Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39734 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ayu Pratiwi Lubis; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari;Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak: Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa suhu lingkungan kerja berpengaruh terhadap produktivitas pekerja. Selain memengaruhi produktivitas kerja, suhu lingkungan kerja yang panas juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan akibat panas (heat related disorder), yang paling umum dialami pekerja adalah kelelahan akibat panas (heat exhaustion). PT. X merupakan salah satu pabrik peleburan timah terbesar di Indonesia yang pada proses produksinya memerlukan suhu sampai 1.500oC, hal tersebut dapat menimbulkan tekanan panas (heat stress). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pajanan tekanan panas dengan kejadian heat exhaustion pada. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional atau potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 76 pekerja. Jumlah pekerja yang mengalami heat exhaustion adalah 27 orang (35,5%).
 
 
Hasil yang didapatkan suhu WBGT indoor berkisar 29,4-41,0oC, sehingga menyebabkan 56 dari 76 pekerja (73,7%) mengalami tekanan panas.. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara tekanan panas dengan kejadian heat exhaustion pada pekerja. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian secara administrativ dan perlindungan personal untuk memimalisasi risiko dari tekanan panas.
 

Various studies have shown that the temperature of the working environment affects worker productivity. In addition, high temperature in working environment can also cause heat related disorder, the most common is heat exhaustion. PT. X is one of the biggest tin smelter in Indonesia that the production process requires temperatures up to 1.500oC, it can cause heat stress. This study aims to analyze the relationship between the exposure of heat stress on heat exhaustion. This study used a crosssectional study design with 76 sample of workers. The number of workers who suffered heat exhaustion were 27 persons (35.5%).
 
 
The results obtained WBGT indoor temperature ranges from 29.4 to 41.0 ° C, resulting in 56 of 76 workers (73.7%) experienced heat stress. The results of this study showed theres a association between heat stress on workers' heat exhaustion. Therefore, the required control efforts in terms of technical, administrative, and provision of personal protective equipment to minimize the risk of heat exhaustion due to heat stress.
Read More
S-8452
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shabrina Khairani; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Zakianis, Dura Vendela
S-9997
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shendy Glenfano Salean; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Umar Fahmi Achmadi, Syarif Danu Hidayat
Abstrak: Tekanan panas merupakan gabungan dari beberapa faktor seperti, suhu udara, kelembapan udara, kecepatan udara yang merupakan pembentuk tekanan panas. Pajanan dari tekanan panas yang tinggi dapat menyebabakan peningkatan detak jantung dan tekanan darah atau dikenal dengan hipertensi. Menurut WHO, hipertensi menyebabkan kematian sebanyak 8 juta kematian pertahun diseluruh dunia. Menurutu Riskesdas (2018) di Indonesia hipertensi memiliki prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8% pada tahun 2013 kemudian menjadi 34,1% pada tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara tekanan panas dengan tekanan darah tinggi pada pekerje di unit casting dan pressing PT. X. Penelitian ini melibatakan 60 responden yang diambil menggunakan accidentaly sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan pekerja yang terkena tekanan darah tinggi pada unit casting dan pressing PT. X sebesar 33 (55%) orang. Berdasarkan analisis multivariat dapat diketahui faktor yang berhubungan signifikan dengan tekanan darah tinggi adalah tekanan panas (P value=0,000; OR=19,640; 95% CI= 7,714-81,832) dan riwayat keturunan (P value=0,011; OR=11,802; 95% CI= 1,760-79,112) dimana faktor yang paling berpengaruh adalah tekanan panas. Pekerja yang terpapar tekanan panas berisiko untuk mengalami tekanan darah tinggi. Resiko tersebut menjadi lebih besar jika memiliki riwayat keturunan.
Kata kunci: Tekanan Panas, Tekanan Darah Tinggi, Riwayat Keturunan
Read More
S-10038
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fauzy Primawati Gusniarni; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Hendra, Azri Dwi Mahfudzi
S-10485
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurussakinah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriyono
Abstrak: Industri garmen P.T. X merupakan jenis industri yang bergerak di bidangpembuatan pakaian jadi untuk keperluan ekspor. Proses produksi industri garmenmelibatkan penggunaan kapas dan bahan baku tekstil dalam pembuatannya.Berdasarkan data Poliklinik, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakanpenyakit tertinggi pada tahun 2010-2012. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor risiko lingkungan fisik terhadap kejadian ISPA pada pekerjabagian material, cutting dan sewing industri garmen P.T. X. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional atau potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 102 pekerja. Jumlah pekerja yang menderita ISPA sebanyak 39(38,2%) dan besar rata-rata suhu, kelembaban dan pencahayaan di area kerja sebesar 29,7o C, 69% dan 231 lux. Faktor lingkungan fisik kerja, karakteristik danperilaku tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian ISPA pada pekerja garmen. Himbauan penggunaan APD perlu diterapkan pada pekerja garmen.

Kata kunci:Lingkungan Fisik, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Industri Garmen.
Read More
S-7781
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Hasna; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Heri Nugroho
Abstrak: Kesehatan dan keselamatan dalam bekerja merupakan hak bagi setiap pekerja. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi fisik lingkungan di tempat kerja yang biasa menjadi tempat para pekerja beraktivitas sehari-hari masih berpotensi menimbulkan banyak bahaya, Salah satunya adalah bahaya kebisingan. Kebisingan dapat terjadi di tempat kerja baik itu industri maupun non-industri. Pajanannya yang terjadi terus-menerus dan tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan baik itu auditory maupun non-auditory. Oleh karena itu, penelitian ini ingin mengetahui hubungan tingkat pajanan kebisingan dengan keluhan subjektif (non-auditory) yang meliputi penilaian gangguan fisiologis, psikologis dan komunikasi pada 84 pekerja di area unit produksi pabrik tepung PT.X Cilegon, Banten. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara masa kerja, usia, kebiasaan merokok, penggunaan alat pelindung telinga, kebiasaan menggunakan earphone, kebiasaan mendengarkan musik bersuara keras, dan juga pelatihan dengan gangguan fisiologis, psikologis dan komunikasi. Namun, angka kejadian gangguan fisiologis, psikologis dan komunikasi pada pekerja menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu sebanyak 26,2% pekerja mengalami gangguan fisiologis, 47,6% pekerja mengalami gangguan psikologis, dan sebanyak 48,8% pekerja mengalami gangguan komunikasi. Oleh karena itu, perusahaan tetap perlu menindaklanjuti terkait permasalahan kebisingan ini agar tidak menimbulkan risiko dan juga masalah kesehatan yang lebih besar kedepannya.
Kata kunci : Kebisingan, gangguan non-auditory, gangguan fisiologis, gangguan psikologis, gangguan komunikasi.

Health and safety at work are rights of every worker. However, it cannot be denied that the physical condition of the environment in the workplace which is used to be a place for workers to do their daily activities is still potential to cause many hazards, one of which is the danger of noise. Noise can occur in the workplace both industrial and non-industrial. Exposure that occurs continuously and not in accordance with the provisions can cause various health problems both auditory and non-auditory. Therefore, this study wants to find out the relationship between the level of noise exposure and subjective (non-auditory) complaints which include assessment of physiological, psychological and communication disorders of 84 workers in the production unit area of the flour mill PT.X Cilegon, Banten. The results of this study indicate that there is no statistically significant relationship between years of service, age, smoking habits, use of ear protection equipment, habit of using earphones, habit of listening to loud music, and also training with physiological, psychological and communication disorders. However, the incidence of physiological, psychological and communication disorders among workers showed a fairly high rate, namely as many as 26.2% of workers experiencing physiological disorders, 47.6% of workers experiencing psychological disorders, and as many as 48.8% of workers experiencing communication disorders. Therefore, companies still need to follow up related to this noise problem so as not to pose risks and also greater health problems in the future.
Keywords : Noise, non-auditory disorders, physiological disorders, psychological disorders, communication disorders
Read More
S-10241
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anaka Irsa Santoso; Pembimbing: Fitri Kurniasari; Penguji: Laila Fitria, Raden Al Iman
Abstrak:
Kelelahan kerja (fatigue) merupakan kondisi yang dapat memengaruhi keselamatan dan kinerja operator alat berat di sektor pertambangan. Operator dump truck (DT) dan high dump truck (HD) bekerja dengan tuntutan fisik dan mental yang tinggi serta terpapar kondisi lingkungan kerja kabin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor karakteristik individu dan lingkungan kerja kabin terhadap kejadian fatigue pada operator DT dan HD shift pagi di area tambang PT X, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan jumlah responden sebanyak 40 operator. Faktor karakteristik individu yang diteliti meliputi usia, masa kerja, durasi tidur, dan status hidrasi, sedangkan faktor lingkungan kerja kabin meliputi suhu, kelembapan, dan heat index. Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan kuesioner Subjective Self Rating Test (SSRT) dari Industrial Fatigue Research Committee (IFRC). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square, serta analisis Odds Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelelahan kerja berada pada kategori rendah hingga sedang dengan rata-rata skor 43,6. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara faktor karakteristik individu maupun lingkungan kerja kabin dengan kelelahan kerja (p > 0,05). Namun, durasi tidur (OR = 4,200) dan status hidrasi (OR = 1,320) menunjukkan kecenderungan risiko kelelahan kerja. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan melalui pemeliharaan kebijakan fit to work dan penyediaan air minum di dalam kabin alat berat.

Work-related fatigue is a condition that can affect the safety and performance of heavy equipment operators in the mining sector. Dump truck (DT) and high dump truck (HD) operators perform tasks that require high physical and mental demands and are exposed to cabin working environment conditions. This study aimed to analyze the effect of individual characteristics and cabin working environment factors on fatigue among DT and HD operators during the morning shift at PT X mining area, North Kalimantan. This study employed a cross-sectional design involving 40 operators. Individual characteristics included age, length of employment, sleep duration, and hydration status, while cabin working environment factors consisted of temperature, humidity, and heat index. Fatigue level was measured using the Subjective Self Rating Test (SSRT) developed by the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test, supported by Odds Ratio analysis. The results showed that fatigue levels among operators were classified as low to moderate, with a mean fatigue score of 43.6. No statistically significant association was found between individual characteristics or cabin working environment factors and fatigue (p > 0.05). However, sleep duration (OR = 4.200) and hydration status (OR = 1.320) showed a tendency toward increased fatigue risk. Therefore, maintaining the fit-to-work policy related to sleep duration and providing drinking water inside the cabin are recommended as preventive measures.
Read More
S-12206
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andreas Billy Falian; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririn Arminsih, Didik Supriyono
Abstrak: Pendahuluan: Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak diinginkan sebagai suara yang tidak diinginkan yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan gangguan non-pendengaran, seperti kondisi fisiologis, psikologis, dan komunikasi. Gangguan fisiologi dan psikologi dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Dampak fisik yang mungkin terjadi dari pajanan kebisingan, adalah kram otot, pusing, mual, muntah dan peningkatan sekresi katekolamin dan kortisol, di mana akan mempengaruhi sistem saraf yang kemudian berpengaruh pada detak jantung, dan akan meningkatkan tekanan darah. Menurut WHO, hipertensi diperkirakan menyebabkan 7.5 juta kematian, sekitar 12.8% dari total semua kematian. Hipertensi merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25.8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan kebisingan >85 dB terhadap kejadian hipertensi.
Metode: Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif, dengan desain penelitian potong lintang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah proportionate stratified random sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengolahan data dilakukan dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat dengan interval kepercayaan 95%. Dalam penelitian ini juga dilakukan tes laboratorium untuk memvalidasi dan mendapatkan data kondisi stres biologis pada pekerja melalui pengujian hormon kortisol dari air liur.
Hasil: Seluruh variabel independen memiliki faktor risiko > 1 terhadap variabel dependen. Terdapat hasil yang signifikan dari variabel independen kebisingan, lama kerja, umur, riwayat keturunan hipertensi, aktivitas fisik, penggunaan APT, indeks massa tubuh, dan kadar hormon kortisol terhadap hipertensi, melalui pengujian secara statistik dengan p value < 0.05. Sedangkan, untuk variabel perilaku merokok dan konsumsi alkohol memiliki p value > 0.05. Kebisingan sebagai variabel utama memiliki OR 19.067 melalui uji multivariat, setelah dilakukan kontrol oleh variabel perancu lama kerja, riwayat keturunan hipertensi, aktivitas fisik, penggunaan APT, dan indeks massa tubuh terhadap hipertensi.
Kesimpulan: Pekerja yang terpapar kebisingan berisiko untuk mengalami hipertensi. Pekerja yang memiliki lama kerja lebih dari lima tahun, tidak melakukan aktivitas fisik, tidak menggunakan APT, dan memiliki indeks massa tubuh yang tidak normal berisiko lebih besar untuk mengalami hipertensi.
Kata kunci: Farmasi, Hipertensi, Hormon Kortisol, Industri, Kebisingan
Read More
S-9642
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meliana Sari; Pembimbing: Sri Tjahyani Budi Utami; Penguji: Abdul Rahman, Mujoko
S-6169
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M. Jali; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriono
S-5587
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive