Ditemukan 31444 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Brian Sriprahastuti; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Hadi Pratomo, Tris Eryando; Penguji: Anhari Achadi, Adang Bachtiar, Trihono, Harimat Hendarwan, Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan
D-301
Depok : FKM-UI, 2014
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andi Afdal Abdullah; Promotor: Budi Hidayat; Kopromotor: Pujiyanto; Penguji: Atik Nurwahyuni, Mardiati Nadjib, Soewarta Kosen, Ali Ghufron Mukti; Mahlil Ruby; Teguh Dartanto
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Kemudahan akses pelayanan kesehatan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan penduduk Indonesia. Kemudahan akses ini terwujud dengan bertambahnya fasilitas kesehatan yang melayani peserta JKN. Indikator kemudahan akses terlihat dari bertambahnya jumlah peserta yang berkunjung ke fasilitas kesehatan baik di tingkat pelayanan rawat jalan maupun rawat inap. Kunjungan peserta JKN per 1.000 penduduk dikenal dengan isitilah rate sebagai salah satu indikator utilisasi pelayanan kesehatan untuk menjaga kesinambungan program JKN. Tujuan: penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang mempengaruhi rate rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL) maupun rawat inap inap tingkat lanjutan (RITL) dan pemodelan prediksi rate RJTL dan rate RITL. Data yang digunakan berasal dari database BPJS Kesehatan dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2016 – 2019 yang diolah berdasarkan faktor predisposing, faktor enabling, dan faktor need dimana semua data digunakan dalam penelitian atau total sampling. Metode: analisis data panel dinamis yang ditujukan untuk membuat model prediksi rate RJTL dan rate RITL. Hasil: model prediksi yang digunakan pada rate RJTL dan rate RITL adalah estimator First Difference Generalized Method of Moment (FDGMM). Kesimpulan: rate RJTL dipengaruhi oleh variabel nilai tagihan klaim dibayar per kunjungan RJTL; jumlah rumah sakit kelas A, B, C, D; jumlah peserta pria; jumlah peserta berusia > 50 tahun; jumlah peserta dengan jumlah anggota keluarga > 3 orang; jumlah peserta berpengeluaran di bawah garis kemiskinan; jumlah peserta dengan penyakit tidak menular; rasio fragmentasi; rasio rujukan; dan jumlah peserta berpendidikan SMP. Sedangkan, rate RITL dipengaruhi oleh variabel nilai tagihan klaim dibayar per kunjungan RITL; jumlah rumah sakit kelas A, B, C, D; jumlah peserta pria; jumlah peserta berusia > 50 tahun; jumlah peserta dengan jumlah anggota keluarga > 3 orang; rate readmisi; jumlah peserta berpendidikan SMP; dan jumlah peserta berpendidikan Perguruan Tinggi. Saran: hasil penelitian menyarankan agar Pemerintah Daerah turut mendukung pemenuhan sarana prasarana pelayanan kesehatan agar masyarakat dapat menjangkau pelayanan kesehatan dengan mudah, mengelola perencanaan penambahan rumah sakit sesuai kebutuhan; Kementerian Kesehatan dapat memberikan regulasi terkait pemenuhan dan pemerataan fasilitas kesehatan maupun tenaga medis, terutama pada daerah dengan keadaan geografis yang sulit; BPJS Kesehatan dapat menggunakan model prediksi rate RJTL dan rate RITL sebagai alat bantu dalam menilai kebutuhan penambahan kerjasama dengan rumah sakit. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan faktor utilisasi yang lebih luas dan lengkap serta melakukan kajian yang lebih mendalam pada satu wilayah tertentu dengan mempertimbangkan pengaruh aspek geografis, seperti jarak antar fasilitas kesehatan, luas wilayah dan kondisi akses ke fasilitas kesehatan.
Background: easy access to health services for participants of the National Health Insurance (JKN) is one of the efforts to improve the health status of the Indonesian population. This accessibility is achieved through an increase in health facilities serving JKN participants. The indicator of accessibility can be observed from the rising number of participants visiting health facilities, both at the outpatient and inpatient levels. The rate of visits by JKN participants per 1.000 population is considered an indicator of health service utilization, which contributes to the continuity of the JKN program. Objective: this study aims to analyze the factors that influence the advanced level of outpatient care (RJTL) and inpatient care (RITL) and to model the prediction of RJTL rates and RITL rates. The data used is derived from the BPJS Kesehatan database and the 2016-2019 National Socioeconomic Survey (SUSENAS), which are processed based on predisposing factors, enabling factors, and need factors. All data is utilized in the research, employing total sampling. Method: dynamic panel data analysis is employed to develop prediction models for RJTL rates and RITL rates. Results: the prediction model used for the RJTL rate and RITL rate is the First Difference Generalized Method of Moment (FDGMM) estimator. Conclusion: RJTL rate is influenced by several variables: value of claims bills paid per RJTL visit, number of class A, B, C, and D hospitals, number of male participants, number of participants aged over 50 years, number of participants with more than 3 family members, number of participants with expenditures below the poverty line, number of participants with non-communicable diseases, fragmentation ratio, referral ratio, and number of participants with junior high school education. On the other hand, the RITL rate is affected by value of claim bills paid per RITL visit, number of class A, B, C, and D hospitals, number of male participants, number of participants aged over 50 years, number of participants with more than 3 family members, readmission rate, number of participants with junior high school education, and number of participants with university education. Recommendations: the results of this study suggest that the Regional Government should also support the fulfillment of health service infrastructure so that partisipant can reach health services easily, manage plans for adding hospitals as needed; The Ministry of Health can provide regulations regarding the fulfillment and equity of health facilities and medical personnel, especially in areas with difficult geographical conditions; BPJS Kesehatan can use RJTL rate prediction model and RITL rate as a tool in assessing the need for additional collaboration with hospitals. Future researchers can conduct research with broader and more complete utilization factors and conduct more in-depth studies in a particular area by considering the influence of geographical aspects, such as the distance between health facilities, area size and conditions of access to health facilities.
D-483
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ambo Sakka; Promotor: Ede Surya Darmawan; Kopromotor: Dumilah Ayuningtyas, Dewi Gayatri; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Wachyu Sulistiadi, Syahrir A. Pasinringi, Sutopo Patria Jati, Farida Briani Sobri
Abstrak:
Read More
Utilisasi pelayanan rumah sakit pada pasien kanker payudara dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menunjukkan pola yang heterogen dan belum terpetakan secara empiris. Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi kelas laten pola utilisasi pelayanan rumah sakit pada pasien kanker payudara peserta JKN melalui Analisis Kelas Laten; (2) menganalisis distribusi variabel prediktor berbasis Andersen Behavioral Model antar kelas utilisasi yang terbentuk; (3) membangun dan mengevaluasi model prediksi kelas utilisasi menggunakan pendekatan pembelajaran mesin dengan analisis kontribusi variabel prediktor; serta (4) merumuskan implikasi kebijakan berbasis temuan empiris untuk penguatan sistem JKN. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif berbasis Data Sampel BPJS Kesehatan periode 2017–2024 dengan sampel 3.186 pasien kanker payudara (ICD-10 C50.x dan D05.x) untuk pembentukan kelas utilisasi, dan 3.131 pasien untuk pemodelan prediktif. Hasil LCA mengidentifikasi empat kelas utilisasi yang berbeda secara substantif: Low Utilizer (33,5%; n=1.066), Moderate Outpatient (26,4%; n=841), High Inpatient Complex (21,6%; n=687), dan High Outpatient (18,6%; n=592), dengan model optimal memiliki nilai BIC 24.081,73 dan Entropy 0,894. Model prediksi yang dibangun mencapai akurasi 67,8% pada data uji independen, nilai Cohen's Kappa 0,56, dan rata-rata AUC makro 0,889 dengan kemampuan identifikasi kelas High Inpatient Complex mencapai AUC 0,910. Analisis kontribusi variabel prediktor mengkonfirmasi dominasi faktor kebutuhan klinis dimana lima dari lima prediktor teratas adalah faktor klinis, dengan episode kemoterapi sebagai determinan terkuat (nilai kontribusi 0,7456) yang mengkonfirmasi secara empiris prediksi Andersen Behavioral Model tentang dominasi kebutuhan klinis dalam sistem dengan cakupan finansial tinggi. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan sistem peringatan dini berbasis data klaim, perluasan program pengelolaan penyakit kronis ke kanker payudara, reformasi tarif pelayanan berbasis kompleksitas utilisasi longitudinal, serta integrasi data klaim BPJS Kesehatan dengan Registri Kanker Nasional sebagai fondasi pemantauan berbasis nilai layanan kesehatan.
Hospital service utilization among breast cancer patients in Indonesia's National Health Insurance (JKN) program demonstrates heterogeneous patterns that have not been empirically mapped. This study aimed to (1) identify latent classes of hospital service utilization among breast cancer patients enrolled in JKN using Latent Class Analysis; (2) analyze the distribution of Andersen Behavioral Model-based predictor variables across the identified utilization classes; (3) develop and evaluate a predictive model for utilization class classification using a machine learning approach with predictor variable contribution analysis; and (4) formulate evidence-based policy implications for JKN system strengthening. This retrospective cohort study utilized BPJS Kesehatan's Sample Data 2017–2024, with a sample of 3,186 breast cancer patients (ICD-10 C50.x and D05.x) for utilization class formation and 3,131 patients for predictive modeling. LCA identified four substantively distinct utilization classes: Low Utilizer (33.5%; n=1,066), Moderate Outpatient (26.4%; n=841), High Inpatient Complex (21.6%; n=687), and High Outpatient (18.6%; n=592), with the optimal model achieving BIC of 24,081.73 and Entropy of 0.894. The predictive model achieved 67.8% accuracy on an independent test set, Cohen's Kappa of 0.56, and macro-average AUC of 0.889, with High Inpatient Complex identification reaching AUC of 0.910. Variable contribution analysis confirmed the dominance of clinical need factors, chemotherapy episodes emerged as the strongest determinant (contribution value 0.7456), empirically confirming the Andersen Behavioral Model's prediction about clinical need dominance in high-coverage systems. This study recommends developing claims data-based early warning systems, expanding chronic disease management programs to breast cancer, reforming reimbursement tariffs based on longitudinal utilization complexity, and integrating BPJS Kesehatan claims data with the National Cancer Registry.
D-646
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Asmaripa Ainy; Promotor: Budi Hidayat; Kopromotor: Pujiyanto, Ali Ghufron Mukti; Penguji: Atik Nurwahyuni, Mardiati Nadjib, Prastuti Soewondo, Mahlil Ruby
Abstrak:
Read More
Sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), Universal Health Coverage (UHC) menjadi agenda utama pembangunan kesehatan yang diimplementasikan di Indonesia melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak tahun 2014. Pada akhir tahun 2022, cakupan kepesertaan JKN telah mencapai 90,45% penduduk Indonesia dan berpotensi meningkatkan utilisasi layanan kesehatan. Namun, variasi utilisasi layanan kesehatan antar kelompok peserta dan wilayah masih terjadi, sehingga pemerataan akses dan pemanfaatan layanan kesehatan masih menjadi tantangan. Tujuan dari penelitian ini adalah diperolehnya estimasi variasi utilisasi layanan kesehatan pada peserta JKN guna mendukung terwujudnya kesetaraan akses layanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan memanfaatkan data kepesertaan dan kunjungan layanan kesehatan dari data sampel Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tahun 2023, data fasilitas kesehatan dari Sistem Monitoring Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), data lama sekolah penduduk umur 15 tahun ke atas dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita dari publikasi Provinsi dalam Angka Badan Pusat Statistik tahun 2023, serta data cost weight berdasarkan tarif Indonesian Case Based Groups (INA-CBGs) tahun 2016. Sampel penelitian terdiri atas 1.480.031 peserta JKN aktif dengan data lengkap. Analisis data dilakukan dengan mempertimbangkan bobot sampel, meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan model regresi Zero-Inflated Negative Binomial (ZINB). Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi utilisasi layanan kesehatan pada peserta JKN setelah mengontrol variabel kovariat. Pada layanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), tidak terdapat perbedaan signifikan frekuensi kunjungan rawat jalan maupun rawat inap antara peserta JKN Non Penerima Bantuan Iuran (Non PBI) dan Penerima Bantuan Iuran (PBI). Namun, peserta PBI memiliki peluang nol kunjungan rawat jalan di FKTP yang lebih tinggi (OR 1,92; p<0,001) dan peluang nol kunjungan rawat inap di FKTP yang lebih rendah (OR 0,68; p<0,001). Sebaliknya, pada layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL), peserta PBI memiliki frekuensi kunjungan rawat jalan dan rawat inap yang lebih rendah (IRR 0,22 dan 0,43; p<0,001) serta peluang nol kunjungan yang lebih tinggi (OR 1,40 dan 5,00; p<0,001) dibandingkan peserta JKN Non PBI. Lebih lanjut, hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa perbedaan frekuensi kunjungan antara peserta JKN Non PBI dan PBI dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, wilayah tempat tinggal, rasio FKRTL, penyakit kronis, dan tingkat keparahan penyakit. Upaya pemerataan akses layanan kesehatan melalui kebijakan JKN dan bantuan iuran PBI perlu didukung oleh peningkatan literasi kesehatan pada peserta PBI, kemudahan akses dan navigasi sistem rujukan, serta pemerataan FKRTL, terutama di wilayah yang masih menunjukkan utilisasi relatif rendah seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua.
In line with the Sustainable Development Goals (SDGs), achieving Universal Health Coverage (UHC) has become a key health policy priority in Indonesia and has been pursued through the National Health Insurance (JKN) program since 2014. By the end of 2022, JKN coverage had reached 90.45% of the Indonesian population and has the potential to increase healthcare utilization. However, variations in healthcare utilization across membership groups and regions persist, posing challenges to achieving equitable access to and use of healthcare services. This study aimed to estimate variations in healthcare utilization among JKN members to support the achievement of equitable healthcare access. A cross-sectional study design was employed using 2023 membership and healthcare utilization data from the Social Health Insurance Administration Body (BPJS Kesehatan) sample database, health facility data from the National Social Security Council (DJSN) Monitoring System, educational attainment and gross regional domestic product (GRDP) per capita data from the 2023 Provincial Statistics publications of Statistics Indonesia, and cost-weight data based on the 2016 Indonesian Case-Based Groups (INA-CBGs) tariff system. The study included 1,480,031 active JKN members with complete data. Data were analyzed using sample weights through univariate, bivariate, and multivariable analyses with Zero-Inflated Negative Binomial (ZINB) regression models. The findings revealed significant variations in healthcare utilization among JKN members after adjusting for covariates. At the primary healthcare level (FKTP), no significant differences were observed in the frequency of outpatient or inpatient visits between Contribution Assistance Beneficiaries (PBI) and Non PBI members. However, PBI members had higher odds of having no outpatient visits (OR = 1.92; p < 0.001) and lower odds of having no inpatient visits (OR = 0.68; p < 0.001) at FKTP facilities. In contrast, at the secondary and tertiary referral healthcare level (FKRTL), PBI members exhibited lower frequencies of outpatient and inpatient visits (IRR = 0.22 and 0.43, respectively; p < 0.001) and higher odds of having no visits (OR = 1.40 and 5.00, respectively; p < 0.001) compared with Non PBI members. Furthermore, interaction analyses indicated that differences in healthcare utilization between Non PBI and PBI members were modified by educational attainment, region of residence, referral healthcare facility density, chronic disease status, and disease severity. Efforts to promote equitable access to healthcare through the JKN program and PBI contribution assistance should be supported by improving health literacy among PBI members, strengthening access to and navigation of the referral system, and ensuring a more equitable distribution of referral healthcare facilities, particularly in regions with relatively low utilization, such as Sulawesi, Maluku, and Papua.
D-625
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Pradnya Paramita; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achmadi, Tribudi, Suprijanto Rijadi, Hafizurrachman, Setyo Hari Wijanto, Soewarta Kosen, Sutoto
D-266
Depok : FKM UI, 2012
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Widyastuti Wibisana; Promotor: Amal C. Sjaaf; Ko-promotor: Hasbullah Thabrany; Penguji: Ascobat Gani, Soewarta Kosen, Purnawan Junadi, Sudijanto Kamso, Mardiati Nadjib
D-205
Depok : FKM-UI, 2007
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wahyu Pudji Nugraheni; Promotor: Hasbullah Thabrany; Ko-Promotor: Budi Hidayat, Mardiati Nadjib; Penguji: Indang Trihandini, Soewarta Kosen, Fahmi Idris, Pujiyanto, Eko Setyo Pambudi
D-374
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diah Setia Utami; Promotor: Budi Utomo; Ko-Promotor: Sabarinah Prasetyo, Eunike Sri Tyas; Penguji: Anhari
Achadi, Kemal Nazaruddin Siregar, Rita Damayanti, Hartati Kurniadi, Fidiansjah
Abstrak:
Penggunaan Amphetamine Type Stimulants (ATS) di Indonesia meningkat secara signifikan, sehingga tren penggunaan narkotika berubah. Cara penggunaan juga berubah dari mayoritas melalui jarum suntik menjadi melalui alat isap (bong). Penggunaan ini berpotensi menularkan infeksi saluran pernafasan akut seperti TBC dan pneumonia, selain itu penggunaan ATS memberi efek stimulan yang lebih meningkatkan risiko gangguan kardiovaskuler dan gangguan psikiatris. Efek ATS terhadap fisik, psikis maupun sosial, yang berbeda dari penggunaan zat non-ATS perlu mendapatkan intervensi yang spesifik. Saat ini model layanan rehabilitasi yang tersedia memberikan layanan yang sama kepada seluruh pengguna narkotika, sehingga belum memenuhi layanan rehabilitasi spesifik bagi pengguna ATS. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari layanan rehabilitasi yang ada, dan selanjutnya membuat usulan model layanan rehabilitasi khusus pengguna ATS. Metode penelitian adalah kombinasi kuantitatif dan kualitatif. Untuk mempelajari pelayanan yang tersedia saat ini, dilakukan studi kuantitatif membandingkan indikator keluaran yaitu produktivitas dan kekambuhan dari klien yang telah selesai dirawat di One Stop Center (OSC) dan Community Based Unit (CBU) dengan wawancara menggunakan kuesioner. Untuk membuat usulan model dilakukan studi kualitatif dengan wawancara mendalam kepada klien pengguna ATS, manajer program dan kepala OSC; telaah literatur dan telaah data sekunder; serta diskusi kelompok terarah terhadap petugas layanan rehabilitasi, program manajer, akademisi, organisasi profesi dan pengambil kebijakan. Hasil studi awal memperlihatkan tidak adanya perbedaan indikator keluaran pada pengguna ATS yang direhabilitasi di OSC maupun CBU (p>0,05). Ini berarti, perbedaan sumber daya dan metode layanan tidak menghasilkan perbedaan luaran terhadap pengguna ATS. Ditengarai beberapa kelemahan dari layanan yang tidak spesifik bagi pengguna ATS, mencakup prosedur skrining dan asesmen yang belum memisahkan kondisi klinis dan penyulit, intervensi yang belum sesuai dengan kondisi dan tujuan rehabilitasi individu, penilaian faktor risiko dan kualitas hidup belum dilakukan dan belum adanya monitoring evaluasi untuk indikator mutu layanan rehabilitasi. Berdasarkan hasil ini, diusulkan model layanan rehabilitasi bagi pengguna ATS. Model dikembangkan mengacu pada alur perjalanan klinis penggunaan ATS, meliputi metode intervensi sesuai kategori dan kebutuhan individu -terutama perlunya skrining dan asesmen terhadap risiko gangguan psikiatrik-, kemudian kebutuhan sarana prasarana minimal -terutama terkait perlunya ruang observasi psikiatrik-, dan terakhir, kapasitas minimal SDM -khususnya keterampilan penilaian psikopatologi gejala gangguan psikiatris serta kompetensi dalam penatalaksanaan dasar gangguan penggunaan narkotika disertai gangguan mental dan fisik (co-occurring disorders). Diperlukan uji coba lebih lanjut guna menilai penerapannya dalam berbagai tatanan layanan rehabilitasi di Indonesia.
Major drug of abused in Indonesia has changed from heroin to amphetamine type stimulants (ATS) recently. Major route of administration has also changed from injection of heroin to smoking of ATS. Unlike heroin users who tended to be dependent, ATS users in general tended to be a recreational user. However, pattern of ATS usage has also potential risks, such as respiratory diseases -like TB and pneumonia-, as well as cardiovascular diseases and psychiatric disorders. Effects of ATS towards physical, psychological and social of its users were different with other non-ATS users, while existing drug treatment and rehabilitation program tended to provide ?one-size fits all?-where all clients received similar program and approach regardless their uniqueness and background. Therefore, there is a need to develop specific intervention for ATS users who need treatment. This study was aimed to provide drug rehabilitation model for ATS users that can accommodate individual needs and minimize harmful effect of its usage. This study applies both qualitative and quantitative methods. Study population is stakeholders from One Stop drug-treatment Center (OSC) and Community Based drug-treatment Unit (CBU), includes clients, clinical staff and management. Primary data is taken from three sources, first, clients who have completed treatment program, second, from literature review, and third, from secondary data review. The results of primary data analysis showed that there was no significance difference of treatment outcome between OSC and CBU (p>0,05). Meaning that different resources and approaches does not differentiate treatment outcomes toward ATS users. Existing rehabilitation programs have not accommodate ATS users specific needs. Existing drug treatment and rehabilitation program had potential limitation in treating ATS users. The study proposes drug rehabilitation model for ATS users which theoretically can accommodate their specific needs. The model covers intervention method which is based on individual needs and categories -particularly screening and assessment of psychiatric problem risks-, then minimum facilities requirements -particularly availability of psychiatric observation room-, and lastly, human resources capacity -particularly competencies in screening and assessing psychiatric signs and symptoms, as well as managing co-occurring disorder-. This model will be piloted in various rehabilitation setting. This model will be piloted in various rehabilitation setting to review its applicability in the field.
Read More
D-325
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Roikhatul Jannah; Promotor: Budi Utomo Kopromotor: Ahmad Syafiq, Wahyuddin; Penguji: Endang Laksminingsih, Sudarto Ronoatmodjo, Bambang Trisnowiyanto, Indra Supradewi
Abstrak:
Read More
Masalah persalinan yang berdampak traumatik terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi baru lahir (BBL) membutuhkan strategi layanan fisioterapi antenatal yang kontekstual dengan budaya sedentari. Untuk itu, penting adanya model strategis persalinan positif, yaitu persalinan berkualitas yang aman, selamat ibu dan bayi sehat, melebihi harapan. Berbagai upaya dikembangkan dengan mengoptimalkan faktor yang berkontribusi. Penelitian ini berkontribusi untuk memelihara dan meningkatkan kebugaran fisik pada masa kehamilan dalam model layanan Fisioterapi Antenatal (FA) “Gerak Musik” Intensif Kebugaran untuk Hamil-bersalin Aman-sehat (IKHA). Yaitu, program olahraga untuk ibu hamil yang menggabungkan unsur aerobic, stretching dan strengthening dalam satu rangkaian gerak terstruktur. Dari permasalahan itu, rumusan masalah penelitian ini “bagaimana layanan model FA IKHA untuk persalinan positif?” Tujuannya, untuk mengetahui bagaimana efektifitas dan feasibilitas dari layanan FA IKHA untuk persalinan positif. Metode penelitian dirancang dengan pendekatan prospektif dengan desain campuran: Kuantitatif quasi eksperimental dua grup dengan kontrol untuk tahap evaluasi efektifitas, dan kualitatif pada penilaian feasibilitas model. Penelitian melibatkan ibu hamil dan provider kesehatan bidan dan dokter sebagai sampel. Total 48 ibu yang dipilih berdasarkan purposive sampling yang berpartisipasi pada tahap efektivitas. Terbagi dalam kelompok perlakuan (n=24) dan kontrol (n=24). Sampel untuk tahap feasibilitas dipilih dengan convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan melaksanakan intervensi FA IKHA pada ibu dengan usia kehamilan 22 minggu, dilanjutkan dengan pengisian kuesioner kualitas persalinan yang dikembangkan dari modifikasi Birth Satisfaction Scale (BSS) dan Childbirth Experience Questionnaire (CEQ) satu minggu pascasalin. Proses analisis pada tahap efektivitas dilakukan dengan uji statistik. Uji chi square digunakan untuk melihat perbedaan data kategorik dan uji t-test untuk variabel kontinyu. Pada tahap feasibilitas digunakan analisis Rapid Assessment Procedure (RAP). Hasil menunjukkan bahwa pada tahap efektivitas, proporsi perbandingan persalinan positif lebih tinggi pada kelompok perlakuan (67%) daripada kontrol (40.4%) dengan p-value=0.014. Pada komponen kualitas persalinan lain yang menunjukkan beda signifikan secara statistik antara kelompok perlakuan dan kontrol ditemukan pada metode persalinan, nyeri persalinan, laserasi perineum, perdarahan, durasi kala II, penggunaan forceps, proses induksi, dan penggunaan obat antinyeri. Pada tahap feasibilitas model FA IKHA mendapat penerimaan secara antusias karena manfaat yang dirasakan oleh ibu hamil dan bidan, aman, serta mengandung unsur menghibur. Kesimpulan: Layanan model FA IKHA sangat strategis untuk persalinan positif dengan menimbang efektivitas dan feasibilitas yang dirasakan oleh ibu dan proviser dari masa kehamilan sampai persalinan. Rekomendasi: Dengan kebijakan model FA IKHA yang diterapkan menjadi bagian layanan antenatal terpadu secara lebih luas di faskes tingkat satu, maka semakin banyak ibu yang mendapatkan persalinan positif.
Childbirth process problems that have a traumatic impact on the safety and health of mothers and newborns require antenatal physiotherapy service strategies that are contextual to a sedentary culture. For this reason, it is important to have a strategic model for positive childbirth, the better quality of childbirth, those safe and healthy for mother newborn, beyond the expectations. Various efforts have been developed to optimize contributing factors. This research contributes to maintaining and improving physical fitness during pregnancy in the Intensive Fitness Antenatal Physiotherapy service model for Safe and Healthy Pregnancy to Childbirth (FA IKHA). It is an exercise program for pregnant women that combines aerobic, stretching and strengthening elements in one structured series of movements. It raise question research "how is the FA IKHA model service for positive childbirths?" The aim is to find out the effectiveness and feasibility of the FA IKHA service for positive childbirths. The research method was designed using a prospective approach with a mixed design: Quantitative quasi-experimental two groups with controls for the effectiveness evaluation stage, and qualitative for assessing the model's feasibility. The research involved pregnant women and health providers, midwives and doctors as samples. A total of 48 mothers selected based on purposive sampling participated in the effectiveness stage. Divided into treatment (n=24) and control (n=24) groups. The sample for the feasibility stage was selected using convenience sampling. Data collection was carried out by implementing the FA IKHA intervention on mothers at 22 weeks' gestation, followed by filling in a birth quality questionnaire developed from the modified Birth Satisfaction Scale (BSS) and Childbirth Experience Questionnaire (CEQ) one week postpartum. The analysis process at the effectiveness stage is carried out using statistical tests. The chi square test is used to see differences in categorical data and the t-test for continuous variables. At the feasibility stage, Rapid Assessment Procedure (RAP) analysis is used. The results show that at the effectiveness stage, the proportion of positive birth comparisons was higher in the treatment group (67%) than the control (40%) with p-value=0.002. Other components of delivery quality that showed statistically significant differences between the treatment and control groups were found in the method of delivery, labor pain, perineal lacerations, bleeding, duration of the second stage, use of forceps, induction process, and use of pain medication. At the feasibility stage, the FA IKHA model received enthusiastic acceptance because of the benefits felt by pregnant women and midwives, it was safe, and contained entertaining elements. Conclusion: The FA IKHA model service is very strategic for positive childbirth by considering the effectiveness and feasibility benefit for mother and provider from pregnancy to childbirth. Recommendation: With the FA IKHA model policy implemented as part of wider integrated antenatal services in primary health facilities, more mothers will have positive births.
D-530
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Hapsari Tjandrarini; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Sudijanto Kamso, Anhari Achadi; Penguji: Amal C. Sjaaf, Minarto, Trihono, Soewarta Kosen
D-268
Depok : FKM UI, 2012
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
