Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30323 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Firdaus Ismathuhom; Pembimbing: Sandi Ilyanto; Penguji: Anwar Hassan, Petter A.W. Patinama, Sherley, Ade Arsiyanti
Abstrak:
Regulasi yang mengatur tentang pembenian izin apotik adalah Peraturan Menteri Kesehatan N0.244/MenKes/SK/VI 1990 tanggal 28 Mei 1990 tentang ketentuan dan tata cara pembelian izin apotik, yang kemudian diperbaiki lagi dengan Permenkes RI Nomor 22/MenKes/Per/W 1993. Dalam peraturan menteri kesehatan tersebut di atas, lcetentuan tentang jarak apotik satu dengan apotik lainnya dalam radius dan wilayah tertentu dihapuskan. Salah satu akibat dali kebijakan tersebut adalah bertambahnya jumlah apotik dan secara langsung membuat tingginya tingkat persaingan sesama apotik untuk menjaring pelanggan. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui kecenderungan pemilihan apotik oleh pelanggan di Kecamatan Ciledug Kota Tangerang tahun 2000. Penelitian ini dilakukan dengan memakai metoda kualitatif Pengumpulan data dilakukan dengari wawancara mendalam pada informan yang terdiri dari pelanggan tetap, pelanggan tidak tetap dan pedagang besar farmasi. Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa lokasi apotik, kelengkapan produk dan harga merupakan faktor utama yang menjadi pertimbangan pelanggan dalam pemilihan apotik, setelah itu bamlah masalah pelayanan dan fasilitas masuk dalam pertimbangan pelanggan dalam mernilih apotik. Untuk dapat memenangkan persaingan di bisnis apotik, maka harus mampu mengidentiikasi harapan dasar dan harapan tambahan pelanggan yang menjadi segman utama pelanggan. Selanjutnya hams dapat menyediakan produk dan Iayanan yang dapat memenuhi harapan atau kebutuhan dasar dan tambahan , sehingga pelanggan merasa apotik tersebut dapat memberikan nilai yang lebih dibanding pesaing. Akibatnya, tidak saja pelanggan menjadi puas, tetapi juga senang dan menjadi loyal.

The regulation arranges the pharmacy licensing is Ministerial of Health Regulation No.244 MenKes/SK/V/1990 dated May 28, 1990 about the rules of pharmacy licensing. Rearranged with Ministerial of Health Regulation No.922 MenKes/ PerlX/1993. In the regulation mentioned above certainty about distance between one and another pharmacy within the radius and certain area is eliminated. One of the result from the policy is the increase of the amount of pharmacy and directly caused high competition among the pharmacies in order to get customers. The aim of this result is to find out the inclination in pharmacy preference by customers in sub district Ciledug, Tangerang City, year 2000. This research is using qualitative method. Data collected by Indepth Interview conversation with regular and irregular customers and large trader of pharmacy. It is seen from this research that phamiacy location, product completeness and price are main factors to be considered by customers in choosing pharmacy. Then service matter and facilities are next factors to be considered. To be the winner in phamtacy business competition, we should be able' to identify customer?s basic hope and furthermore hope that is being our customer?s main segment. Then, we have to provide product and service that fiillill their hope or basic needs. Therefore, the customer feels that the pharmacy is more valuable than the competitor. The result is that the customer will satisly, happy and be loyal.
Read More
T-1048
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyuni Prabayanti; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ronnie Rivany, Mardiati Nadjib, Achmad Harjadi, Hendrianto Trisnowibowo
Abstrak:
The effective enforcement ofthe district autonomy regulations will influence all sectors included health sector. Public health center as the point of spear that directly provides health scmices to public, will be _inliuenced by that effect. Since the effective enforcement of district autonomy, health financing depend on the district?s income and the concem of the district government. Besides the health financing problems, health sector is also faced with public demand of good services. One way out altemative is application of self-financed public health center concept which public health centers are given authority to manage their functional revenue for filling their operational needs directly and to mobilize the potency of public financing in order to increase their quality of services. Tebet public health center as one ofthe self-financed public health centers in Jakarta is also faced with financing problem. Being self-financed public health center, one of the efforts is price adjustment because the prevailing prices have accorded to the reject pricing regulation which the prices of the seitltinanced public health center are similar with the prices of the public health center that not a self-financed one. Price adjustment effort must consider unit cost and ability to pay (ATP). There are no reliable estimate of unit cost and rationale price at Tebet public health center. So, the general objective of this study is to obtain the unit cost and the rationale price of the basic health services at Tebct public health center. The method used for cost analysis is the ?double distribution method" and the results were used for price simulation in which ATP'is used to obtain rationale price. The data was taken at 5 basic health services production units (BP, BPG, KB, KIA., Immunisation) in Tebet public health center fiom April until September 2000. The results indicated that from the 5 production units analizecl, the normative unit cost of BP is Rp.5.343, Dental Health Consultation is Rp.S_720, simple measures at BPG is Rp.l0_364, complex measures at BPG is Rp.2l.l34, Family Planning is Rp. 18.866, Mother and Children Care is R.p.7_018 and Immunization is Rp.4.628. The rationale prices for _each production units when the ATP is considerated, are as follow: BP production unit is Rp_7.000, Dental Health Consultation is Rp.7.000, simple measures at BPG is Rp. R.p. 18.000, complex measures at BPG is Rp. Rp.25.000, Family Planning is Rp.28.000, Mother and Children Care is Rp.8. 000, and Immunization is only Rp.900, because immunization is one ofthe public goods. With those results, it is Suggested for the public health center to ask about the extent of the rationale price to decision maker and to carry out operational cost eiiiciency. While the decision maker is suggested to adjust the price of self-finance public health centers.

Abstract Dengan diberlakukannya Undang-undang tentang otonomi daerah, maka akan berdampak pada berbagai sektor termasuk sektor kesehatan. Puskesmas sebagai ujung tombak yang langsung memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat juga akan merasakan dampak dari pelaksanaan otonomi daerah. Dengan pemberlakuan otonomi daerah, pembiayaan kesehatan tergantung pada Pendapatan Asli Daerah dan ?concern? Pemerintah Daerah terhadap sektor kesehatan. Disamping pemxasalahan-pembiayaan, sektor kesehatan juga menghadapi tuntutan masyarakat akan pelayanan yang bermutu. Salah satu alternatif jalan keluarnya adalah dengan menerapkan konsep Puskesmas Swadanzg yaitug puskesmas diberi kewenangan untuk mengelola selumh pendapatan fungsionalnya untuk keperluan opcrasional dan mengoptimalkan mobilisasi potensi pembiayaan masyarakat dalam rangka mcningkatkan mulu pelayanan. Puskesmas Kecamatan Tebet, sebagai salah satu Puskesmas Swadana di DKI Jakarta juga menghadapi masalah pembiayaan Dalam upaya menjadi puskesmas yang mandiri, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penyesuaian tarif mengingat bahwa tarif yang benlaku di Puskesmas Tcbet masih nmcnggunakan pola tadf lama yang sama dengan puskesmas-puskesmas lain yang belum swadana. Upaya penyesuaian tarif hams dilakukan dengan mempcrtimbangkzm biaya satuan dan kemampuan membayar masyarakat (ATP) Permasalahan yang dihadapi adalah belum diketahuinya biaya satuan dan tarif rasional di Puskcsmas Tebet. Dcngan dcmikian tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mcngenai besarnya biaya saluan dan tarif rasional pelayanan dasar di Puskesmas Tcbet. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskdptif analitik dengan rancangan cross sectional. Metoda analisis biaya yang digunakan adalah double distribution dan aplikasi ATP melalui simulasi tarif. Data diambil dari bulan April sampai dengan September 2000 pada unit pelayanan dasar (BP, BPG, KB, KIA dan lmunisasi) di Puskesrnas Tebct, data ATP dari SUSENAS tahun 1999. Hasil pcnelitian menunjukkan bahwa dari 5 unit produksi pelayanan dasar yang dianalisis biaya saman dan tarifrasionalnya didapatkan biaya satuan normatif di unit BP sebesar Rp.5.343, pcmcriksaan di BPG sebesar Rp.5.'720, tindakan ringan di BPG sebesar Rp_10.364, tindakan berat di BPG sebesar Rp.2l.l34, KB sebesar Rp.18_866, KIA sebcsar Rp_7.018 Serta Imqrlisasi sebesar Rp.4.628. Kcnaikan tarif dengan mempertimbangkan kemampuan membayar masyarakat (ATP) yang direkomendasikan untuk BP adalah sebesar Rp.7.000, pcmcxiksaan gigi Rp.7_O00, tarif tindakan ringan di BPG Rp.18.000, tarif tindakan berat di BPG Rp.25;000, tarifKB Rp.2s_ooo, tarifKIA Rp.8.000, tariff lmunisasi tetap Rp.9oo karena Imunisasi merupakan salah salu public goods. Dengan hasil tersebut disarankml bagi puskesmas untuk mengusulkan kepada pengambil keputusan tentang besamya tarif rasional di unit pelayanan dasar dan melakukan efisiensi biaya opemsional_ Sedangkan bagi pengambil keputusan untuk menetapkan tarif puskesmas terutama Puskesrnas Swadana sesuai dengan biaya satuan dan kemampuan membayar masyarakan.
Read More
T-994
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Liza Puspadewi; Pembimbing: Adang Bachtiar
Abstrak:
Program Pembangunan Daerah Kota Tangerang bertujuan mengembangkan Kota Tangerang menjadi sebuah kota Industri, Perdagangan dan Pemukiman. Pengembangan ini membawa dampak antara lain pencemaran udara oleh timah hitam (timbal) dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Ini sudah menjadi kenyataan dengan hasil pengukuran oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang yang mendapatkan kadar timbal dalam udara ambien dan dalam darah anak usia sekolah sudah melebihi nilai Ambang Batas. Pemerintah Daerah Kota Tangerang walaupun mempunyai Visi, Misi dan Rencana Strategis sebagai pedoman arah pembangunan dan pengembangan wilayah sampai dengan tahun 2006, ternyata belum mempunyai rencana strategis untuk menanggulangi pencemaran udara oleh timah hitam yang sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penyusunan suatu rencana strategis penanggulangan pencemaran udara (timah hitam) oleh emisi gas buang kendaraan bermotor terhadap kesehatan masyarakat dalam kurun waktu 5 tahun antara tahun 2004-2008. Adapun desain penelitian yang digunakan penelitian operasional dengan analisa kuantitatif dan kualitatif. Data tentang faktor-faktor lingkungan eksternal dan internal yang berpengaruh terhadap posisi Pemda Kota Tangerang dalam menanggulangi pencemaran udara (timah hitam) oleh emisi gas buang kendaraan bermotor diperoleh dari data sekunder dan wawancara mendalam. Data yang terkumpul dibahas dalam Consensus Decision Making Group (CDMG) yang terdiri dari para pejabat Pemda Kota Tangerang yang terkait dan dilakukan analisa lingkungan (SWOT analisis), Kemudian tahap berikutnya (matching stage), CDMG melakukan analisis dengan TOWS Matriks dan IE Matriks, yang menyimpulkan bahwa dalam penanggulangan pencemaran udara (timah hitam), Pemda Kota Tangerang berada pada posisi Hold and Maintain dengan strategi utama Penetrasi Pasar dan Pengembangan Produk. Dari berbagai altematif strategi yang dapat difikirkan melalui Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) dapat diidentifikasi strategi-strategi yang paling memungkinkan untuk dilaksanakan, dan disusun dalam suatu rencana program kerja penanggulangan pencemaran udara (timah hitam) untuk jangka waktu 5 tahun ke depan.

Strategic Planning to Overcome Air Pollution by Lead from the Exhaust of Motor Vehicles as a Health Hazard to the Population of the City of Tangerang, year 2004-2008The Regional Development Program of the City of Tangerang envisions Tangerang to develop into an industrial, commercial and residential city. This development brings the implication of air pollution by lead originating from the exhaust of motor vehicles. This implication has become a reality, as proven by measurements carried out by the City of Tangerang Health Service, which shows the concentration of lead in ambient air and in the blood of school age children above normal limits. Although the government of the City of Tangerang already has vision and mission statements, and a strategic plan as a course of regional development up to year 2006, it has no strategic plan to overcome the effects of air pollution by lead as a public health problem. This research is carried out to analyze factors affecting the making of a strategic plan to overcome the effects of air pollution by lead for a five year period from 2004 to 2008. The research design used is an operational research with quantitative and qualitative analysis. Data about the external and internal factors affecting the position of the government of the City of Tangerang to overcome the effects of air pollution by lead was obtained from secondary data and in depth interviews. Data thus obtained was discussed by a Consensus Decision Making Group (CDMG) of city government officials involved in environmental issues, then analyzed using the method of SWOT analysis. Further in the matching stage, the CDMG converts the data into TOWS and IE Matrices respectively, with the resulting conclusion in regard to overcoming the effects of air pollution by lead, the City of Tangerang is in a "Hold and Maintain" position with the main strategies of Market Penetration and Product Development. From various alternative strategies formulated through Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM), strategies most feasible to implement are adopted as a working plan to overcome the effects of air pollution by lead for the future 5 year period.
Read More
T-1720
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yansyah Nawawi; Pembimbing: Adang Bachtiar
T-871
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novita Intan Pratiwi; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Ns. Lisa Felina
Abstrak: Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIMKESDA) merupakan sistem pencatatan dan pelaporan program imunisasi berbasis web di Kota Tangerang yang dikembangkan oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Komunikasi dan Informasi. Pemanfaatan SIMKESDA oleh petugas penanggung jawab program imunisasi puskesmas di Kota Tangerang masih tergolong rendah. Hal ini terbukti dengan perbedaan yang sangat signifikan antara capaian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) pada laporan imunisasi yang diunduh dari SIMKESDA dengan capaian IDL pada laporan manual. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfaatan SIMKESDA oleh petugas penanggung jawab program imunisasi puskesmas di Kota Tangerang tahun 2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Kegiatan pengambilan data primer dilakukan dengan teknik penyebaran kuesioner kepada 36 petugas penanggung jawab program imunisasi puskesmas di Kota Tangerang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai dengan bulan Maret tahun 2019 sebanyak 25% puskesmas telah berhasil mencapai target pemanfaatan SIMKESDA. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pemanfaatan SIMKESDA dengan faktor individu maupun faktor organisasi. Sedangkan dalam faktor psikologi hanya persepsi kemudahan yang menunjukkan hubungan yang signifikan dengan pemanfaatan SIMKESDA (p value: 0,039). Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan untuk tetap melanjutkan kegiatan pencatatan dan pelaporan menggunakan SIMKESDA dan mengembangkan SIMKESDA menjadi lebih user friendly serta memberikan reward and punishment kepada petugas sesuai dengan capiannya
Read More
S-9964
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ina Agustina Isturini; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Sandi Iljanto, Rina Adeina, Penina Regina B.
T-3456
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farhan: Pembimbing; Sabarinah; Penguji; Evi Martha, Dian Ayubi, Annie Trisusilo, Wiwi Karnasih
Abstrak:

Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan prosedur kerja dari setiap jenis kegiatan pelayanan yang diberikan. Bila dilihat dari pendekatan sistem yang terdiri dari komponen masukan, proses, keluaran, maka SOP dapat dikatakan sebagai komponen proses. Dari data laporan tahunan RSUD Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman, untuk tiga tahun terakhir nilai indikator-indikator kesehatan menggambarkan rendahnya mutu pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan proses pelaksanaan SOP pelayanan rawat inap oleh perawat dalam meningkatkan mutu pelayanan di RSUD Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman tahun 2000. Penelitian dilakukan secara observasional dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian merupakan observasi kegiatan oleh perawat di ruang rawat inap. Sedangkan jumlah sampel adalah 64 kali observasi yang dilakukan oleh 32 orang perawat di ruang rawat inap RSUD Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman. Pengumpulan data menggunakan tiga buah instrumen. Instrumen untuk perawat dan pasien berupa data sekunder. Instrumen untuk pelaksanaan SOP berupa data primer. Pengolahan data menggunakan program Epi Info dan SPSS, sedangkan analisis data dengan melakukan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan hahwa faktor-faktor yang berhubungan secara signifikan pada cc=0,05 terhadap pelaksanaan SOP adalah pendidikan, status pernikahan, beban kerja, diagnosa penyakit, dan kemandirian pasien. Faktor yang paling dominan adalah beban kerja dimana perawat yang tidak diberi tugas rangkap akan cenderung bekerja sesuai dengan SOP 6,564 kali dibanding dengan perawat yang punya tugas rangkap. Untuk itu perlu kiranya pertimbangan sejauh mungkin agar tidak memberikan tugas rangkap kepada perawat yang bertugas di ruang rawat inap RSUD Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman.


 

Factors Related to Implementation of SOP of in-Patient Service by Nurses in Increasing the Quality of Service in Regional General Hospital Regency of Pasaman Year 2000.Standard Operating Procedure (SOP) is the work procedure of each type of service activities provided. In terms of system approach that consists of input, process, output process components, the SOP is a part of the process component. From the annual report of Lubuk Sikaping Regional General Hospital, in regency of Pasaman, for the past three years it turned out that the health indicators that describe the health service quality is not in accordance with to the expected level_ The purpose of this research is to identify the factors related to the implementation process of the SOP of in-patient service by nurses in improving the service quality in the regional general hospital of Lubuk Sikaping in 2000. This research is done through observation with cross sectional method. The population of the research is observation activities from nurses that in charge in an in-patient room. While the sample of the research is 64 observation activities from 32 nurses that in charge in an in-patient room of the Regional General Hospital of Lubuk Sikaping. The data collection is done by using 3 instruments. The instrument for nurses and patients are obtained from secondary data. While instrument for SOP is primary data. The data processing is done by using Epi Info and SPSS, while the data analysis is done by using univariate, bivariate, and multivariate analysis. The result of this research indicates the factors that related significantly within a=0.05 toward the implementation of SOP is education, marital status, workload, diseases diagnosis, and self-sufficiency of patients. The most dominant factors is the workload in which the nurses that have no multiple tasks will tend work according the SOP 6.564 times compared to the nurses that have multiple tasks. Therefore, the management of the Regional General Hospital of Lubuk Sikaping needs to consider not to give multiple task to nurses that are in charge in the in-patients ward. Bibliography 30 (1980 - 2000)

Read More
T-989
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
David Gordon; Pembimbing: Nuning M.Kiptiyah; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Evi Martha, Hernani, Harijatni Sri Oetami S
Abstrak:
Study Case For Control of The Use of Health Service By BTA Lung Tuberculosis Sufferers at Kapuas Hulu Regency Community Health Centers in The Year of 2000. Up to now, lung tuberculosis (Tb) is a major community health problem. It is estimated that one third of the world population are the victims of the disease. Most of them (95 %) come from the developing countries. The low discovery of lung Tb sufferers (33%) has caused the disease transmission chain very difficult to broken causing approximately 8 millions of the world population to suffer from the disease, and 3 millions of them die each year. Indonesia is one of the developing countries with approximately 450,000 Tb cases (prevalence rate 0.22 %) and 175,000 Tb death each year, making is the third largest Tb contributor in the world. Kapuas Hulu Regency (West Kalimantan Province) has 200,000 population. Although DOTS Strategy has been implemented gradually in the area since 1996 and adopted by all of the community health centers since 1999, there are only 33 % of estimated Tb cases can be discovered. This condition reflecting the phenomenon of community behavior towards the use of health service facility, especially the community health centers at Kapuas Hulu Regency. Thus, it induces questions about factors affecting the use of health service at the community health center by lung Tb patients. In identifying the problem, since there are many factors affecting the use of community health center, this research used case control design with Green Theory approach (1980). Cases in this research were the BTA (+) lung Tb sufferers who were encountered through field survey during the research. While controls consisted of BTA (+) lung Tb sufferers who were listed in the Tb registry of the health centers. Bipartite analysis shows that variables related to the use of health service in community health center are education with Odds Ratio 1.91, knowledge with OR 2.16, cost with OR 2.30, distance with OR 2.24, Transportation facility with OR 8.10, Health information OR 2.46, and service by health person with OR 2.41. Multivariate analysis with logistic regression shows that variables related to the use of community health center by the BTA (+) lung Tb patients based on the contribution of transportation facility, knowledge, and health information, with its logistic equation : fog it (use of health service) - 2.876 + 2.547 (transportation) + 1.180 (knowledge) + 1.083 (health information). In conclusion, knowledge, education, cost, transportation facility, distance. health information and service by health person can affect the behavior of lung Tb suffers in utilizing health service facility at the community health center. Above all, the availability of transportation facility is the most dominant factor. Result from the study recommend that the community health centers and regency health service need to increase the frequency of health education regarding lung Tb to the community, using more understandable and simple methods. The regency government is advised to build facilities to increase community access to the health service. Health service approaching to the community is the easiest way to do for the community health center. Library : 23 (1979-1999).

Penyakit tuberkulosis paru sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi penyakit tuberkolosis paru ini. Sebagian besar (95 %) dari penderita tersebut berada pada negara berkembang. Rendahnya penemuan penderita Tb paru (33%) membuat rantai penularan semakin sulit diputuskan, sehingga diperkirakan terdapat 9 juta penduduk dunia diserang Tb paru dengan kematian 3 juta orang pertahun. Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang, diperkirakan setiap tahunnya terjadi 583.000 kasus Tb (prevalence rate 0,22 %) dan 140 ribu meninggal setiap tahunnya, sehingga menyumbang Tb paru terbesar ketiga. Kabupaten Kapuas Hulu yang terletak pada Propinsi Kalimantan Barat dengan penduduk lebih kurang 200.000 jiwa, baru dapat menemukan penderita Tb paru sekitar 33 %, walaupun sejak tahun 1996 strategi DOTS sudah digunakan secara bertahap dan tahun 1999 seluruh puskesmas sudah mengadopsinya. Rendahnya penemuan penderita Tb paru ini merupakan gambaran fenomena perilaku masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan khususnya puskesmas di Kabupaten Kapuas Hulu. Oleh karena itu menjadi pertanyaan faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh penderita Tb paru di puskesmas. Untuk mengidentifikasi hal tersebut, penelitian ini menggunakan disain kasus kontrol dengan pendekatan teori Green (1984), mengingat bahwa banyak faktor - faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh penderita Tb paru di puskesmas. Kasus dalam penelitian ini adalah penderita Tb paru BTA (+) yang ditemukan melalui survei lapangan pada saat penelitian dilakukan. Sedangkan kontrol adalah pcnderita Tb paru BTA (+) yang ditemukan dalam register pengobatan Tb paru jangka pendek. Analisis bivariat menunjukkan bahwa variahel yang herhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas adalah pendidikan dengan Odds Rasio (OR) 1,91 , pengetahuan dengan OR 2,16 , biaya dengan OR 2,30 , jarak dengan OR 2,24 , sarana transportasi dengan OR 8,10 , penyuluhan dengan OR 2,46 , dan pelayanan petugas dengan OR 2,41. Analisis multivariat dengan regresi logistik mcnunjukkan bahwa variabel yang herhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh penderita Tb paru BTA (+) di puskesmas berdasarkan kontribusinya secara berurutan adalah Sarana transportasi, pengetahuan, dan penyuluhan dengan model persamaan logistiknya : Logit (pemanfaatan pelayanan kesehatan) = - 2,876 + 2,547 (transportasi) + 1,180 (pengetahuan) + 1,083 (penyuluhan). Sebagai kesimpulannya adalah faktor pengetahuan, pendidikan, biaya, transportasi, jarak, penyuluhan, dan pelayanan petugas dapat mempengaruhi perilaku penderita Tb paru dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas, dan ketersediaan sarana transportasi merupakan faktor yang paling dominan. Disarankan kepada puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten untuk meningkatkan frekuensi penyuluhan tentang Tb paru kepada masyarakat dengan menggunakan metoda yang mudah dimengerti masyarakat. Juga kepada Pemerintah Daerah disarankan untuk membangun sarana dan prasarana yang memudahkan akses masyarakat kepada pelayanan kesehatan. Mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat merupakan alternatif yang paling mudah dilakukan oleh puskesmas. Kepustakaan : 23 ( 1979 - 1999 )
Read More
T-1075
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hidayati; Pembimbing: Adang Bachtiar; Peter Pattinawa; Penguji: Yayuk Hatriyanti, Theresia Ronny Andayani, Yuli Prapanca Satar
Abstrak: PENGEMBANGAN INSTRUMEN DAN PENGUKURAN TINGKAT KEPUASAN PELANGGAN DI UNIT GRAHA SPESIALIS RSMH PALEMBANG TAHUN 2005 Hidayati, Adang Bachtiar, P.A.W. Pattinama. Abstrak Latar Belakang : Bentuk Globalisasi Perumahsakitan dapat berupa rumah sakit sebagai bagian dari jaringan global, rumah sakit akan memperkerjakan pekerja global serta rumah sakit sebagai penjual jasa yang berbasis pengetahuan dan teknologi tinggi. Perubahan orientasi rumah sakit kepada kepuasan pelanggan , memerlukan upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan. Salah satu cara untuk mengetahui mutu pelayanan rumah sakit adalah dengan melakukan survey kepuasan pelanggan. Dan dalam melakukan survey tersebut instrumen yang digunakan harus valid dan reliabel. Tujuan Penelitian: Mendapatkan instrumen yang dapat digunakan untuk pengukuran kepuasan pelanggan dan mengetahui hubungan karateristik pelanggan, minat berkunjung kembali serta keinginan untuk menganjurkan teman/keluarga berkunjung ke Unit Graha Spesialis terhadap kepuasan pelanggan, mengenai mutu pelayanan Unit Graha Spesialis RS.Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2005. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian crossectional yang bersifat analitik kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan data primer, dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2005. Sampel penelitian adalah pengunjung Unit Graha Spesialis sebanyak 400 pelanggan, namun data yang dapat diolah hanya 390 kuesioner. Hasil : Unit Graha Spesialis merupakan salah satu unggulan RSMH Palembang, memerlukan instrumen yang valid dan reliabel yang dapat digunakan untuk pengukuran tingkat kepuasan pelanggan. Selain itu perlu pula mengetahui karateristik pelanggan untuk menentukan segmen pasar. Pada pengukuran tingkat kepuasan pelanggan di peroleh hasil bahwa tingkat kepuasan pelanggan secara umum sebesar 70,8%. Kepuasan tertinggi pada dimensi assurance (75,1%) dan kepuasan terendah pada dimensi responsiveness (54,1%). Keingian pelanggan untuk berkunjung ulang sebesar 58,5% dan ingin menganjurkan teman atau keluarga (55,4%). Faktor yang penentu yang berhubungan dengan kepuasan pelanggan adalah jenis pekerjaan, besar pendapatan, cara bayar dan alasan berkunjung. Kesimpulan : Instrumen hasil pengembangan tersebut dapat diterapkan untuk mengukur tingkat kepuasan pelanggan di Unit Graha Spesialis RSMH Palembang secara berkala dengan menggunakan pertanyaan yang mempunyai validitas dan realibilitas yang tinggi . Namun bila digunakan di tempat lain misalnya Poliklinik Umum, harus disesuaikan dengan kebutuhan. Tingkat Kepuasan Pelanggan di Unit Graha Spesialis RSMH Palembang, dimensi terbanyak pelanggan merasa puas yaitu dimensi assurance, dan paling banyak yang merasa tidak puas pada dimensi responsiveness. Ditinjau dari SDM, SDM di Unit Graha Spesialis masih kurang baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kata Kunci : Pengembangan Instrumen, Kepuasan Pelanggan
Read More
T-2092
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mentari Kirana Firdaus; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Ede Surya Darmawan, Selpi Pratiwi
Abstrak: Kesehatan jiwa merupakan salah satu isu kesehatan global dengan kasus yang terus meningkat ditiap tahunnya. Pada tahun 2019 masalah kejiwaan merupakan penyebab kedua kecacatan diseluruh dunia dengan total 970 juta kasus. Penelitian ini merupakan sebuah studi perbandingan yang betujuan untuk mengetahui perbedaan antara pelayanan ODMK di Puskesmas Pasar Baru dengan pelayanan ODMK di Puskesmas Pabuaran Tumpeng. Pada penelitian ini digunakan teori Black & Gruen, teori Donabedian, serta kerangka kerja sistem kesehatan (building blocks), dengan variabel yang dianalisis meliputi variabel input (masukan), proses, dan output (keluaran). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, sementara pengambilan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian menemukan bahwa pada variabel input (masukan), SDM kesehatan di Puskesmas Pabuaran Tumpeng memiliki beban kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan SDM kesehatan di Puskesmas Pasar Baru. Pada variabel proses, jenis pelayanan yang diberikan di Puskesmas Pasar Baru dan Puskesmas Pabuaran Tumpeng relatif sama, namun Puskesmas Pasar Baru mampu melaksanakan kegiatan inovatif untuk meningkatkan pelayanan ODMK di masa pandemi, yaitu dengan memasukan kegiatan skrining kesehatan jiwa ke dalam kegiatan vaksinasi Covid-19. Pada variabel output (keluaran) ditemukan bahwa kualitas pelayanan di Puskesmas Pasar Baru lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Pabuaran Tumpeng, selain itu cakupan pelayanan ODMK di Puskesmas Pasar Baru pada tahun 2021 mencapai 128% sedangkan di Puskesmas Pabuaran Tumpeng hanya mencapai 77%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa puskesmas yang memiliki SDM memadai serta mampu menyesuaikan pemberian pelayanan dengan situasi yang ada, dapat menghasilkan pelayanan yang lebih berkualitas serta mencapai target cakupan pelayanan.
Mental health is one of the global health issues with cases that continue to increase every year. In 2019, psychiatric problems were the second leading cause of disability worldwide with a total of 970 million cases. This research is a comparative study that aims to determine the difference between the services of People with Mental Problems (ODMK) at Pasar Baru Health Center and ODMK services at the Pabuaran Tumpeng Health Center. This research uses Black & Gruen theory, Donabedian theory, and the health system framework (building blocks), with the variables analyzed include input, process, and output variables. This research uses a qualitative approach with a case study method, while data collection is carried out through in-depth interviews and document review. The results of the study found that in the input variable, health human resources at Pabuaran Tumpeng Health Center had a higher workload than health human resources at Pasar Baru Health Center. In the process variable, the types of services provided at the Pasar Baru Health Center and the Pabuaran Tumpeng Health Center are relatively the same, but the Pasar Baru Health Center is able to carry out innovative activities to improve ODMK services during the pandemic, namely by incorporating mental health screening activities into Covid-19 vaccination activities. In the output variable, it was found that the quality of service at the Pasar Baru Health Center was better than the Pabuaran Tumpeng Health Center, besides that the coverage of ODMK services at the Pasar Baru Health Center in 2021 reached 128% while at the Pabuaran Tumpeng Health Center it only reached 77%. This study concludes that puskesmas with adequate human resources and able to adapt service delivery to the existing situation can produce higher quality services and achieve service coverage targets.
Read More
S-11076
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive