Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38361 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Masdalina Pane; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Krisnawati Bantas; Rahmatsyah Said; Ratna Mardiati
Abstrak:

Masalah penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) merupakan salah satu masalah besar dan kebanyakan terjadi pada kelompok usia produktif yang sampai saat ini belum dapat diatasi. Pada tahun 2001 pengguna Napza di Indonesia mencapai lebih dari 2 juta jiwa dengan kematian akibat Over Dosis sebanyak 17.16 %. Sebagian besar pengguna yaitu 1.3 juta jiwa tinggal di wilayah Jakarta dan diperkirakan 35 % siswi SMU dari 64 sekolah di Jabotabek ditemukan sebagai pengguna berat dan pengedar Napza.Penelitian ini bertujuan untuk melihat berapa besar kontribusi penggunaan tehnik parenteral terhadap kejadian terpapar virus Hepatitis B dan C pada populasi pengguna Napza di Pusat Pemulihan Napza di wilayah Jabotabek. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan cross sectional, dengan jumlah sampel 201 orang di dapat dari catatan medis penderita yang dirawat dari Januari - November 2001.Hasil penelitian didapatkan Prevalensi kejadian terpapar virus Hepatitis B sebesar 43.6% dan prevalensi kejadian terpapar virus Hepatitis C sebesar 69.1%, untuk hubungan kejadian terpapar virus Hepatitis B didapatkan hasil: Tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan tehnik parenteral dengan kejadian terpapar virus Hepatitis B setelah dikontrol variabel lain dengan risiko 2A68 (CI 0.893-5.262). Untuk Hepatitis C ada hubungan bermakna secara statistik antara penggunaan tehnik parenteral dengan kejadian terpapar virus Hepatitis C setelah dikontrol variabel lain dengan risiko lebih tinggi yaitu 37.334 kali lebih tinggi (CI 12.455 - 11L911). Dapat disimpulkan bahwa tehnik parenteral memberikan kontribusi sebesar 44.7 % untuk menyebabkan kejadian terpapar virus Hepatitis B dan 92 % untuk menyebabkan kejadian terpapar virus Hepatitis C.Saran yang diberikan berupa : informasi tentang bahaya penggunaan Napza dan bahaya tambahan dari penggunaan jarum suntik dan alat sayat (tehnik parenteral) bersama-sama, gerakan lintas sektor untuk meminimasi distribusi dan utilisasi Napza, saat ini kita mungkin harus mulai terbuka untuk membuat klinik-klinik khusus yang dapat mengakomodasi kepentingan pengguna melalui kontrol terhadap pemakaian dan tehnik penggunaan terutama untuk pengguna lama yang sulit direhabilitasi dan untuk pengguna kambuhan. Tetapi yang jauh lebih penting dari itu adalah memperkuat fungsi dan peran keluarga agar keluarga dapat melakukan deteksi dini terhadap tanda-tanda penggunaan Napza untuk mencegah penggunaan berlanjut.Daftar bacaan: (1976 - 2001)


 

Contribution of Parenteral Technique due to Hepatitic B and Hepatitic C Viral Expose at Drug Users in Centre of Rehabilitation 2001Narcotics, Psychotropic and others addictives (NAPZA) abuse problem is one of the biggest problems and it's happen  to productive period in life and have not solved yet. In 2001 there is more than 2 million people use NAPZA with 17.16% mortality caused over dose. A lot of drug users about 1.3 million people live in Jakarta and estimated at 35% of them are SMU students from 64 schools in Jabotabek as chronic users and seller.Objective for this research to know contribution of parenteral technique due to Hepatitic B and C Viral expose at drug users population whom rehabilized in centre of rehabilitation in Jabotabek. This research use cross sectional design, sample size 201 users have been rehabilized, collecting data come across Laboratories examinations and justify with medical diagnose in medical records.Results from this research are Prevalence rate for Hepatitic B viral expose occur to 43.6% and Prevalence rate for Hepatitic C viral expose occur to 69.1%. There are not significant relationships between parenteral techniques to be Hepatitic B Viral expose after controlled by another variables with 2.168. 95% CI (0.893-5.262) and There are a significant relationships between parenteraI technique to be Hepatitic C Viral expose after controlled by another variables with 37. 95% CI (12.55-111.911). Conclusion for this research are : Parenteral technique gives 44.7 % contribute to Hepatitic B viral ekspose and 92% contribute to Hepatitic C viral expose.Suggestion of this research are: Give right information about effect using NAPZA and addictive hazard from use parenteral technique and laserate aids together. Intersector action to minimize distribution and utilization drugs. Today we must be make specialize clinics to accommodate users by control about using and parenterel technique to chronical users and relapse users. But one of very important thing are makes family function and role to early detection the symptom of using drugs to prevent chronic users.References: 30 (1976-2001)

Read More
T-1249
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faisal; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Ella Nurlaella Hadi, Rino Alvani Gani; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratna Djuwita, Hanifah Oswari, Agus Handito
Abstrak: Latar Belakang: Program nasional Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) untuk ibu hamil merupakan strategi utama untuk mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke anak/ mother-to-child transmission (MTCT). Sekitar 90% bayi yang tertular dari ibu dengan HBsAg reaktif akan berkembang mengalami hepatitis B kronik. Imunisasi merupakan salah satu upaya pencegahan, namun belum bisa sepenuhnya mencegah penularan Hepatitis B pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan terhadap hepatitis B pada anak, membuat model probabilitas kejadian hepatitis B pada anak, dan menelaah penerapan program DDHB sebagai tindakan pencegahan dan pengendalian MTCT. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan concurrent mixed method, penelitian kuantitatif dengan desain studi kohort retrospektif dilakukan dengan melibatkan 166 pasangan ibu-anak, ibu dipastikan memiliki infeksi hepatitis B (HBsAg-positif) berdasarkan skrining saat melakukan ANC. Sedangkan penelitian kualitatif menggunakan desain studi kasus melalui indepth-interview kepada 23 informan. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil: Analisis multivariat menggunakan GLM binomial link log dilakukan untuk menghitung risk rasio (aRR) dari faktor risiko yang berhubungan dengan hepatitis B pada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan kadar HBV-DNA tinggi (>106 copies/mL) memiliki risiko lebih tinggi untuk menularkan HBV kepada anaknya (aRR=2,9; 95%CI=1,37-6,20). Anak yang tidak mendapat HBIg (aRR=5,6; 95%CI=2,28-13,76), tidak vaksin HB-0 (aRR=2,9; 95%CI=1,37-6,20), tidak vaksin HB-1 (aRR=10,4; 95%CI=5,23-20,87), dan tidak vaksin HB-2 (aRR=12,1; 95%CI=5,21-28,35) memiliki risiko infeksi HBV yang lebih tinggi. Adapun anak dengan kadar HBV-DNA ibunya yang tinggi (>106 copies/mL), tidak mendapat HBIg, tidak vaksin HB-0, tidak vaksin HB-1, dan tidak vaksin HB-2 memiliki probabilitas kejadian hepatitis B sebesar 94%. Kesimpulan: Temuan ini menekankan pentingnya program DDHB bagi ibu hamil dalam mengidentifikasi kadar HBV-DNA untuk memfasilitasi terapi antivirus sesuai kebutuhan. Begitupun pemberian HBIg dan vaksin hepatitis B (HB-0, HB-1, dan HB-2) kepada anak sangat efektif dalam mengurangi risiko penularan hepatitis B pada anak, menjadikannya sebagai strategi penting dalam mencegah infeksi hepatitis B pada anak. Saran: Program DDHB perlu dioptimalkan secara komprehensif, sejak tindakan skrining pada ibu hamil, melaksanakan pemeriksaan HBV-DNA pada ibu hamil yang HBsAg reaktif, serta meningkatkan cakupan pemberian HBIg dan vaksinasi hepatitis B (HB-0, HB-1, dan HB-2) pada anak.
Background: The national Early Detection of Hepatitis B (DDHB) program for pregnant women is a key strategy to prevent mother-to-child transmission (MTCT) of hepatitis B. With approximately 90% of infants born to HBsAg-positive mothers developing chronic hepatitis B, immunization remains crucial but does not fully eliminate the risk of transmission. This study aimed to analyze risk factors contributing to hepatitis B in children, develop a probability model for its occurrence, and evaluate the implementation of the DDHB program as a preventive and control measure for MTCT. Methods: This study employed an explanatory mixed-methods approach. The quantitative component used a retrospective cohort design involving 166 mother-child pairs, where mothers were confirmed to have hepatitis B infection (HBsAg-positive) through antenatal care (ANC) screening. The qualitative component utilized a case study design with in-depth interviews conducted with 23 informants. The research was carried out in Makassar City and Gowa Regency, South Sulawesi Province. Result: A multivariate analysis using a binomial GLM with a log link was conducted to calculate the adjusted risk ratio (aRR) for factors associated with hepatitis B in children. The results indicated that mothers with high HBV-DNA levels (>106 copies/mL) had a significantly increased risk of transmitting HBV to their children (aRR=2.9, 95%CI=1,37-6,20). Children who did not receive hepatitis B immunoglobulin (HBIg) (aRR = 5.6, 95%CI=2,28-13,76), did not vaccinate HB-0 (aRR = 2.9, 95%CI=1,37-6,20), did not vaccinate HB-1 (aRR = 10.44, 95%CI=5,23-20,87), or did not vaccinate HB-2 (aRR = 12.11, 95%CI=5,21-28,35) were at significantly higher risk of HBV infection. Additionally, children born to mothers with high HBV-DNA levels (>106 copies/mL) who did not receive HBIg, HB-0, HB-1, and HB-2 vaccines had a 94% probability of hepatitis B occurrence. Conclusion: These findings emphasize the importance of the DDHB program for pregnant women in identifying HBV-DNA levels to facilitate antiviral therapy as needed. Furthermore, the administration of HBIg and hepatitis B vaccines (HB-0, HB-1, and HB-2) to infants is highly effective in reducing the risk of MTCT, making it a vital strategy in preventing hepatitis B infections in children. Recommendation: The DDHB program should be comprehensively optimized, starting with screening for pregnant women, conducting HBV-DNA testing on pregnant women who are HBsAg reactive, and enhancing the coverage of HBIg administration and implementation of the hepatitis B vaccination (HB-0, HB-1, and HB-2) for children.
Read More
D-555
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Noor Azzahra; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Suparmi
Abstrak:
Dilaporkan terdapat 38,4 juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2021 dan terdapat sebanyak 58 juta kasus kasus kronis Hepatitis C pada tahun 2019. Pengguna NAPZA suntik merupakan populasi yang paling rentan untuk terinfeksi kedua virus ini akibat jalur transmisi kedua virus ini yang sangat besar melalui jarum suntik tidak steril. Kedua penyakit ini dapat terjadi secara bersamaan yang menyebabkan percepatan progres keduanya menjadi kronis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV untuk mencegah penyebaran yang lebih lanjut dengan melakukan analisis bivariat dengan menggunakan chi-square dan melihat crude prevalence rate. Studi cross-sectional dari data STBP 2018-2019 di tujuh kabupaten/kota Jawa Barat populasi Penasun dilakukan dan didapatkan bahwa positivity rate koinfeksi HIV/HCV pada Penasun mencapai sebesar 9%. Ditemukan bahwa terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawninan, riwayat dipenjara, usia pertama kali menggunakan NAPZA suntik, lama menggunakan NAPZA suntik, pernah menggunakan alat suntik tidak steril, usia pertama kali berhubungan seksual, hubungan seksual satu tahun terakhir, penggunaan kondom dengan pasangan tetap, pengetahuan komprehensif HIV, akses LASS, dan akses PTRM dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV. Dari hasil tersebut diperlukan intervensi yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi tingginya kejadian koinfeksi HIV/HCV pada Penasun.

There are 38.4 million people reported living with HIV in 2021 and there are as many as 58 million cases of chronic hepatitis C cases in 2019. Injecting drug users are the most vulnerable population to be infected with these two viruses due to the transmission routes of these two viruses via unsterile needles. These two diseases can occur simultaneously which causes the accelerated progress of both infections to become chronic. This study aims to look at the factors associated with the incidence of HIV/HCV coinfection to prevent further spread by conducting bivariate analysis using chi-square and looking at the crude prevalence rate. A cross-sectional study of 2018-2019 IBBS data in seven districts/cities of West Java of the IDU population was conducted and it was found that the positivity rate of HIV/HCV coinfection in IDU reached 9%. It was found that there was a relationship between age, gender, education level, marital status, history of imprisonment, age at first injecting drug use, duration of injecting drug use, ever using unsterile injecting equipment, age at first sexual intercourse, sexual intercourse in the past year, use of condoms with regular partners, comprehensive knowledge of HIV, access to sterile syringe service, and access to methadone treatment, with HIV/HCV coinfection. From these results, appropriate interventions are needed to prevent and overcome the high incidence of HIV/HCV co-infection among IDU.
Read More
S-11342
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vella Ovelia; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Nurhalina Afriana
S-9222
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Lita Herliana; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Firy Triyani
S-9792
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lintang Dian Saraswati; Ratna Djuwita Hatma, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Suhartono, Praba Ginandjar
Abstrak:

Latar belakang: Tenaga kesehatan berpotensi untuk terkena Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus HepatitIs C, dan Virus Hepatitis B yang penularannya lewat darah. Tertusuk jarum suntik dapat membahayakan tenaga kesehatan di rumah sakit. Tujuan: Diketahuinya riwayat tertusuk jarum suntik yang berhubungan dengan terjadinya kejadian Hepatitis B atau C pada tenaga kesehatan di RS Dr.Kariadi Semarang Tahun 2008. Metode: Desain cross sectional dengan melakukan wawancara dan pengambilan darah pada 225 kelompok terpapar (kelompok riwayat tertusuk jarum suntik >2 kali) dan 225 kelompok riwayat tertusuk jarum suntik < 2 kali). Analisis data univariat, bivariat dan multivariat dengan interaksi dan confounding. Hasil dan diskusi: Riwayat tertusuk jarum suntik >2 kali berisiko 48,99 kali untuk mengalami Hepatitis B atau C dibandingkan dengan riwayat tertusuk jarum suntik < 2 kali dengan POR sebesar 48,99 95%CI (9,494-252,85) P value 0,000 dan terdapat satu variabel confounding yaitu frekuensi menyuntik yang dapat mendistorsi efek riwayat tertusuk jarum suntik dengan kejadian Hepatitis B atau C. Kesimpulan dan saran: Tenaga kesehatan yang riwayat tertusuk jarum suntik >2 kali dalam 6 bulan memperbesar risiko mengalami kejadian Hepatitis B atau C bila dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang riwayat tertusuk jarum suntik < 2 kali dalam 6 bulan, setelah dikendalikan oleh Riwayat Medis, Paparan Pekerjaan Modis, Unit kerja, Lama Kerja, Jenis Kelamin, Frekuensi Menyuntik, dan Kewaspadaan Universal di RS Dr. Katiadi Tabun 2008. Di anjurkan supaya tenaga kesehatan di RS Dr. Kariadi tidak sampai tertusuk lebih dari satu kali agar tidak terkena Hepatitis B atau C dengan cara meningkatkan praktek pencegahan infeksi, melakukan general check up dimana pemeriksaan Hepatitis B atau C termasuk didalamnya dan dilakukan setahun sekali, bagi tenaga kesehatan yang tertusuk jarum suntik lebih dan sekali sebaiknya segera memeriksakan diri secepatnya untuk mengetahui lebih dini apakah mengalami Hepatitis B atau C, dan sebaiknya tenaga kesehatan dalam sebulan menyuntik tidak lebih dari 8 kali agar tidak mengalami hepetitis B atau C.


Background: Healthcare workers (HCWs) are potentially at risk for human immunodefiCiency virus (HIV), Hepatitis B virus (HBV) and Hepatitis C virus (HeV) infection through occupational exposures to blood and bloody body fluids. Needle stick injuries put healthcare workers at risk of life-threatening infections such as Hepatitis C and Hepatitis B. Aims: A study was designed to determine the risk of needle stick injuries of Hepatitis B Virus (HBV) or Hepatitis C virus (HCV) infections among health care workers in Dr. Kariadi Hospital 2008. Method: Designed cross sectional by interview and blood examination on 225 exposed group (had needle stick injuries more than once in. 6 month ago) and on 225 unexposed group (had needle stick injuries less than twice in 6 month ago). Analysis of data univariate, bivariate and multivariate with interaction and confounding. Results: Needle stick injuries more than once related to Hepatitis B or C with POR 48,99 95%CI (9,494-252,85) P value 0,000 and frequencies of suturing is a confounder. Conclusion: Needle stick injuries more than once related to Hepatitis B or C after controlled by medical history, duration of working, exposure on medical occupation, workplace, sex, universal precautions. and frequencies of suturing. Suggested to health care workers in Dr. Kariadi Hospital do not get needle stick injuries more than once in order to prevent Hepatitis B or C by increasing universal precautions, do general check up including Hepatitis B and C, health care workers who had needle stick injuries more than once are supposed to immediately check up for early diagnostic Hepatitis B or C, and suggested to saturing not more than eight times in a month.

Read More
T-2899
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Herwanti Saputra; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Victoria Indrawati
Abstrak: Angka kasus infeksi HIV terus meningkat dan telah menginfeksi sekitar 36,7 juta penduduk dunia dan 2 juta diantaranya anak-anak dibawah usia 15 tahun. Tingginya prevalensi HIV pada populasi penasun menunjukkan bahwa Penasun merupakan populasi kunci yang penting dalam penyebaran HIV di Indonesia. Penelitian ini untuk mengetahui determinan yang mempengaruhi terjadinya infeksi HIV pada Penasun di Indonesia tahun 2015 dengan menggunakan data sekunder STBP Penasun pada 6 kota besar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI. Sebanyak 1231 penasun diwawancara dan diambil sampel darahnya kemudian di lakukan analisis multivariat regresi cox dan didapatkan prevalensi HIV sebesar 28,8%, 653 (55,2%) pernah menyuntik bersama, 1116 (90,7%) menggunakan jarum bekas pakai, 336 (35%) sedang terapi PTRM. Dari penelitian ini diketahui bahwa pasangan seks dengan sesama penasun beresiko terkena HIV 2,22 kali dibanding yang tidak (95% CI 1,152-4,281, nilai p=0,017), persepsi diri merasa beresiko terkena HIV 1,68 kali kali beresiko terkena HIV (95% CI 1,176-2,406, nilai p=0,004), sharing needle memiliki resiko 1,90 kali terinfeksi HIV (95% CI 0,68-5,35), status sifilis dan riwayat IMS memiliki resiko 1,2 kali terkena HIV dan perilaku penggunaan kondom menunjukkan hasil bermakna (nilai p=0,006) dapat mencegah terkena HIV. Program pengendalian HIV di Indonesia diharapkan dapat lebih memfokuskan intervensi pada populasi kunci (penasun) edukasi pengetahuan HIV, pengobatan dan perilaku preventif.

Kata kunci : HIV, Penasun, sharing needle, pasangan seks, kondom, IMS.

HIV infection cases keep increasing and have been inestmated infecting 36.7 million people in the world and 2 million among them are children below 15 years old. The high prevallence rate of HI among IDUs indiacted IDU is important HIV key population in Indonesia. The aim of this study was to know determinant affecting HIV infection among IDUs in Indonesia in year 2015 by using secondary data of IBBS (STBP) among IDUs in 6 big cities done by Ministry of Health (Kemkes RI). In IBBS/STBP study about 1231 IDUs were interviewed and taken their blood samples. In study we used multivariate analysis using Cox regrssion analiysis and found that the HIV prevalence rate was 28.8%. About 55,2% have shared needles, 90,7% have used already used needles, 35% have been following methadone substitution therapy. From this study we also found that having IDUs sex partner increased risk to get HIV infection for about 2,22 times as compared those did not have (95% CI of PR: 1,152- 4,281, p-value=0,017), Self perception that ones being at risk of HIV increased risk to get HIV infection 1,68 times (95% CI 1,176-2,406, nilai p=0,004), sharing needle increased risk to get infected by HIV 1,90 times (95% CI 0,68-5,35), status of Sifilis infection and STI (sexual transmitted infection) both increased risk 1,2 times and condom use had protective effect and showed signficant association (p-value=0,006). HIV control programs in Indonesia were expected to be more focus on intervention toward key population of IDUs in areas of education to increase knowledge of HIV, therapy and behavior intervention.

Kata kunci : HIV, IDUs, sharing needle, sex partners, condom, STI.
Read More
T-5430
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afudin; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Julitasari, Eko Priyono, Sumarsinah, Dewi Susana
T-1623
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Priyanto; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
S-3499
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Immi Rizky Budiyani; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Syahrizal Syarif, Endang Suharjanti
S-7819
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive