Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34754 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Isnaeni; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Felly Philips Sinewe
T-4076
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Purwo Setiyo Nugroho; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Putri Bungsu, Julianty Pradono, Punto Dewo
Abstrak:

ABSTRAK Nama :  Purwo Setiyo Nugroho Program Studi :  Magister Epidemiologi Judul :  Hubungan Diabetes Melitus Dengan Penyakit Jantung Koroner (Analisis Data Baseline Kohor PTM Tahun 2011). Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi yang berakibat munculnya penyakit lainnya. Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit terbesar pada penderita diabetes mellitus. Penyakit jantung koroner merupakan penyakit kardiovaskuler terbanyak dibandingkan penyakit kardiovaskuler lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan diabetes mellitus dengan penyakit jantung koroner pada studi data Baseline Kohor PTM Kementrian Kesehatan. Analisis yang digunakan adalah Cox Regression yang mengestimasi nilai Prevalens Ratio. Hasil analisis multivariat dengan menggunakan analisis cox regression mengungkapkan bahwa orang yang menderita diabetes melitus memiliki prevalens rasio sebesar 1,094 kali (p value 0,929 CI 95 % 0,149 – 8,026) dibanding responden yang tidak menderita diabetes melitus. Namun, hasil analisis ini menunjukkan bahwa hubungan diabetes melitus terhadap penyakit jantung koroner tidak signifikan dengan mempertimbangkan nilai p value > 0,05 dan 95 % Confidence Interval yang rentangnya melewati angka 1. Dalam peneltian ini minim terjadinya bias seleksi karena tidak missing data pada sampel eligible sebanyak 1937 responden. Begitu pula minim terjadinya bias informasi karena pengukuran variabel penelitian menggunakan alat ukur yang baku. Namun penelitian ini memiliki kelemahan dalam temporality sehingga hasil penelitian tidak dapat di justifikasi bahwa diabetes mellitus merupakan penyebab penyakit jantung koroner. Serta nilai asosiasi prevalence ratio bukan merupakan nilai risiko yang sebenarnya. Kata Kunci : Diabetes Melitus, Penyakit Jantung Koroner, Baseline Kohor, Penyakit Tidak Menular


ABSTRACT Name :  Purwo Setiyo Nugroho Program :  Master of Epidemiology Title :  Association of Diabetes Mellitus With Coronary Heart Disease (Baseline Data Analysis of Non-Communicable Disease, 2011). Diabetes mellitus is a disease that can cause complications that lead to the emergence of other diseases. Cardiovascular disease is the biggest disease in patients with diabetes mellitus.  This study aims to determine the relationship of diabetes mellitus and coronary heart disease in the Baseline Data Non-Communicable Disease Cohort Study. The analysis is the Cox Regression estimate the Prevalence Ratio. Multivariate analysis using Cox regression analysis revealed that people suffering from diabetes mellitus have a prevalence ratio of 1.094 times (p value = 0.929 95% CI 0.149 to 8.026) than respondents who do not have diabetes mellitus. However, the results of this analysis showed that the association of diabetes mellitus against coronary heart disease is not significant considering p value <0.05 and 95% Confidence Intervals range is exceeded 1. This study the minimal selection bias because there is missing data on a sample of eligible total 1937 respondents. Similarly, the minimal bias variable measurement information for research using standard measurement tools. However, this study has weaknesses in temporality so that research results can not be justified that diabetes mellitus is a cause of coronary heart disease. Tthe value of association prevalence ratio is not the value of the actual risk. Keywords: Diabetes Mellitus, Coronary Heart Disease, Baseline Cohort, Non Communicable Disease

Read More
T-4835
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titi Indriyati; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Asri C. Adisasmita, Rustika, Edi Darma
T-4070
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yunita Diana Sari; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Ratna Djuwita, Julianty Pradono, Sri Prihartini
Abstrak:

ABSTRAK

Penyakit jantung koroner merupakan pembubuh utama di negara maju maupunnegara berkembang. Salah satu faktor risiko utama penyebab arterosclerosis adalahhiperkolesterolemia yang ditunjukkan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL.Perubahan pola hidup yang ditandai dengan kurangnya mengkonsumsi buah dansayuran serta banyak mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak, merupakan salahsatu risiko terjadinya peningkatan kadar kolesterol LDL. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui hubungan asupan serat dengan kadar kolesterol LDL pendudukusia 25-65 tahun di Kelurahan Kebon Kalapa Bogor tahun 2013. Penelitian dilakukandengan desain cross sectional menggunakan data baseline Studi Kohor Faktor RisikoPenyakit Tidak Menular Badan Litbangkes tahun 2011. Analisis multivariatemenggunakan regresi logistik. Hasil analisis data diperoleh proporsi kolesterol LDLtinggi sebesar 78.3% dengan rata-rata kadar kolesterol 120 mg/dl. Rata-rata asupanserat sebesar 7 gram/hari dengan proporsi asupan serat <6.6 gram/hari sebesar 50.5%.Hasil multivariate menunjukkan asupan serat rendah merupakan faktor protektif (OR= 0.182) terhadap kadar kolesterol LDL tinggi setelah dikontrol oleh variabel umur,asupan lemak dan asupan protein nabati. Faktor determinan dalam model ini terhadapkadar kolesterol LDL adalah asupan protein nabati (OR = 13.356). Model ini mampumemprediksi kejadian kadar kolesterol LDL sebesar 79.4% dan sisanya dipengaruhioleh variabel lain yang tidak tercantun didalam model. Dengan melakukanpenyuluhan akan pentingnya mengkonsumsi makanan yang banyak mengandungserat merupakan salah satu upaya pencegahan terjadinya penyakit yang berhubungandengan arterocslerosis. Merubah pola makan dengan memperbanyak konsumsi buahakan mengurangi kadar kolesterol LDL dalam darah.

ABSTRACT

Coronary heart disease considers as one of the major killers both in developedand developing countries. One of the main risk factors that caused artherosclerosis ishypercholesterolemia which indicates by elevated LDL cholesterol level. Life stylechanging by lack of consuming fruits and vegetables while excess in consuming foodhigh in fat content considered one of risk to have elevated cholesterol level. The aimof this research is to identify the relationship between fiber consumption and thecontent of LDL cholesterol for the people of 25-65 years of age at Kebon KelapaVillage in Bogor on the Year of 2013. The research is conducted by Cross Sectional.The analytic design utilizes the baseline data from Cohort Study of ContagiousDisease Risk Factors of the Research and Development of Health Agency of theRepublic of Indonesia in the year of 2011. Stratification is used in analyzing data andcog regression is utilized in multivariate analysis. The analysis of the result obtainedthat the prevalence of LDL cholesterol is 78.3% with the average of cholesterolcontent 120 mg/dl. The average of daily fiber consumption is 7 gram/day with theproportion of fiber consumption <6.6 gram/day is 50.5%. The result of multivariateanalysis indicates that low fiber consumption considers as a protective factor(OR=0.182) toward high level of LDL cholesterol level after having controlled bysuch variables as age, consumptions of fat and vegetable protein. Determinant factorin this model toward LDL cholesterol content is the consumption of vegetable protein(OR=13.356). This model has the ability to predict in experiencing LDL cholesterollevel 79.4% and the remaining would be influenced by other factors that have notwritten down in the model. By educating the community about the important ofconsuming high fiber foods consider as one of the effort to prevent the occurrence ofdiseases relate with artherosclerosis. Changing the eating pattern by consuming morefiber will decrease the content of cholesterol level in the blood

Read More
T-4007
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Made Dewi Susilawati; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Ratna Djuwita, Dwi Gayatri, Dyah Santi Puspitasari, Lelly Andayasari
Abstrak:

Kriteria utama obesitas menurut WHO adalah IMT namun obesitas sentral lebih berhubungan dengan risiko kesehatan dibanding obesitas umum Tujuan penelitian untuk mendapatkan cut off point dari ketiga indikator dalam mendeteksi terjadinya DMT2. Juga untuk mengetahui hubungan obesitas dengan indikator IMT, LP dan rasio LP-TB dengan terjadinya DMT2 dan menentukan indikator mana yang lebih baik dari ketiganya. Desain Cross Sectional. menggunakan data sekunder. Analisis menggunakan regresi logistic dan metode ROC.

Hasil : prevalensi DMT2 9,1% dan prevalensi obesitas berkisar 38,37 % - 41,98 % Nilai cut off obesitas umum IMT ≥ 25,72 kg/m2, LP laki-laki ≥ 80,65 cm perempuan ≥ 80,85 cm dan LP-TB laki-laki ≥ 0,51 perempuan ≥ 0,55.

Kesimpulan : orang dengan obesitas meningkatkan risiko terjadinya DMT2 setelah dikontrol faktor umur. Karena hasil ketiga indikator tidak jauh berbeda, maka penggunaanya tergantung keputusan praktisi kesehatan itu sendiri.


The WHO's major obesity criteria is BMI but central obesity is more associated to health risks than general obesity. The objective of the research is to define the cut off points of the three measurements in detecting the occurrence of T2DM. It is also aimed to examine the relationship of obesity indicators (BMI, WC, and WHtR) with T2DM and determine the best indicator of them. Design of Cross Sectional employs secondary data. Analysis apply logistic model and ROC method.

The result: prevalence of type 2 DM is about 9.1%, and obesity prevalence is about 38.37 % to 41.98 %. The cut off values of BMI general obesity, male WC, female WC, male WHtR, and female WHtR are ≥ 25.72 kg/m2, ≥ 80.65 cm, ≥ 80.85 cm, ≥ 0.5, and ≥ 0,55 respectively.

Conclusion: adjusted by age, obesity increases the risk of type 2 DM occurrence. Since there is no significantly different result, the use of obesity indicators depends on the health practitioner decisions.

Read More
T-3747
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fatikhatul Mabruroh; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Misti, Dian Meutia Sari
Abstrak: Penyakit Jantung Koroner (PJK) dikenal sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia. Obesitas yang menjadi salah satu faktor risiko PJK terus mengalami peningkatan dan dikhawatirkan dapat meningkatkan pula angka morbiditas dan mortalitas akibat PJK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko obesitas terhadap timbulnya PJK di Kota Bogor. Data yang digunakan adalah data kohor Penyakit tidak menular yang dikumpulkan sejak tahun 2011 - 2015. Disain studi yang digunakan adalah nested-case control dengan variabel kovariat yang dikumpulkan antara lain usia, jenis kelamin, hipertensi, diabetes melitus, kolesterol total, HDL, LDL, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, stres dan riwayat keluarga. Analisis yang digunakan adalah analisis multivariat unconditional logistic regression untuk mengetahui nilai OR adjusted. Hasil analisis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi PJK sebesar 35,1% dan prevalensi obesitas adalah 50,4%. Berat badan normal ditemukan lebih tinggi baik pada kelompok kasus maupun kontrol (45,4% dan 52,8%,). Besar nilai OR adjusted didapatkan sebesar 1,585 dengan nilai p 0,000. Diharapakan masyarakat dapat menerapkan pola hidup sehat, seperti meningkatkan aktivitas fisik, pola diet yang sehat, tidak merokok tidak stres dan istrihat yang cukup, khusunya pada jenis kelamin laki-laki dimana pada penelitian ini jenis kelamin laki-laki dan memiliki berat badan obesitas berrisiko untuk mengalami PJK.
Read More
T-6267
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Zubir; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Ratna Djuwita, Nasrin Kodim, Ekowati Rahajeng, Setyadi
Abstrak:

Penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian di dunia yang akan terus meningkat dan menjadi pandemi tanpa memandang batas negara. Setiap tahun di dunia sebanyak 3.8 juta laki-laki dan 3.4 jiwa wanita meninggal karena penyakit jantung koroner. Perubahan daya hidup, peningkatan usia harapan hidup dan urbanisasi mendorong timbulnya abnormalitas metabolisme seperti obesitas, dislipidemia, resistensi insulin dan hipertensi. Kumpulan abnormalitas metablik ini disebut dengan sindroma metabolik pada akhirnya akan meningkatkan kemungkinan menderita penyakit jantung koroner tiga kali lipat Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuinya hubungan sindroma metabolik dengan penyakit jantung koroner di RS. DR. M. Djamil Padang Tahun 2008 setelah dikontrol dengan variabel umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, kebiasaan merokok, kebiasaan minum alkohol dan aktivitas fisik. Desain penelitian ini adalah kasus kontrol. Kasus adalah penderita baru penyakit jantung koroner berdasarkan pemeriksaan EKG oleh dokter, penyakit tersebut baru terdiagnosis pada Bulan Januari sampai Mei 2008. Kontrol adalah semua pengunjung ang dinyatakan sebagai bukan penderita penyakit jantung koroner, pada Bulan Januari sampai Mei 2008 berdasarkan pemeriksaan EKG oleh dokter. Sindroma Metabolik menurut AHA/NHLBI 2005 ditegakkan diagnosis bila terdapat empat kriteria dibawah ini: tekanan darah > 130/85 mmHg, kadar trigliserida darah >150mg/dl, kolesterol HDL pada laki-laki < 40 mg/dl dan wanita < 50 mg/dl dan kadar gula darah puasa > 100mg/dl Telah dilakukan panelitian terhadap 300 orang responden terdiri dari 150 pada kelompok kasus dan 150 pada kelompok kontrol. Hasil analisis multivariat didapatkan kejadian penyakit jantung koroner (PJK) berisiko 4,67 kali lebih besar pada orang yang mengalami sindroma metabolik dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami sindroma metabolik setelah dikontrol dengan variabel jenis kelamin (95% CI:1,20-18,06). Pada hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara sindroma metabolik dengan kejadian penyakit jantung koroner di RS. DR. M. Djamil Padang tahun 2008.

Read More
T-2921
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resti Dwi Hasriani; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Nurhayati Adnan, Misti, Rindu Rachmiaty
Abstrak:
Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian pada kelompok kardiovaskular. Obesitas dapat meningkatkan risiko seseorang terhadap progresivitas dari prediabetes menjadi DM tipe 2 dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Kondisi prediabetes dengan obesitas meningkatkan risiko kejadian PJK berdasarkan Cardiometabolic Disease Staging (CMDS). Penelitian ini menggunakan desain studi kohor retrospektif dengan data sekunder studi kohor faktor risiko PTM tahun 2011-2018. Sampel adalah 493 penduduk penduduk dewasa yang obesitas yang menjadi responden Studi Kohor Faktor Risiko PTM, serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil analisis multivariat menggunakan cox regression setelah dikontrol dengan usia dan durasi obesitas menemukan bahwa prediabetes memiliki nilai HR=0,80 (95%CI:0,462-1,387), p=0,429, yang berarti hubungan prediabetes dengan kejadian PJK pada penduduk dewasa yang obesitas tidak bermakna secara statistik.

Coronary Heart Disease (CHD) is a leading cause of death in the cardiovascular group. Obesity could increase a person's risk of progression from prediabetes to type 2 DM and increase the risk of cardiovascular disease. Prediabetes with obesity increases the risk of CHD events based on Cardiometabolic Disease Staging (CMDS). This study was used a retrospective cohort study design using secondary data on NCD Risk Factor Cohort Study in 2011-2018. The sample was 493 obese adult respondents in population of NCD Risk Factor Cohort Study whom met this study inclusion and exclusion criteria. The results of multivariate analysis using cox regression after being controlled by age and duration of obesity found that prediabetes had HR = 0.80 (95% CI: 0.462- 1.387), p = 0.429 which means the relationship between prediabetes with CHD events in obese adult respondents was not statistically significant.

Read More
T-5829
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Fajri Widyasari
Abstrak:
Penyakit kardiovaskuler masih menjadi permasalahan global dan merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia. Penyakit kardiovaskuler adalah kelompok penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah termasuk didalamnya adalah penyakit jantung koroner (PJK) dan penyakit jantung lainnya. Hipertensi adalah salah satu faktor risiko PJK yang dapat di modifikasi. Peningkatan tekanan darah secara signifikan meningkatkan risiko PJK. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain potong lintang. Data penelitian menggunakan data sekunder dari Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (FRPTM) di Kecamatan Bogor Tengah pada Tahun 2017 – 2018. Populasi sumber pada penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang mengikuti studi kohor FRPTM yang mengikuti periode pengambilan data baseline di tahun 2011 dan 2012. Analisis multivariat dilakukn dengan regresi logistik ganda. Hasil dari penelitian ini adalah prevalensi PJK pada tahun 2017-2018 sebesar 5.3% dan prevalensi hipertensi sebesar 43.48%. Hipertensi secara signifikan berhubungan dengan PJK dengan aOR 2.90 (95% CI, 2.04 – 4.12) setelah dikontrol variabel kovariat. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi program pengendalian penyakt tidak menular di Indonesia untuk meningkatkan skrining pada penderita dengan faktor risiko PJK terutama penderita hipertensi.



Cardiovascular disease is a global health problem and the most causes of death in the world. Cardiovascular disease is a group of diseases that attack the heart and blood vessels, including coronary heart disease (CHD) and other heart diseases. Hypertension is a modifiable CHD risk factor. Elevated blood pressure significantly increases the risk of CHD. This research is an observational study with a cross-sectional design. This study used secondary data from the Non-Communicable Disease Risk Factor Cohort Study (FRPTM) at Bogor Tengah District on 2017 – 2018. The source population in this study were all people who participated in the FRPTM cohort study who participated in the baseline data collection period in 2011 and 2012. The multivariate analysis was performed using multiple logistic regression. The results of this study were that the prevalence of CHD in 2017-2018 was 5.3% and the prevalence of hypertension was 43.48%. Hypertension was significantly associated with CHD with an adjusted OR of 2.90 (95% CI, 2.04 – 4.12) after controlling for covariate variables. The results of this study are expected to be input for non-communicable disease control programs in Indonesia to improve screening of patients with CHD risk factors, especially those with hypertension
Read More
T-6745
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Pratiwi; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Nasrin Kodim, Uswatun Hasanah
Abstrak: Penyakit kardiovaskular adalah penyebab nomor satu kematian akibat PTM, menurut WHO pada tahun 2015 kematian akibat penyakit kardiovaskular mewakili 31 17 juta dari total semua kematian secara global dan 7,4 juta diantaranya disebabkan oleh PJK. Di Indonesia, peningkatan angka kesakitan dan kematian akibat PTM mendapat sumbangsih terbesar dari penyakit kardiovaskular, dimana PJK adalah penyakit kardiovaskular yang memiliki angka kejadian tertinggi. PJK disebabkan oleh faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Angka kejadian PJK dapat dikendalikan apabila faktor risiko dapat terkendali, mengingat terdapat faktor risiko dari PJK yang dapat dimodifikasi atau dikendalikan kondisinya. DKI Jakarta menjadi daerah kedua tertinggi dengan kejadian PJK di Indonesia. Namun, hubungan antara faktor-faktor risiko yang dapat dimodifikasi dengan kejadian PJK serta faktor risiko yang paling dominan diantaranya masih belum diketahui di DKI Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan antara beberapa faktor risiko yang dapat dimodifikasi dengan kejadian PJK di DKI Jakarta serta menelusuri faktor risiko yang paling berhubungan dominan dari kejadian PJK tersebut dengan melakukan analisa lanjutan data Posbindu PTM tahun 2015-2018. Desain penelitian menggunakan desain cross sectional dan analisa dilakukan sampai tahap analisa multivariat menggunakan uji regresi logistik. Dari 30.459 responden usia ge;15 tahun diperoleh prevalensi PJK sebesar 3,4 . Perilaku merokok p value= 0,000; OR= 6,53 95 CI 4,826 ndash; 8,838, kurang aktivitas fisik p value= 0,045; OR= 0,745 95 CI 0,558 ndash; 0,993, konsumsi alkohol p value= 0,000; OR= 3057,076 95 CI 1786,92 ndash; 5230,06, diabetes melitus p value= 0,000; OR= 0,161 95 CI 0,161-0,508, dan hipertensi p value= 0,000; OR= 0,284 95 CI 0,284-0,526 menjadi faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian PJK. Faktor risiko dominan dari kejadian PJK di DKI Jakarta adalah konsumsi alkohol. Upaya promotif dan preventif diharapkan lebih digencarkan guna menekan angka kejadian PJK serta perlu adanya survey lebih lanjut terkait konsumsi alkohol masyarakat mengingat konsumsi alkohol menjadi faktor dominan pada penelitian ini dan menurut literatur pengaruhnya memang besar terhadap kerusakan fungsi jantung.
 

Cardiovascular disease is the number one cause of death from NCD, according to WHO in 2015 deaths from cardiovascular disease represent 31 17 million of total all deaths globally and 7.4 million are caused by CHD. In Indonesia, the increase in morbidity and mortality due to NCD has the greatest contribution from cardiovascular disease, where CHD is the highest prevalence of cardiovascular disease. CHD is caused by modifiable risk factors and unmodifiable risk factors. The prevalence of CHD can be controlled if risk factors can be controlled, considering there are risk factors from CHD that can be modified. DKI Jakarta becomes the second highest area with the prevalence of CHD in Indonesia. However, the relation between modifiable risk factors and CHD and the most dominant risk factors among them remains unknown in DKI Jakarta. The aim of this study is to know how the relation between some risk factors that can be modified with CHD in DKI Jakarta and find the most dominant risk factor associated with PJK by doing further analysis of data Posbindu PTM 2015 2018. This study used cross sectional design and the analysis was done until multivariate analysis stage using logistic regression test. From 30.459 respondents aged ge 15 years, the prevalence of CHD was 3.4. Smoking behavior p value 0,000 OR 6,53 95 CI 4,826 ndash 8,838 , physical inactivity p value 0,045 OR 0,745 95 CI 0,558 ndash 0,993, alcohol consumption p value 0,000 OR 3057,076 95 CI 1786,92-5230,06, diabetes mellitus, value 0,000 OR 0,161 95 CI 0,161 ndash 0,508, and hypertension p value 0,000 OR 0,284 95 CI 0,284 ndash 0,526 are factors that have significant relations with CHD. The dominant risk factor of CHD in DKI Jakarta is alcohol consumption. Promotive and preventive efforts are expected to be intensified in order to reduce the incidence of CHD and the need for further surveys related to alcohol consumption because alcohol consumption is the dominant factor in this study and according to the literature it has great effect on heart function damage.
Read More
S-9644
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive