Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29476 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hardini Tri Indarti; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Asri C. Adisasmita, Sukamto Koesnoe, Ijun Rijwan Susanto
Abstrak: Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit autoimun yang mengakibatkan peradangan di banyak organ. Prevalensi LES terus meningkat dan angka mortalitasnya pun tinggi. Etiologi LES sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor risiko yang diduga dapat mempengaruhi kejadian LES. Salah satunya adalah riwayat alergi obat, terutama antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat alergi antibiotik dengan kejadian LES setelah dikontrol oleh variabel kovariat berupa riwayat keluarga menderita LES, riwayat menderita penyakit autoimun lain, usia menarche, dan perilaku merokok di RSUP Dr. Hasan Sadikin Kota Bandung. Penelitian ini dilakukan bulan April-Juli 2014 dengan menggunakan desain kasus kontrol. Kasus adalah pasien LES wanita yang berobat ke Poli Rematologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Kota Bandung. Kontrol merupakan pasien wanita yang berobat ke Poli Penyakit Dalam dengan dilakukan individual matching dengan kasus pada usia (rentang 3 tahun), dan asal daerah. Data dianalisis dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat dengan uji regresi logistik conditional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat alergi antibiotik cenderung meningkatkan risiko kejadian LES sebesar 2,34 kali (OR=2,34, 95% CI 0,66-8,22) setelah dikontrol oleh riwayat keluarga LES, riwayat autoimun, dan perilaku merokok. Untuk kelas antibiotik penisilin/sefalosporin, risiko meningkat menjadi 2,75 kali (OR=2,75, 95% CI 0,65-11,59). Kata kunci : LES, alergi antibiotik, matched kasus kontrol
Systemic Lupus Erythematosus ( SLE ) is an autoimmune disease that results in inflammation in many organs. The prevalenceof SLE is increasing and the mortality rate was high. Etiology of SLE has not known. However , several risk factors could be expected to affect the incidence of SLE . One of them is a history of drug allergies, especially antibiotics. This study aimed to determine the relationship between antibiotic allergy history and SLE after controlled by family history,other autoimmune disease, age of menarche, and smoking behavior in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. This study was conducted from April to July 2014 using case-control design. Cases were women SLE patients who went to Rheumatology Department Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Control were a female patient who went to Internist Department with individually matched at the age ( 3 years range ), and region. Data were analyzed with univariate, bivariate , and multivariate conditional logistic regression. The results showed that a history of antibiotic allergy tends to increase the incidence of SLE for 2.34 times ( OR = 2.34 , 95 % CI 0.66 to 8.22 ) after controlled by SLE family history, history of autoimmune, and smoking behavior. For the class of penicillin/cephalosporin, the risk increased to 2.75 times ( OR = 2.75 , 95 % CI 0.65 to 11.59) . Keywords : SLE , antibiotic allergy , matched case-control
Read More
T-4294
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Betty Weri Yolanda Nababan; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Siti Nadia Tarmizi, Yovita Hartantri
T-4653
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asep Zaenal Mustofa; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Nasrin Kodim
T-1996
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesty Lusinta; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Asri C Adisasmita, Samad
Abstrak:

Sepsis neonatal merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas tersering pada neonatus. Ketepatan pemberian antibiotik empirik memegang peranan penting dalam keberhasilan terapi. Kegagalan terapi antibiotik yang biasanya dikaitkan dengan terapi empirik, terjadi jika tujuan pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi tidak tercapai, yang ditandai dengan menetapnya atau bahkan memburuknya manifestasi klinis infeksi pada pasien, namun definisi pasti belum ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan model prediksi dari faktor-faktor yang berhubungan dengan kegagalan terapi antibiotik empirik lini I pada pasien sepsis neonatal di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro.  Penelitian dilakukan dengan desain kohort retrospektif pada 237 pasien dengan sepsis neonatal. Analisis multivariat dengan regressi poisson dilakukan untuk mendapatkan model akhir dari faktor-faktor yang berhubungan. Selanjutnya dilakukan konversi nilai koefisien β menjadi nilai skor untuk membentuk model prediksi. Model akhir yang didapat dilakukan analisis diskriminasi dengan menilai area under curve (AUC) pada kurva receiver operating characteristics (ROC) dan titik potong yang optimal akan ditentukan berdasarkan total skor. Hasil penelitian diperoleh proporsi kegagalan terapi antibiotik empirik lini I sebesar 46,41%. Faktor yang berhubungan dengan kegagalan terapi antibiotik empirik lini I adalah berat lahir < 2500 gram (aRR 1,46, p-value 0,028, IK95% 1,04-2,05), tidak mendapat ASI (aRR 1,66, p-value <0,005, IK95% 1,28-2,14), rujukan (aRR 1,25, p-value 0,090, IK95% 0,96-1,63), leukosit yang tidak normal (aRR 1,31, p-value 0,080, IK95% 0,96-1,79), trombosit yang tidak normal (aRR 1,66, p-value <0,005, IK95% 1,30-2,12) dan netrofil yang tidak normal (aRR 1,47, p-value 0,003, IK95% 1,14-1,89). Model prediksi ini mempunyai nilai AUC 0,7661 (IK95% 0,70890 – 0,82013). Ditetapkan titik potong sebesar ≥ 29 dengan nilai sensitifitas 80,00% dan spesifisitas 62,20%. Kesimpulan penelitian ini adalah model prediksi yang diperoleh cukup baik untuk memprediksi kegagalan terapi antibiotik empirik lini I. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan desain penelitian yang lebih baik menggunakan prediktor yang lebih spesifik.


 

Neonatal sepsis is one of the most common causes of morbidity and mortality in neonates. Accuracy in administering antibiotics empirically plays an important role in the success of therapy. Failure of antibiotic therapy, which is usually associated with empiric therapy, occurs if the goal of administering antibiotics to treat infection is not achieved, which is characterized by persistence or even worsening of the clinical infection manifested in the patient, but a definite definition has not been established. This study aims to identify and develop a predictive model of factors associated with failure of first line empiric antibiotic therapy in neonatal sepsis patients at RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro.  The study was conducted with a retrospective cohort design on 237 patients with neonatal sepsis. Multivariate analysis with Poisson regression was carried out to obtain a final model of related factors. Next, the β coefficient value is converted into a score value to form a predictive model. The final model obtained by discrimination analysis is carried out by assessing the area under curve (AUC) on the receiver operating characteristic (ROC) curve and the optimal cut point will be determined based on the total score. The results of the study showed that the proportion of failure of first line empirical antibiotic therapy was 46.41%. Factors associated with failure of first line empiric antibiotic therapy were birth weight < 2500 grams (aRR 1.46, p-value 0.028, 95%CI 1.04-2.05), not receiving breast milk (aRR 1.66, p -value <0.005, 95%CI 1.28-2.14), outborn (aRR 1.25, p-value 0.090, 95%CI 0.96-1.63), abnormal leucocite (aRR 1.31, p-value 0.080, CI95% 0.96-1.79), abnormal platelet values (aRR 1.66, p-value <0.005, 95%CI 1.30-2.12) and abnormal neutrophils (aRR 1.47, p-value 0.003, 95%CI 1.14-1.89). The predictive model has an AUC value of 0.7661 (95%CI 0,70890 – 0,82013). The cut point was set at ≥ 29 with a sensitivity value of 80.00% and specificity of 62.20%. The conclusion of this study is that the predictive model obtained is good enough to predict failure of first line empirical antibiotic therapy. Further research needs to be carried out with a better research design using more specific predictors.

Read More
T-7086
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Soraya Permata Sujana; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Hartono, Ririn Arminsih Wulandari, Arif Sumantri, Hermawan Saputra
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, terutama di Jawa Barat. Kabupaten Bogor, Kota Bandung, dan Kota Bekasi merupakan tiga wilayah dengan jumlah kasus TB tertinggi di provinsi tersebut. Faktor lingkungan (kepadatan penduduk, ketinggian wilayah, dan cakupan rumah sehat) diduga berperan dalam meningkatkan kejadian TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian TB dan korelasi faktor lingkungan terhadap kejadian TB, serta menganalisis sebarannya secara spasial untuk mengidentifikasi wilayah risiko tinggi untuk diintervensi. Penelitian ini merupakan studi ekologi menggunakan data sekunder tahun 2022–2024 dari Dinas Kesehatan, BPS, dan BIG. Analisis dilakukan secara deskriptif, korelasi, pemetaan spasial, dan kerawanan menggunakan aplikasi SPSS dan QGIS. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan tren kejadian TB di ketiga wilayah. Terdapat korelasi antara kepadatan penduduk dan cakupan rumah sehat terhadap kejadian TB di Kabupaten Bogor dan Kota Bandung, namun tidak di Kota Bekasi. Ketinggian wilayah tidak menunjukkan hubungan dengan kejadian TB diketiga wilayah. Sebaran faktor lingkungan terhadap kejadian TB menunjukkan adanya variasi antarwilayah. Pemetaan secara spasial mengidentifikasi Kota Bandung sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Intervensi pengendalian TB berbasis wilayah diperlukan dan difokuskan pada daerah dengan kepadatan dan kerawanan tinggi. Diharapkan surveilans epidemiologi aktif (active case finding) terus dilakukan, mengembangkan sistem informasi TB spasial secara real-time yang terintegrasi dengan data surveilans aktif, menjalin kerjasama lintas sektor, mengevaluasi standar penilaian rumah sehat, mendorong regulasi daerah terkait TB, serta meningkatkan partisipasi masyarakat untuk pengendalian TB, terutama di wilayah padat penduduk dan berisiko tinggi.


Tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a significant public health problem in Indonesia, particularly in West Java. Bogor Regency, Bandung City, and Bekasi City are among the regions with the highest number of TB cases in the province. Environmental factors such as population density, altitude, and healthy housing coverage, are suspected to contribute to the incidence of TB. This study aims to describe the incidence of TB, examine the correlation between environmental factors and TB cases, and analyze the spatial distribution to identify high-risk areas for targeted intervention. This ecological study used secondary data from 2022 to 2024 obtained from the Health Office, Statistics Indonesia (BPS), and the Geospatial Information Agency (BIG). Analyses were conducted using descriptive statistics, correlation tests, spatial mapping, and vulnerability assessment through SPSS and QGIS applications. The results showed an increasing trend in TB cases across all three regions. A significant correlation was found between population density and healthy housing coverage with TB incidence in Bogor and Bandung, but not in Bekasi. Altitude was not associated with TB incidence in any of the regions. The spatial distribution revealed variations in environmental factors related to TB incidence between regions. Bandung City was identified as having the highest level of TB vulnerability. Area-based TB control interventions are therefore necessary, particularly in densely populated and high-risk areas. It is recommended to strengthen active epidemiological surveillance (active case finding), develop a real-time spatial TB information system integrated with surveillance data, establish cross-sectoral collaboration, evaluate the standards for healthy housing assessment, promote local regulations related to TB control, and enhance community participation in TB prevention, especially in densely populated and high-risk areas.
Read More
T-7396
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vera Febria; Pembimbing: Helda; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Anna Maria Sirait
S-9197
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Kalsum Supardi; Pembimbing: Mondastri Korip Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko, Suhardini. Diah Wati Soetojo
Abstrak: Kolaborasi jangka panjang (Subdit TB dengan Dinas PUPNR) mengenai kebijakan dan pemberian (IMB) diperlukan untuk mengurangi pembangunan tanpa didahului studi kelayakan berwawasan lingkungan rumah sehat seperti penerapan (AMDAL), rancangan Plan Of Action/framework dan Kolaborasi layanan di tingkat kader TB yang selanjutnya ke tingkat FKTP semakin diperkuat, serta perlu dipertimbangkan kembali untuk melaksanakan program penemuan active case finding khususnya pada individu yang memiliki lingkungan rumah tidak sehat.
Read More
T-5576
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muchsin; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Krisnawati Bantas, Ronny Yoesyanto Pragono
Abstrak: Stroke merupakan penyebab kematian nomor dua didunia setelah penyakit jantung iskemik dengan 6,7 juta kematian. Personel TNI AL baik yang aktif maupun telah purnawirawan berisiko untuk terjadinya penyakit stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian stroke pada personel TNI AL dengan riwayat diagnosis stroke Tahun 2013-2015 di Poli Penyakit Saraf RSAL dr. Mintohardjo. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan jumlah sampel 64 kasus dan 64 kontrol. Penelitian ini dilakukan di Poli Penyakit Saraf RSAL dr. Mintohardjo pada bulan Juni-Juli 2015. Kasus adalah personel TNI AL yang berkunjung ke Poli Penyakit Saraf RSAL dr. Mintohardjo dengan riwayat diagnosis stroke serangan pertama (2013-2015) oleh dokter spesialis saraf berdasarkan pemeriksaan neurologis dan atau pemeriksaan CT scan. Pemilihan kasus dan kontrol dalam penelitian ini dilakukan dengan tehnik consecutive sampling. Berdasarkan hasil analisis multivariat risiko kejadian stroke pada personel TNI AL, maka dapat disimpulkan faktor risiko penyebab stroke pada personel TNI AL (aktif dan pensiun) adalah riwayat hipertensi dengan (OR 5,1, 95% CI 2,01-12,63), riwayat stroke pada keluarga (OR 3,3, 95% CI 1,08-10,16) , dan umur 55-65 tahun (OR 4,6, 95% CI 1,1-19,14). Oleh karena itu diperlukan upaya pencegahan dan deteksi dini terhadap penyakit hipertensi serta prilaku hidup sehat bagi personel TNI AL yang mempunyai riwayat stroke pada keluarga. Kata kunci : Stroke, RSAL Mintohardjo
Read More
T-4517
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yani Dwiyuli Setiani; Pembimbing: Dewi Susanna, Tris Eryando; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Rachmat Suherwin, Iman Suhendar
Abstrak:
Selama tiga tahun terakhir, seluruh kelumhan di Kota Cirebon dinyatakan sebagai kelurahan endemis DBD. Kejadian penyakit DBD Kota Cirebon setiap tabun selalu meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 2006 sebanyak 507 kasus. Meakipun prosentase angka kematian DBD Kota Cirebon dari tahun ke tahun mengalami penurunan akan letapi masih diatas angka nasional (1%). Tujuan pene1itian ini adalah untuk mengetahui gambaran kejadian penyalcit DBD dan po1a hubungan secara spasial antara faktor risiko lingkungan iklirn (saku udara, kelembaban, curah hujan), faktor kependudukan (kepadatan penduduk, kepadntan permukirnan, peududuk usia kurang dari 15 tahun) dan Angka Bebas Jentik (ABJ) terhadap kejadian DBD di Kota Cirebon dari tahun 2005 - 2007. Hasil analisis spasial memperlihalkan bahwa kasus DBD (2005-2007) banyak menyebar di wilayah padat permukiman. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan DBD adalah: kelembaban (p=0,043) dan penduduk usia kurang dari 15 tahun (p=0,027) terjadi ditahun 2005. Tahun 2007 variabel yang berhubungan dengan DBD adalah curah hujan (p=0,008), sedangkan tahun 2006 tidak ada variabel yang berhubungan. Distribusi yang hampir merata disemua variabel memberikan hasil tidak berhubungan.

During the last three years, all sub-districs at Cirebon Clty finding expression as endemics area of dengue fever. The incident rate of dengue fever at Cirebon City is always increasing every years and reaches the top in 2006 with 507 cases. Although the death rate percentage at Cirebon City are decreasing every year but still above the national rate). Objectives of research to find out the image of the incident rate of dengue fever and model of relationships spatialy between environmental risk factor of climate (temperature, humidity. and rainfall), demographics factors (population density. residences density, population of age lowest than 15 years) and Larva Free Rate (LFR) ofDHF incident at Cirebon City from year2005 to 2007. Design of the study used ecology design of time trend studies. The incident rate of dengue fever for look according to the time diffusion every years per sub-districs as analysis unit with making the secondary data. The analysis data is variable with dengue fever is rainfall {p""'0,008). whereas in 2006 years no associate variable with dengue fever.
Read More
T-2911
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosita; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah Masjkuri; Penguji: Penguji: Tri Yunis Miko, Yuliandri
S-5549
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive