Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36145 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Abdul Hafiz: Pembimbing; Luknis Sabri; Penguji: Madiati Nadjib, Sabarinah, Soetanto, Rustono Pinangdjojo
Abstrak:
Kota Depok merupakan daerah tingkat II di wilayah propinsi Jawa Barat yang merupakan daerah berbatasan langsung dengan Jakarta. Masyarakat mengharapkan pelayanan yang bermutu dari Puskesmas, namun masih ada keluhan mengenai jam buka Puskesmas yang belum sesuai dengan jumlah waktu yang telah ditetapkan, disamping itu masyarakat menjadikan perawat sebagai sosok pengganti dokter kepala Puskesmas bila dokter tidak berada di tempat. Sementara itu ratio perawat terhadap 1000 penduduk masih rendah (0.05 %o). Sehubungan dengan hal tersebut, peneliti tertarik memperoleh informasi tentang gambaran waktu kerja produktif perawat kesehatan di kota Depok yang dilihat dari faktor individu dan faktor karakteristik Puskesmas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain crossectional, pengumpulan data dilakukan di Kota Depok dengan jumlah responder sebanyak 64 orang perawat pegawai negri sipil pada 24 Puskesmas yang ada, dan dilaksanakan pada bulan april 2001. Waktu kerja produktif di amati dengan menggunakan formulir work sampling dan sampel diambil dengan cara tanpa pengembalian sehingga diperoleh sebanyak 1625 pengamatan selama 2 minggu. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang waktu kerja produktif perawat kesehatan Puskesmas yang dihubungkan dengan faktor individu (umur, jenis kelamin, status perkawinan, jumlah anak, motivasi kerja, pelatihan, lama kerja, golongan) dan karakteristik Puskesmas (gaya pimpinan, sumber daya, lingkungan/iklim kerja, dan beban kerja). Untuk mengetahui distribusi frekwensi dilakukan analisis univariat, diperoleh waktu kerja produktif perawat sebesar 86.28% yang terdiri dari 64.53% untuk pelayanan kesehatan, 21.75% untuk kegiatan administrasi/penunjang dan 13.71% merupakan waktu tidak produktif. Untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dilakukan uji t dan regresi linier sederhana dan hasilnya menunjukkan bahwa variabel yang diduga berhubungan adalah umur, jumlah anak, lama bekerja, motivasi kerja pelatihan, ketersediaan sumber daya, golongan, gaya kepemimpinan dan lingkungan kerja ( p< 0.25). Hasil akhir uji regresi linier berganda dengan mempertimbangkan variabel kehadiran sebagai variabel pengganggu maka diperoleh variabel independen yang signifikan yaitu jumlah anak, lama kerja, pelatihan, ketersediaan sumber daya dan kehadiran ( p<0.05). Variabel tersebut secara bersama-sama diperkirakan dapat memberikan kontribusi sebesar 36 % terhadap variasi waktu kerja produktif perawat dengan koefisien korelasi sebesar 0.6. dan reabilitas model (shrinkage of crosss validation) sebesar 0.192 (reliabel). Dari hasil penelitian ini waktu kerja produktif minimal seorang perawat ( 68, 1 4%) dapat ditingkatkan menjadi 79.31% dengan kondisi lama kerja 10 tahun, kehadiran 22 hari, jumlah anak >2, pelatihan 3 kali dan sumber daya cukup memadai. Memperhatikan hasil yang diperoleh penulis menyarankan untuk melakukan pelatihan bagi perawat agar dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan baik dalam kegiatan pelayanan kesehatan ataupun kegiatan administrasi.

The Prediction Model of Factors that Related with Nurses Productive Time in The Public Health Center, April 2001Depth city is district area in province west of Java which is boundary directly with Jakarta. The people hope that public health center give them good service, but in fact the public health center does not work accordance with the certainty, and the ratio of the nurse and 1000 people is still less (0.05%o). Due the fact in the field the researcher is interested in gaining information about the description of nurse productive time from the individual and the character from public health center factor point of view. This reseach is a descriptive analyzed with cross sectional approach. Data survey was done in all of nurse in public health center, and it was done in April 2001. Productive time of the nurse was observed with used work sampling format and the sample took with without replacement technique and size of sample about 1625 unit for 2 week observed. Meanwhile the objectives of this research are got information about nurse productive time related with age, sex, married statues, children they've got, motivation in the work, training, length of working, resources, level statue, leadership style, work environment and load of work. Univariat analysis was result the frequency distribution from nurse productive time about 86.28 %, consist of 64.53 % health service; 21.75 % administration and 1331 % idle time ( non productive ). Sivariate analysis figure out the relationship among the variables by the t-test and single linear regression test with p < 0.25 as a candidate for multivariate test_ The out come shows a significant relationship between productive time with age, children they've got, motivation in the work, training, length of working, resources, level statues, leadership style and work environment, and then analysis multivariate test shows children they've got, training, length of working, resources, and the present in the work (p < 0.05) can be considered as candidate in the final model regression. In building a simple and yet parsimonious productive time model, this study the model was as follows (R2= 36%, correlation = 0.6 reliability = 0,19) : Productive time = 68. l41 - 0.539 (length of working) + 0.298 ( present in the work) + 4.82 (children they've got) + 1.68 (training) - 4.71(resources) + E. Based in this result, this study suggested to make the training 1 on the job training for nurse can make theirs productive time will be increased.
Read More
T-1027
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agustry Cipra Antice; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: R. Sutiwan, Martya Rahmaniati, Makful, Tri Astuti, A. Wawan Setyawan
T-3340
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mahpolah; Pembimbing; Tris Eryando; Peguji: Sudijanto Kamso, Kusharisupeni, Nanang Prayitno, Tanty Herawaty
T-1152
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Wahyudi; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Sudiyanto Kamso, Kemal Nazarudin Siregar, Endang sri Widyaningsih
Abstrak:

Penyelengaraan sistem informasi kesehatan yang baik sangat diperlukan guna menunjang proses manajemen program-program kesehatan. Buruknya sistem informasi kesehatan akan mengakibatkan pada rendahnya kualitas data & informasi yang dihasilkan dan rendahnya kualitas data & informasi akan berdampak pada kualitas manajemen, seperti perencanaan yang tidak tepat, salah dalam evaluasi keberhasilan program dan sebagainya.Sistem informasi manajemen Puskesmas (SIMPUS) adalah ketentuan teknis secara rinci mengenai sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP) berdasarkan SK Dit.Jen Binkesmas. No:590/BM/DJ/Info/V/96, bertujuan meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas secara lebih berhasil guna dan berdaya guna melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yang menunjang. Baik tidaknya penyelenggaraan SIMPUS akan berdampak pada baik tidaknya manajemen Puskesmas. Baik tidaknya manajemen Puskesmas diduga berkaitan dengan kinerja pelaksana program dalam penyelenggaraan SIMPUS, mulai dari pengumpulan data (pencatatan), pengolahan data, analisis dan interpretasi informasi hasil olahan data, pelaporan dan pemanfaatannya untuk menunjang proses manajemen Puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja pelaksana program dalam penyelenggaraan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas di Kota Bengkulu.Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 144 dari 150 total populasi. Populasi penelitian adalah 10 pelaksana program pada 15 Puskesmas yang ada di kota Bengkulu. Pengumpulan data variabel terikat maupun variabel bebas dilakukan dengan metode self-assesment (kuesioner diisi oleh responden sendiri). Khusus untuk variabel terikat yaitu kinerja pelaksana program dalam penyelenggaraan SIMPUS, setelah responden menjawab/mengisi kuesioner, peneliti melakukan observasi dan pengecekan jawaban respoden sekaligus melakukan koreksi atas kebenaran kecocokan jawaban yang diisi oleh responder.Hasil penelitian melaporkan proporsi pelaksana program dalam penyelenggaraan SIMPUS yang kinerjanya baik sebanyak 52,8% dan yang kinerjanya tidak baik sebanyak 47,2%. Hasil analisis menunjukan bahwa ada tiga faktor yang berhubungan dengan kinerja pelaksana program dalam penyelenggaraan SIMPUS di Kota Bengkulu yaitu pelatihan, pengetahuan tentang SIMPUS dan uraian tugas.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kinerja pelaksana program dalam penyelenggaraan SIMPUS di kota Bengkulu belum dilaksanakan dengan baik, untuk itu perlu mendapat perhatian Pimpinan Puskesmas dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu : Pertama kegiatan pelatihan perlu ditingkatkan baik dari jumlah dan mutunya, kedua diperlukan upaya khusus peningkatan pengetahuan tentang SIMPUS pada setiap pelaksana program Puskesmas seperti melengkapi buku-buku pedoman SIMPUS di setiap Puskesmas dan ketiga perlu adanya uraian tugas yang jelas pada setiap pelaksana program di Puskesmas khususnya tugas-tugas dan tanggung-jawabnya dalam pengelolaan data dan informasi.


 

Factors Related to the Performance of Program Officers in Administrating the Puskesmas Management Information Systems (SIMPUS) in Bengkulu City 2001Good health information system is needed to support the process of managing health programs. Unreliable health information system will produce low quality data and information. Low quality data and information, as a consequence, will damage the decision making process of health management, such as reducing their ability to plan accurately, hampering program performance evaluation, and other problems.Puskesmas management information systems (SIMPUS) is detailed technical provision concerning integrated recording dan reporting systems of Puskesmas (SP2TP) which is based on SK Dit. Jenn. Binkenmas No. 590/BM/DJ/Info/V/96. The provision is aimed to enhance the effectiveness of Puskesmas management through optimal use of SP2TP data and other supporting information. The quality of SIMPUS administration will directly affect the effectiveness of Puskesmas management.The effectiveness of Puskesmas management is hypothesized to be related to the performance of program officers in administrating SIMPUS, from the start of data collecting (recording), processing, analyzing and interpretation of the outputs, reporting, to utilizing information to support Puskesmas management. The objective of this study is to identify factors related to the performance of program officers in administrating SIMPUS in Bengkulu City.The design of the study is cross-sectional, using a sample of 144, with the total population of 150. The population consists of 10 program officers at each of 15 Puskesmasses located in Bengkulu City.The collection of data concerning dependent and independent variables was done using self-assesment method (the respondents were asked to fill the questionnaire by him or her). In the case of dependent variable, i.e. the performance of program officers in administrating SIMPUS, after the respondents filled the questionnaires, the researcher still had to make direct observations over the process SIMPUS administration, verify the answers of respondents, and make correction, if necessary.The study found that the proportion of program officers having good performance in administrating SIMPUS is 52,8%, and the proportion of program officers whose performance low is 47,2%. The results of analysis found three factors that affect program officers? performance in administrating SIMPUS in Bengkulu City: training, knowledge of SIMPUS, and job description.It can be concluded that program officers? performance in administrating SIMPUS in Bengkulu city is effectively low performances. Hence, these results should get attention from managers of Puskesmasses and Head office of health Bengkulu City: first, the number and quality of trainings should be increased, second there should be special efforts to increase program officers knowledge of SIMPUS, for example through providing SIMPUS manuals at every Puskesmas and the third, there should be clear description of tasks to be performed by program officers, especially description of tasks related to managing data and information.

Read More
T-1252
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Farida; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Indang Trihandini, Sihadi, Minarto
Abstrak:

Program PMT telah dilakukan di kecamatan Bogor Selatan pada tahun 1999 bagi balita gizi buruk dan kurang agar dapat meningkatkan status gizinya. Namun hingga saat ini belum pernah dilakukan evaluasi atau penelitian, khususnya mengenai waktu peningkatan status gizi balita selama mengikuti program PMT tersebut.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang peluang balita dan waktu peningkatan status gizi selama dua belas minggu intervensi PMT serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.Desain penelitian ini longitudinal selama dua belas minggu dengan melibatkan 194 balita. Analisis Kaplan Meier dilakukan untuk menentukan probabilitas status gizi tidak meningkat selama dua belas minggu. Analisis multivariat regresi cox dilakukan untuk menentukan besarnya nilai probabilitas peningkatan status gizi berdasarkan kecurigaan ada faktor lain secara bersama-sama.Hasil penelitian menunjukkan bahwa probabilitas status gizi tidak meningkat sampai dua belas minggu sebesar 67,01%. Median waktu peningkatan status gizi tidak diketahui, artinya sampai dua belas minggu intervensi PMT belum ada 50% balita yang mengalami peningkatan status gizi.Secara bivariat diketahui ada perbedaan antara umur ibu, konsumsi energi dan umur balita dengan waktu peningkatan status gizi. Hasil analisis ini tidak melihat perbedaan antara pendidikan, pengeluaran, pengetahuan, pola asuh, besar keluarga, konsumsi protein, penyakit infeksi, status gizi awal, jenis kelamin, partisipasi dengan waktu peningkatan status gizi. Probabilitas status gizi tidak meningkat sampai minggu kedua belas pada balita yang mempunyai ibu berumur antara 20 - 30 tahun sebesar 76,24%. Balita yang ibunya berumur kurang dari 20 atau lebih dari 30 tahun probabilitas status gizi tidak meningkat sebesar 55,29%. Peningkatan status gizi balita yang mempunyai ibu berumur antara 20 - 30 tahun sebesar 0,480 kali (95% CI : 1,100 - 3,038) dibanding balita yang ibunya berumur kurang dari 20 atau lebih dan 30 tahun. Balita yang konsumsi energinya baik memiliki probabilitas status gizi tidak meningkat sebesar 62,30% dan 74,58% bagi balita yang konsumsi energinya kurang. Peningkatan status gizi pada balita dengan konsumsi energi baik 1,828 (95% CI ; 1,100 - 3,038) kali dibanding balita yang konsumsi energinya kurang. Probabilitas status gizi tidak meningkat pada balita yang berumur ≤ 2 tahun sebesar 72,73% dan > 2 tahun sebesar 54,84%. Peningkatan status gizi balita yang berumur > 2 tahun sebesar 1,798 (95% CI : 1,096 - 2,948) kali dibanding balita yang berumur ≤  2 tahun.Secara multivariat faktor yang berhubungan dengan waktu peningkatan status gizi balita selama dua belas minggu intervensi PMT adalah umur ibu, pengetahuan, konsumsi protein dan umur Balita, Peningkatan Status gizi pada balita yang memiliki ibu berumur antara 20 - 30 tahun sebesar 0,471 (95% CI : 0,279 - 0,795) dibanding balita yang umur ibunya < 20 atau > 30 tahun dengan mengendalikan pengetahuan ibu, konsumsi protein dan umur balita. Berdasarkan pengetahuan gizi ibu, peningkatan status gizi balita yang ibunya berpengetahuan baik sebesar 1,694 (95% CI : 1,061 - 2,969) kali dibanding balita yang pengetahuan gizi ibunya kurang dengan umur ibu, konsumsi protein dan umur balita yang sama. Balita yang konsumsi proteinnya baik peningkatan status gizinya 1,659 (95% CI : 0,911 - 3,023) kali dibanding balita lain yang konsumsi proteinnya kurang pada kondisi umur ibu, pengetahuan dan umur balita yang sama. Dilihat dari umur balita, balita yang berumur > 2 tahun peningkatan status gizinya sebesar 1,775 (95% CI : 0,984 - 2,914) kali dibanding balita yang berumur ≤ 2 tahun dengan umur ibu, pengetahuan gizi ibu dan konsumsi protein yang sama.


 

Supplemental Food Giving Program for Balita with bad and less nutrient had done in South Bogor Sub-district in 1999. But, there isn't evaluation/research about it yet, specialties the time of Balita?s nutrient status increasing during follow this program.This research goal is to obtain information regarding the opportunities and the time of Balita's nutrient status increasing within twelve weeks supplemental food giving intervention, also factors which influenced them.This research design is longitudinal within twelve weeks involved 194 Balita. Kaplan Meier Analysis was done to determine probability of Balita with nutrient status not increase within twelve weeks. While Multivariate Regression Cox Analysis was done to determine probability value of Balita's nutrient status increase, based on suspicious there's another factor coinciding.The result of this research showed that Balita's nutrient status not increase within twelve weeks probability 67,01 %. Median time of Balita's nutrient status increasing is unknown, it means within twelve weeks intervention the program less than 50 % Balita increasing their nutrient status.From the outcomes of bivariate analysis known, there's difference between mother's age, energy consumption and Balita's age with the time of nutrient status increasing. But, there's no difference between mother's educational background, expenses, knowledge, bring-up pattern, sum of family's member, protein consumption, infection disease, early nutrient status, gender, participation with the time of Balita's nutrient status increasing, Balita's nutrient status not increase within twelve weeks if their mother's between 20 - 30 years old probability 76,24 %. While their mother's <20 or >30 years old probability 55,29 %. Balita's nutrient status increasing if their mother between 20 - 30 years old 0,480 time ( 95 °.b CI : 1,100 - 3,038 ) compare with Balita's mother < 20 or > 30 years old. Balita with good energy consumption but their nutrient status not increase probability 62,30 % and 74,58 % for the Balita with less energy consumption. Balita < 2 years old with nutrient status not increase probability 72,73 % and > 2 years old nutrient status increasing 1,798 times (95 % CI : 1,096 - 2,948 ) comparing with Balita = 2 years old.From the outcomes of multivariate analysis, factors related to the time of Balita's nutrient status increasing within twelve weeks intervention of the Supplemental Food Giving Program are mother's age, knowledge, protein consumption and Balita's age. Balita's nutrient status increasing with their mother's age between 20 - 30 years old 0,471 times ( 95 % CI : 0,279 - 0,795 ) compare with Balita's mother < 20 or > 30 years old, under control of mother's knowledge, protein consumption and Balita of the same age. Based on mother's nutrient knowledge's good, so Balita's nutrient status increasing 1,694 times (95 % CI: 1,061 - 2,969) compare with Mother's knowledge deficit with mother's age, protein consumption and Balita's with the same age. Balita with good protein consumption have nutrient status increasing 1,659 times (95 % CI: 0,911 - 3,023) compare with another Balita with less protein consumption and the same condition of mother's age, knowledge and Balita's age. Balita > 2 years old have nutrient status 1,775 times (95 % CI: 0,984 - 2,914) compare with Balita = 2 years old with the same mother's age, mother's nutrient knowledge and Balita's protein consumption.

Read More
T-1273
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Helen S.L.M.; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Besral, Iva Diansari
S-4681
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ichsanu Rofiq; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Poppy Yuniar, Anindita Dyah Sekarpuri
Abstrak: Rokok menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar di dunia yang pernah dihadapi, dan membunuh hampir enam juta orang dalam setahun. Pada tahun 2013 Indonesia berada di peringkat pertama sebagai negara dengan konsumen rokok terbanyak di Asia Tenggara, dengan jumlah konsumen mencapai 46,16%. Berdasarkan data Susenas (2001) dan Riskesdas (2010), prevalensi merokok pada kelompok usia 10-14 tahun mengalami peningkatan hampir dua kali lipat, dimana pada tahun 2001 trend usia merokok kelompok 10-14 tahun sebesar 9,5%, dan pada tahun 2010 menjadi 17,5%.
 
Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok siswa SMP/MTs di Kecamatan Mojoagung. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan, bahwa variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan perilaku merokok siswa adalah sikap, keterjangkauan rokok, teman sebaya, dan iklan rokok.
 

Cigarettes become one of the biggest public health threats in the world that have ever faced, and killed nearly six million people a year. In 2013 Indonesia was placed in first rank as the state with the highest cigarette consumers in Southeast Asia, the number of consumers reached 46,16%. Based on Susenas (2001) and Riskesdas (2011), the prevalence of smoking in the age group 10-14 years has increased nearly double, where in 2001 the trend of smoking age group 10-14 years is 9,5%, and it became 17,5% in 2010.
 
This research used crosssectional study design with the objective to understand the factors related with smoking behavior of Junior High School student in Mojoagung District. Based on research results, the variables which have a significant correlation with smoking behavior of students are attitude, cigarette affordability, peers, and cigarette advertising.
Read More
S-8242
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syaiful Oetama; Pembimbing: Sudijanto Kamso, Besral; Penguji: Luknis Sabri, Abd Hafiz, Masdalina Pane
T-2908
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nuzuliyati Nurhidayati; Pembimbing: Sutanto Priyohastomo; Penguji: R. Sutiawan, Martya Rahmaniati Makful, Sihadi, Indra Kurniawan
Abstrak:

Laporan hasil penelitian merupakan produk dari kegiatan penelitian dan pengembangan, yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk evaluasi kegiatan dan perencanaan program kegiatan yang akan datang. Untuk mengolah data laporan hasil penelitian beserta sumber daya peneliti agar memberikan manfaat bagi kegiatan program, diperlukan suatu model perangkat lunak sistem informasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Dari analisis dokumen, analisis sistem berjalan serta analisis kebutuhan informasi, dikembangkan model perangkat lunak Sistem Informasi Hasil Penelitian yang dapat mengolah data laporan hasil penelitian beserta data sumber daya peneliti sehingga menghasilkan informasi mengenai peta bidang penelitian dan bidang kepakaran, distribusi dukungan dan  persentase capaian target program Renstra maupun target institusi, prediksi sumber daya peneliti berdasarkan bidang kepakaran yang akan memasuki masa purna bakti. Informasi ini dapat dipergunakan oleh pihak Perencana Program sebagai dukungan data dalam perencanaan agenda penelitian dan bidang kepakaran peneliti. Selain memberikan manfaat lain dari segi administratif. Kata kunci:  sistem informasi, laporan penelitian, perencanaan penelitian, perencanaan sumber daya peneliti.


 ABSTRACT

Information Systems of Research Report for Research Agenda and  Researchers Resources Planning  (Case Studies in Center of Applied Technology for Health and Clinical Epidemiology) Research Report is a product of research and development activities, which can be used as a tool for evaluating activities and planning next program activities. To process the research data report and the researcher resources to provide benefits for program activities, we need a model of information system software. This study is a descriptive qualitative research design. From document analysis, on going system analysis and information needs analysis,  was developt software model of Information Systems Research which can process research report data and reasearcher resources data to produce information of the research fields map and expertise, support distribution and the percentage of target achievement program Strategic Plan and the target institutional, resource prediction based on field expertise of researchers who will be retired. This information can be used by program planner as  data support in planning research agenda and expertise of researchers. In addition to providing other benefits in terms of administrative Keywords : information system, research report, research agenda

Read More
T-3517
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khorib Abdul Karim Taufiqurahman; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral, Aries Hamzah
S-8784
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive