Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28916 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dara Puspita Dewi; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Helda, Dorlina Nainggolan
S-6177
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hasan Al Faruk; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Nasrin Kodim, C. Yekti Praptiningsih, Yusuf Rifa'i Romli
Abstrak: Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Definisi pneumonia yang diperkenalkan oleh WHO pada tahun 1989 dan dipakai oleh Depkes RI dalam program penanggulangan ISPA/pneumonia secara nasional adalah suatu penyakit dengan gejala batuk pilek yang disertai napas sesak atau napas cepat.
 
Penyakit yang disebabkan oleh gangguan saluran pernapasan di Kota Tasikmalaya terdapat pada urutan pertama dari 10 besar penyakit terbanyak yang melaksanakan rawat jalan ke puskesmas yaitu 18,10%. Sedangkan khusus yang disebabkan oleh pneumonia terdapat di urutan keenam yaitu 5,15%. Hal tersebut dapat disebabkan karena masih rendahnya cakupan ASI eksklusif yang hanya sebesar 31,2%, rendahnya cakupan vit A dosis tinggi yang hanya sebesar 43,77% dan kelihatannya tidak terpengaruh oleh tingginya cakupan imunisasi sebesar 92,32%; disamping juga masih dapat dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya.
 
Program ISPA/pneumonia di Kota Tasikmalaya telah dilaksanakan mulai sekitar tahun 1991, namun sampai saat ini penderita pneumonia masih tetap tinggi dan masih menjadi permasalahan, baik di masyarakat luas maupun di Dinas Kesehatan Kota sebagai pengelola program penanggulangan. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan tujuan ingin mengetahui hubungan ketiga variable independen di atas terhadap kejadian pneumonia pada balita usia 12-59 bulan yang dilayani puskesmas di Kota Tasikmalaya Tahun 2002.
 
Rancangan penelitian memakai studi kasus kontrol tidak berpadanan dengan populasi seluruh anak balita usia 12-59 bulan yang berkunjung dan berobat ke puskesmas di Kota Tasikmalaya dari bulan April-Mai 2002 serta dicatat pada register rawat jalan puskesmas yang bersangkutan. Sampel minimal yang dibutuhkan sebanyak 100 balita kasus dan 100 balita kontrol dengan perbandingan 1:1. Selanjutnya data diolah dan dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan bantuan perangkat computer.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara ketiga variabel independen utama yang diteliti yaitu ASI eksklusif, vit A dosis tinggi dan imunisasi campak terhadap kejadian pneumonia pada balita yang disertai adanya variabel interaksi yaitu antara ASI dengan vit A. Rincian singkat hasil penelitian dapat dilihat seperti berikut ini:
 
1. Pada saat interaksi = 0; hubungan ASI terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR=9,018 (95% CI : 3,258-24,956), p = 0,000 dan hubungan vit A terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR=19,717 (95% CI : 4,958-78,414), p = 0,000.
 
2. Pada saat interaksi = 1; hubungan ASI atau vit A terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR = 0,083 (95% CI : 0,017-0,391), p = 0,002.
 
3. Hubungan pemberian imunisasi campak terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR=2,879 (95% CI : 1,418-5,844), p = 0,003.
 
Penanggulangan pneumonia dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan seperti peningkatan pemberian ASI eksklusif, pemberian Vit A dosis tinggi dan program kesehatan dan pemberian imuniasi campak kepada balita dengan cara:
 
1. Penyuluhan yang intensif melalui berbagai media terhadap ibu balita.
 
2. Pelatihan dan pengawasan terhadap petugas pengelola program gizi, KIA dan program imunisasi.
 
3. Koordinasi lintas program dan lintas sektoral dengan memberdayakan kader kesehatan yang terlatih.
 

 
The Connection between Exclusive Breast Feeding Given, High Dosage Vitamin A, and Measles Immunization to Pneumonia Cases at 12-59 Months Old Children, Which Serves by Public Health Center in Tasikmalaya Town, West Java in 2002Pneumonia is an acute infection process that attacks lung's tissues (alveoli). The pneumonias definition that WHO given in 1989 and been using by Ministry of Health of Indonesia Republic at acute respiratory infection/pneumonia's decreasing program is cold cough symptom or quick breathing.
 
The diseases that caused by lung's problems in Tasikmalaya Town take the first place from the big 10 diseases, which public health center served home ward, which is 18,10%. Where as, the pneumonia cases took the sixth (5,15%). This cases could be caused by the low exclusive breast feeding coverage (31,2%), the low- usage high dosage vitamin A (43,77%) and immunization (92,32%) that's not running so effective and influenced; in other side there's many variables that could influence this case.
 
Acute respiratory infection/pneumonia's program in Tasikmalaya Town has been conducted since 1991, but the pneumonia's cases still high and still become problems, even is society and Public Health Council as the tackle conductor program. Because of that, the writer has interest to do research to fine out the connection between those three independent variables to the pneumonia's cases to 12-59 months old children that served by public health center in Tasikmalaya in 2001.
 
The research's design is using the case control that not connected to the number or quantity of 12-59 months olds children that visited and having care in public health center in April-May 2002 that been record in public health center home ward registration. The minimum samples needed was 100 toddler's case and 100 control toddlers with ratio 1 : L Then, the date have been processed and analyzed by univariant, bi-variant and multi-variant with computers help.
 
The research found that there's a real connection that statistically showed between those independent variables; the exclusive breast feeding, high dosage vitamin A, and measles immunization, to the toddler's pneumonia cases, also sown the interaction variables between breast feeding with vitamin A usage. The short details of the research's result shown below:
 
1. Exclusive breast feeding given: at 0 interaction; OR= 9,018 (95% CI=3,258-24,956), p=0,000 and at 1 interaction; OR 3,083 (95% CI=0, 017-0,391), p=0,002.
 
2. Vitamin A usage: at 0 interaction; OR = 19,717 (95% CI=4,958-78,414), p=0,000 and at 1 interaction; OR=0,083 (95% CI= 0,017-0,391), p=0,002.
 
3. Measles immunization: OR = 2,879(95% CI = 1,418-5,844), p=0, 003.
 
Developing some actions such as, exclusive breast feeding given, high dosage vitamin A given by public health program, and toddler's measles immunization could do the pneumonia tackle, for examples:
 
1. Intensive health education promotion trough medias about infant's mothers.
 
2. Training and controlling to nutrient program's conductor officers, infant's mothers program, and immunization programs.
 
3. Cross-programs and cross-sector coordination with empowered the well-trained public health cadres.
Read More
T-1449
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andri Musita; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Kusharisupeni, Besral, Minarto, Anies Irawati
T-4782
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syafiyah Maharani Mustarih; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Suyud Warno Utomo, Abdur Rochman
S-8112
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Hariyanti, Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Diah Riana, Nining Hernawati
Abstrak: Pneumonia adalah pembunuh utama Balita di dunia, lebih banyak dibandingkan penyakit lain seperti AIDS, Malaria dan Campak. Survei kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992, 1995, 2001 menunjukkan bahwa Pneumonia adalah penyumbang terbesar pada kematian bayi dan balita. Berdasarkan laporan Riskesdas 2007, menyebutkan prevalensi Pneumonia di DKI berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan rtesponden sebesar 1,67%.
 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan imunisasi campak dengan kejadian pneumonia pada balita usia 12-59 bulan setelah dikontrol covariat (umur, jenis kelamin, Berat badan lahir, ASI exclusive, pendidikan, pemberian vitamin A, kepadatan hunian, ventilasi, dan adanya perokok didalam rumah).
 
Penelitian ini dilakukan dari bulan Mei sampai dengan Juli di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta tahun 2010. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Kasus adalah balita usia 12-59 bulan yang menderita pneumonia. kontrol adalah balita usia 12-59 bulan yang tidak menderita pneumonia. Dalam penelitian ini sampel sebanyak 220 (kasus 110 dan control 110). Data dianalisis dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariate dengan uji regresi logistic ganda.
 
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara imunisasi campak dengan pneumonia pada balita. Anak yang tidak diimunisasi campak berisiko 2,06 kali untuk menderita pneumonia dibandingkan anak yang mendapatkan imunisasi saat bayi. Setelah dikontrol pendidikan dan ASI exclusive. Pada pengukuran dampak dihasilkan bahwa anak yang diimunisasi campak dapat mencegah pneumonia sebesar 51,456%. Selanjutnya upaya untuk melindungi anak dari penyakit pneumonia adalah dengan memberikan imunisasi campak saat usia 9 bulan dan anak diberikan ASI exclusive.
 

Pneumonia is the leading killer of babies in the world, more than other diseases such as AIDS, malaria and measles. Household Health Survey (SKRT) 1992, 1995, 2001 showed that pneumonia is the biggest contributor to the death of infants and toddlers. Based Riskesdas 2007 report, citing the prevalence of pneumonia in the Municipality based on the diagnosis of health workers and complaints rtesponden 1.67%.
 
The purpose of this study was to find out the relationship with the incidence of pneumonia, measles immunization in infants aged 12-59 months after covariat controlled (age, sex, birth weight, exclusive breast feeding, education, provision of vitamin A, the density of occupancy, ventilation, and the presence of smokers in home).
 
This research was conducted from May to July at Pondok Kopi Islamic Hospital in Jakarta 2010. This study uses the case control design. The cases were infants aged 12-59 months who suffered from pneumonia. controls were toddlers aged 12-59 months who are not suffering from pneumonia. In this study, 220 samples (110 cases and 110 controls). Data were analyzed by univariate analysis, bivariate, and multivariate multiple logistic regression.
 
The results showed a relationship between measles immunization with pneumonia in infants. Children who are not immunized against measles 2.06 times the risk for pneumonia than children who get immunized when infants. After controlled education and exclusive breastfeeding. In measuring the impact produced that children who are immunized measles can prevent pneumonia by 51,456%. Further efforts to protect children from pneumococcal disease is to provide measles immunization at the age of 9 months and children are given breast milk exclusively.
Read More
T-3164
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Desi Purwanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak: Stunting merupakan bentuk malnutrisi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan anak. Selain disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis, stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi berulang. Upaya pencegahan penyakit infeksi seperti imunisasi akan turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan anak khususnya di negara berkembang. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder SSGI Tahun 2021. Kriteria inklusi penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan saat pengumpulan data, diukur tinggi badannya, tidak sedang mengalami sakit berat/kronis, dan memiliki data variabel yang lengkap. Sebanyak 70.267 balita memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression untuk mendapatkan besar asosiasi prevalence ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita usia 12-59 bulan di Indonesia adalah 23,1% dan proporsi balita yang mempunyai status imunisasi dasar lengkap adalah 74,92%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status imunisasi dasar berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting. Balita dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap berisiko 1,19 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,19 (95% CI 1,15 – 1,23)]. Balita yang tidak imunisasi sama sekali mempunyai risiko yang lebih tinggi lagi yaitu 1,27 kali untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,27 (95% CI 1,15 – 1,39)], setelah mengontrol variabel pendidikan ibu, status ekonomi dan berat lahir anak. Diperlukan upaya untuk melengkapi status imunisasi anak sesuai jadwal dan peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi balita dan stimulasi tumbuh kembang anak.
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
Read More
T-6625
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Judhi Saraswati; Pemb. Ririn Arminsih Wulandari, Laila Fitria; Penguji: Sri Tjahyani Budi Utami, Rachmat Suherwin, Elly Setyawati
Abstrak:

Asap rokok merupakan salah satu polutan dalam ruangan yang mengandung 4.000 jenis bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan tubuh. Asap rokok tidak hanya berbahaya bagi kesehatan orang yang merokok tetapi juga bagi orang- orang di sekitarya. Anak-anak merupakan kelompok yang berisiko. Dampak yang ditimbulkan dari asap rokok temebut salah satunya adalah gangguan saluran pcrnafasan, yaitu ISPA dan gangguan fungsi paru. Prevalensi orang merokok dari tahun ke tahun meningkat yang berarti prevalensi perokok pasifjuga meningkat. Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Litbangkes tahun 2002, anak-anak umur 0-14 tahun merupakan kclompok berisiko yang paling banyak. Berdasarkan data dari Puskesmas Kelurahan Grogol mcnujukkan bahwa ISPA menempati urutan pertama dibandingkan penyakit Iainnya dan data tcntang gangguan fungsi paru belum tersedia di Kelurahan Grogol. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai hubungan antara pajanan asap rokok di rumah dengan kejadian ISPA dan gangguan fungsi paru sehingga menjadi informasi yang bermanfaat untuk memutuskan strategi mcngatasi dampak asap rokok terhadap kesehatan. Penelitian ini bcrsifat deskriptif analilik dengan pendekatan Cross Sectional, yang dilakukan terhadap anak SD kelas IV dan V di Kelurahan Grogol denganjumlah sampcl 174 responcien. Respondcn merupakan siswa yang sehat pada saat dilakukan pcngukuran fimgsi paru dan tidak mengalami penyakit TB paru, asma dan bronkhitis. Variabel independen yang diteliti adalah pajanan asap rokok jumlah perokok, jumlah konsumsi rokok per hari dan waklu merokok) karakteristik reponden (jcnis kelamin dan status gizi), lingkungan rumah (kepadatan rumah, ventilasi, jenis lantai, jenis dinding dan kelembaban rumah) dan aktifitas rumah (bahan bakar memasak dan penggunaan anti nyamuk) sedangkan variabel dependen adalah [SPA dan gangguan fungsi paru. Pengukuran gangguan fungsi paru responden dilakukan dengan menggunakan spirometri. Sedangkan pengambilan data variabel independen pajanan asap rokok, karakteristik responden, Iingkungan rumah dan aktifitas rumah dengan kuisioner yang diisi oleh orangtua rcspondcn. Kunjungan ke rumah responden dilakukan untuk pengukuran data kelembaban dan ventilasi rumah Serta konfirmasi jawaban kuisioner melalui wawancara kepada orang tua responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi ISPA 67,8% sedangkan prevalensi gangguan fungsi paru anak SD di Kelurahan Grogol sebesar 20,7% dengan prevalcnsi restriksi 5,2% dan prevalensi obstruksi l4,9% Serta restriksi dan obstruksi sebmar 0,57%. Jumlah perokok dan penggunaan bahan hakar memasak terbukti bermakna lerhadap ISPA dan variabcl yang dominan mempcngaruhi ISPA adalah penggunaan bahan bakar memasak dcngan OR 2,735. Sedangkan variabel jenis kelamin terbukti bermakna terhadap gangguan fungsi paru dengan OR 2,|67. Perlu penelitian lebih Ianjut dengan jumlah sampel yang Iebih banyak dengan mengikuti perjalanan pajanan asap rokok dan variabel lainnya terhadap reponden (studi kohort) sehingga dapat diketahui pengaruh dari pajanan asap rokok dengan kejadian ISPA dan gangguan fungsi paru.

Read More
T-2928
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qurratu Ayunin; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Taufan Harun Habibie
Abstrak:
Jumlah infeksi baru HIV di Indonesia masih tinggi yaitu mencapai 46.000 dan jumlah kematian yang disebabkan oleh HIV sejumlah 38.000 kematian pada Tahun 2018. Koinfeksi Hepatitis C pada pasien HIV cukup tinggi yaitu berkisar 2-15%.  Penelitian ini bertujuan meneliti pengaruh koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi antiretroviral di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tebet pada tahun 2015-2020. Penelitian dilakukan menggunakan desain kohort retrospekstif dengan analisis kesintasan. Pengambilan data dilakukan secara total sampling yang memenuhi kriteria inklusi sebesar 284 sampel. Data dianalisis secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian yang diteliti. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan masing-masing variabel independen dengan kesintasan pasien HIV dengan menggunakan Regresi Cox. Analisis multivariat dilakukan untuk mendapatkan model yang robust dan parsimonius dengan analisis Regresi Cox. Hasil penelitian menjukkan kesintasan kumulatif pasien HIV yaitu 85,4 %. Pengaruh koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV di RSUD Tebet Tahun 2015-2020 didapatkan HR 1,94 (95% CI 0,81-4,6) dengan nilai p: 0,13 setelah dikontrol oleh variabel indeks massa tubuh dan status kerja. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik dari koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV di RSUD Tebet Tahun 2015-2020.

The number of new HIV infections in Indonesia is still high, reaching 46,000 and number of deaths caused by HIV is 38,000 in 2018. Hepatitis C coinfection in HIV patients is high, ranging from 2-15%. This study aims to examine the effect of hepatitis C coinfection on survival of HIV patients receiving antiretroviral therapy at Tebet Regional Public Hospital (RSUD) in 2015-2020. This research used retrospectif cohort design with survival analysis and used total sampling as much as 284 HIV patients. Data were analyzed univariately to see the frequency distribution of each variable studied. Bivariate analysis was performed to see the relationship of each independent variable with the survival of HIV. Multivariate analysis was performed to obtain robust and parsimonius models with Cox Regression. The results of research found cumulatif survival of HIV patients in RSUD Tebet were 85,4 %. The Effect of Hepatitis C Coinfection on Survival HIV Patients Who Receive Antiretroviral Therapy in RSUD Tebet from 2015 until 2020 had HR 1,94 (95% CI 0,81-4,6) after adjusted with body mass index and working status. There were no corelation from Hepatitis C Coinfection on Survival HIV Patients Who Receive Antiretroviral Therapy in RSUD Tebet from 2015 until 2020.

Read More
T-5905
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yeni Suryamah; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, SUdarto Ronoatmodjo, Emita Aziz, Rusli
T-4487
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wa Ode Dwi Daningrat; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq, Doddy Izwardy, Sandjaja
T-4481
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive