Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30784 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurma Hidayati; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Tjandra Yoga Aditama
Abstrak:
Diagnosa dini TB dan memulai pengobatan secepat mungkin merupakan hal yang sangat esensial dalam program pemberantasan TB, dimana hal ini sangat tergantung dari upaya temuan kasus (case finding). Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan keterlambatan pengobatan sehingga memperburuk penyakit, meningkatkan risiko kematian dan memperpanjang transmisi infeksi di komunitas. Program pemberantasan TB yang baik akan meminimalkan keterlambatan diagnosis dan meningkatkan kepatuhan berobat pasien. Informasi dasar tentang besarnya masalah dan faktor risiko terjadinya keterlambatan diagnosis dan pengobatan TB paru akan sangat berguna untuk mengestimasi dampak strategi DOTS dimasa datang dan juga untuk mengembangkan strategi yang sesuai untuk mengurangi keterlambatan diagnosa TB para. Berdasarkan hal tersebut di atas maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui waktu terjadinya keterlambatan diagnosis TB dan faktor risiko yang berhubungan dengan keterlambatan diagnosis pada tingkat penderita (patient delay) dan pada tingkat sistem kesehatan (health system delay) serta keterlambatan total (total delay). Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Ciracas Jakarta Timur dengan menggunakan metode potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel 162 orang. Subyek penelitian adalah seseorang yang didiagnosa menderita TB para dari bulan Juli 2002 sampai dengan bulan Juni tahun 2003 baik dalam status masih aktif, sudah sembuh maupun yang putus berobat berusia < l5 tahun. Hasil penelitian menunjukkan waktu keterlambatan pasien (median) 2 minggu, pelayanan kesehatan 1 minggu dan keterlambatan total 6,05 minggu. Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan keterlambatan pasien mencari pengobatan < 4 minggu adalah faktor umur > 33 tahun (OR 2.44; 95% CI 1.02-5.83), gejala pertama batuk (OR 5.12; 95% CI 1.68-15.6), persepsi gejala serius (OR 2.57; 95% CI 1.206 - 5.48), jarak tempuh > 30 menit berkendaraan (OR 3.17; 95% CI 1.34-7.52), dan status perkawinan belum menikah (OR 7.03; 95% Cl 1.61-30.54). Faktor risiko yang berhubungan dengan keterlambatan pelayanan kesehatan > 1 minggu adalah UPK I yang dikunjungi milik swasta (OR 2.41; 95% CI 1.108-5.243). Lamanya gejala sebelum diagnosa TB ditegakkan (OR 0.27; 95% CI 0.127-0.574) dan jarak tempuh ke UPK I tersebut (OR 0.364; 95% CI 0.136-0.973) merupakan faktor pencegah keterlambatan pelayanan kesehatan > 1 minggu. Faktor risiko yang berhubungan dengan keterlambatan total > 5 minggu lamanya gejala sebelum diagnosa TB ditegakkan (OR 5.41; 95% CI 2.55-11.46). Untuk mengurangi keterlambatan diagnosis TB para, perlu dilakukan pendidikan ke masyarakat dengan mempertimbangkan aspek sosial dan budaya, terutama dalam hal pengenalan gejala TB paru dan mendorong motivasi untuk mencari pengobatan secepat mungkin. Perlu pengembangan cakupan program penanggulangan TB ke fasilitas pelayanan kesehatan non-pemerintah. Perlu ditingkatkan kewaspadaan petugas kesehatan di fasilitas kesehatan swasta dan pemerintah untuk mengenali gejala TB sedini mungkin,

Early diagnosis of the disease and prompt initiation of treatment is essential for an effective tuberculosis control program. Delays in diagnosis may affects the eradication of the TB patients, increase the risk of death and enhance tuberculosis transmission in the community. Good control programs will reduce duration of illness average by minimizing diagnostic delay and ensuring the patients adherence to short-course treatment. Baseline information on the magnitude and risk factors of delays in diagnosis of tuberculosis will be useful in estimating the impact of DOTS strategy over time, as well as for developing appropriate strategies to reduce diagnostic delays. The aims of this study is to determined the risk factors associated with delays in health care seeking (patient delay) and delays in diagnosis by health providers (health system delay) among tuberculosis patients diagnosed at health facilities. The cross-sectional study was conducted in Kecamatan Ciracas Jakarta Timur. A total 162 TB patients > 15 years old diagnosed at health facilities during July 2002-Juni 2003 were interviewed using a structured questionnaire. This study found that the median of patient, health system and total delay were 2 weeks, I weeks and 6.05 weeks respectively. In multivariate analysis, age > 33 years old (OR 2.44; 95% CI 1.02-5.83), first symptoms was cough (OR 5.12; 95% CI 1.68-15.6), felt serious symptoms (OR 1,6; 95% CI 1.09-234), time to reach the first health facilities > 30 minute (OR 3.17; 95% CI 1.34-7.52), and not married (OR 7.03; 95% CI 1.61-30.54) were associated with patient delays 4 weeks. Longer patient delays (OR 0.27; 95% CI 0.127-0,574), first consultation to private provider (OR 2.41; 95% CI 1.108-5.243) and time to reach the first health facilities > 30 minute (OR 0.364; 95% Cl 0.136-0.973) were associated with health system delay > l weeks. Longer patient delays (OR 5.41; 95% CI 2.55-11.46) was associated with total delay > 5 weeks. To reduce diagnostic delays, there must be a public educated and information to be aware about sign and symptom of TB and to motivate to seeks care more quickly. Social and culture approached should be taken into account in design of TB information campaigns and in prioritizing public health interventions about TB. It is urgency that TB programs should be expanded to private sectors as well as public sectors. Government and private physician should maintain and enhance a high index of suspicion for TB.
Read More
T-1809
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zarnuzi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Suhardini
Abstrak: Keterlambatan diagnosis dapat memperparah penyakit, meningkatkan risiko kematian dan kemungkinan penularan tuberkulosis di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapakah proporsi dan lama waktu keterlambatan diagnosis dan faktor risiko apa saja yang berhubungan dengan keterlambatan diagnosis TB paru di Kabupaten Tebo. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang dilakukan pada penderita tuberkulosis yang berobat di rumah sakit dan puskesmas dalam Kabupaten Tebo tahun 2018. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 366 responden. Anaisis multivariat menggunakan cox regression. Hasil penelitian proporsi keterlambatan diagnosis (>28 hari) sebesar 63,93%. Faktor predisposisi (umur ≥ 45 tahun), faktor pendukung (jenis UPK Non-DOTS dikunjungi pertama kali, stigma tinggi dan jarak tempuh ke UPK ≥ 30 menit) dan faktor kebutuhan (persepsi penyakit tidak serius) merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan keterlambatan diagnosis. Perlu dilakukan peningkatan kualitas program pengendalian tuberkulosis, penyuluhan tuberkulosis agar masyarakat mempunyai persepsi yang benar terhadap tuberkulosis dan untuk mengurangi stigma negatif terhadap penyakit tuberkulosis, meningkatkan akses ke unit pelayanan kesehatan DOTS serta penemuan secara aktif untuk mengurangi keterlambtan diagnosis
Delay in diagnosis can lead to increased severity of the disease, increased the risk of death and the possibility of transmission of tuberculosis in the community. The objective of this study was to determine proportion and the length of delay in diagnosis and factors associated with the delay in diagnosis among pulmonary tuberculosis patient in Tebo Distric. This study design using cross sectional conducted in patients with tuberculosis who was treated at hospitals and health centers at Tebo District in 2018. The sample in this study amounted to 366 respondents. Multivariat analysis using a multivariate cox regression. The results showed that the proportion of diagnosis delay (> 28 days) was 63.93 %. Predisposing factors (age ≥ 45 years), enabling factors (first consulting Non- DOTS health care unit, high stigma and distance to the health care unit DOTS ≥ 30 minutes) and need factors (perception of the disease is not serious) are risk factors associated with the diagnostic delay. Necessary improving the quality of tuberculosis control programs, counseling tuberculosis so that people have the correct perception against tuberculosis and to reduce the negative stigma against tuberculosis, improving access to health care units DOTS and active case finding are vital to reduce diagnostic delay
Read More
T-5596
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Rozali Namursa; Pembimbing: Sujana Jatiputra
T-847
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Hanifah; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Sulistyo
Abstrak:

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia
yang merupakan negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia. Tahun 2023 di DKI Jakarta terjadi peningkatan insiden TBC sebesar 31,75% dibandingkan tahun sebelumnya dan bahkan melebihi target insiden 2023 yang ditetapkan (>54.175 kasus). Penelitian ini merupakan studi cross-sectional yang memanfaatkan data Sistem Informasi Tuberkulosis Komunitas (SITK), dengan tujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TBC paru di Provinsi DKI Jakarta tahun 2022-2023. Sampel penelitian adalah seluruh kontak terduga TBC di Provinsi DKI Jakarta tahun 2022-2023 yang memiliki hasil pemeriksaan TBC. Hasil penelitian menunjukkan lansia (PR = 1,56; 95% CI: 1,473–1,653), laki-laki (PR = 1,37; 95% CI: 1,314–1,441), perokok (PR = 1,28; 95% CI: 1,206–1,367), penderita DM (PR = 1,85; 95% CI: 1,585–2,171), dan pengobatan TBC tidak tuntas (PR = 2,24; 95% CI: 2,121–2,365) merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian TBC paru. Sementara itu kontak serumah (PR = 0,6; 95% CI: 0,538–0,678) memiliki hubungan signifikan yang bersifat protektif terhadap kejadian TBC paru. Sosialisasi upaya berhenti/mengurangi rokok, penyuluhan pencegahan TBC kepada lansia dan penderita DM serta pendampingan pengobatan pasien TBC merupakan upaya yang dapat mencegah terjadinya insiden TBC paru di DKI Jakarta.


Tuberculosis is a major public health threat in Indonesia, which is the second-highest TB burdened country in the world. In 2023, the incidence of TB in Jakarta increased by  31.75% compared to the previous year and even exceeded the 2023 incidence target  (>54,175 cases). This study is a cross-sectional study utilizing data from the Community  Tuberculosis Information System (SITK), aimed at identifying risk factors associated  with pulmonary TB cases in Jakarta Province from 2022 to 2023. The study sample  consisted of all suspected TB contacts in Jakarta Province from 2022 to 2023 who had  undergone TB testing. The study results showed that older adults (PR = 1.56; 95% CI:  1.473–1.653), males (PR = 1.37; 95% CI: 1.314–1.441), smokers (PR = 1,28; 95% CI:  1,206–1,367), DM patients (PR = 1.85; 95% CI: 1.585–2.171), and incomplete TB  treatment (PR = 2.24; 95% CI: 2.121–2.365) were significant risk factors for pulmonary  TB incidence. Meanwhile, household contacts (PR = 0.6; 95% CI: 0.538–0.678) have a  significant protective association with the occurrence of pulmonary TB. Efforts to  promote smoking cessation/reduction, TB prevention education for the elderly and DM  patients, and patient accompaniment during TB treatment are measures that can prevent  the occurrence of pulmonary TB in Jakarta. 

Read More
S-11960
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fetty Sugiharti DK; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Hedy B. Sampurno, Ahyani Raksanegara
Abstrak:

Tuberkulosis merupakan masalah kesebatan masyarakat di Indonesia, karena dapat menyebabkan kematian. Untuk penanggulangan penyakit tuberculosis, pemerintah telah melaksanakan Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Pengobatan yang baik dan teratur dapat menyembubkan penderita TB Paru. Penderita TB Paru dapat mengalami DO (Drop Out), bila pengobatan tidak baik dan tidak teratur. Angka DO di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Kota Bandung pada tahun 2005 adalah 11,6 %. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan terjadinya DO pada penderita TB Paru di Balai Kesehatan Paru Masyarakat tahun 2007. Penelitian ini menggunakan data primer dengan desain kasus kontrol dan dilakukan pada penderita TB Paru yang berasal dari Kota Bandung dan berobat di Balai Kesehatan Pam Masyarakat dengan jumlah sampel kasus 115 responden dan kontrol sebanyak 115 responden. Kasus adalah penderita TB Paru yang Drop Oul, sedangkan kontrol adalah penderita TB Paru yang tidak Drop Out. Pada penelitian ini variabel yang berhubungan dengan terjadinya Drop Out adalah pengetahuan, biaya dan keberadaan PMO. Pengetahuan mempunyai OR =5,2 dengan 95% C T: 2,79-9,80 berarti bahwa penderita TB Paru dengan pengetahuan yang kurang barisiko 5,2 kali menjadi DO bila dibandingkan dengan pengetahuan yang baik setelah dikontrol variabel biaya dan PMO. Variabel biaya mempunyai OR= 3,4 dengan 95% CI: 1,80-6,23 berarti bahwa penderita dengan presepsi biaya mahal berisiko 3,4 kali bila dibandingkan dengan penderita dengan presepsi biaya murah, setelah dikontrol variabel pengetahuan dan PMO Variabel keberadaan PMO mempunyai OR= 2,2 dengan 95% CI: 1,16-4,05 berarti bahwa penderita yang tidak mempunyai PMO berisiko 2,2 kali bila dibandingkan dengan penderita yang mempunyai PMO setelah dikontrol variabel pengetahuan dan biaya.


Tuberculosis is a public health problem in Indonesia due to the life threatening nature of the disease, To contro) tuberculosis, the government has implemented DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) Strategy, Good and regular treatment can cure lung TB patients. Lung TB patients, will be DOs (Drop Outs) when the treatment is not performed well and regularly The DO rate at the Balal Kesehalan Paru Masyarakot (Public Lung Health Center), Bandung City in 2005 was 11,6 %, The aim of this study is to know factors related 10 Lung TB patient drop outs in Ball'; Kesehatan Par" Masyarakat in 2007. The study is conducted using primary data with case control design and was performed to Lung TB patients who came from Bandung City and who were treated at Balai Kesehatan Poru }Jasyarakaf with a sample size of 115 case respondents and 115 control respondents. The case respondents consist of Lung TB patients who drop out while the control respondents consist of Lung TB patients who do not drop out of treatment. The variables relationship with happened of Lung TB patients who drop OUT in this research arc knowledge, cost, and the presence of drug observer. Knowledge has an OR of 5.2 with 95% Cl: 2.80-9,80 meaning that a Lung TB patient whose knowledge is poor has 5.2 times more risk to DO compared to those with good knowledge after the cost and drug observer variab1es are controlled, The cost variable has an OR of 3.4 with 95% Cl: 1.80 -6.23 meaning that patients with a perception of high cost have 3.4 more risk compared to patients with a perception of low cost after the knowledge and drug observer variables are controlled. The presence of drug observer variable has an OR of 2.2 with 95% CI: L160-4.049 meaning that patients who do not have drug observer has 2.2 times more risk compared to patients with drug observer after the knowledge and cost variables are controlled.

Read More
T-2517
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bella Aprilia Ainun; Pembimbiing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Tiur Febrina Pohan
Abstrak:
Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi penyebab utama kematian di dunia oleh agen infeksius setelah HIV/AIDS. Tuberkulosis di Indonesia masih menjadi permasalahan utama sebab prevalensi kasus Tuberkulosis di Indonesia menduduki peringkat kedua tertinggi di dunia. Hingga tahun 2020 jumlah kasus Tuberkulosis di Indonesia mencapai 5,8 juta dengan kematian sebesar 1,3 juta. Kota Depok merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang menghadapi permasalahan angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis yang belum mencapai target. Dari tahun 2017 hingga 2021 angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis masih dibawah target (90%). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor usia, jenis kelamin, pekerjaan, riwayat pengobatan TBC, status DM, sumber pembiayaan pengobatan, dan jarak ke faskes terhadap kegagalan pengobatan Tuberkulosis Paru Sensitif Obat di Kota Depok tahun 2022. Desain studi yang digunakan yaitu cross-sectional dengan menganalisis data sekunder dari data register TB.03 SO Kota Depok yang diperoleh dari aplikasi SITB Dinas Kesehatan Kota Depok tahun 2022 dengan jumlah sampel sebesar 1.137 sampel. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square menggunakan aplikasi SPSS ver. 20. Hasil analisis menujukkan bahwa faktor usia (PR=1,88; 95%CI 1,44-2,46), status DM (PR=1,71; 95%CI 1,27-2,30), sumber pembiayaan pengobatan (PR=1,94, 95%CI 1,33-2,84) dan jarak ke faskes (PR=1,41; 95%CI=1,08-1,85) menjadi faktor yang berhubungan dengan kegagalan pengobatan Tuberkulosis Paru Sensitif Obat di Kota Depok Tahun 2022. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya intervensi baik kepada pemerintah, petugas kesehatan dan masyarakat di Kota Depok khususnya berkaitan dengan faktor-faktor tersebut sehingga diharapkan mampu meningkatkan angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Paru Sensitif Obat.

Tuberculosis is an infectious disease that is the main cause of death in the world after HIV/AIDS. Tuberculosis in Indonesia is still a major problem because the prevalence of tuberculosis cases in Indonesia is the second highest in the world. Until 2020, the number of tuberculosis cases in Indonesia reached 5.8 million, with 1.3 million deaths. Depok City is one of the cities in West Java where the success rate of tuberculosis treatment has fallen short of expectations. From 2017 to 2021, the success rate for TB treatment is still below the target of 90%. The purpose of this study was to determine the relationship between age, gender, occupation, history of TB treatment, DM status, sources of treatment financing, and distance to health facilities in the unsuccessful treatment of drug-sensitive pulmonary tuberculosis in Depok City in 2022. The study design used was cross-sectional, with analyzed secondary data from the Depok City TB.03 SO register data obtained from the Depok City Health Office SITB application in 2022, for a total sample of 1,137 samples. Data were analyzed univariately and bivariately with the chi-square test using SPSS ver. 20. The results of the analysis show that age (PR=1.88; 95%CI 1.44-2.46), DM status (PR=1.71; 95%CI 1.27-2.30), source of financing treatment (PR=1.94, 95%CI 1.33-2.84) and distance to health facilities (PR=1.41; 95%CI=1.08-1.85) were factors associated with unsuccessful TB treatment for drug-sensitive pulmonary tuberculosis in Depok City in 2022. Therefore, it is necessary to make intervention efforts both for the government, health workers, and the community in Depok City, especially with regard to these factors, so that it is expected to be able to increase the success rate of treatment for drug-sensitive pulmonary tuberculosis.
Read More
S-11265
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Ratna Djuwita, Siti Nur Anisah
S-5780
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eko Sanova; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
S-3965
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mahindra; Pembimbing: Nasrin Kodim
S-3320
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dyah Sobariyati; Pemb. Nuning Naria Kiptiyah, Tri Yunis Miko; Penguji: Fidiansyah, Mondastri Korib, Salimar Salim
T-2743
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive