Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33239 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
C. Yekti Praptiningsih; Pembimbing: Bambang Sutrisna
T-775
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ismania Osnita; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Dian Ayubi, Ella Nurlaela Hadi, C. Yekti Praptininsih, Rusmiyati
Abstrak:
Dalam rangka upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang optimal diperlukan pelayanan kesehatan yang berkualitas yang menjangkau semua lapisan (Depkes, 1999). Dimana salah satu masalah kesehatan yang dihadapi di Indonesia adalah masih tingginya kematian balita karena pneumonia, pada tahun 1990 sebanyak 150.000 kematian dan diharapkan tahun 2000 turun menjadi 50.000 kematian melalui pengobatan yang sesuai dengan standar kasus ISPA. Puskesmas adalah salah satu unit pelayanan kesehatan terdepan yang juga perlu meningkatkan kualitas pelayanan. Untuk itu semenjak tahun 1998 puskesmas Kota Padang sudah melaksanakan program jaminan mutu (Quality Assurance), yang salah satu kegiatannya adalah menerapkan kepatuhan petugas dalam menerapkan SOP ISPA pada balita. Setelah 6 (enam) bulan pelaksanaan kegiatan ini terlihat bahwa kepatuhan petugas sudah mencapai 70%-80% namun sesuai dengan hasil laporan puskesmas ternyata pada bulan Juni tahun 2000 kepatuhan petugas menerapkan SOP ISPA ini bahkan turun yaitu menjadi 40% yang seharusnya sudah mencapai 80%-100%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kepatuhan petugas dalam menerapkan SOP ISPA serta faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan petugas terhadap SOP. Faktor yang diteliti adalah faktor internal yang terdiri dari pelatihan, umur, lama kerja, pengetahuan, persepsi, sikap,dan motivasi sedangkan faktor eksternal yang diteliti adalah komitmen pimpinan dan sarana. Kedua faktor ini merupakan variabel bebas, sedangkan variabel terikat adalah kepatuhan petugas menerapkan SOP ISPA. Disain penelitian yang dipakai cross sectional. Data dianalisis dengan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Dari hasil analisis bivariat didapatkan hanya yang bermakna pengetahuan, motivasi yang berhubungan dengan kepatuhan petugas menerapkan SOP ISPA. Dengan analisis multivariat didapatkan hubungan yang paling kuat antara pengetahuan dengan kepatuhan petugas terhadap SOP ISPA. Dengan hasil penelitian ini diharapkan Dinas Kesehatan Kota Padang dapat menyusun langkah yang akan diambil untuk meningkatkan kepatuhan petugas dalam menerapkan SOP ISPA membantu penyediaan buku pedoman P2ISPA untuk puskesmas pembantu, membuat kebijakan agar puskemas yang bertetangga saling menilai kepatuhan dan memberikan penghargaan pada puskesmas dan petugas yang patuh. Pimpinan puskesmas diharapkan memperhatikan hal-hal yang dapat meningkatkan pengetahuan petugas mengenai SOP ISPA misalnya dengan melakukan pelatihan, memberikan tugas baca pada petugas dan juga memperhatikan hal-hal yang dapat meningkatkan motivasi petugas. Dengan demikian dalam menerapkan SOP ISPA ini petugas akan masuk ke tahap kepatuhan internalisasi yaitu petugas memahami makna dari pemberian pelayanan yang berkualitas sehingga masyarakat puas menerima pelayanan yang diberikan yang akhirnya angka kematian balita karena pneumonia dapat diturunkan.

Factors relate to compliance of health personnel to ARTI Standard Operating Procedure in Mother and Children Unit of Community Health Center in Padang, 2000High quality services that can be afford able by all community level in to increase the community health of the Indonesia people to its optimum level is needed. One of the health problems faced by Indonesia is high infant mortality rate due to pneumonia. In 1990 there were 150.000 deaths due to pneumonia to reduce to 50.000 in the year 2000 by applying standard important case management. The community health center is one important service to increase the quality service. Therefore, since 1998 the community health center of Padang has performed Quality Assurance program, in which one of its activities to ensure the compliance of the health personnel in applying ARTI Standard Operating Procedure in infants. After 6 months of this activity it can be seen that the health personnel compliance has achieved 70-80%. However, according to the report of the community health in June 2000 the compliance of the health personnel declined to 40% while it should have achieved 80-100%. The purpose of this research is to identify the health personnel compliance in applying the ARTI Standard Operating Procedure and factors related to the compliance towards the SOP. The factors studied are internal factors such as times enlarge from training, age, tenure, knowledge, perception, attitudes, and motivation while external factors are commitment of supervisor and availability of facilities. All of those factors are independent variables, while dependent variable is the health personnel compliance to apply the ARTI Standard Operating Procedure. The research design used is cross-sectional. Data are analyzed in invariable bivariate and mulivariate analysis. Bivariate analysis reveals than only two rates of those independent variables, namely knowledge and motivation is related with health personnel compliance in applying the ARTI Standard Operating Procedure. The result of multivariate analysis reveals that the strongest relationship is between knowledge and compliance of health personnel towards the ARTI Standard Operating Procedure. Based on the result it is regicides than the Padang Health Office prepare steps to increase the compliance of the health personnel in applying the ARTI Standard Operating Procedure, by increasing than knowledge by providing guidance book for subsidiary Community Health Center, preparing the policy for the Neighboring Community Health Personnel to assess each other performance and giving rewards to the Community Health Center and personnel that are compliant. It is expected that the Community Health Center forces theirs effort to matters that will increase the knowledge of health personnel regarding ARTI Standard Operating Procedure such as assigning reading to the health personnel and also find ways to increase their motivation. So in applying the ARTI Standard Operating Procedure the health personnel is expected to enter stage of internalization of compliance to understanding the meaning of giving high quality health service to the people that satisfy those receiving the provided service. In this way it is expected to decrease the mortality rate due to pneumonia in the future.
Read More
T-942
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Robert Talasa; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Yekti Praptiningsih, Nandi Pinta
Abstrak: Infeksi Saluran Pernapasan Akut alau ISPA mengakibatkan sekitar 4 juta kematian bayi dan balita di negara berkembang. Di Indonesia penyakit ISPA, khususnya pneumonia mcngakibatkan kematian sekitar 150.000 balita pertahun. begitu juga di Propinsi Sulawesi Tengah, khususnya Kabupaten Donggala, dari seluruh penyakit penyebab kematian pada bayi dan anak balita, pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada bayi, 44,9%, dan anak balita 39,13%.
 
 
Masih tingginva angka kematian karcna ISPA tersebut disebabkan masih rendahnya layanan kesehatan yang berkualitas di Puskesmas terutama upaya kuratif dan rehabilitatif yang kurang mendapat perhatian. Upaya peningkalan pelayanan kesehatan tidak akan tercapai apabila tatalaksana dari setiap kasus belum mengikuti standar baku yang ada, begitu pula dengan sarana pendukung yang belum memenuhi standar baku. Kualitas tatalaksana kasus ISPA pada dasarnya merupakan rangkaian tindakan yang ditentukan oleh ada tidaknya standar, sarana, tenaga terlatih dan program supervisi untuk melaksanakan standar program ISPA yang ada.
 
 
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara faktor petugas, sarana dan logistik, kemampuan menyampaikan pesan dan supervise dengan kualitas tatalaksana kasus bayi dan balita ISPA oleh petugas Puskesmas di Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah Tahun 2001.
 
 
Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 37 puskesmas sedangkan sampel penelitian adalah 20 puskesmas berdasarkan rumus penentuan besar sampel dengan derajat kepercayaan 5% dan derajat ketelitian 12%, kemudian dari 37 puskesmas diambil secara acak hingga tercapai 20 sampel. Unit analisis adalah petugas puskesmas yang menangani kasus ISPA pada bayi dan balita.
 
 
Data dikumpulkan dengan melakukan pengamalan terhadap petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus ISPA pada bayi dan balita yang datang ke Puskesmas dan melakukan wawancara terhadap petugas kesehatan dan ibu atau pengantar bayi dan balita. Analisis data menggunakan piranti lunak Program Stata.
 
 
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa 8,3% kuatitas tatalaksana kasus ISPA yang dilakukan oleh petugas kesehatan adalah baik. 5cdangkan dari hasil analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara variabel pendidikan, pelatihan, waktu pelatihan, petugas terlatih, ketersediaan obat-ohatan, barang cetakan, kemampuan menyampaikan peran dan supervisi dengan kualitas tatalaksana kasus ISPA di Puskesmas Kabupaten Donggala.
 
 
Hasil akhir penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pengetahuan dan lama tugas berhubungan secara statistik dengan kualitas tatalaksana kasus ISPA yang dilakukan oleh petugas puskesmas di Kahupaten Donggala.
 
 
Dari hasil penelitian ini disarankan :
 
1) meningkatkan kualitas pelatihan dan menambah praktek pelatihan,
 
2) melaksanakan evaluasi pasca pelatihan secara intensif,
 
3) melaksanakan supervisi klinik setiap 3 bulan sekali,
 
4) mutasi petugas puskesmas minimal 5 tahun sekali baik lintas program maupun limas puskesmas.
 
 
Daftar Kepustakaan : 52 (1980 - 2000)
Read More
T-1499
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Juliastuti P.; Pembimbing: Ratna Djuwita
T-860
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evawangi; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dadan Erwandi, Renti Mahkota, Yuniar Pukuk Kesuma, Eulis Wulantari
Abstrak: Skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan berat yang mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Di Indonesia, prevalensi skizofrenia adalah 1,7 per 1.000 populasi. Jumlah kunjungan gangguan jiwa di puskesmas Kabupaten Bogor telah meningkat secara signifikan dari 1.648 menjadi 13.390 pada tahun 2013-14. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan skizofrenia di Kabupaten Bogor tahun 2017. Studi kasus kontrol tidak berpasangan dilakukan di 63 puskesmas Kabupaten Bogor mulai Mei-Juni 2017. Kasus adalah penderita skizofrenia yang berusia 15-50 tahun yang didiagnosis oleh dokter / spesialis dan dicatat dalam register pasien puskesmas kabupaten Bogor pada tahun 2017. Kontrol Adalah orang sehat berusia 15-50 dan berdomisili di Kabupaten Bogor. Sebanyak 229 kasus dan 229 kontrol dipilih dengan teknik multistage sampling. Probability proportional to size digunakan untuk menentukan jumlah sampel dari masing-masing puskesmas. Kuesioner semi terstruktur yang telah diuji sebelumnya digunakan untuk mengumpulkan data yang relevan dari kontrol dan salah satu anggota keluarga kasus. Test Chi Square dan regresi logistik multivariat diterapkan untuk analisis data. Faktor-faktor yang berhubungan dengan skizofrenia: jenis kelamin laki-laki (AdjOR: 11.68; 95% CI: 4,96 -27.50), riwayat keluarga skizofrenia (AdjOR: 4.02; 95% CI: 1,90-8,48), pendidikan dasar AdjOR: 30,63; 95% CI: 4.21-222.81), pendidikan menengah (AdjOR: 25,35; 95% CI: 3,51-182.90), pengangguran (AdjOR: 5,6; 95% CI 2,52-12,45), tidak menikah (AdjOR: 8,20; 95% CI 2,52-12,45), masalah dalam keluarga (AdjOR: 4,93; 95% CI 2,43-9,99) dan masalah di tempat kerja / sekolah (AdjOR: 32.60; 95% CI 7.29 - 145.76 ). Dalam studi ini, faktor biologis (laki-laki dan riwayat keluarga skizofrenia), sosio-demografi (tingkat pendidikan rendah, tidak bekerja dan tidak menikah) dan faktor lingkungan (masalah dalam keluarga dan tempat kerja/sekolah) berhubungan dengan skizofrenia. Studi analitis prospektif diperlukan untuk mengeksplorasi lebih jauh hubungan ini.

Kata kunci: Skizofrenia, kasus kontrol, Kabupaten Bogor

Schizophrenia is a a chronic and severe mental disorder that affects thinking, feeling, and behavior of a person. In Indonesia, the prevalence of schizophrenia is 1.7 per 1,000 populations. The number of visits of mental disorders in puskesmas of Bogor Regency has increased significantly from 1,648 to 13,390 in 2013-14. This study aimed to determine the factors associated with schizophrenia in Bogor Regency 2017. An unmatched case-control was conducted in 63 health centers of Bogor regency from May-June 2017. Cases were schizophrenic patient aged 15-50 years diagnosed by physicians/specialists and recorded in the register of Bogor district health centers in 2017. Controls were the healthy people aged 15-50 and domiciled in Bogor Regency. A total of 229 cases and 229 controls were selected by multistage sampling technique. Probability proportional to size was usedto determine the number of samples from each puskesmas. A pre-tested semi structured questionnaires was used to collect relevant data from controls and one of the family members of cases. Chi square test and multivariate logistic regression were applied for data analysis. Folowing factors were associated with schizophrenia: male gender (AdjOR: 11.68; 95% CI: 4.96 -27.50), family history of schizophrenia (AdjOR: 4.02; 95 %CI: 1,90-8,48), basic education (AdjOR: 30.63; 95%CI: 4.21-222.81), secondary education (AdjOR: 25.35; 95% CI: 3.51-182.90), unemployed (AdjOR: 5.6; 95 %CI 2,52-12,45), unmarried (AdjOR: 10,20; 95%CI 2,52-12,45), problems in the family (AdjOR: 4.93; 95%CI 2.43-9.99) and problems at work / school (AdjOR: 32.60; 95%CI 7.29 - 145.76). In the study setting, biological (male and family history of schizophrenia),sociodemographic (low level of education, unemployment and unmarried) and environmental factors (problems in family, workplaceor school) were associated with schizophrenia. Prospective analytical studies are needed to further explore these associations.

Keywords: Schizophrenia, case control, Bogor district
Read More
T-5080
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ellysa; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Didik Supriyono, Riza Afriani Margaresa
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ellysa Program Studi   : Epidemiologi Komunitas Judul                  : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Skabies di Pondok Pesantren Miftahul Aziz Cigombong Kabupaten Bogor Jawa Barat Tahun 2018 Pembimbing : Prof.dr. Nuning Maria Kiptiyah, MPH, Dr. PH Skabies adalah penyakit infeksi kulit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei varian hominis yang dapat ditularkan melalui kontak langsung dan tidak langsung. Skabies merupakan masalah kesehatan di wilayah iklim tropis dan subtropis. Jumlah penderita skabies di dunia lebih dari 300 juta setiap tahunnya. Prevalensi skabies di Indonesia masih cukup tinggi karena Indonesia termasuk negara tropis, yaitu sekitar 627% dari populasi umum dan cenderung lebih tinggi pada anak dan remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian skabies di Pondok Pesantren Miftahul Aziz Cigombong Kabupaten Bogor jawa Barat tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik sebanyak 236 santri. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling dan analisis yang digunakan dengan metode Regresi Cox. Hasil analisis menunjukkan bahwa prevalensi skabies sebesar 48,7%, jenis kelamin (PR 2,079 95% CI 1,392-3,104), pengetahuan tentang skabies (PR 1,671 95% CI 1,0012,788), kebersihan tempat tidur (PR 1,506 95% CI 1,017-2,232), menggunakan tempat tidur bersama (PR 1,645 95% CI 1,033-2,621), dan kepadatan hunian (PR 1,865 95% CI 1,128-3,085) mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian skabies. Jenis kelamin merupakan faktor yang paling ominan terhadap kejadian skabies, yaitu santri laki-laki berisiko 2,079 kali (95% CI 1,392-3,104) untuk terjadi skabies dibandingkan dengan santri perempuan. Menggunakan tempat tidur bersama merupakan faktor yang paling besar kontribusinya terhadap kejadian skabies yaitu 63,96%, artinya 63,96% kejadian skabies dapat dieliminasi atau dikurangi bila santri tidak menggunakan tempat tidur bersama/berpindah –pindah tempat tidur. Kata kunci: Skabies, pondok pesantren, jenis kelamin


ABSTRACT Name                : Ellysa Study Program : Community Epidemiology Title                  : Factors Related to the Scabies in  Miftahul Aziz Boarding  School Cigombong district Bogor West Java in 2018 Consellor : Prof. dr. Nuning Maria Kiptiyah, MPH, Dr. PH Scabies is an infectious skin disease caused by Sarcoptes scabiei varian hominis that could be transmitted through direct and indirect contact. Scabies is the health problem in tropical and subtropical climates. The number of people with scabies in the world is more than 300 million every year. Prevalence of scabies in Indonesia is still quite high, which is about 6-27% of the general population and tends to be higher in children and adolescents. The purpose of this study is to determine the factors related with the incidence of scabies in Miftahul Aziz Boarding School Cigombong Bogor West Java in 2018. This research using cross sectional design by interview, observation and physical examination 236 students, total sampling and the analysis using Cox Regresssion method. The analysis showed that the prevalence of scabies was 48.7%, sex (PR 2.079 95% CI 1,392-3,104), knowledge of scabies (PR 1.671 95% CI 1,001-2,788), bed cleanliness (PR 1.506 95% CI 1.017- 2,232), shared bed (PR 1.645 95% CI 1.033-2,621), and occupancy density (PR 1.865 95% CI 1.128-3.085) had significant association with the incidence of scabies. Sex was the most dominant factor with the incidence of scabies, the male student had 2.079 times (95% CI 1.392-3.104) for being scabies than the female student. Sharing a bed is the most contributing factor with the incidence of scabies 63,96%, it means 63.96%  the incidence of scabies could be eliminated or reduced when santri not sharing a bed or moved to another bed. Key words: scabies, boarding school, sex

Read More
T-5148
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Padri H.; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
T-859
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suwandi Subki; Pembimbing: Nasrin Kodim
T-887
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sudirman Purawidjaja; Pembimbing: Bambang Sutrisna
T-990
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggun Purnama Dewi; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mahkota, Renti ; Mutaqin, Asep Adam
S-8985
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive