Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36539 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ida Farida; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Indang Trihandini, Sihadi, Minarto
Abstrak:

Program PMT telah dilakukan di kecamatan Bogor Selatan pada tahun 1999 bagi balita gizi buruk dan kurang agar dapat meningkatkan status gizinya. Namun hingga saat ini belum pernah dilakukan evaluasi atau penelitian, khususnya mengenai waktu peningkatan status gizi balita selama mengikuti program PMT tersebut.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang peluang balita dan waktu peningkatan status gizi selama dua belas minggu intervensi PMT serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.Desain penelitian ini longitudinal selama dua belas minggu dengan melibatkan 194 balita. Analisis Kaplan Meier dilakukan untuk menentukan probabilitas status gizi tidak meningkat selama dua belas minggu. Analisis multivariat regresi cox dilakukan untuk menentukan besarnya nilai probabilitas peningkatan status gizi berdasarkan kecurigaan ada faktor lain secara bersama-sama.Hasil penelitian menunjukkan bahwa probabilitas status gizi tidak meningkat sampai dua belas minggu sebesar 67,01%. Median waktu peningkatan status gizi tidak diketahui, artinya sampai dua belas minggu intervensi PMT belum ada 50% balita yang mengalami peningkatan status gizi.Secara bivariat diketahui ada perbedaan antara umur ibu, konsumsi energi dan umur balita dengan waktu peningkatan status gizi. Hasil analisis ini tidak melihat perbedaan antara pendidikan, pengeluaran, pengetahuan, pola asuh, besar keluarga, konsumsi protein, penyakit infeksi, status gizi awal, jenis kelamin, partisipasi dengan waktu peningkatan status gizi. Probabilitas status gizi tidak meningkat sampai minggu kedua belas pada balita yang mempunyai ibu berumur antara 20 - 30 tahun sebesar 76,24%. Balita yang ibunya berumur kurang dari 20 atau lebih dari 30 tahun probabilitas status gizi tidak meningkat sebesar 55,29%. Peningkatan status gizi balita yang mempunyai ibu berumur antara 20 - 30 tahun sebesar 0,480 kali (95% CI : 1,100 - 3,038) dibanding balita yang ibunya berumur kurang dari 20 atau lebih dan 30 tahun. Balita yang konsumsi energinya baik memiliki probabilitas status gizi tidak meningkat sebesar 62,30% dan 74,58% bagi balita yang konsumsi energinya kurang. Peningkatan status gizi pada balita dengan konsumsi energi baik 1,828 (95% CI ; 1,100 - 3,038) kali dibanding balita yang konsumsi energinya kurang. Probabilitas status gizi tidak meningkat pada balita yang berumur ≤ 2 tahun sebesar 72,73% dan > 2 tahun sebesar 54,84%. Peningkatan status gizi balita yang berumur > 2 tahun sebesar 1,798 (95% CI : 1,096 - 2,948) kali dibanding balita yang berumur ≤  2 tahun.Secara multivariat faktor yang berhubungan dengan waktu peningkatan status gizi balita selama dua belas minggu intervensi PMT adalah umur ibu, pengetahuan, konsumsi protein dan umur Balita, Peningkatan Status gizi pada balita yang memiliki ibu berumur antara 20 - 30 tahun sebesar 0,471 (95% CI : 0,279 - 0,795) dibanding balita yang umur ibunya < 20 atau > 30 tahun dengan mengendalikan pengetahuan ibu, konsumsi protein dan umur balita. Berdasarkan pengetahuan gizi ibu, peningkatan status gizi balita yang ibunya berpengetahuan baik sebesar 1,694 (95% CI : 1,061 - 2,969) kali dibanding balita yang pengetahuan gizi ibunya kurang dengan umur ibu, konsumsi protein dan umur balita yang sama. Balita yang konsumsi proteinnya baik peningkatan status gizinya 1,659 (95% CI : 0,911 - 3,023) kali dibanding balita lain yang konsumsi proteinnya kurang pada kondisi umur ibu, pengetahuan dan umur balita yang sama. Dilihat dari umur balita, balita yang berumur > 2 tahun peningkatan status gizinya sebesar 1,775 (95% CI : 0,984 - 2,914) kali dibanding balita yang berumur ≤ 2 tahun dengan umur ibu, pengetahuan gizi ibu dan konsumsi protein yang sama.


 

Supplemental Food Giving Program for Balita with bad and less nutrient had done in South Bogor Sub-district in 1999. But, there isn't evaluation/research about it yet, specialties the time of Balita?s nutrient status increasing during follow this program.This research goal is to obtain information regarding the opportunities and the time of Balita's nutrient status increasing within twelve weeks supplemental food giving intervention, also factors which influenced them.This research design is longitudinal within twelve weeks involved 194 Balita. Kaplan Meier Analysis was done to determine probability of Balita with nutrient status not increase within twelve weeks. While Multivariate Regression Cox Analysis was done to determine probability value of Balita's nutrient status increase, based on suspicious there's another factor coinciding.The result of this research showed that Balita's nutrient status not increase within twelve weeks probability 67,01 %. Median time of Balita's nutrient status increasing is unknown, it means within twelve weeks intervention the program less than 50 % Balita increasing their nutrient status.From the outcomes of bivariate analysis known, there's difference between mother's age, energy consumption and Balita's age with the time of nutrient status increasing. But, there's no difference between mother's educational background, expenses, knowledge, bring-up pattern, sum of family's member, protein consumption, infection disease, early nutrient status, gender, participation with the time of Balita's nutrient status increasing, Balita's nutrient status not increase within twelve weeks if their mother's between 20 - 30 years old probability 76,24 %. While their mother's <20 or >30 years old probability 55,29 %. Balita's nutrient status increasing if their mother between 20 - 30 years old 0,480 time ( 95 °.b CI : 1,100 - 3,038 ) compare with Balita's mother < 20 or > 30 years old. Balita with good energy consumption but their nutrient status not increase probability 62,30 % and 74,58 % for the Balita with less energy consumption. Balita < 2 years old with nutrient status not increase probability 72,73 % and > 2 years old nutrient status increasing 1,798 times (95 % CI : 1,096 - 2,948 ) comparing with Balita = 2 years old.From the outcomes of multivariate analysis, factors related to the time of Balita's nutrient status increasing within twelve weeks intervention of the Supplemental Food Giving Program are mother's age, knowledge, protein consumption and Balita's age. Balita's nutrient status increasing with their mother's age between 20 - 30 years old 0,471 times ( 95 % CI : 0,279 - 0,795 ) compare with Balita's mother < 20 or > 30 years old, under control of mother's knowledge, protein consumption and Balita of the same age. Based on mother's nutrient knowledge's good, so Balita's nutrient status increasing 1,694 times (95 % CI: 1,061 - 2,969) compare with Mother's knowledge deficit with mother's age, protein consumption and Balita's with the same age. Balita with good protein consumption have nutrient status increasing 1,659 times (95 % CI: 0,911 - 3,023) compare with another Balita with less protein consumption and the same condition of mother's age, knowledge and Balita's age. Balita > 2 years old have nutrient status 1,775 times (95 % CI: 0,984 - 2,914) compare with Balita = 2 years old with the same mother's age, mother's nutrient knowledge and Balita's protein consumption.

Read More
T-1273
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mahpolah; Pembimbing; Tris Eryando; Peguji: Sudijanto Kamso, Kusharisupeni, Nanang Prayitno, Tanty Herawaty
T-1152
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bagya Mujianto; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Besral
Abstrak:
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 722/Menkes/IX 1988, Asam Borat dan senyawanya merupakan salah satu dari jenis bahan tambahan makanan yang dilarang digunakan dalam produk makanan. Karena asam borat dan senyawanya merupakan senyawa kimia yang mempunyai sifat karsinogen. Meskipun boraks berbahaya bagi kesehatan temyata masih banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bahan tambahan makanan, karena selain berfungsi sebagai pengawet, boraks juga dapat memperbaiki tekstur bakso dan kerupuk sehingga menjadi lebih kenyal dan lebih disukai konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa yang berhubungan dengan perilaku penggunaan boraks pada bakso oleh pedagang. Tempat penelitian di Kecamatan Pondok Gede-Bekasi tahun 2003. Populasi pada studi Cross Sectional ini adalah seluruh pedagang bakso yang menetap dan seluruh pedagang bakso yang keliling di area komplek perumahan di wilayah penelitian. Kriteria inklusi sampel adalah pedagang yang membuat bakso sendiri dengan jenis bakso adalah bakso daging sapi. Variabel yang diamati adalah perilaku penggunaan boraks, umur, tingkat pendidikan, pengetahuan tentang bahan tambahan makanan, sikap terhadap penggunaan boraks, lama berdagang, besar modal, pemberian pembinaan dan pemberian pengawasan. Responden yang diamati berjumlah 175 orang terdiri dari 100 orang pedagang menetap dan 75 orang pedagang keliling. Hasil penelitian mendapatkan bahwa proporsi penggunaan boraks pada pedagang menetap sebesar 38% (CI 90%: 28,49-45,97) dan pada pedagang keliling sebesar 28% (CI 90%: 17,77-38,23) telah diuji secara statistik kedua proporsi tersebut tidak berbeda. Setelah dilakukan analisis Regresi Logistik Ganda pada α=0,1 dari 8 variabel yang diduga berhubungan dengan penggunaan boraks, ditemukan pada pedagang menetap hanya 3 variabel yang berpengaruh yaitu sikap responden terhadap penggunaan boraks, lama dagang dan pemberian pembinaan. Sedangkan pada pedagang keliling variabel penentu tersebut adalah umur responden dan pemberian pembinaan. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku penggunaan boraks pada penelitian ini adalah faktor penguat, yaitu pemberian pembinaan, baik untuk pedagang menetap maupun pada pedagang keliling. Pada pedagang menetap diperoleh nilai OR=2,433 (CI:90% 1,108-5,342) yang artinya pedagang yang tidak diberi pembinaan cenderung menggunakan boraks sebesar 2,43 kali dibandingkan dengan pedagang yang telah diberi pembinaan. Pada pedagang keliling diperoleh nilai OR=5,420 (CI:90% 1,529-19,216) yang artinya pedagang yang tidak diberi pembinaan cenderung menggunakan boraks sebesar 5,42 kali dibandingkan dengan pedagang yang telah diberi pembinaan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis menyarankan kepada kalangan Akademis dan Peneliti perlunya dilakukan penelitian sejenis dengan sampel yang lebih komprehensif tidak sebatas pada perilaku penggunaan boraks tetapi lebih luas keperilaku penggunaan bahan tambahan makanan lainnya yang jelas dilarang oleh pemerintah tetapi masih banyak digunakan oleh masyarakat dan dicarikan zat pengganti selain boraks yang tidak merugikan konsumen dari segi kesehatan, mudah didapat dengan harga yang terjangkau oleh pedagang kecil/jajanan. Kepada instansi terkait perlu diintensifkan upaya pembinaan dan pengawasan terhadap pedagang jajanan. Kepada masyarakat diharapkan waspada tentang masih banyak bakso yang beredar menggunakan boraks. Dimohon para pedagang tidak menggunakan boraks. Daftar bacaan : 55 (1978-2003)

Based on Health Ministry of Republic of Indonesia regulation No722/Menkes/IX/1988, Borat Acid and its compound is one of food additives that prohibited in food product, because borax acid and its compound is carcinogenic. Although it is hazardous to human health, its usage still remain high rate by community as added material in food as preservative, also to enhance texture of bakso (meatball) and kerupuk so more elastic and enjoyable to consumer. This study objective is to find out factors that related to borax usage behavior on bakso by seller. This study conducted in Sub District of Pondok Gede, Bekasi year of 2003. Population in this cross sectional study is all bakso sellers in housing area of study area. Inclusion criteria are seller who makes bakso on they own and kind of bakso is bakso from beef meat. Observed variables are borax usage behavior, age, education level, knowledge of food additives, attitude to borax usage, selling experience, capital, given education, and monitoring. Respondents observed are 175 sellers; consist of 100 staying sellers and 75 moving sellers. Results of this study showed that proportion of borax usage in staying sellers is 38% (CI 90%:28,49-45,97) and moving sellers is 28% (CI 90%:17,77-38,23) statistically these proportions not different. After analyzed by multi logistic regression at aA),l from eight variables that suspected related to borax usage, in staying sellers only three variables that influencing, these are; sellers attitude to borax usage, selling experience, and given education. While in moving sellers influencing variables are age and given education. The most dominant factors which related to behavior of borax usage in this study is strengthened factor, that are good education that given to all sellers. In staying sellers OR value is 2,433 (CI:90% 1,108-5,342) which mean seller who never received education tend to use borax 2,43 times compare to those who has received education. In moving sellers OR value is 5,420 (C1:90% 1,529-19,216) which mean sellers who never received education tend to use borax 5,42 times than those who has received education. Based on these results, this study recommends to academia and researcher to conduct similar study with more comprehensive sample, not limited to borax use but wider to other food additives that prohibit for consumption and still being used by community then find the alternatives that easy to seek and inexpensive. It needs educational and monitoring to all street food sellers and to community to be careful in consumption bakso, because there is a lot of bakso still added with borax. Bibliography: 55 (1978-2003)
Read More
T-1710
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Helen S.L.M.; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Besral, Iva Diansari
S-4681
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abdul Hafiz: Pembimbing; Luknis Sabri; Penguji: Madiati Nadjib, Sabarinah, Soetanto, Rustono Pinangdjojo
Abstrak:
Kota Depok merupakan daerah tingkat II di wilayah propinsi Jawa Barat yang merupakan daerah berbatasan langsung dengan Jakarta. Masyarakat mengharapkan pelayanan yang bermutu dari Puskesmas, namun masih ada keluhan mengenai jam buka Puskesmas yang belum sesuai dengan jumlah waktu yang telah ditetapkan, disamping itu masyarakat menjadikan perawat sebagai sosok pengganti dokter kepala Puskesmas bila dokter tidak berada di tempat. Sementara itu ratio perawat terhadap 1000 penduduk masih rendah (0.05 %o). Sehubungan dengan hal tersebut, peneliti tertarik memperoleh informasi tentang gambaran waktu kerja produktif perawat kesehatan di kota Depok yang dilihat dari faktor individu dan faktor karakteristik Puskesmas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain crossectional, pengumpulan data dilakukan di Kota Depok dengan jumlah responder sebanyak 64 orang perawat pegawai negri sipil pada 24 Puskesmas yang ada, dan dilaksanakan pada bulan april 2001. Waktu kerja produktif di amati dengan menggunakan formulir work sampling dan sampel diambil dengan cara tanpa pengembalian sehingga diperoleh sebanyak 1625 pengamatan selama 2 minggu. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang waktu kerja produktif perawat kesehatan Puskesmas yang dihubungkan dengan faktor individu (umur, jenis kelamin, status perkawinan, jumlah anak, motivasi kerja, pelatihan, lama kerja, golongan) dan karakteristik Puskesmas (gaya pimpinan, sumber daya, lingkungan/iklim kerja, dan beban kerja). Untuk mengetahui distribusi frekwensi dilakukan analisis univariat, diperoleh waktu kerja produktif perawat sebesar 86.28% yang terdiri dari 64.53% untuk pelayanan kesehatan, 21.75% untuk kegiatan administrasi/penunjang dan 13.71% merupakan waktu tidak produktif. Untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dilakukan uji t dan regresi linier sederhana dan hasilnya menunjukkan bahwa variabel yang diduga berhubungan adalah umur, jumlah anak, lama bekerja, motivasi kerja pelatihan, ketersediaan sumber daya, golongan, gaya kepemimpinan dan lingkungan kerja ( p< 0.25). Hasil akhir uji regresi linier berganda dengan mempertimbangkan variabel kehadiran sebagai variabel pengganggu maka diperoleh variabel independen yang signifikan yaitu jumlah anak, lama kerja, pelatihan, ketersediaan sumber daya dan kehadiran ( p<0.05). Variabel tersebut secara bersama-sama diperkirakan dapat memberikan kontribusi sebesar 36 % terhadap variasi waktu kerja produktif perawat dengan koefisien korelasi sebesar 0.6. dan reabilitas model (shrinkage of crosss validation) sebesar 0.192 (reliabel). Dari hasil penelitian ini waktu kerja produktif minimal seorang perawat ( 68, 1 4%) dapat ditingkatkan menjadi 79.31% dengan kondisi lama kerja 10 tahun, kehadiran 22 hari, jumlah anak >2, pelatihan 3 kali dan sumber daya cukup memadai. Memperhatikan hasil yang diperoleh penulis menyarankan untuk melakukan pelatihan bagi perawat agar dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan baik dalam kegiatan pelayanan kesehatan ataupun kegiatan administrasi.

The Prediction Model of Factors that Related with Nurses Productive Time in The Public Health Center, April 2001Depth city is district area in province west of Java which is boundary directly with Jakarta. The people hope that public health center give them good service, but in fact the public health center does not work accordance with the certainty, and the ratio of the nurse and 1000 people is still less (0.05%o). Due the fact in the field the researcher is interested in gaining information about the description of nurse productive time from the individual and the character from public health center factor point of view. This reseach is a descriptive analyzed with cross sectional approach. Data survey was done in all of nurse in public health center, and it was done in April 2001. Productive time of the nurse was observed with used work sampling format and the sample took with without replacement technique and size of sample about 1625 unit for 2 week observed. Meanwhile the objectives of this research are got information about nurse productive time related with age, sex, married statues, children they've got, motivation in the work, training, length of working, resources, level statue, leadership style, work environment and load of work. Univariat analysis was result the frequency distribution from nurse productive time about 86.28 %, consist of 64.53 % health service; 21.75 % administration and 1331 % idle time ( non productive ). Sivariate analysis figure out the relationship among the variables by the t-test and single linear regression test with p < 0.25 as a candidate for multivariate test_ The out come shows a significant relationship between productive time with age, children they've got, motivation in the work, training, length of working, resources, level statues, leadership style and work environment, and then analysis multivariate test shows children they've got, training, length of working, resources, and the present in the work (p < 0.05) can be considered as candidate in the final model regression. In building a simple and yet parsimonious productive time model, this study the model was as follows (R2= 36%, correlation = 0.6 reliability = 0,19) : Productive time = 68. l41 - 0.539 (length of working) + 0.298 ( present in the work) + 4.82 (children they've got) + 1.68 (training) - 4.71(resources) + E. Based in this result, this study suggested to make the training 1 on the job training for nurse can make theirs productive time will be increased.
Read More
T-1027
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syaiful Oetama; Pembimbing: Sudijanto Kamso, Besral; Penguji: Luknis Sabri, Abd Hafiz, Masdalina Pane
T-2908
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nunung Kartika ;Pembimbing; Iwan Ariawan ;Penguji: Besral, Kemal N.Siregar, Lukas C.Hemawan, SariMawar Djaja
T-1138
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Setiyowati Rahardjo; Pembimbing: Luknis Sabri, Sabarinah B. Prasetyo, Penguji: Itje A Ranida, Gita Maya Koemara Sakti
Abstrak: Latar Belakang : Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan negara ASEAN lain. Penyebab utama kematian bayi dan balita di Indonesia adalah penyakit infeksi terutama saluran nafas dan diare. Pencegahan penyakit infeksi dapat dilakukan dengan pemeliharaan gizi bayi dan balita yang baik salah satunya dengan pemberian ASI secara benar dan tepat. Awal menyusui yang baik adalah 30 menit setelah bayi lahir karena dapat merangsang pengeluaran ASI selanjutnya dan akan terjadi hubungan timbal balik dengan cepat antara ibu dengan bayi. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003 menunjukkan 95,9% balita sudah mendapat ASI dan dari jumlah ini hanya 38,7 % balita mendapat ASI pertama dalam satu jam setelah lahir. Untuk itu dilakukan analisis faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah melahirkan berdasarkan data SDKI 2002 – 2003. Tujuan : Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah melahirkan Metode : Studi ini merupakan analisis lanjut dari data SDKI 2002-2003 dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 6018 meliputi ibu yang memiliki anak balita terakhir masih hidup berusia 0 – 24 bulan yang mendapat ASI dan dilahirkan tanpa operasi. Analisis data meliputi analisis univariabel, analisis bivariabel dengan regresi logistik sederhana, dan analisis multivariabel dengan regresi logistik multivariat. Hasil : Proporsi pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah melahirkan sebesar 38,28%. Analisis multivariabel menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah melahirkan adalah daerah tempat tinggal, kehamilan diinginkan, tenaga periksa hamil, penolong persalinan, akses terhadap radio, dan berat lahir. Terdapat interaksi antara daerah dengan tenaga periksa, kehamilan diinginkan dengan tenaga periksa, dan berat lahir dengan penolong persalinan. Kesimpulan : Faktor dominan yang berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama adalah tenaga periksa hamil. Perlu upaya meningkatkan pengetahuan dan motivasi petugas kesehatan mengenai pentingnya ASI segera dan ASI eksklusif, upaya peningkatan pengetahuan ibu dan calon ibu mengenai tata laksana pemberian ASI yang benar disamping memasyarakatkan program keluarga berencana. Upaya ini harus didukung dengan kebijakan pemerintah serta kerjasama lintas program dan lintas sektor untuk tercapainya peningkatan pemberian ASI segera dan ASI eksklusif. Kata kunci : ASI satu jam pertama, SDKI 2002 - 2003, regresi logistik multivariat
Background : Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesia is still high compared to the other ASEAN countries. It also well known that the major cause for infant and children mortality is infections, especially the upper respiratory tracts infection and diarrhea. Some of the prevention efforts on lowering the evidence of infections are by having a good nutrition management for infant and children, and one of them is an adequate and appropriate breastfeeding. A good start for breastfeeding is about 30 minutes after delivery, as it will be stimulate the continuity of releasing the breast-milk and the interaction between the mother and the baby will be taken place. The Indonesia DHS 2002-2003 showed that 95.5% under five have already have breast-milk, but from that figure only 38.7% of them are having the first breast-milk within one hour after delivery. Hence, there is an analysis on the factors related to the breastfeeding given within one hour after delivery toward data of the Indonesia DHS 2002-2003. Objective : Know about factors related to the breastfeeding given within one hour after delivery Methods : The study is a continuous analysis of the Indonesia DHS 2002-2003 with a cross-sectional design. The number of sample is 6.018, which are mothers who have the latest life child aged 0 to 24 months and still having breastfed and delivered without surgery. Data are analyzed using the application of double logistic regression. The analysis is consisting of the univariable, bivariable with simple logistic regression, and multivariable with multivariate logistic regression. Results : The study has found that the proportion of breastfeeding given within one hour after delivery as high as 38.28%. The multivariable analysis showed that factors related to the breastfeeding given within one hour after delivery are: the residential location, wanted pregnancy, the antenatal care provider, birth attendance, accessibility on radio, and newborn’s weight. There is an interaction between residential location and the antenatal care provider, wanted pregnancy and the antenatal care provider, and newborn’s weight and the birth attendance. Conclusions : The dominant factors related to the breastfeeding given within one hour after delivery is the antenatal care provider. There is a need to make an effort on: increasing the knowledge and motivation of the health provider on the importance of the immediate administration of breastfeeding to the newborn and the Exclusive Breastfeeding; increasing mother’s and pregnant mother’s knowledge on appropriate management of breastfeeding, as well as the socialization of family planning program. The efforts that should be supported by government policy, and also the collaboration between programs and inter-sectoral in order to reach the goals on the immediate administration of breastfeeding to the newborn and the exclusive breastfeeding. Keywords : Breastfed in first one hour, IDHS 2002-2003, multivariate logistic regression
Read More
T-2114
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Wahyudi; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Sudiyanto Kamso, Kemal Nazarudin Siregar, Endang sri Widyaningsih
Abstrak:

Penyelengaraan sistem informasi kesehatan yang baik sangat diperlukan guna menunjang proses manajemen program-program kesehatan. Buruknya sistem informasi kesehatan akan mengakibatkan pada rendahnya kualitas data & informasi yang dihasilkan dan rendahnya kualitas data & informasi akan berdampak pada kualitas manajemen, seperti perencanaan yang tidak tepat, salah dalam evaluasi keberhasilan program dan sebagainya.Sistem informasi manajemen Puskesmas (SIMPUS) adalah ketentuan teknis secara rinci mengenai sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP) berdasarkan SK Dit.Jen Binkesmas. No:590/BM/DJ/Info/V/96, bertujuan meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas secara lebih berhasil guna dan berdaya guna melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yang menunjang. Baik tidaknya penyelenggaraan SIMPUS akan berdampak pada baik tidaknya manajemen Puskesmas. Baik tidaknya manajemen Puskesmas diduga berkaitan dengan kinerja pelaksana program dalam penyelenggaraan SIMPUS, mulai dari pengumpulan data (pencatatan), pengolahan data, analisis dan interpretasi informasi hasil olahan data, pelaporan dan pemanfaatannya untuk menunjang proses manajemen Puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja pelaksana program dalam penyelenggaraan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas di Kota Bengkulu.Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 144 dari 150 total populasi. Populasi penelitian adalah 10 pelaksana program pada 15 Puskesmas yang ada di kota Bengkulu. Pengumpulan data variabel terikat maupun variabel bebas dilakukan dengan metode self-assesment (kuesioner diisi oleh responden sendiri). Khusus untuk variabel terikat yaitu kinerja pelaksana program dalam penyelenggaraan SIMPUS, setelah responden menjawab/mengisi kuesioner, peneliti melakukan observasi dan pengecekan jawaban respoden sekaligus melakukan koreksi atas kebenaran kecocokan jawaban yang diisi oleh responder.Hasil penelitian melaporkan proporsi pelaksana program dalam penyelenggaraan SIMPUS yang kinerjanya baik sebanyak 52,8% dan yang kinerjanya tidak baik sebanyak 47,2%. Hasil analisis menunjukan bahwa ada tiga faktor yang berhubungan dengan kinerja pelaksana program dalam penyelenggaraan SIMPUS di Kota Bengkulu yaitu pelatihan, pengetahuan tentang SIMPUS dan uraian tugas.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kinerja pelaksana program dalam penyelenggaraan SIMPUS di kota Bengkulu belum dilaksanakan dengan baik, untuk itu perlu mendapat perhatian Pimpinan Puskesmas dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu : Pertama kegiatan pelatihan perlu ditingkatkan baik dari jumlah dan mutunya, kedua diperlukan upaya khusus peningkatan pengetahuan tentang SIMPUS pada setiap pelaksana program Puskesmas seperti melengkapi buku-buku pedoman SIMPUS di setiap Puskesmas dan ketiga perlu adanya uraian tugas yang jelas pada setiap pelaksana program di Puskesmas khususnya tugas-tugas dan tanggung-jawabnya dalam pengelolaan data dan informasi.


 

Factors Related to the Performance of Program Officers in Administrating the Puskesmas Management Information Systems (SIMPUS) in Bengkulu City 2001Good health information system is needed to support the process of managing health programs. Unreliable health information system will produce low quality data and information. Low quality data and information, as a consequence, will damage the decision making process of health management, such as reducing their ability to plan accurately, hampering program performance evaluation, and other problems.Puskesmas management information systems (SIMPUS) is detailed technical provision concerning integrated recording dan reporting systems of Puskesmas (SP2TP) which is based on SK Dit. Jenn. Binkenmas No. 590/BM/DJ/Info/V/96. The provision is aimed to enhance the effectiveness of Puskesmas management through optimal use of SP2TP data and other supporting information. The quality of SIMPUS administration will directly affect the effectiveness of Puskesmas management.The effectiveness of Puskesmas management is hypothesized to be related to the performance of program officers in administrating SIMPUS, from the start of data collecting (recording), processing, analyzing and interpretation of the outputs, reporting, to utilizing information to support Puskesmas management. The objective of this study is to identify factors related to the performance of program officers in administrating SIMPUS in Bengkulu City.The design of the study is cross-sectional, using a sample of 144, with the total population of 150. The population consists of 10 program officers at each of 15 Puskesmasses located in Bengkulu City.The collection of data concerning dependent and independent variables was done using self-assesment method (the respondents were asked to fill the questionnaire by him or her). In the case of dependent variable, i.e. the performance of program officers in administrating SIMPUS, after the respondents filled the questionnaires, the researcher still had to make direct observations over the process SIMPUS administration, verify the answers of respondents, and make correction, if necessary.The study found that the proportion of program officers having good performance in administrating SIMPUS is 52,8%, and the proportion of program officers whose performance low is 47,2%. The results of analysis found three factors that affect program officers? performance in administrating SIMPUS in Bengkulu City: training, knowledge of SIMPUS, and job description.It can be concluded that program officers? performance in administrating SIMPUS in Bengkulu city is effectively low performances. Hence, these results should get attention from managers of Puskesmasses and Head office of health Bengkulu City: first, the number and quality of trainings should be increased, second there should be special efforts to increase program officers knowledge of SIMPUS, for example through providing SIMPUS manuals at every Puskesmas and the third, there should be clear description of tasks to be performed by program officers, especially description of tasks related to managing data and information.

Read More
T-1252
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khorib Abdul Karim Taufiqurahman; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral, Aries Hamzah
S-8784
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive