kondisi sanitasi secara umum di DKI Jakarta memiliki kondisi yang lebih baik dari angka nasional, namun tingkat kepadatan peduduk di DKI Jakarta melebihi tingkat kepadatan nasional. Daerah tingkat kerawanan terjadi KLB diare yang tinggi terdapat pada 5 kecamatan. Upaya pencegahan peningkatan jumlah kasus KLB diare yang memiliki hubungan dengan sanitasi lingkungan sebaiknya dilakukan kerjasama dengan lintas sektor guna memenuhi cakupan sarana sumber air minum, pengelolaan tinja, pengelolaan limbah cair, relokasi permukiman, dan persebaran penduduk. Kata kunci: KLB diare, sanitasi, permukiman kumuh, kepadatan penduduk In 2018, outbreaks of diarrhea in DKI Jakarta were 124 cases spread across several districts. This research aims to provide an overview and statistically analyze environmental factors, slums and riverbanks, population density with the case of diarrhea outbreaks in DKI Jakarta in 2018. The design of the study uses an ecological study using secondary data from Potensi Desa 2018 data and Population data and presented the result with spatial analysis, including case variables Outbreaks of diarrhea, waste management, temporary landfills (TPS), family latrines, fecal landfills, disposal waste water, clean water, drinking water, slums, riverbank settlements, and population density. The results from this research found a significant association between slums and diarrhea outbreaks in 2018 in DKI Jakarta. Spatially indicate a relationship between the existence of temporary landfills, drinking water sources, slums, riverbank settlements and population density with the occurrence of diarrhea outbreaks. The conclusion from this research is that sanitation conditions in DKI Jakarta have better conditions than the national rate, but the population density in DKI Jakarta exceeds the national density level. Areas with high levels of vulnerability occur outbreaks of diarrhea that are high in 5 districts. To prevent the increasing number of cases of diarrhea outbreaks associated with environmental sanitation should be cooperation across the sector to meet the scope of drinking water, family latrines, disposal wastewater, settlement relocation, and population distribution. Keywords: diarrhea outbreak, sanitation, slums, population density
Read More
S-10499
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive