Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35594 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rachel Monique; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Gandi Agusniadi
Abstrak: Berdasarkan laporan WHO 2013, kasus TB ekstra paru di Indonesia mengalami peningkatan dari 14.054 tahun 2012 menjadi 15.697 tahun 2013. Salah satu rumah sakit yang mencatat adanya peningkatan kasus TB ekstra paru adalah RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan TB ekstra paru pada pasien rawat inap TB di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2011-2013.
 
Penelitian ini menggunakan rekam medis dengan desain studi kasus kontrol. Sampel penelitian ini meliputi kasus yaitu, pasien rawat inap TB ekstra paru tahun 2011-2013 serta kontrol yaitu, pasien rawat inap TB paru tahun 2011-2013 dengan rekam medis yang tercatat lengkap.
 
Hasil penelitian menunjukkan proporsi kasus TB ekstra paru tertinggi berdasarkan organ terjangkit adalah TB tulang dan sendi sebesar 60%. Setelah TB ekstra paru dihubungan dengan beberapa variabel, umur < 25 tahun (OR: 19,36; 95% CI: 4,90-76,44) dan 25-50 tahun (OR: 4,40; 95% CI: 1,42-13,62), riwayat DM (OR: 0,08; 95% CI: 0,02-0,37) dan riwayat hipertensi (OR: 0,17; 95% CI: 0,03-0,81) secara statistik memiliki hubungan bermakna dengan TB ekstra paru, tetapi riwayat DM dan riwayat hipertensi menjadi faktor proteksi terhadap TB ekstra paru.
 
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait faktor-faktor yang berperan terhadap TB ekstra paru, memberikan perhatian khusus kepada pasien yang lebih berisiko dalam diagnosis, serta promosi kesehatan kepada masyarakat agar lebih menyadari bahwa TB dapat menyerang organ lain selain paru-paru yang akan berdampak serius jika tidak ditangani segera, khususnya mereka yang termasuk kelompok berisiko.
 

Based on the WHO report 2013, extra-pulmonary TB cases in Indonesia have increased from 14.054 in 2012 to 15.697 in 2013. One of hospitals which get an increase of extra-pulmonary TB cases is National Center General Hospital Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, so, this study ultimately aims to identify risk factors that associated with extra-pulmonary TB to TB hospitalized patients in National Center General Hospital Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta 2011-2013.
 
This study is using medical records with the design of case-control study. Samples of this study include the case is extra-pulmonary TB hospitalized patients 2011-2013 while control is pulmonary TB hospitalized patients in 2011-2013. Both case and control must have complete medical records.
 
The results showed that the highest proportion of extrapulmonary TB cases by an affected organ is tuberculosis of bones and joints by 60%. After connecting extra-pulmonary TB with several variables, age < 25 years (OR: 19,36; 95% CI: 4,90-76,44) and 25-50 years (OR: 4,40; 95% CI: 1,42-13,62), history of diabetes (OR: 0,08; 95% CI: 0,02-0,37) and history of hypertension (OR: 0,17; 95% CI: 0,03-0,81), they statistically had significant association with extra-pulmonary TB, but a history of diabetes mellitus and a history of hypertension be protective factors against extra-pulmonary TB.
 
Therefore, it is advisable to do further research related to the factors that contribute to extra-pulmonary TB, giving special attention to patients who are more at risk in making the diagnosis, and doing health promotion to the public to be more aware that TB can affect other organs beside the lungs that would have a serious impact if it is not treated promptly, especially for the risky ones
Read More
S-8319
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salsabila Benazir; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Gandi Agusniadi
Abstrak: Kanker paru adalah semua penyakit keganasan di paru baik yang berasal dari paru sendiri maupun keganasan dari luar paru Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian kanker paru pada pasien rawat inap dan rawat jalan di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta RSCM Tahun 2011 2012 Desain penelitian ini adalah kasus kontrol dan dianalisis secara univariat dan bivariat Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani pelayanan rawat inap dan rawat jalan di bagian pulmonologi RSCM dan memiliki catatan rekam medis yang lengkap Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien laki laki memiliki risiko 2 05 95 CI 1 062 3 974 kali lebih besar untuk terkena kanker paru dibandingkan pasien perempuan Kemudian untuk tingkat pendidikan rendah memiliki risiko 0 23 95 CI 0 08 0 64 kali lebih besar untuk terkena kanker paru dibandingkan pasien dengan tingkat pendidikan tinggi Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pasien yang merokok memiliki risiko 3 19 95 CI 1 63 2 23 kali lebih besar untuk terkena kanker paru dibandingkan pasien yang tidak merokok pasien yang merokok ge 20 batang per hari memiliki risiko 7 62 95 CI 2 00 28 97 kali lebih besar dibandingkan pasien yang tidak merokok dan pasien yang merokok selama 1 24 tahun memiliki risiko 3 87 95 CI 1 89 7 91 kali lebih besar dibandingkan pasien yang tidak merokok.
 

 
Lung cancer is all of malignant lung disease including malignancy derived from the lung itself or from extrapulmonary malignancy This study aims to determine the risk factors of lung cancer incidence in Inpatient and Outpatient at Dr Cipto Mangunkusumo Hospital RSCM in Jakarta 2011 2012 This study design is case control with univariate and bivariate analyzes The samples in this study were patients undergoing inpatient and outpatient at pulmonologi RSCM and have a complete medical record Results showed that male patients had a risk of 2 05 95 CI 1 062 to 3 974 times greater for lung cancer than women For the low education levels have an increased risk of 0 23 95 CI 0 08 0 64 times greater for lung cancer than patients with higher education levels The results also showed that patients who smoke have a risk of 3 19 95 CI 1 63 to 2 23 times greater for lung cancer than non smokers patients who smoked ge 20 cigarettes per day had a risk of 7 62 95 CI 2 00 to 28 97 times greater than patients who did not smoke and patients who smoked for 1 24 years had a risk of 3 87 95 CI 1 89 to 7 91 times greater than patients who do not smoke.
Read More
S-7991
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uly a Qoulan Karima; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Ns. Palestina Gultom
S-7891
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gusni Rahma; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Susilarini, Ni Ketut
S-7375
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mochamad Aldis Ruslialdi; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Gandi Agusniadi
Abstrak: HIV/AIDS berdampak kepada peningkatan kerentanan terkena infeksi penyakitlain yang berujung kepada kematian. Menurut UNAIDS, Indonesia termasuk kedalam daftar negara dengan kematian akibat AIDS tidak mengalami penurunan ataulaju penurunannya kurang dari 25%. Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan desain cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian dan faktor atau determinan utama yang berhubungan dengan kematian berkaitan AIDS pada pasien HIV/AIDS di unit rawat inap Rumah SakitCipto Mangunkusumo pada tahun 2008-2012. Sampel penelitian ini sebanyak 207pasien. Data pasien diambil dengan memanfaatkan data rekam medis pasien untukmelihat variabel independen yang terdiri dari jenis kelamin, umur, pekerjaan, kadarCD4, faktor risiko penularan, jumlah penyakit yang diderita, status gizi, riwayatgangguan syaraf pusat, riwayat konsumsi obat ARV, dan kondisi psikologis untuknantinya dihubungkan dengan status kematian pasien HIV/AIDS. Analisis datadilakukan hingga analisis multivariat dengan model prediksi. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kematian AIDS sebesar 28,5%. Dari hasil analisis multivariatdidapatkan 4 variabel yang berhubungan dengan kematian AIDS, yaitu status gizikurang dari normal (OR=4,75) dengan 95% CI (2,278-9,917), riwayat gangguansyaraf pusat (OR=1,82) dengan 95%CI (1,025-3,251), jumlah penyakit yang dideritalebih dari 5 penyakit (OR=4,09) dengan 95%CI (1,854-9,043), dan kadar CD4. KadarCD4 menjadi faktor paling berpengaruh terhadap kematian AIDS dengan nilai ORsebesar 5,9 dengan 95%CI 2,096-17,106. Dari hasil penelitian ini dapat direkomendasikan upaya peningkatan awarenessakan pentingnya kontrol kadar CD4 darah untuk pasien HIV/AIDS dan upaya pendukung lainnya untuk mencegah kematian AIDS seperti peningkatan kualitas gizi pasien AIDS, skrining dan deteksidini gangguan syaraf pusat, dan pencegahan komplikasi penyakit. Kata kunci: HIV/AIDS, Kematian, kadar CD4, determinan utama
HIV/AIDS impact to increased susceptibility to other diseases infections whichlead to death. The death of AIDS is also a problem, especially in Indonesia.According to UNAIDS, Indonesia is included in the list of countries where deathsfrom AIDS do not decline or rate of less than 25% of his descent. This research isobservational research, design with cross sectional. This research aims to know thedescription and the main factors which related to mortality of AIDS HIV/AIDS ininpatient unit RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo in 2008-2012. The sample of thisresearch are 207 patients. Data collected by utilizing the patient's medical record datato see the independent variables consisted of gender, age, job, CD4 levels, risk factorsof transmission, the amount of illness suffered, nutritional status, history of centralnervous disorders, drug consumption history ARV consumption, and psychologicalconditions to be linked with the status of a patient's death related with HIV/AIDS.The data analysis done to multivariate analysis with prediction model. The resultsshowed that the AIDS death prevalence reach up to 28.5%. The results ofMultivariate analysis obtained 4 variables related to the death of AIDS, poornutritional status (OR=4,75) with 95% CI (2,278-9,917), central nervous disorderhistory (OR=1,82) with 95% CI (1,025-3,251), the number of illnesses suffered morethan 5 disease (OR=4,09) with 95% CI (1,854-9,043), and CD4 levels. CD4 levelsbecame the most influential factors towards AIDS deaths with a value of 5, 9 OR and95% CI (2,096-17,106). From the results can be recommended the efforts toincreased awareness toward control CD4 blood levels for HIV/AIDS patients andother supporting efforts to prevent deaths of AIDS such as improved quality ofnutrition AIDS patients, screening and early detection of central nervous disorders,and prevention of complications of the disease.Keywords: HIV/AIDS, Death, CD4 level, main determinant
Read More
S-8097
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jauhari Oka Reuwpassa; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, K. Rachmadi
S-7076
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luthfiyyah Mutsla; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Gandi Agusniadi
Abstrak: Adanya transisi epidemiologi menjadikan penyakit tidak menular menjadi masalah baru di dunia kesehatan. Kanker leher rahim merupakan salah satunya. Penelitian Globocan tahun 2008 mengungkapkan bahwa kanker leher rahim merupakan kanker kedua penyebab lebih dari 80% kematian pada perempuan yang hidup di negara-negara berkembang. Di Indonesia dilaporkan terdapat 15.000 kasus baru kanker leher rahim pada tiap tahunnya.
 
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kanker leher rahim di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2012. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data sekunder di bagian rekam medis RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dengan desain studi kasus kontrol dan sampel sebanyak 100 orang masing-masing pada kelompok kasus dan kelompok kontrol.
 
Faktor-faktor yang diidentifikasi dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim adalah umur, tingkat pendidikan, status pekerjaan, usia pertama kali berhubungan seksual, jumlah pasangan seksual, dan paritas. Diketahui bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi kejadian kanker leher rahim di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2012 adalah paritas ≥3 anak (OR = 51,8; 95% CI: 14,53 - 184,67) dan berhubungan seksual pertama kali pada usia <16 tahun (OR = 40,91; 95% CI: 8,96 - 186,81).
 
Untuk mengurangi kejadian kanker leher rahim diharapkan bagi instansi terkait dapat lebih mengutamakan upaya pelayanan promotif dan preventif dengan meningkatkan cakupan pelayanan deteksi dini kanker leher rahim dan penyuluhan kesehatan mengenai kanker leher rahim yang lebih massal sehingga dapat mencapai semua lapisan masyarakat.
 

Transition of epidemiology has made a non-communicable diseases becoming the new health problems in the world. Cervical cancer is one of the problems. Globocan study in 2008 have shown that cervical cancer is the second most common cancer that leading causes more than 80% of deaths in women living in developing countries. In Indonesia there are 15.000 new cases of cervical cancer reported each year.
 
The purpose of this study is to know the prevalence of cervical cancer itself and risk factors that associated with cervical cancer in RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, 2012. The research was conducted by taking secondary data on the medical record of RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta with case-control study and the sample size is 100 subjects in the case group and control group, respectively.
 
Factors that have been identified to increase the risk of cervical cancer are age, education level, employment status, age at first sexual intercourse, number of sexual partners, and parity. It is known that the most dominant factors that affecting the incidence of cervical cancer in RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta in 2012 are high parity (≥3) (OR = 51,8; 95% CI: 14,53 – 184,67) and first sexual intercourse at age <16 years (OR = 40,91; 95% CI: 8,96 - 186,81).
 
To reduce the incidence of cervical cancer the related agencies are expected to be more emphasis on promotive and preventive programs to improve the coverage of early detection of cervical cancer and health education about cervical cancer to be more mass so it can reach to all levels of society.
Read More
S-7823
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marini; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Suginarti, Edy Rizal
Abstrak:

Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia maka populasi usia Ianjut pun semakin bertambah. Menjalani masa tua dengan bahagia dan sejahtera merupakan dambaan semua orang. Keadaan ini hanya dapat dicapai bila merasa sehat secara fisik, mental (jiwa) dan sosial. Berkaitan dengan kesehatan jiwa ini salah satunya adalah penyakit dcpresi. Depresi mcrupakan pcnyakit gangguanjiwa dengan prevalensi terbesar pada usia lanjut dan dan diperkirakan sampai 40% tidak terdiagnosa padahal dengan diagnosa awal dan terapi segera dapat menaikkan kualilas hidup, status fungsional dan mencegah kematian dini pada usia lanjut. Untuk mengctahui apa pcnycbabnya maka dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mcngctahui faktor-faktor risiko yang bcrhubungan dcngan dcprcsi pada usia lanjut di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Metodologi pada penelitian ini merupakan disain kasus kontrol dengan menggunakan data sekunder melalui penelusuran rekam medik pasien gcriatri di poli geriatri rumah sakil Cipro Mangunkusumo pada tahun 2006 - tahun 2008. Populasi penelilian adalah seluruh pasien usia lanjut di poli geriatri rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Sampel adalah pasien usia Ianjur di poli geriatri RSUPN-CM yang menderila diagnosa depresinya dan telah ditegakkan diagnosanya oleh departemen psikiatri RSUPN-CM scbagai kasus dan kontrol adalah pasien usia Ianjut di poli geriatri RSUPN-CM yang tidak depresi. Jumlah sampel dalam penelitian ini 105 kasus dan 2I0 kontrol. Entri data, pengolahan dan analisis data menggunakan SPSS Hasil penelitian mcnunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian depresi pada usia lanjum adalah kcmandirian (OR = 2,008. 95% Cl I,239 - 3253) dan dukungan sosial (OR = l_724_ 95% C`| 1.065 - 2.79l). Variabel kemandirian merupakan variabel yang lebih kuat pengaruhnya terhadap kejadian depresi dibandingkan variabel dukungan sosial. Variabel yang tidak berhubungan dengan kqiadian depresi pada usia lanjut adalah usia, jcnis kclamin. status perkawinan, tingkat pendidikan, obat resep dokter yang diminum rutin, kegiatan keagamaan, keadaan ekonomi dan riwayar pekerjaan. Dari temuan pada penelitian ini disarankan untuk mcningkatkan pembinaan dan pcrhatian lerhadap kcbutuhan usia Ianjul agar usia Ianjut hidup mandiri, produktif dan tetap berperan aktif dalam kehidupan serta diperlukan penelitian kasus kontrol lanjutan dengan menggunakan sampel yang lebih besar.


 

With growing of a spark of life age in indonesia hence old age population even also progressively increase. Experiencing a period to old happyly and securc and prosperous is everybody hungering. This situations only can reach by if feeling lit by lisik. bouncing (social and mental). Relating to health of this head one of them is disease of depresi. Depresi is disease of head trouble with biggest prevalensi at old age and estimated until 40% do not diagnosa though with diagnosa early and therapy immediately can boost up the quality of lil' e, functional status and prevent death early at old age. To know what the cause of hence conducted by this research with aim to to know risk factors related to depresi at old age in region of Jabodetabek ( Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and ol' Bekasi). Methodologies this research is to bc designed by case control by using data of sekunder through of patient sis record of geriatri in hospital geriatri poli of Cipto Mangunkusumo in the year 2006 - year 2008. Research population is entire old age patient in hospital geriatri poli of`Cipto Mangunkusumo. Sampel is old age patient in RSUPN-CM geriatri poli which suffering the diagnosa of him and have been upheld the by him of by psychiatry department of RSUPN-CM as control and case is old age patient in RSUPN-CM geriatri poli which do not depresi. Amount oi" sampel in this researchs t05 ease and 2I0 control. Data Entri, data analysis and processing use SPSS version I3.0. Research result indicatc that variable rclatcd to occurcncc of depresi at old age is independence ( OR = $2,008. 95% CI l,239 - 3,253) and social support ( OR = l.724. 95% Cl l.065 - 2,79l). independence variable is stronger variable ofinfluence of to occurcncc ofdepresi compared to social support variable. Variable which do not relate to occurence of depresi at old age is age, gender, marriage status. education level. drinkcd by doctor recipe drug is routine, religious activity. situation ofwork history and economics. Of finding at this research is suggested to improve attcntion and construction to requirement of old agc so that self-supponing life old age. ad for and remain to share active in life is and also needed by research of case control continuation by using larger ones sampel.

Read More
T-2970
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edy Rizal Wahyudi; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Kopromotor: Besral, Siti Setiati; Penguji: Hadi Pratomo, Ratna Djuwita, Czeresna Heriawan Soejono, R.A. Tuty Kuswardhani, Soewarta Kosen
Abstrak:
Pendahuluan: Penduduk usia lanjut global secara cepat meningkat, hingga dapat mencapai 1,5-2 miliar pada tahun 2050, yang membawa masalah kesehatan termasuk peningkatan angka rawat inap dan rehospitalisasi pada geriatri. Hal tersebut akan menyebabkan penurunan kualitas perawatan geriatri di RS. Untuk mengatasi masalah ini, strategi perencanaan pulang khusus geriatri harus dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh perencanaan pulang terintegrasi terhadap kualitas perawatan RS bagi geriatri. Metode: Dilakukan penelitian mixed method di fasilitas perawatan akut dan rawat inap geriatri RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, penelitian kuantitatif melibatkan 259 geriatri, dengan 130 dalam kelompok kontrol dan 129 dalam kelompok intervensi. Perhitungan besar sampel mengikuti formula uji hipotesis beda dua proporsi. Analisis meliputi analisis univariat, Chi-Square, Mantel-Haenszel, serta regresi logistik dengan luaran yaitu rehospitalisasi dan perawatan akut dalam 30 hari. Penelitian kualitatif dikerjakan dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi terhadap pelaku rawat dan tenaga kesehatan untuk mencapai saturasi informasi. Hasil dan Pembahasan: Hasil menunjukkan perencanaan pulang terintegrasi secara signifikan mengurangi tingkat rehospitalisasi dalam 30 hari (ARR 12,1%; RRR 34,3%; RR 0,657; IK 95% 0,445-0,971; p 0,045), namun tidak signifikan mengurangi tingkat penggunaan perawatan akut (ARR 11,4%; RRR 28,3%; RR 0,717; IK 95% 0,508-1,012; p 0,074) pada geriatri. Pada analisis stratifikasi dan multivariat, tidak ditemukan adanya confounding maupun interaksi antar confounding. Temuan kualitatif dari wawancara mendalam mendukung manfaat perencanaan pulang, dengan tercapainya kejenuhan informasi tentang perlunya implementasi dan saran untuk memanfaatkan media dalam edukasi perencanaan pulang. Dari observasi didapati bahwa implementasi perencanaan pulang di RS belum sesuai dengan pemahaman dan harapan informan. Simpulan: perencanaan pulang terintegrasi meningkatkan kualitas perawatan rumah sakit pada geriatri, dengan signifikan mengurangi tingkat rehospitalisasi. Penelitian lebih lanjut sangat dianjurkan.

Introduction: The global elderly population is rapidly increasing, with projections indicating it could reach 1.5-2 billion by 2050, leading to various health challenges including increased hospitalization and rehospitalization rates which marked the decline in hospital care quality. To address these issues, specific discharge planning strategies must be developed for geriatric population. This study establishes an integrated discharge planning model for geriatric post-discharge care and aims to elaborate on its influence on hospital care quality. Methods: Mixed method research was conducted at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital's geriatric acute care and inpatient facilities. Quantitative research involved 259 hospitalized geriatrics, with 130 in the control group and 129 in the intervention group. Sample size calculation followed a hypothesis testing formula for two-proportion difference. Analyses included univariate, Chi-Square, Mantel-Haenszel stratification analyses, and logistic regression multivariate analyses, focusing on rehospitalization and acute care utilization rates within 30 days post-discharge. Qualitative research was done by conducting in-depth interviews and observations upon caregivers and healthcare professionals to achieve information saturation. Results & Discussion: Results showed integrated discharge planning significantly reduced rehospitalization rates within 30 days (ARR 12,1%; RRR 34,3%; RR 0.657; 95% CI 0.445-0.971; p 0.045), but did not significantly reduce acute care utilization rates (ARR 11,4%; RRR 28,3%; RR 0.717; 95% CI 0.508-1.012; p 0.074) in geriatrics. In stratification and multivariate analyses, both confounding and confounding interactions were not found. Qualitative findings from in-depth interviews supported the benefits of discharge planning, with information saturation on the need for its implementation and suggestions for media utilization in discharge planning education. Observation revealed that discharge planning implementations in routine hospital geriatric care were not yet satisfactory, according to the informants understanding and expectations. Conclusion: In conclusion, integrated discharge planning improved hospital care quality in geriatrics, significantly reducing rehospitalization rates. Further research is recommended.
Read More
D-544
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arif Masnjoer; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Yunis Miko Wahyono, Rudiyanto Sedono
Abstrak: Hasil. Median kesintasan lama rawat intensif 43 jam. Nilai skor EuroSCORE tidak memenuhi asumsi hazard proporsional. Model baru telah dibuat dari 7 variabel EuroSCORE yang secara substansi berhubungan dengan lama rawat intensif (AUC 0,67). Kesimpulan. Model baru dari tujuh faktor EuroSCORE cukup dapat memprediksi lama rawat intensif 48 jam. Kata Kunci: Model prediksi, lama rawat intensif, bedah jantung, regresi Cox
Read More
T-4221
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive