Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35541 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Agus Susanto Kosasih; Pembimbing: Hendrianto Trisnowibowo; Penguji: Ronnie Rivany, Purnawa Junaidi, Ede Suryadarmawan, Yuli Prapanca Satar
Abstrak:
The Clinical Pathology laboratory of the Dharmais Cancer hospital, a government owned institution, has a service of excellence in cancer diagnostic field which needs a wide variety of reagents, of about 347 items. It has been noted that there is not a good planning system of logistic that can provide the laboratory an optimal supply of reagents. The main problem in reagents supply is that they often do not come according to the ordered time with the consequence of too much delay of laboratory tests. The existence of 100 items of unused goods or non-moving items in one year has resulted as a very high stock at the beginning as well as at the end of the one month period compared to the supply within that period. All these facts lead the laboratory to problems which effects the service of the laboratory and will further also influence the overall quality of the hospital. A model of planning and stock system is introduced to overcome the above condition. This operational research model is supposed to group the reagents according to their use, value of investment and value of importance of the reagents. The planning is done through an ABC-index critical analysis which includes utility index, EOQ (economic order quantity), ROP (reorder point) and prediction of total investment needed. The survey done from January to December 1998, using the ABC analysis system, shows as many as 247 items of reagents, consisting of A-group (numbers of items : 62 = 25.1%, numbers of use : 860 = 70.2%), B-group (numbers of items : 86 = 34.8%, numbers of use : 245 = 20%), and C-group (numbers of items : 99 = 40.1%, numbers of use : 121 = 9.8%). The frequency of ordering the reagents varies from 20 days, 30 days and 90 days in accordance to the need, packing of the reagents and policy of the hospital. It is suggested to delete the 100 non-moving items from the list of reagent stock as since they add up the cost of the laboratory. This study concludes that ABC-index analysis, setting the EOQ, ROP and prediction of value of investment can be a way towards a good model of planning and optimizing the reagents supply at the Clinical Pathology laboratory of the Dharmais Cancer hospital. An intensive training of this model for the involved laboratory staff will be necessary for the practice and use of it.

Laboratorium Patologi klinik RS Kanker Dharmais (RSKD) merupakan RS Pemerintah dengan unggulan pelayanan diagnostik spesialistik kanker yang membutuhkan reagensia dengan jumlah cukup besar, yaitu sekitar 347 item. Permasalahan yang timbul di Laboratorium Patologi Klinik adalah permintaan barang sering tidak sesuai dengan realisasinya. Di lain pihak stock awal dan akhir reagensia yang tinggi dibandingkan yang berjalan setiap bulannya, hal ini sangat mengganggu operasional Laboratorium Patologi Klinik yang dapat menimbulkan permasalahan tertundanya pelayanan Laboratorium Patologi klinik yang dapat mempengaruhi mutu dan citra rumah sakit. Oleh karena itu dirasakan perlu membuat suatu model perencanaan dan sistem persediaan dengan cara riset operasional yang dapat memilah-milah reagensia menurut pemakaian, investasi dan nilai kepentingannya suatu reagensia. yaitu Analisis ABC indeks kritis dengan indeks pemakaian, mencari EOQ (economic order quantity), ROP (reorder point) serta prakiraan jumlah investasi yang dibutuhkan. Hasil penelitian dengan cara analisis ABC dari pemakaian pada bulan Januari 1998 - Desember 1998 terdapat 247 item reagensia, terbagi dalam kelompok A terdiri dari 62 item barang (25,1 %) dengan jumlah pemakaian 860 (70,2 %), kelompok B terdiri dari 86 item barang (34,8%) dengan jumlah pemakaian 245 (20 %) dan kelompok C terdiri dari 99 item barang (40,1%) dengan jumlah pemakaian 121 (9,8%). Terdapat 100 item barang yang tidak bergerak selama 1 tahun. Untuk dapat melaksanakan pemesanan reagensia pada sistem ini dilakukan penyesuaian waktu pesan sesuai 20 hari, 30 hari dan 90 hari, sesuai dengan kondisi kebutuhan, kemasan reagensia dan kebijakan RSKD. Penelitian ini menyimpulkan bahwa analisis indeks ABC dan mencari EOQ, ROP serta prakiraan jumlah investasikan adalah cara untuk mendapatkan model perencanaan dan mengoptimalisasikan di Laboratorium patologi Klinik RSKD. Saran yang dianjurkan adalah mengeluarkan 100 item yang tidak bergerak dari stock reagensia dan pelatihan yang intensif untuk pelaksana yang akan menjalankan model ini.
Read More
B-557
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umiaty Yuanita; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Hafizurrachman, P.Lanjar Sugiyanto
B-814
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Putu Diah Utami Darmayanti; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Helen Andriani, Vetty Yulianty Permanasari, Dina Hanum, Vitrie Winastri
Abstrak:
Persediaan obat yang tidak optimal di rumah sakit dapat berdampak serius terhadap mutu pelayanan kesehatan, efisiensi operasional, dan keselamatan pasien. Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah kekosongan obat, termasuk antibiotik, yang dapat menyebabkan penundaan pengobatan, peningkatan risiko resistensi, serta kerugian finansial akibat back order dan kehilangan penjualan. RS Jakarta sebagai rumah sakit swasta tipe C mengalami 98 kejadian obat kosong selama periode Januari 2024 hingga Maret 2025, dengan 16 kejadian di antaranya adalah kekosongan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian persediaan antibiotik di Instalasi Farmasi RS Jakarta menggunakan metode kombinasi ABC-VEN, serta menghitung kebutuhan safety stock dan reorder point (ROP).  Penelitian ini menggunakan desain operational research dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Data yang digunakan terdiri dari data sekunder selama April 2024 hingga Maret 2025, dan data primer berupa hasil kuesioner VEN. Antibiotik dalam penelitian ini dibagi menjadi kategori reguler dan mata sesuai dengan sediaan. Analisis dilakukan dalam beberapa tahap: analisis ABC nilai investasi, analisis VEN, dan kombinasi analisis ABC-VEN. Selanjutnya dilakukan perhitungan safety stock dan ROP untuk setiap item antibiotik. Evaluasi kinerja dilakukan dengan membandingkan nilai persediaan dan ITOR sebelum dan setelah simulasi perhitungan. Simulasi menunjukkan penurunan nilai persediaan hingga berkisar 28 juta rupiah hingga 62 juta rupiah per bulan, atau sekitar 27%-59% dari persediaan aktual. Selain itu hasil simulasi menunjukan peningkatan nilai ITOR berkisar antara 0,68 hingga 2,66. Maka dapat disimpulkan, metode kombinasi ABC-VEN yang dikombinasikan dengan perhitungan safety stock dan ROP terbukti efektif dalam mengoptimalkan perencanaan persediaan antibiotik di RS Jakarta. 

Inefficient drug inventory management in hospitals can have serious implications for service quality, operational efficiency, and patient safety. A frequent issue is stock-outs, particularly of antibiotics, which may lead to delays in treatment, heightened risk of antimicrobial resistance, and financial losses due to back orders and missed sales opportunities. RS Jakarta, a private Type C hospital, recorded 98 stock-out events between January 2024 and March 2025, 16 of which involved antibiotics. This study aims to evaluate the management of antibiotic inventory at the Pharmacy Department of RS Jakarta by applying the combined ABC-VEN classification method, alongside calculations of safety stock and reorder points (ROP). The study adopts an operational research design with a descriptive quantitative approach. Data sources include secondary data collected from April 2024 to March 2025 and primary data obtained through a VEN classification questionnaire. Antibiotics were categorized into regular and ophthalmic groups based on their dosage forms. The analysis consisted of several steps: ABC analysis based on investment value, VEN categorization, and the integration of both into a combined ABC-VEN matrix. Subsequently, safety stock and ROP were calculated for each antibiotic item. Output  was evaluated by comparing inventory value and the Inventory Turnover Ratio before and after simulation. The simulation results indicated a monthly reduction in inventory value ranging from approximately IDR 28 million to IDR 62 million, representing a 27%–59% decrease compared to the actual inventory. Furthermore, the ITOR values increased by a range of 0.68 to 2.66. These findings suggest that the integration of the ABC-VEN method with safety stock and ROP calculations is an effective strategy for optimizing antibiotic inventory planning at RS Jakarta.
Read More
B-2522
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nyoman Sindhu Adiputra; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Pujiyanto; Vetty Yulianty Permanasari, Budi Iman Santoso, Ken Wirasandhi
Abstrak: Pelaporan nilai kritis laboratorium merupakan salah satu indikator mutu yang sangat penting. Kegagalan melaporkan nilai kritis kepada DPJP akan menjadi sebab potensial untuk menimbulkan kejadian yang tidak diharapkan. Di Rumah Sakit Umum Pusat sanglah Denpasar tingkat pelaporan nilai kritis baru mencapai 15,8%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran pelaporan nilai kritis laboratorium berdasarkan parameter pemeriksaan, jenis pasien (rawat jalan dan rawat inap), area perawatan, sub laboratorium, dan waktu dalam satu hari dan untuk melihat implementasi manajemen dalam pelaporan nilai kritis tersebut. Ada variasi jumlah hasil kritis berdasarkan parameter, jenis pasien, ruang perawatan, sub laboratorium dan waktu dalam sehari. Implementasi manajemen dari pelaporan nilai kritis tidak dilakukan secara utuh.
Read More
B-1636
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edy Tanuwidjaja; Pembimbing: Hafizurrahman; Penguji: Delias Yudiwan Maswar, Rima Fatmasari
Abstrak: Latar belakang: Instalasi Farmasi di rumah sakit merupakan salah satu revenue center utama yang berperan penting dalam menentukan baik tidaknya pelayanan rumah sakit, pengeluaran untuk instalasi farmasi di RSIA Hermina tahun 2003 sebesar Rp. 5.333.811.214,00 atau 30,53% dari total pengeluaran rumah sakit, dari jumlah tersebut 30%-35% adalah untuk obat antibiotik, sedangkan jumlah item obat antibiotik sebanyak 127 dan ternyata sebesar 30%-35% tidak dapat dilayani. Tujuan: Mengoptimalkan rencana kebutuhan obat antibiotik yang sesuai dengan tingkat pemakaian, biaya investasi dan tingkat kekritisannya dan mengevaluasi pemesanan obat yang optimal pada tahun 2005 Metode: Pendekatan kuantitatif digunakan memperoleh informasi tentang pengelolaan obat yang merupakan prioritas, sedangkan dengan operation research didapatkan dengan menghitung perkiraan atau forecasting terhadap jenis obat prioritas sekaligus juga akan dihitung jumlah persediaan yang optimal dengan menggunakan EOQ. Hasil: Hasil perhitungan analisis ABC berdasarkan jumlah investasi didapatkan bahwa kelompok A berjumlah 16 item dengan nilai investasi 41,06 % dari total investasi dan 39,45% dari total pemakaian.sedangkan kelompok B yaitu 39 item, nilai pemakaiannya adalah 39,45 % dari total pemakaian, sedangkan nilai investasinya adalah sebesar Rp. 468.735.748 atau sebesar 46,21 % dari investasi. Peramalan weighted moving average 6 periode merupakan jenis peramalan yang mempunyai tingkat kesalahan paling kecil dan sesuai bila digunakan untuk memperkirakan jumlah kebutuhan antibiotik. Kesimpulan: Dengan diketahuinya perkiraan kebutuhan pemakaian obat antibiotik, maka akan dapat dihitung Economic Order Quantity dari hasi perhitungan tersebut, maka perhitungan EOQ yang disesuaikan merupakan yang paling cocok agar pemesanan obat jenis antibiotik menjadi optimal. Kata kunci (keywords) : Antibiotik, Analisis ABC, Forecasting, Economic Order Quantity
Background: Pharmacy Unit serves a major revenue center which plays important roles in determining a hospital’s good or poor services. Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina Daan Mogot (”A Hospital for Women and Children”) spended Rp5.333.811.214,00 for this unit in 2003 or 30.53% of the total hospital expenditures, and out of the amount, 30% - 35% was allocated for 127 antibiotic medicines. Of this number, 36% can not actually be served by the hospital. Objective: To Optimizing the planning of antibiotic drugs, and made subdividing it according to usage level, investment level, need level, calculate critically indexing and to evaluate drugs purchasing system at year 2005.. Methods: Using quantitative approach, it is anticipated to obtain information about medical administration and types of priority medicines, while forecasting the latter and economic optimum inventory draws operation research and to calculate numbers of optimal inventory with Economic Order Quantity Results: of the ABC Analysis calculation according to total investment identify that Group A comprises 16 items of antibiotic medicines with 41.06 % of the total investment into this medicine and 39.45 % of the total usage whereas Group B 39 items, 39.45 % of the total usage of antibiotic medicines while its investment value reaches Rp 468.735.748 or 46,21 % of the investment into antibiotic medicines. Weighted moving average 6 period is an appropriate forecasting method at the least error for projecting total antibiotic requirement. Conclusions: Recognizing projection of the total antibiotic requirement and usage, one will be able to calculate Economic Order Quantity and thus adjusted EOQ is the most appropriate method to keep the order antibiotic medicines optimum. Keywords : Antibiotics, Analisis ABC, Forecasting, Economic Order Quantity
Read More
B-846
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiarny Gusmiana Sianturi; Pembimbing: Dina Fitriningsih
B-525
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desma Eri; Pembimbing: Mieke Savitri
B-526
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Sarah Akbari; Pembimbing: Amila Megraini; Penguji: Suprijanto Rijadi, Dumilah Ayuningtyas, Djarot Pambengkas, Ede Surya Darmawan
Abstrak:

Kanker adalah suatu penyakit yang belum dapat sepenuhnya disembuhkan. Kanker dapat mengakibatkan kecacatan dan kematian serta kemiskinan bagi penderita tersebut dan keluarganya akibat biaya pengobatan yang tinggi. Seberapa penelitian telali membuktikan bahwa shining kesehatan - seperti pemeriksaan petanda tumor - pada pasien asimtomatik sebagai komponen untuk diagnosis dini dan pengobatan yang tepat akan menurunkan angka kesakitan dan angka kematian serta dapat membantu untuk menurunkan biaya. Petanda tumor adalah pemeriksaan laboratorium yang berperan dalam setiap langkah pengawasan dan penataiaksanaan kanker sehingga selayaknya menjadi pemeriksaan yang dominan di pusat pelayanan kanker seperti RSKD. Namun dalam prakteknya, pemeriksaan petanda tumor di RSKD hanya kurang dari 6.45% dari total pemeriksaan laboratorium klinik RSKD pada tahun 1999 dan 2000. Dalam hal ini rujukan dokter adalah komponen terpenting dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan penunjang yang tersedia dalam rumah sakit, termasuk pelayanan laboratorium untuk petanda tumor ini. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dokter dalam memanfaatkan pelayanan pemeriksaan petanda tumor pads pasien kanker di RSKD. Dari hasil penelitian diketahui bahwa peran dan fungsi belum seluruhnya diketahui semua dokter, status sosial ekonomi, berhubungan dengan tarif pemeriksaan dan sumber pembiayaan menjadi faktor utama yang menjadi pertimbangan dokter dalam memanfaatkan pelayanan ini dan kegiatan pemasaran untuk menjaring pelanggan luar dalam wilayan pelayanan RSKD belum dilakukan. Untuk itu, disarankan pengadaan pelatihan peran dan manfaat petanda tumor, peninjauan kembali terhadap penetapan harga serta melakukan kegiatan pemasaran baik di dalam maupun di luar lingkungan RSKD.


 

Doctor's Consideration Factors In Utilizing Tumor Marker Tests in Clinical Pathology Laboratory at Dharmais Cancer Hospital.Cancer is a disease that is not 100% curable. It can result in disability or death for a patient and its high cost of treatment can be a serious financial burden for a patient and their family. Studies have proven that screening - such as tumor marker screening - in asymptomatic patients as a tool for early diagnosis and prompt treatment, can decrease morbidity and mortality rates and can help to reduce the overall treatment cost involved. Tumor marker testing can be used in every step in assessing patients with cancer so it would be expected that tumor marker testing would be a dominant laboratory test in a cancer center like . However, in 1999 and 2000, tumor marker tests represented only 6.45% of total laboratory testing undertaken. Doctor referral is the most important component affecting demand for ancillary services at hospitals, including demand for laboratory services and tumor marker tests. This research is a qualitative research with a case study approach to analyze factors that are considered by treating doctors in utilizing tumor marker tests. It is found that not every doctor knows precisely the important role of tumor marker tests in assessing cancer disease. The social economic status of the patient together with the cost of the test and payment resources available to the patient are the major factors considered by a doctor before referring a patient for a tumor marker test. There has not been any education or marketing program undertaken to promote the utilization of this service within the hospital or to doctors outside of the hospital who may be a source of referrals for the hospital's laboratory. Based on these findings, it is recommended education be provided to doctors treating within the hospital on the role and benefits of tumor marker testing and that the hospital consider marketing the benefits .of tumor marker testing to doctors treating within the hospital's catchment area. The hospital could also review the pricing of the tests as a means of increasing utilization. Bibliography : 22 (1987 - 2001)

Read More
B-555
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herita Mardiani; Pembimbing: Amila Megraini; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Yuli Prapanca Satar, Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan
Abstrak:
Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) merupakan organisasi pelayanan kesehatan dengan modal besar yang bila tidak dikelola dengan baik akan mengalami kerugian. Oleh karena itu, RSKD harus selalu mempunyai hubungan komunikasi yang harmonis dengan publiknya agar selalu mendapat dukungan positif. Untuk mencapai tujuan ini organisasi memerlukan penghubung yang akan menjembatani komunikasi dua arah timbal balik antara organisasi dengan publiknya. Status RSKD sekarang sebagai rumah sakit yang mempunyai hak otonom mengharuskan RSKD meningkatkan kemampuannya disemua bidang. RSKD harus menjadi rumah sakit yang paling tidak dapat menghidupi diñ seridiri, sehingga RSKD pedu Iebih memasyarakatkan keberadaannya. Semua ¡ni merupakan alasan kuat periunya dibentuk bagian kehumasan lagi atau bagian Public Relations (PR). Oleh sebab itu, dalam rangka mempersiapkan bentuk dan struktur organisasi yang baru sesuai dengan status RSKD sebagai Perusahaan Jawatan (PERJAN), dan sebagai persiapan pembentukan kehumasan atau public relations perlu dilakukan peneitian tentang persepsi stakesholders RSKD terhadap peran PR di rumah sakit. Penelitian dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam (lndepth-interview) kepada informan yang masing-masing mewakili stake holders internal dan eksternal RSKD. Metoda penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat deskritif dengan melakukan penilaian secara kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan persepsi para informan adalah sebagai berikut RSKD sebagai Rumah Sakit Pusat Kanker Nasional Dan Rujukan Tertinggi untuk pelayanan kanker di Indonesia membutuhkan satu bagian yang merupakan fungsi melekat pada manajemen yaitu Public Relations. Diharapkan letak PR tersebut dalam struktur organisasi Iebih dekat dengan pimpinan puncak. Praktisi PR yang dipUíh dapat laki-laki atau perempuan dengan latar belakang pendidikan tambahan mengenai public relations terutama jika berasal dan bidang kesehatan. Tetapi yang Iebih penting adalah kemampuannya, walaupun kepnbadiari dan keluwesannya serta daya tanknya juga harus diperhitungkan.

Dharmais Cancer Hospital (RSKD) as healthcare organization with large capital that will be profitable if it is managed in good manner. Therefore the hospital has to maintain a good relationship with the public to gain positive support from them. Dual communication is a link to bridge between the public and the organization. It is a private hospital RSKD ¡s entitled to gain their own income, and raise its ability in all aspects. RSKD should be survive by its own income, with no any interfer from other organization, then RSKD should more inform their existence to the community. All of these are a strong reason that Public Relations most needed. Therefore, in order to prepare the organization structure in accordance as RSKD`s status as a private organization, and developing Public Relations a perception of RSKD's stakeholders to the role of Public Relations must be done. Research by in depth interview to the surveyor which as internally and externally RSKD's stakeholders. Using a research method of descriptive and qualification observation. Based on the result of this research, it has been determine that RSKD as a National Cancer Hospital Center required a Public Relation. Nearly hatf said PR should be part of the Top Management. Gender is not an issue to be a PR practision as a background PR education is the most important especially if they have medical education. Above of all are their capability is the most important but personality and hospitality should be count as well.
Read More
B-548
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mangapul Manurung; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Tri Yunis Miko Wahyono, Lia Gardenia
B-583
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive