Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40442 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sawitri, Ida Farida
JKR Vol.3, No.2
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Rudiansjah; Pembimbing: Amal C. Sjaaf
T-280
Depok : FKM UI, 1992
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
S-6998
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Allin Hendalin Mahdaniar/ Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Puput Oktamianti, Wachyu Sulistiadi, Khairati
Abstrak: Keberhasilan suatu program berhubungan dengan kinerjapetugasnya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja petugas ManajemenTerpadu Balita Sakit (MTBS) dan hubungan antara variabel indepeden yangterdiri dari faktor individu (umur, masa kerja, pengetahuan dan motivasi), danfaktor organisasi (pelatihan, fasilitas, kepemimpinan) dengan variabel dependenyaitu kinerja petugas MTBS.Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan rancanganpenelitian cross sectional. Jumlah sampel 50 responden petugasMTBS.Pengumpulan data dilakukan dengan pengisisan kuesioner dan wawancaraserta observasi.Pengolahan data dengan menggunakan perangkat lunak computer,analisis data dengan univariat, bivariat dengan uji statistik chi-square danmultivariat dengan uji statistik multipel regresi logistik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% petugas MTBS mempunyaikinerja baik. Terdapat hubungan antara umur, masa kerja, pengetahuan, motivasi,fasilitas dan kepemimpinan dengan kinerja petugas MTBS. Faktor dominan yangmempengaruhi kinerja petugas MTBS adalah masa kerja dan kepemimpinan.Daftar Pustaka : 30 (1997-2015)Kata Kunci : kinerja, MTBS, masa kerja, kepemimpinan
The success of a program related to the performance of its officers Thisstudy aims to determine the performance of Integrated Management of ChildhoodIllness (IMCI) officers and determine the relationship between the independentvariables consisting of individual factors (age,length of work, knowledge andmotivation) and organizational factors (training, facilities, leadership) with thedependent variable which is the performance of IMCI officer.This type of research is quantitative with cross sectional study design. Thesample of 50 respondents IMCI officer.Collecting data by filling the questionnaireand interviewing and observation.Processing data using computer software, dataanalysis with univariate, bivariate statistical test chi-square and multivariatemultiple logistic regression statistical test.The results of this study showed that 62% good performance of IMCIofficer. There was correlation between age, length of work,knowledge,motivation, training and leadership with performance of IMCI officer. Thedominant factor affecting performance is the IMCI officers working life andleadership.References : 30 (1997-2015)Keywords : performance, IMCI, working period, leadership.
Read More
T-4615
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Riani Sandra; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Mieke Savitri, Mardiana Maya
Abstrak: Kebijakan dan berbagai upaya pemerintah untuk menurunkan nagka kematian ibu dan bayi dengan suatu kegiatan Gerakan Sayang Ibu (GSI), Strategic Making Pregnancy Safer dan Pengadaan Buku KIA. Pengetahuan ibu yang baik tentang Buku KIA akan berdampak positif pada kegiatan ibu yang berhubungan dengan kesehatan dan salah satunya imunisasi. Asumsi penulis pengetahuan baik yang ibu miliki tentang buku KIA akan berdampak pada kualitas imunisasi bayi/balitanya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan hubungan antara pemanfaatan Buku KIA dan kepatuhan ibu dalam mengimunisasi bayi secara lengkap. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu yang memiliki Buku KIA dan memiliki anak yang berusia diatas 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan denga menggunakan desain studi cross sectional yang menjadi reponden adalah 96 ibu yang memiliki buku KIA dan balita diatas 12 bulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan, larangan dari keluarga dekat dan pemanfaat Buku KIA memiliki hubungan yang bermakna dengan kepatuhan ibu dalam mengimunisasi bayi secara lengkap. Saran yang diberikan yaitu lebih meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan agar mampu memberikan informasi tentang pengetahuan ibu tentang imunisasi.
Read More
S-6581
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Katrin Widarni; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Ihwan
S-5434
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Putri Yulianti; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Tiara Amelia, Yoslien Sopamena, Rien Pramindari, Saiful Millah
Abstrak:
Kesiapan kesehatan prakonsepsi merupakan aspek penting dalam pencegahan komplikasi kehamilan serta peningkatan keselamatan ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan menganalisis perilaku kesiapan kesehatan prakonsepsi calon pengantin berdasarkan konstruk Health Belief Model (HBM), meliputi persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan terdiri atas delapan calon pengantin (empat perempuan dan empat laki-laki) sebagai informan utama serta lima informan kunci yang meliputi penyuluh Kantor Urusan Agama (KUA), tenaga kesehatan puskesmas (dokter dan bidan), dan pejabat Kementerian Agama Kota Depok. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa calon pengantin menyadari adanya kerentanan terhadap risiko komplikasi kehamilan, seperti anemia, penyakit keturunan, dan gangguan kesehatan pada anak, serta memandang risiko tersebut sebagai kondisi yang serius dan memerlukan persiapan sejak sebelum kehamilan. Pemeriksaan kesehatan pranikah dipersepsikan memberikan manfaat berupa deteksi dini dan peningkatan kesiapan fisik maupun psikologis. Namun demikian, berbagai hambatan masih ditemukan, terutama keterbatasan informasi yang aplikatif, faktor psikologis seperti rasa malu dan ketakutan terhadap hasil pemeriksaan, serta keterlambatan waktu pemeriksaan yang dilakukan mendekati hari pernikahan. Isyarat untuk bertindak dalam mempersiapkan kesehatan prakonsepsi muncul melalui dorongan pasangan, edukasi tenaga kesehatan, bimbingan perkawinan oleh penyuluh KUA, serta pengalaman keluarga. Tingkat efikasi diri calon pengantin bervariasi dan dipengaruhi oleh motivasi pribadi, dukungan pasangan, serta lingkungan layanan kesehatan. Penelitian ini menegaskan bahwa meskipun calon pengantin telah memahami manfaat persiapan kesehatan prakonsepsi, masih terdapat kesenjangan antara pemahaman dan penerapan praktis di tingkat layanan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan edukasi dan pendampingan prakonsepsi yang terintegrasi antara KUA dan puskesmas agar kesiapan kesehatan prakonsepsi calon pengantin dapat terwujud secara lebih optimal.

Preconception health readiness is a crucial component in preventing pregnancy complications and improving maternal and neonatal safety. This study aimed to analyze preconception health readiness behaviors among prospective brides and grooms using the Health Belief Model (HBM), including perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy. A qualitative study with a phenomenological approach was conducted. Participants consisted of eight prospective couples (four women and four men) as primary informants and five key informants, including marriage counselors from the Office of Religious Affairs (KUA), primary healthcare providers (a doctor and a midwife), and officials from the Ministry of Religious Affairs of Depok City. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using content analysis. The findings show that prospective couples are aware of their susceptibility to pregnancy-related risks, such as anemia, hereditary conditions, and health problems in children, and perceive these risks as serious and requiring preparation before pregnancy. Premarital health examinations were perceived as beneficial for early detection and improving physical and psychological readiness. However, several barriers were identified, including limited access to practical health information, psychological factors such as embarrassment and fear of examination results, and delays in undergoing health examinations close to the wedding date. Cues to action emerged from partner encouragement, health education provided by healthcare professionals, premarital counseling conducted by KUA counselors, and family experiences. Levels of self-efficacy varied among prospective couples and were influenced by personal motivation, partner support, and the healthcare environment. This study highlights that although prospective couples generally understand the benefits of preconception health preparation, a gap remains between knowledge and practical implementation at the service level. Strengthening integrated preconception education and continuous support between the KUA and primary healthcare centers is needed to optimize preconception health readiness among prospective couples.
Read More
T-7473
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tuti Alawiyah; Pembimbing: Besral; Penguji: Dian Ayubi, Ratu Ayu Dewi Sartika, Asnimar Azwar, Lila Amaliah
Abstrak:

ABSTRAK

Tuberkulosis (TB) menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling serius,masalah kesehatan di dunia dan penyebab utama kematian di negara berkembang.Indonesia merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah Indiadan Cina. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwapenyakit TB penyebab kematian nomor 5 setelah penyakit kardiovaskular danpenyakit saluran napas pada semua kelompok usia dan nomor 1 dari golonganpenyakit infeksi. Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis danmenyerang organ pernapasan walaupun dapat mengenai organ lain. Sejak meluaspenyakit human immunodeficiency virus (HIV) dan pertambahan kasus TB kebal obat(MDR-TB), masalah TB yang sebelumnya telah teratasi kembali mencuat, sehinggapengawasan dan pemberantasan penyakit ini menjadi bertambah rumit.Angka kesalahan (error rate) pemeriksaan laboratorium pada Mycobacteriumtuberculosis sangat mempengaruhi penemuan penderita dan pengobatan penyakittuberkulosis. Error rate pemeriksaan laboratorium yang tinggi berarti kemampuanmendeteksi kurang, pemeriksaan belum dapat dipercaya hasil pelaporannya, akanberdampak masalah penyakit tuberkulosis di masyarakat tidak terdeteksi dengan baikdan benar, obat anti tuberkulosis tidak berhasil guna penyembuhan. Sehinggapenularan penyakit TBC tidak dapat ditanggulangi dengan baik di masyarakat.Berdasarkan hasil laporan cross check pemeriksaan BTA triwulan I sampai IVdi Kota Tangerang tahun 2012 terjadi error rate 5,26% sampai 36,36%. Nilai errorrate yang ditoleransi dari Kementerian Kesehatan maksimal 5%.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kinerja petugas pemeriksa BTA dandeterminannya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desaincross sectional. Sampel pada penelitian ini 26 petugas laboratorium puskesmas yangmelakukan pemeriksaan BTA. Dari 26 petugas pemeriksa BTA terdapat 15 petugasdengan error rate rendah dan 11 petugas dengan error rate tinggi. Pengumpulan datadilakukan menggunakan kuisioner dan wawancara. Dari hasil penelitian diketahuifaktor yang berhubungan dengan error rate BTA adalah sistem dan beban kerja.Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel sistem (nilai p=0,030, OR=16,0)berhubungan bermakna dan faktor dominan berhubungan dengan kinerja petugaspemeriksa BTA. Disarankan kepada petugas pemeriksa BTA sistem yang ada (pmi,menerapkan SOP) dan Dinas Kesehatan memberi pelatihan dan bimbingan intensif,serta melengkapi kebutuhan laboratorium terutama untuk pemeriksaan BTA.


 

ABSTRACT

Tuberculosis (TB) has become one of the most seriuos health problem, healthproblem in the world, and the leading cause of death in developing countries.Indonesia is the country with the highest number of TB patients to the 3rd in theworld after India and China. Household Health Survei showed the TB diseases 5causes of death after cardiovascular disease and respiratory disease in all age groupand the number 1 of infectious disease group. Tuberculosis is caused byMycobacterium tuberculosis and can attack the respiratory organs, although otherorgans. Since the widespread disease of human immunodeficiency virus (HIV) andan increase of drug resistance case of TB (MDR-TB), TB issues that previously havrbeen resolved back sticking out, of control and eradication of this disease becomemore complicated.Error rate of laboratory test on Mycobacterium tuberculosis greatly affect thedetection and treatment of tuberculosis. Laboratory error rate is high means the abilityto detect less, yet reliable inspection result reporting, will impact the problem oftuberculosis in the community are not detected properly, anti tuberculosis failed tocure. So that transmission of TB disease cannot be addressed properly in society.Based on the results of smear examination report cross check until the fourthquarter in the city of Tangerang in 2012 there is an error rate of 5.26% to 36.36%.Value of the tolerable error rate of 5% maximum Health Ministry.The purpose of this study was to determine the error rate of smear examination and itsdeterminant. This study is an observational study with cross-sectional design. Thesamples of the study 26 laboratory workers who perform both smear clinic. Of 26inspectors smear contained 15 inspectors smear with a low error rate and 11 with ahigh error rate. The data was collected using interviews and questionnaires. Thesurvey results revealed that factors related to the error rate and the BTA is a systemtool and workload. Multivariate analysis showed system variabel (p value = 0.003,OR = 16) correlated significantly and significantly associated dominant factor relatedto the performance of the examiners BTA. Suggested to the examiners BTA existingsystem (pmi, implement the SOP) and the Department of Health provide intensivetraining ang guidance, as well as complete laboratory requitments, especially forsmearexamination.

Read More
T-3912
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R.M. Triharyanto; Pembimbing: Bambang Sutrisna
S-90
Jakarta : FKM UI, 1982
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Wulandari; Promotor: Ahmad Syafiq; Kopromotor: Tria Astika Endah Permatasari; Penguji: Besral, Kusharisupeni Djokosujono, Emi Nurjasmi, Kodrat Pramudho, Sobar Darmadja
Abstrak:
Permasalahan gizi pada ibu hamil di Indonesia yang paling dominan adalah anemia dan kurang energi kronis. Intervensi telah dilakukan dengan pemberian tablet tambah darah dan pemberian makanan tambahan selama kehamilan, namun tingkat konsumsinya belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai intervensi pemberian edukasi menggunakan aplikasi catin sehat yang telah disusun pada masa prakonsepsi terhadap status gizi pada masa kehamilan. Populasi dalam penelitian ini adalah calon pengantin wanita di Puskesmas Wilayah Kota Depok pada tahun 2023, dengan total sampel yaitu 100 orang. Hasil penelitian berdasarkan uji t dependen menunjukkan bahwa pada kelompok yang diberikan intervensi pada masa calon pengantin wanita yang kemudian diukur pasca pemberian intervensi yakni pada masa kehamilan trimester I terdapat rata-rata peningkatan status gizi pada tiga indikator yaitu rata-rata; kadar hemoglobin meningkat 1,64 g/dL, indeks massa tubuh meningkat 2,51 kg/m2, dan lingkar lengan tengah atas meningkat 0,51 cm, sedangkan ketiga indikator pada kelompok kontrol rata-rata cenderung menurun. Efektivitas pemberian modul edukasi Aplikasi Catin Sehat dalam meningkatkan kadar haemoglobin sebesar 13.5% dan efektivitas dalam meningkatkan indeks massa tubuh sebesar 14.7%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah memberikan edukasi mengenai pemenuhan gizi kehamilan pada calon pengantin, akan berdampak pada perilaku konsumsi makanan dan meningkatkan status gizi yakni kadar haemoglobin dan indeks massa tubuh pada masa kehamilan. Edukasi mengenai persiapan gizi kehamilan yang diberikan kepada calon pengantin atau pada masa pra konsepsi, merupakan langkah strategis dan awal dalam mencegah kekurangan gizi pada masa kehamilan.

The most dominant nutritional problems among pregnant women in Indonesia are Anemia and chronic energy deficiency. Interventions have been carried out by administering blood supplement tablets and providing additional food during pregnancy, but the level of consumption is not optimal. This study aims to assess educational interventions using educational modules during the preconception period on nutritional status during pregnancy. The population in this study were prospective brides at the Depok City Regional Health Center in 2023, with a sample size of 100 people. The results of the study based on the dependent t test showed that in the group given the intervention during the bride's period which was then measured after the intervention was given, namely during the first trimester of pregnancy, there was a potential average increase in nutritional status in three indicators, namely average; Hemoglobin levels increased by 1.64g/dL, body mass index increased by 2.51kg/m2, and mid-upper arm circumference increased by 0.51cm, while the three indicators in the control group tended to decrease on average. The effective improvement is 14.7% and 13.4%. The conclusion of this research is that providing education regarding the provision of pregnancy nutrition to prospective brides and grooms will have an impact on food consumption behavior and improve nutritional status during pregnancy. Education regarding pregnancy nutritional preparation given to prospective brides and grooms or during the preconception period is a strategic and initial step in preventing malnutrition during pregnancy.
Read More
D-512
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive