Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33195 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Oryza Yanuaristi; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Dwi Adi Maryandi
Abstrak: Data Kementrian Kesehatan (2012) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
 
(2012) menunjukkan bahwa infeksi menular seksual dan angka kehamilan tidak diinginkan
 
terbesar dialami oleh golongan remaja dan dewasa muda. Hal ini merupakan dampak dari perilaku
 
seksual pranikah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor
 
yang mempengaruhi perilaku seksual mahasiswa Universitas Indonesia. Penelitian ini
 
menggunakan data sekunder Survei Perilaku Sehat Mahasiswa Universitas Indonesia Tahun 2010.
 
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian
 
adalah mahasiswa yang mewakili 12 fakultas dengan rentang umur remaja akhir (18-24 tahun)
 
yang berjumlah 1819 responden. Proporsi perilaku seksual berisiko tinggi pranikah adalah 137
 
(7,5%). Hasil analisis menunjukkan bahwa umur mempengaruhi perilaku seksual mahasiswa, lakilaki
 
lebih beresiko (OR=2,39) dibanding perempuan, rumpun fakultas yang memiliki resiko paling
 
besar adalah Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora (OR=15,46), mahasiswa yang pernah
 
berpacaran memilki resiko lebih besar (OR=2,31) daripada mahasiswa yang belum pernah
 
berpacaran
 

 
Data from the Ministry of Health (2012) and the National Population and Family Planning (2012) showed that sexually transmitted infections and unwanted pregnancies most common in adolescents and young adults group. This is the impact of premarital sexual behavior. The purpose of this research is to reveal premarital sexual behavior and factors that influence the students at the University of Indonesia. This study uses secondary data survey of health behavior 2010. The type of this research is quantitative with cross sectional approach. The study population was all students who represent 12 faculties with a lifespan 'late teens' (18-24 years) which amounted to 1819 respondents. The proportion of high-risk sexual behavior before marriage is the 137 (7,5%). The analysis showed that age affects the sexual behavior of college students, men are more at risk (OR = 2.39) than women, clumps of faculty who have the greatest risk is Clumps Social Sciences and Humanities (OR = 15.46), a student who was dating have the greater risk (OR = 2.31) than students who have not been dating.
Read More
S-8436
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gadis Jelita; Pembimbing: Kartika Anggun Dimar Setio; Penguji: Dadan Erwandi, Sanyulandy Leowalu
Abstrak:
Perilaku seksual berisiko pada mahasiswa merupakan salah satu isu kesehatan reproduksi yang perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko infeksi menular seksual, kehamilan yang tidak direncanakan, serta berbagai konsekuensi kesehatan lainnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor personal maupun faktor lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor demografi, self-efficacy, komunikasi seksual, dan norma sosial dengan perilaku seksual berisiko pada mahasiswa yang belum menikah di Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dianalisis secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan setiap variabel penelitian. Selanjutnya, analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Mann–Whitney, Kruskal–Wallis, dan korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan skor perilaku seksual berisiko berdasarkan usia (p = 0,117), jenis kelamin (p = 0,061), tempat tinggal (p = 0,439), maupun uang saku (p = 0,147). Sebaliknya, self-efficacy memiliki hubungan negatif dengan perilaku seksual berisiko (ρ = -0,400; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan sedang. Komunikasi seksual juga menunjukkan hubungan negatif yang signifikan (ρ = -0,172; p = 0,022), meskipun kekuatan hubungannya sangat lemah. Selain itu, norma sosial berhubungan negatif secara signifikan dengan perilaku seksual berisiko (ρ = -0,271; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan lemah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dengan self-efficacy yang lebih tinggi, kemampuan komunikasi seksual yang lebih baik, serta norma sosial yang lebih positif cenderung memiliki perilaku seksual berisiko yang lebih rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakteristik demografi tidak berhubungan dengan perilaku seksual berisiko, sedangkan self-efficacy, komunikasi seksual, dan norma sosial memiliki hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan perilaku seksual berisiko pada mahasiswa perlu diarahkan pada penguatan self-efficacy, peningkatan kemampuan komunikasi seksual, serta pembentukan lingkungan sosial yang mendukung pengambilan keputusan seksual yang sehat.

Risky sexual behavior among university students is a reproductive health issue requiring attention due to its potential to increase the risk of sexually transmitted infections, unplanned pregnancies, and various other health consequences. Studies indicate that such behavior is influenced by both personal and social-environmental factors. This study aimed to analyze the associations of demographic factors, self-efficacy, sexual communication, and social norms with risky sexual behavior among unmarried students at the University of Indonesia. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed. Univariate analysis was conducted to describe respondent characteristics and each research variable. Subsequently, bivariate analysis was performed using the Mann–Whitney test, Kruskal–Wallis test, and Spearman correlation at a 95% significance level (α = 0.05). The results showed no significant differences in risky sexual behavior scores based on age (p = 0.117), gender (p = 0.061), place of residence (p = 0.439), or allowance (p = 0.147). Conversely, self-efficacy was negatively associated with risky sexual behavior (ρ = -0.400; p < 0.001), indicating a moderate-strength relationship. Sexual communication also showed a significant negative association (ρ = -0.172; p = 0.022), albeit with very weak strength. Additionally, social norms were significantly negatively associated with risky sexual behavior (ρ = -0.271; p < 0.001), with a weak relationship strength. These findings indicate that students with higher self-efficacy, better sexual communication skills, and more positive social norms tend to exhibit lower levels of risky sexual behavior. The study concludes that while demographic characteristics are not associated with risky sexual behavior, self-efficacy, sexual communication, and social norms show significant associations. Therefore, efforts to prevent risky sexual behavior among students should focus on strengthening self-efficacy, improving sexual communication skills, and fostering a social environment that supports healthy sexual decision-making.
Read More
S-12467
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabilah Huwaida; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Ratna Tri Hari Safariningsih
Abstrak:
Aktivitas fisik dapat mencegah berbagai macam penyakit menular dan meningkatkan kesehatan seseorang, baik pada usia muda, maupun tua. Proporsi aktivitas fisik di Kota Depok memasuki peringkat 10 besar dengan aktivits fisik terendah di Jawa Barat, dengan angka 60,55%. Di Universitas Indonesia (UI) sendiri sebagai salah satu universitas di Kota Depok, angka aktivitas fisik pada mahasiswa masih menjadi masalah dilihat dari adanya peningkatan proporsi aktivitas fisik rendah dari tahun 2018 (28,2%) ke tahun 2022 (47,4%) serta masih tingginya angka PTM (obesitas dan hipertensi) pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku aktivitas fisik pada mahasiswa UI tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data penelitian dikumpulkan melalui pengisian kuesioner secara daring oleh 237 mahasiswa UI. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil penelitian menunjukkan 142 mahasiswa (59,9%) aktif secara fisik. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status tempat tinggal (p=0,028; OR=2,145; 95% CI 1,124 – 4,090), sikap (p=0,042; OR=1,789; 95% CI 1,056 – 3,029), dan dukungan teman (p=0,021; OR=1,923; 95% CI 1,134 – 3,261) dengan perilaku aktivitas fisik mahasiswa. Status tempat tinggal dan dukungan teman merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan aktivitas fisik, mahasiswa yang tidak tinggal bersama keluarga inti atau tinggal sendiri serta memiliki dukungan teman yang baik berpeluang 2 kali lebih besar untuk aktif secara fisik. Maka dari itu, peningkatan fasilitas olahraga, pengembangan program intervensi promosi kesehatan terkait aktivitas fisik, dan anjuran untuk beraktivitas fisik perlu dilakukan sebagai upaya mendorong mahasiswa untuk menjadi lebih aktif.

Physical activity can prevent various infectious diseases and improve one's health, both in young and old age. The proportion of physical activity in Depok City ranks among the top 10 with the lowest physical activity rates in West Java, which reach 60.55%. At the University of Indonesia (UI), which is one of the universities in Depok, the level of physical activity among students is still a concern, as evidenced by the increasing proportion of low physical activity from 28.2% in 2018 to 47.4% in 2022, as well as the high prevalence of non-communicable diseases (obesity and hypertension) among students. This research aims to identify the factors associated with physical activity behavior among UI students in 2023. The study adopts a cross-sectional design, which the data were collected through online questionnaires completed by 237 students. The data were analyzed using chi-square test and independent t-test to examine the relationship between independent and dependent variables. The results of the study indicate that 142 students (59.9%) are physically active. The research also shows a significant relationship between residential status (p=0.028; OR=2.145; 95% CI 1.124 – 4.090), attitude (p=0.042; OR=1.789; 95% CI 1.056 – 3.029), and friends’ support (p=0.021; OR=1.923; 95% CI 1.134 – 3.261) with students' physical activity behavior. Residential status and friends’ support are the dominant factors associated with physical activity. Students who do not live with their nuclear family or live alone and have good social support from friends are twice as likely to be physically active. Therefore, improving sports facilities, develop health promotion intervention programs related to physical activity, and encourage students to engage in physical activities should be made as efforts for the students to be more active.
Read More
S-11296
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Anisya; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Annisa Marlin Masbar Rus
Abstrak: Latar Belakang: Rokok elektronik saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Selama 10 tahun terakhir terdapat peningkatan signifikan pengguna rokok elektronik di Indonesia antara tahun 2011 hingga 2021 yaitu dari 0,3% menjadi 3,0%. Penelitian terdahulu di Universitas Indonesia menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan rokok elektronik secara rutin mencapai 50%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan studi cross-sectional. Hasil: Hasil uji chi square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara faktor-faktor jenis kelamin (p=0,021), pengetahuan (p=0,027), perceived susceptibility (p=<0,001), perceived severity (p=<0,001), perceived benefits (p=<0,001), perceived barriers (p=<0,001), self-efficacy (p=<0,001), dan cue to action (p=<0,001) dengan perilaku penggunaan rokok elektronik. Namun pada faktor umur ditemukan tidak ada hubungan yang signifikan (p=0,062). Diskusi: Faktor-faktor dalam Health Belief Model seperti faktor demografi (jenis kelamin dan pengetahuan), perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, dan cue to action terbukti berpengaruh terhadap perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa.
Background: Electronic cigarettes have now become part of the lifestyle. Over the past 10 years, there has been a significant increase in electronic cigarette users in Indonesia between 2011 and 2021, from 0.3% to 3.0%. Previous research at the University of Indonesia showed that the frequency of regular use of electronic cigarettes reached 50%. Objectives: This study aims to analyze the factors associated with electronic cigarette use behavior among students of the Faculty of Engineering, University of Indonesia. Methods: This research uses a quantitative design with a cross-sectional study. Results: The results of the chi-square test showed a significant relationship between the factors of gender (p = 0.021), knowledge (p = 0.027), perceived susceptibility (p = <0.001), perceived severity (p = <0.001), perceived benefits (p = <0.001), perceived barriers (p = <0.001), self-efficacy (p = <0.001), cue to action (p = <0.001) with the behavior of using electronic cigarettes. However, the age factor found no significant relationship (p=0.062). Conclusion: Factors in the HBM such as demographic factors, perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, and cue to action are proven to influence the behavior of using electronic cigarettes in college students. 
Read More
S-11863
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Amalia Rahmi; Pembimbing: Ella Nurllaella Hadi; Penguji: Hadi Pratomo, Dadan Erwandi, Dian Kristiani Irawanty, Lovely Daisy
Abstrak: Tingginya angka perilaku seksual pranikah pada remaja pria di Indonesia berisiko terhadap masalah kesehatan. Keluarga khususnya orangtua ikut berperan dalam upaya mencegah hubungan seksual pranikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran informasi kesehatan reproduksi (kespro) dari keluarga terhadap perilaku seksual pranikah remaja pria umur 15-24 tahun di Indonesia. Penelitian ini merupakananalisis lanjut data SDKI-KRR tahun 2017 yangmenggunakan desain cross sectional dengan sampel sebanyak 7.030 remajapria yang memenuhi kriteria: remaja pria berumur 15-24 tahun dan belum kawin.Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 11% remaja pria pernah melakukan hubungan seksual pranikah, sedangkan yang pernah mendapatkan informasi kespro dari keluarga hanya sebesar 19,5%.Informasi kesprodari keluarga berperan terhadap perilaku seksual pranikah remaja pria di Indonesia setelah dikontrol oleh tingkat pendidikan dan diskusi kespro dengan guru. Remaja yang tidak mendapatkan informasi kespro dari keluarga dan berpendidikan rendah berpeluang hampir 4kali untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang mendapatkan informasi kespro dari keluarga, sedangkan remaja yang tidak mendapatkan informasi kespro dari keluarga dan berpendidikan tinggi berpeluang 3,5kali untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang mendapatkan informasi kespro dari keluarga. Remaja yang tidak mendapatkan informasi kespro dari keluarga dan tidak pernah berdiskusi dengan guru mengenai kesproberpeluang hampir 4 kali untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang mendapatkan informasi kespro dari keluarga, sedangkan remaja yang tidak mendapatkan informasi kespro dari keluarga dan pernah berdiskusi dengan guru mengenai kespro berpeluang 3,3 kaliuntuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang mendapatkan informasi kespro dari keluarga. Harapannya, BKKBN melalui program GenRe (PIK R/M, dan BKR) dapat lebih ditingkatkan pemanfaatannya oleh remaja pria dan orang tua remaja terutama ayah, sedangkan program PKPR, Kemenkes perlu lebih banyak menjangkau remaja pria di Indonesia sehingga dapat membantu penurunan angka perilaku seksual pada remaja pria di Indonesia.
The high rate of premarital sexual behavior in male adolescents in Indonesia at risk for health problems. Families, especially parents, play a role in preventing premarital sexual intercouse. This study aims to determine the role of reproductive health information from families on premarital sexual behavior of male adolescents aged 15-24 years in Indonesia. This study is a further analysis of the 2017 IDHS-KRR data using a cross sectional design with a sample of 7,030 male adolescents who meet the criteria: male adolescents aged 15-24 years and unmarried. The results showed that about 11% of male adolescents had premarital sexual intercourse, while only 19.5% had received information on health issues from their families. Reproductive health information from family contribute to adolescent premarital sexual intercouse of male adolescents in Indonesia after being controlled by the level of education and reproductive health discussions with teachers. Adolescents who do not get reproductive health information from their families and have low education are nearly 4 times more likely to have premarital sexual intercourse compared to adolescents who get reproductive health information from their families, while adolescents who do not get reproductive health information from their families and are highly educated are 3.5 times more likely to have premarital sexual intercouse compared adolescents who get reproductive health information from their families. Adolescents who do not get information on reproductive health from their families and have never discussed with the teacher about reproductive health are nearly 4 times more likely to have premarital sexual intercourse than adolescents who get information on health care from their families, while adolescents who do not get information on reproductive health from their families and have had discussions with teachers about reproductive health have the opportunity 3.3 times for having premarital sexual intercourse compared to adolescents who get reproductive health information from their families. The hope is that the BKKBN through the GenRe program (PIK R / M, and BKR) can be further utilized by young men and teenage parents, especially fathers, while the PKPR program, the Ministry of Health needs to reach more young men in Indonesia so that it can help reduce the number of sexual behavior young men in Indonesia.
Read More
T-6043
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Randie Ananda Agam; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo; Penguji: C. Endah Wuryaningsih, Muchtar Hendra Hasibuan
S-6230
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Inayah Mahanani Nanda Sulistiyono; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Siti Muhimatul Munawaroh
Abstrak:
Perilaku yang mengarah kepada seks pranikah pada remaja dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti kehamilah tidak diinginkan, infeksi menular seksual, hingga HIV/AIDS.  Terdapat tiga kematian bayi di Puskesmas Depok Utara sepanjang tahun 2025 akibat kehamilan tidak diinginkan yang merupakan dampak dari perilaku yang mengarah kepada seks pranikah pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku yang mengarah kapada seks pranikah pada remaja usia 15-19 tahun di wilayah kerja Puskesmas Depok Utara berdasarkan Theory of Planned Behaviour. Desain penelitian yang digunakan adalah desain cross-sectional dengan jumlah sampel 140 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode convenience sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang diisi secara mandiri oleh responden dan data dianalisis menggunajan uji korelasi spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap perilaku (rs = 0,183; p = 0,03), norma subjektif (rs = 0,343; p = 0,001), dan intensi (rs = 0,187; p = 0,027) dengan perilaku yang mengarah kepada seks pranikah. Tidak terdapat hubungan signifikan antara variabel persepsi kontrol perilaku terhadap perilaku yang mengarah kepada seks pranikah (p >0,05). Upaya yang dapat dilakukan adalah intervensi yang melibatkan lingkungan sosial remaja, seperti teman sebaya, orang tua dan guru.

Behaviors leading to premarital sexual activity among adolescents may have serious adverse consequences, including unintended pregnancy, sexually transmitted infections (STIs), and HIV/AIDS. Three infant deaths were reported in 2025 in the Puskesmas Depok Utara as a consequence of unintended pregnancies associated with adolescents' behaviors leading to premarital sexual activity. This study aimed to examine the factors associated with behaviors leading to premarital sexual activity among adolescents aged 15–19 years in the catchment area of the North Depok Community Health Center based on the Theory of Planned Behaviour (TPB). This study employed a cross-sectional design involving 140 adolescents selected through convenience sampling. Data were collected using a self-administered questionnaire and analyzed using Spearman's rank correlation test. The findings demonstrated significant positive correlations between attitude toward the behavior (rs = 0.183, p = 0.030), subjective norm (rs = 0.343, p = 0.001), and intention (rs = 0.187, p = 0.027) with behaviors leading to premarital sexual activity. However, no significant association was found between perceived behavioral control and behaviors leading to premarital sexual activity (p > 0.05). These findings suggest that adolescents' social environment, particularly peers, parents, and teachers, plays an important role in shaping behaviors related to premarital sexual activity. Therefore, interventions aimed at preventing premarital sexual behavior among adolescents should actively involve these key social influences.
Read More
S-12417
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Anggun Dimar Setio; Pembimbing: Rita Damayanti, Iwan Ariawan; Penguji: Arman Nefi, Soewarta Kosen, Widyastuti Wibisana
T-3944
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhita Yoana; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dien Anshari, Fidiansjah
S-10323
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhidayah Nurdin; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Ratna Tri Hari Safariningsih
Abstrak:
Perilaku sleep hygiene yang buruk pada mahasiswa merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, kesehatan mental, dan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku sleep hygiene mahasiswa S1 Reguler Universitas Indonesia berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) yang mencakup variabel pengetahuan, sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan niat. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring kepada 262 mahasiswa S1 Reguler Universitas Indonesia pada tahun 2026 menggunakan teknik quota sampling, kemudian dianalisis menggunakan uji t-independent dan uji regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perilaku sleep hygiene responden masih rendah dengan nilai 53,69 pada skala 100. Rata-rata durasi tidur hanya 6,29 jam per malam di bawah rekomendasi NSF dan Kemenkes RI yaitu 7–9 jam. Analisis bivariat menunjukkan bahwa norma subjektif (p = 0,026) dan persepsi kontrol perilaku (p = 0,016) berhubungan signifikan terhadap perilaku sleep hygiene. Semakin baik norma subjektif dan semakin tinggi persepsi kontrol perilaku mahasiswa, semakin baik pula perilaku sleep hygiene yang dimiliki. Jenis kelamin, pengetahuan, sikap, dan niat tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa intervensi promosi kesehatan perlu berfokus pada penguatan persepsi kontrol perilaku mahasiswa serta pelibatan lingkungan sosial sebagai pendukung penerapan perilaku sleep hygiene yang sehat

Poor sleep hygiene behavior among students is one of the health issues related to decreased cognitive function, mental health, and quality of life. This study aims to analyze the determinants of sleep hygiene behavior among undergraduate students at the University of Indonesia based on the Theory of Planned Behavior (TPB), which includes variables such as knowledge, attitude, subjective norms, perceived behavioral control, and intention. The research employs a cross-sectional design with a quantitative approach. Data were collected through an online questionnaire from 262 undergraduate students at the University of Indonesia in 2026, using quota sampling technique, and analyzed using independent t-tests and simple linear regression. The results showed that the respondents' average sleep hygiene score was relatively low, at 53.69 on a 100-point scale. The average sleep duration was only 6.29 hours per night, which is below the 7–9 hours recommended by the NSF and the Indonesian Ministry of Health. Bivariate analysis revealed that subjective norms (p = 0.026) and perceived behavioral control (p = 0.016) were significantly associated with sleep hygiene behavior. Students with better subjective norms and higher perceived behavioral control tended to exhibit better sleep hygiene behavior. Sex, knowledge, attitude, and intention were not significantly associated with sleep hygiene behavior. These findings suggest that health promotion interventions should focus on strengthening students’ perceived behavioral control and involve the social environment as a supporter in adopting healthy sleep hygiene behaviors.
Read More
S-12319
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive