Ditemukan 36754 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Sebagai bagian integral dari organisasi kesehatan dan organisasi sosial maka dalam fungsinya untuk menyediakan pelayanan kesehatan yang lengkap maka rumah sakit menjadi suatu sarana kesehatan yang kompleks, padat modal dan padat karya. Sebagai tempat rujukan pasien maka rumah sakit harus mempunyai kemampuan yang lebih dalam memberikan pelayanan kesehatan dalam hal SDM yang terlatih sampai dengan kelengkapan instrumen untuk pengobatan dan pemeriksaan guna mendukung tugas dokter dalam mengobati pasiennya. Peningkatan taraf sosio-kultural-ekonomi masyarakat, dan terjadinya trasisi epidemiologi yang sedang berlangsung di negara berkembang saat ini mengakibatkan perubahan pola dalam mencari layanan kesehatan bagi mereka. Secara spesifik, dalam hal ini adalah meningkatnya kebutuhan untuk peralatan hemodialisis yang bersifat 'life saving' atau 'prolong life'.Peralatan hemodialisis digunakan untuk membersihkan darah dimana kotoran dan kelebihan cairan dikeluarkan langsung dari tubuh melalui 'dialyzer' atau ginjal buatan. Dialisis umumnya digunakan bagi penderita Gagal Ginjal Khronik, tapi juga pada Gagal Ginjal Akut, dehidrasi, keracunan atau over-dosis.Mengingat harga yang cukup mahal maka perlulah bagi rumah sakit yang merencanakan untuk pengadaan fasilitas ini dengan melakukan analisis investasi dengan baik agar bisa di capai tingkat pemanfaatan yang optimal sehingga tidak merugikan pihak penyelenggara tapi juga tidak terlalu membebankan masyarakat pengguna.Penelitian ini dilakukan dengan desain studi kasus di suatu rumah sakit dengan pendekatan secara kuantitatif dan kualitaf untuk menilai tingkat pemanfaatan peralatan hemodialisis di RS Krakatau Steel pada periode 2000 dan 2001 dan potensi penambahan alat dari sisi kelayakan finansial di Unit hemodialisis RS Krakatau Steel Cilegon.Dalam hal ini, dilakukan analisis terhadap: aspek pelanggan (karakteristik pelanggan, sumber pembiayaan dan pendapatan dari RS), aspek produksi (kepasitas produksi, SDM, waktu dan biaya), aspek pesaing dan aspek demografi untuk meneliti tingkat kapasitas produksi sudah berlebihan atau kurang dimanfaatkan.Hasil analisa menunjukkan telah maksimalnya pemanfaatan peralatan yang ada dan kurang optimalnya pemanfaatan tenaga dan ruangan. Berdasarkan analisis tersebut dan proyeksi pemanfaatan hemodialisis di tahun 2000 dan kelayakan keuangan dengan metoda pinjam dengan perjanjian maka dianjurkan kepada pihak rumah sakit untuk menambah 2 (dua) buah unit HD.Penelitian ini hanya berlaku di RS Krakatau Steel Cilegon pada pericde 2000 dan 2001 dan tidak bisa secara langsung diterapkan di lokasi maupun rumah sakit lain. Sebagai penutup penelitian ini melihat tuntutan masyarakat yang makin meningkat maka seyogyanyalah pihak rumah sakit mengembangkan suatu upaya pro-aktif dalam mempertahankan pasien yang ada, sehingga pelayanan yang diberikan berkesinambungan yang akan sangat bermanfaat bagi penderita maupun bagi rumah sakit.
The Analysis of Hemodialysis Instrument Investment in Krakatau Steel Hospital, within Period of the year 2000 - 2001As an integral part of the health and social organization to serve the people comprehensively, the hospital had became a complex facilities with heavy investments and a mixed of professionals in it. As a part of health referral system the hospital should have more capabilities in healthcare especially on its human resources and a number of medical instruments to support the medical services.The development of socio-cultural-economics of the people and the epidemiological transition that occurred in developing countries nowadays created a change in the process of seeking the healthcare services. In this case, increasing the need of hemodialysis treatment because of its life saving and prolong life functions.Dialysis treatment replaces the function of the kidneys, which normally serve as the body's natural filtration system. Through the use of a blood filter and a chemical solution known as dialysate, the treatment removes waste products and excess fluids from the bloodstream, while maintaining the proper chemical balance of the blood. Dialysis is used for treating Chronic Renal Failure, Acute Renal Failure, Dehydration, Toxic and Over-doses of drugs. Because of its expensiveness, the hospital should plan carefully to operate this equipment to avoid the burden to the provider or its consumers.This research is a case study design with quantitative and qualitative analysis to study the utilization of hemodialysis equipment in Krakatau Steel Hospital in the period of 2000 -2001 as well as feasibility on additional equipments. The analysis was executed through: consumer's aspects, production aspects, and competitor and demographically to study the production capacity of the instruments.The result of this analysis showed that the utilization of 2 HD units had been maximal even over-utilized, while the manpower and the room space was still underutilized. Based on this analysis and the utilization projection through forecasting method and its feasibility for rent an instrument with agreement, the author suggested that 2 more HD units in 2002 are needed to be equipped.This study only valid for Krakatau Steel Hospital in the period of 2000 - 2001, and should not be implemented without careful consideration in other places or hospitals. At the end, the author mentioned about the increasing need pro-cative program to retain the patient, so that the service could be implemented continuously for the sake of the patient as well as the hospital.
Cipto Mangunkusumo Eye Center (CMEC) merupakan suatu wadah pelayanan kesehatan mata terpadu yang merupakan pengembangan dari pelayanan kesehatan mata di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Status rumah sakit sebagai badan layanan umum memberikan keleluasaan bagi rumah sakit untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Dilihat dari besarnya pasar pelayanan untuk kelas menengah ke atas dan belum tercapainya target pelayanan pada segmen tersebut di Departemen Mata RSCM maka dibutuhkan upaya pengembangan sarana, prasarana, sumber daya dan strategi pemasaran. Tesis ini merupakan penelitian di bidang manajemen pemasaran rumah sakit, yang bertujuan untuk melakukan analisis segmen, target, posisi pasar dan bauran pemasaran pada pengembangan Cipto Mangunkusumo Eye Center. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metodologi penelitian kualitatif yang didukung data kuantitatif untuk proses segmentasi pasar. Dengan metode ini diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan penelitian yaitu merumuskan bauran pemasaran yang tepat untuk pelayanan di Cipto Mangunkusumo Eye Center. Berdasarkan hasil penelitian maka ditetapkan segmen utama untuk pelayanan di Cipto Mangunkusumo Eye Center yaitu masyarakat di wilayah Jakarta dan sekitarnya, kelompok pelanggan dengan usia diatas 41 tahun, bekerja sebagai karyawan swasta / pemerintah dan berpenghasilan 3 – 5 juta rupiah per bulan serta mendapatkan jaminan kesehatan dari tempat kerja dalam bentuk asuransi kesehatan. Adapun pola pasar sasaran yang dipilih yaitu selective specialization dan positioning yang diambil ialah sebagai market challanger. Kata Kunci : Segmentasi, Targeting, Positioning
Cipto Mangunkusumo Eye Center (CMEC) is an integrated eye health service which is the development of eye health services at the Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital. Status of RSCM as a public service agency provides flexibility for hospitals to implement sound business practices to improve the service. The potential size of the upper middle class and under achievement of service targets in that segment force Department of Ophthalmology RSCM to development facilities, infrastructure, resources and marketing strategies. This thesis is a study of hospital marketing management, which aims to perform the analysis of segment, target, market positioning and marketing mix in the development of Cipto Mangunkusumo Eye Center. This study is a descriptive study with qualitative research methodology that supported the quantitative data for market segmentation process. With this method is expected to support the achievement of research goals is to formulate the appropriate marketing mix for services in Cipto Mangunkusumo Eye Center. Based on the results of studies have established the main targets for the service at Cipto Mangunkusumo Eye Center is the community in Jakarta and surrounding areas, customer groups with age above 41 years, working as employees of private / government and earn 3-5 million dollars per month and get health insurance from their workplace. The pattern of the selected target market is selective specialization and positioning which is taken as Market Challanger. Keywords : Segmentation,Targeting, Positioning
ABSTRAK
Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo Jakarta adalah Rumah Sakit Unit SwadanaDaerah Kelas B Non Pendidikan, berlokasi di Jl. TB. Simatupang No. 30 Jakarta 13760,sesuai dengan misinya melayani masyarakat menengah ke bawah yang rnembutuhkanlayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau, sedangkan visinya adalah menjadi salahsatu dari tiga rumah sakit swdana di Indonesia yang terbaik dalam pelayanan GawatDarurat dan Pelayanan Rawat Jalan.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keadaan yang terjadi di Instalasi PemeliharaanRumah Sakit RSUD Pasar Rebo, dimana program pelaksanaan pemeliharaan alat medisbelum dijalankan secara optimal. Dari analisa situasi yang ada ditemukan bahwa alokasianggaran pemeliharaan alat medis masih rendah, yaitu untuk alokasi anggaran di tahun2001 untuk anggaran pemeliharaan sebesar Rp. 2.000.000.000,- atau 8 % dan totalaggaran rumah sakit yang sebesar Rp. 24.450.000.000,-, sedanglcan khusus anggaranpemeliharaan alat medís sebesar Rp. 151.200.000,- atau 0.6 %. Pada an.ggaran tahun2002 alokasi anggaran PSRS sebesar Rp. 3.033.000.000,- atau J % dan total anggaranrurnali sakit yang sebesar Rp. 26.579.000.000,- khusus unluk anggaran pemeliliaraan alatmedis sebesar Rp. 559.741.049,- atan 2 % dan total anggaran nunafl saldt, setain ituadanya pengeluaran biaya perbaikan alat medis ( X - Ray ) yang meiicladak sebesar Rp.190.000.000,- di tahun 2000. Pada tahun 2003 direncanakan akan dilakukan perubahanbadan hukum RSUD Pasar Rebo dan Unit Swadana menjadi Bailan Usaha Milik Daerah.Dengan latar belakang ini, dilakukan penelitian dengan tujuan memperolehgambaran proses pemeliharaan alat - alat medís untuk merighasilkan ketersediaau alatmedis yang siap pakai gima menunjang pelayanan kepada pasien.Jenis penelitian ini merupakan studi kasus dengan pendekatan kualltatil data daninformasi diperoleh melalui wawancara yang mendalam dan observasi serta melihat arsipdan dokumen yang ada di unit - unit yang terkait.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa proses pemeliharaan alat medís belumdilaksanakan secara optimal, pemeliharaan hanya dilakukan atas dasar kerusakan (BreakDown Maintenance ), tidak melalui tahapan perencanaan, penetapan sistem pemeliharaan,pelaksanaan pemeliharaan, pencatafan & pelaporan, monitoring dan evaluasi.Berdasarkan hasil penelitian ini di?arankan agar pihak manejemen ruiuah sakitmelakukan beberapa tindakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya,organisasi,peraturan dan kebijakan rumah sakit ( protap - protap ) pemeliharaan danpengoperasian alat media, diharapkan dapat mendorong peningkatan kinerja IPSRS dalammelaksanakan proses pemeliharaan alat media sehingga menghasilkan ketersediaan alatmedia yang siap pakai.
ABSTRACT
The Local Public Hospital of Pasar Rebo Jakarta is a selfund local hospital unit,non education class B, located aL Jalan TB. Simatupang No. 30 Jakarta 13760. Inaccordance with its mission to serve law middle classes society needing high quality andaffordable health care, while its vision is to become one of the these best seiflind hospitalin Indonesia which lias the best service in the emergency care unit and out patient care.The background of this research was the condition happeriiiig at the Pasar Rebolocal public hospital maintenance installation where a program of medical equipment hadnot been carried out in the optimal manner. From the analysis of the existing condition, itwas found that the alocation budget for medical equipment was still law, that is thealocation budget in 2001 for maintenance was Rp 2.000.000.000,- or 8% of the hospitaltotal budget of Rp 24.450.000.000,- while the one especially for medical equipmentmaintenance was Rp 151.200.000.,- or 0.6%. [n the year 2002 budget, the alocationbudget ofthe local public Hospital of Pasar Rebo was Rp 3.033.000.000,- or 11% of thehospital total budget of Rp 26.579.000.000,- the one especially for the medical equipmentof the 559.741.049,- or 2% of the hospital total budget, besides that there was anunexpected expenditure of Rp 190,000.000,- in 2000 to repair a medical equipment(X Ray). In 2003 the hospital plan to change to corporate law of local public HospitalPasar Rebo from selifunded unit into local government company.With this background a research was carried out with the aim to get a picture ofmedicai equipment maintenance process which results in the availability of ready usemedical equipment to support service to the patients.The type of this research was a qualitative approach the data and information wereobtain ftom in the depth interview, observation files and document study which wereavailable in the related units.The result of the research showed that the process of the medical equipmentmaintenance had not been done in the optimal manner. A maintenance was doue base onbreak down (break down maintenance ) not on planning, decided maintenance system,recording and rporting, monitoring and evaluation.Based on this research it is suggested that the hospital management must take someactions to improve the quality and quantity of human resources, organization, hospitalrules and policies (protap) in the field of medical equipment maintenance and operation, itis hope that this can encourage the improvement of local public Hospital of Pasar ReboJakarta working performance in carryng out the medical equipment maintenance process toproduce/make the availability of ready use medical equipment.
Di RSUD Dokter Soedarso, berdasarkan hasil wawancara, ditemukan kejadian penundaan pelayanan resep sebanyak 70-80% setiap bulannya. Penundaan pelayanan resep disebabkan habisnya persediaan obat di gudang penyimpanan. Dalam persiapan menjadi BLUD, pihak manajemen harus memperbaiki sistem pengadaan obat. Penelitian ini adalah analisis evaluasi ekonomi kuantitatif untuk menyusun model pengadaan obat antibiotik kelompok A nilai investasi. Selanjutnya dilakukan perhitungan total biaya persediaan obat kelompok A. Kemudian dilakukan penghitungan EOQ serta ROP dilanjutkan dengan dilakukan simulasi pengadaan dengan metode EOQ dan perhitungan biayanya. Dari biaya yang diperoleh dilakukan perbandingan untuk melihat efektifitas pengadaan terhadap konsekuensi ITOR, service level, cakupan obat terlayani, jumlah waktu pekerjaan dan jumlah dokumen yang dihasilkan. Pengadaan persediaan farmasi di RSUD Dokter Soedarso Pontianak belum dilakukan dengan optimal untuk mencapai hasil yang efektif dilihat dari sudut pandang biaya. Dengan adanya keterbatasan anggaran, sebaiknya dilakukan prioritas dalam pengadaan obat-obatan dengan menggunakan analisis ABC nilai investasi. Metode ini akan membantu pihak manajemen untuk lebih memfokuskan diri terhadap obat-obatan yang mempunyai nilai investasi tinggi. Pengadaan obat antibiotik kelompok A nilai investasi mempunyai efektifitas biaya yang lebih baik dibandingkan dengan cara RSUD Dokter Soedarso saat ini jika dilihat dari sudut pandang service level, cakupan obat terlayani, jumlah waktu pekerjaan dan jumlah dokumen yang dihasilkan (CER EOQ < CER RS). Sedangkan dilihat dari sudut pandang ITOR, sangat tergantung dengan jumlah pemesanan. Jumlah pemesanan lebih dari 350 vial metode EOQ lebih efektif sedangkan jumlah pemesanan kurang dari 350 vial, cara RSUD Dokter Soedarso lebih efektif.
At the RSUD Dokter Soedarso, based on interviews, it was found 70-80% delay per month in pharmacy services (drog provison for patients). The reason for the delays was stockout of prescription drugs in the pharmacy storage. In preparation to be BLUD, the management should improve the drug procurement system. This was a quantitative analysis of economic evaluation study to compare a procurement methode for class A ABC investing score analysis antibiotics. The calculation of EOQ and ROP was performed, followed by procurement simulations with EOQ method and cost calculations. Total cost were compared with each consequences, namely, ITOR, service level, drug coverage, worktime needed and documents generated. The procurement method at RSUD Dokter Soedarso has yet to be implemented in an optimal way to reach the desired effectiveness from cost point of view. With budget limitations, it is advised to prioritize the drugs procurement using ABC insvesting score analysis. This method will help the management to focus more on the drugs that have a high investment value. Procurement of class A ABC investing score analysis antibiotics drugs using EOQ method is more cost effective compared with RSUD Dokter Soedarso?s ways viewed from service level, drug coverage, amount of time and amount of documents (CER EOQ < CER Hospital). Whereas from ITOR consequences, the cost effectivenes depends on the amount of purchasing. EOQ method is likely more cost effective f the amounts of purchasing exceed 350 vials.
Pemberian Bantuan Kesehatan Pensiun (BKP) adalah salah satu program YKKBI, yang bentuknya merupakan self insurance dimana seluruh risiko keuangan ditanggung oleh YKKBI.Biaya BKP terus meningkat setiap tahunnya, pada tahun 2010 sekitar Rp 169 milyar, dimana hampir 60 % nya digunakan untuk biaya rawat Inap di Rumah Sakit dan biaya obat di Apotek Langganan. Sejak tahun 2000 kenaikan Biaya BKP melebihi angka rata rata pertumbuhan pendapatan YKKBI yang merupakan sumber pendanaannya . Bidakara Medical Center (BiMC) merupakan embrio pendirian rumah sakit milik YKKBI, dengan model hospitality business (terpadu dengan hotel dan perkantoran Bidakara). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun analisis kelayakan pengembangan klinik Bidakara Medical Center dalam rangka pendirian rumah sakit di Jakarta Selatan tahun 2011. Setelah dilakukan penilaian dengan menggunakan TOWS matrik ,dimana dilihat pengaruh variabel eksternal dan internal didapat hasil posisi BiMC berada di Future Kuadran . Sedangkan dengan menggunakan IE matrik , dimana dinilai masing masing factor sukses kritisnya didapat hasil posisi BiMC berada di kuadran II. Dari matching dua matrik ini didapat kesimpulan Klinik BiMC layak untuk berkembang menjadi Rumah Sakit.
Bantuan Kesehatan Pensiun is one of YKKBI programs, which is a.self-insurance that all financial risks undertaken by YKKBI. Bantuan Kesehatan Pensiun (BKP) cost was increasingly every year. In 2010, BKP cost reached about 169 billions IDR, and almost 60% was used to pay hospitalization and pharmacy fee. Since 2000, BKP cost was beyond YKKBI growth income rate as its funding source. Bidakara Medical Center (BiMC) is an embryo of YKKBI hospital with hospitality business model which is integrated with office and hotel of Bidakara. The aim of this research is to analysis feasibility of developing BiMC to be a hospital in South Jakarta year 2011. Through TOWS matrix analysis, the effects of internal and external variables were assessed and the result was BiMC position is in the Future Quadrant. Through IE matrix, every critical success factors were evaluated and resulted in an outcome that BiMC is in the Quadrant II. Finally, by matching these two kinds of matrix, the conclusion is that BiMC can be developed into a hospital.
Meningkatnya biaya kesehatan membuat PT Pelindo II mengubah sistem jaminan pemeliharan kesehatan untuk karyawan, pensiunan dan keluarganya dari sistem _/Zee for service menjadi bentuk asuransi dengan premi tertentu. Untuk itu PT Pelindo II menunjuk Bapel JPKM RSPJ sebagai asuradumya. Setelah berjalan hampir tujuh tahun RS. Pelabuhan Jakarta mengalami dCfiSil yang cukup signifikan. Sejak tahun 2007 Bapel memberlakukan kapitasi untuk PPK I di RS. Pelabuhan Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran utilisasi pelayanan kesehalan dan mengevaluasi biaya obat berdasarkan karakteristik pasien di PPK I hanya dibatasi tentang analisis biaya pelayanan kesehatan berdasarkan karakteristikdi PPK I pada pasien JPKM tahun 2007. Metode penelitian yang digunakan aclalah metode survey operasional dengan pendekatan kuantitatif dimana populasi adalah pcscrta Bapel JPKM RSP] tahun 2007 dan sampel penelitian adalah peserta yan mcnggunakan PPK I tahun 2007. Hasil penelitian menunjukkan utilisasi PPK I adalah 28,4%. Dari kapitasi tahun 2007 sebesar Rp. 2.2l7_999.700,- terjadi kerugian sebesar 17,8%. Faktor umur, domisili, dan kelas jabatan atau status pegawai memiliki hubungan bermakna terhadap tingginya biaya obat di PPK I, sehingga diperlukan penghematan biaya obat di rawatjalan. RSPJ sebagai penerima kapitasi sebaiknya melakukan review utilisasi terhadap penggunaan biaya kapitasi disemua PPK yang ada.
Increasment in health services cost make PT. Pelindo II change their health savety net system from fee for service to insurance form with certain premi for the employees. pensioners and their family. In order to that, PT. Pelindo II chose Bapel J PKM as the provider. Aiier runs almost seven years, RS. Pelabuhan Jakarta had a significant deficit, so in 2007 Bapel applied capitation for PPK I in RS. Pelabuhan Jakarta. This research aim is to viewed the health services utilization and evaluate the medication cost in which only on analyzing health services cost by the characteristic of patients in PPK I especially JPKM patiens in 2007. Research conducted in operational survey methode with quantitative approach for which the population arc participants of Bapel JPKM RS. Pelabuhan Jakarta in 2007, and the sample of this research are PPK I users in 2007. Result of this research shows utilization of PPK I is 28,4 percent, and Rp.2.2l7.999.700,- from the capitation in 2007 means 17,8 percent loss. The age factor, place of stay, and employee status has a significant correlation to the increasment of medication cost in PPK I, that is why the medication cost in out- patient unit has to be reduce. According to that. RS. Pelabuhan, as the capitation reception, needs to overview the utilization within users of capitation in all existing PPK in RS. Pelabuhan Jakana.
