Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31529 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
B. Nunung Priyatni; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo
Abstrak:
Tetanus Neonatorum adalah penyebab utama kematian neonatal dan penyebab kematian kedua pada anak diantara penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Setiap tahun 450.000 bayi meninggal sebelum umur l bulan. Di Propinsi Jawa Barat, Tetanus Neonatorum masih menjadi masalah kesehatan, dimana selama 5 tahun berturut-turut dari tahun 1994-1998 kasus Tetanus Neonatorumn masih relatif tinggi dengan kematian yang relatif menetap. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan status imunisasi TT ibu hamil dengan kejadian Tetanus Neonatorum di Propinsi Jawa Barat tahun 1999-2000. Studi ini menggunakan desain kasus kontrol. Kasus adalah bayi umur 0 - 28 hari yang menderita Tetanus Neonatorum pada tahun 1999-2000, sedangkan kontrol adalah bayi sehat dengan umur yang hampir sama dan merupakan tetangga terdekat penderita. Data diperoleh dari wawancara dengan menggunakan kuesioner pada ibu bayi dan data yang diperoleh dikonfirmasi terhadap penolong persalinan, KMS, Catatan di Puskesmas, Pustu dan Polindes. Hasil studi menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara status imunisasi TT ibu hamil dengan kejadian Tetanus Neonatorum (OR = 21,82 , 95%C1, p = 0,0000). Setelah dilakukan kontrol terhadap variabel perawatan tali pusat dan persalinan "3 bersih", maka risiko kejadian Tetanus Neonatorum pada bayi yang ibunya tidak pernah mendapat imunisasi TT adalah 31,39 kali dibandingkan bayi yang ibunya mendapat imunisasi TT Iengkap.

The Relation of Babies? Immunity with Tetanus Neonatorum MorbidityIn West Java on 1999-2000The Tetanus Neonatorum is the first cause neonatal death and the second cause of children death between the diseases which can be prevented by immunization. There are 450.000 babies death before one month old. In West Java Tetanus Neonatorum still be the first health problem During 5 years from 1994 - 1998, the morbidity and mortality of Tetanus Neonatorum has been relative constantly. This research is to find out the relation of pregnancy mother immunization status with Tetanus Neonatorum morbidity in West Java in 1999 - 2000. This study using design case control. The case is a 0 - 28 old days baby who had Tetanus Neonatorum in 1999 - 2000, and the controls is a health baby with the same age and live in the nearest illness baby. The data get through questionnaires from mother's illness baby and mother's health baby. The data was confirmed by midwife or birth attendant who help delivery, by puskesmas record, by baby ISMS and the other record in Puskesmas, Pustu and Polindes. The result of study reveals that there is a significant relationship between baby's immunization and Tetanus Neonatorum occurring. After controlling the other variable, such as umbilical cord care, "Three cleans delivery". The risk of Tetanus Neonatorum occur of baby's mother who has never have Tetanus Toxoid Immunization is 31,39 times compare with baby's mother who has completed TT Immunization. The Relation of Babies? Immunity with Tetanus Neonatorum MorbidityIn West Java on 1999-2000The Tetanus Neonatorum is the first cause neonatal death and the second cause of children death between the diseases which can be prevented by immunization. There are 450.000 babies death before one month old. In West Java Tetanus Neonatorum still be the first health problem During 5 years from 1994 - 1998, the morbidity and mortality of Tetanus Neonatorum has been relative constantly. This research is to find out the relation of pregnancy mother immunization status with Tetanus Neonatorum morbidity in West Java in 1999 - 2000. This study using design case control. The case is a 0 - 28 old days baby who had Tetanus Neonatorum in 1999 - 2000, and the controls is a health baby with the same age and live in the nearest illness baby. The data get through questionnaires from mother's illness baby and mother's health baby. The data was confirmed by midwife or birth attendant who help delivery, by puskesmas record, by baby ISMS and the other record in Puskesmas, Pustu and Polindes. The result of study reveals that there is a significant relationship between baby's immunization and Tetanus Neonatorum occurring. After controlling the other variable, such as umbilical cord care, "Three cleans delivery". The risk of Tetanus Neonatorum occur of baby's mother who has never have Tetanus Toxoid Immunization is 31,39 times compare with baby's mother who has completed TT Immunization.
Read More
T-1014
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Hadi Pratomo, Sudarto Ronoatmodjo, Prastowo Nurgroho, Noor Sardono
Abstrak:

Persalinan pada dasarnya merupakan proses alamiah yang sudah merupakan tugas seorang ibu yang harus dihadapi. Namun demikian, tidak jarang terjadi penyimpangan, sehingga keadaan ini bukan saja menimbulkan risiko bagi ibu, tetapi juga berisiko terhadap bayinya. Salah satu risiko yang mungkin terjadi bagi bayi akibat persalinan ini adalah afiksia neonatorum. Departemen Kesehatan Republik Indonesia memperkirakan prevalen afisia neonatorum sedang dan berat di Indonesia setiap tahun sekitar 144.900 bayi. Sementara itu data pada Rumah Sakit Umum Dr. Adjidarmo Rangkasbitung tahun 2000 terungkap kejadian asfiksia neonatorum sedang dan berat tahun 1999 sebesar 24,9 % meningkat menjadi 45,9 % pada tahun 2000. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari register ibu dan register bayi di Rumah SakitUmum Dr.Adjidarmo Rangkasbitung tahun 2000. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi tentang hubungan persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Faktor lain meliputi umur ibu saat bersalin, paritas, berat badan bayi lahir, kelainan plasenta, persalinan tindakan, kelainan letak dan kasus rujukan diduga mempengaruhi hubungan persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Desain yang digunakan adalah case control. kelompok kasus adalah bayi yang lahir di Rumah sakit Umum Dr. Adjidarmo Rangkasbitung selama tahun 2000 dengan nilai Apgar menit pertama kurang dari 7. Sedangkan kelompok kontrol adalah bayi yang lahir di Rumah sakit Umum Dr. Adjidarmo Rangkasbitung periode selama 2000 dengan nilai Apgar menit pertama 7 sampai 10. Dari keseluruhan sampel, bayi yang lahir dengan mengalami persalinan lama pada kelompok kasus proporsinya hampir lima kali lebih besar (43%) dibanding kelompok kontrol (8,5%). Terbukti adanya hubungan bermakna antara persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Bayi yang lahir dengan asfiksia neonatorum, setelah dikontrol persalinan tindakan dan kasus rujukan berperan sebagai confounder, atau mempunyai pengaruh terhadap hubungan persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Perlunya dilakukan persalinan tindakan sesegera mungkin,apabila diketahui ibu bersalin telah mengalami persalinan lama. Kegiatan lainnya adalah perlu terus dilakukan upaya penyuluhan kepada masyarakat, khususnya ibu hamil untuk selalu melakukan perawatan ante natal yang baik selama kehamilannya guna mendeteksi secara dini penyulit persalinan. The Connection Between Long Duration Childbirth rith Neonatorum Asphyxia Case to Newborn Baby at RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitung in 2000Delivering a baby or childbirth, basically is a natural process as a mother's duty that have to deal with. In such a case, sometimes there is childbirth deviations have risks that could be dangerously to mothers and also to newborn babies. One of this risks is Neonatorum Asphyxia. Ministry of Health Republic of Indonesia has predicted that medium and heavy cases of Neonatorum Aphyxia in Indonesia are about 144.900 cases. In the same cases, RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitungs Neonatorum Asphyxia in 1999 is 24,9% and increasing to 45,9% in 2002. This research was using the secondary data that sourced on numbers of mothers and babies registration data at RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitung in 2000.


 

The main goal of this research is to find out the connection between long duration childbirth and Neonatorum Asphyxia case. Others factors that could make effect are; mother's age, paritas, baby's weight, placenta disorder, breech delivery, and referral cases had presumed to influrnce the long duration childbirth with Neonatorum Asphyxia cases. The research's design that used by the writer is case control design. The cases group is numbers of babies that born at RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitung in 2000 with Apgar value less than 7. Whereas the control group is number of babies with Apgar value range at 7 - 10. From all samples, the babies that born with long duration childbirth at the cases group have the proportion cases five times bigger (43%) than the babies at control group (8,5%). It shows that there's connection between long duration childbirth and Neonatorum Asphyxia cases. The babies with Neonatorum Asphyxia cases from long duration childbirth have 3.053 probability odds times than the babies without Neonatorum Asphyxia cases, after being controlled by maternity acts and referral cases. Maternity acts and referral cases it also predicted had taken part as cofounder, or influence to long duration childbirth and Neonatorum aphyxia cases. The maternity acts must be conducted as soos as possible if a long duration childbirth has been detected. Another actions that should be done and continued are public information or illumination acts, especially to pregnant mothers, to always take care of their pregnancy by doing the best ane natal caring along hers/their pregnancy to pre-detect and prevent maternity or childbirth problems.

Read More
T-1300
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lili Tantijati; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Luknis Sabri, Ina Henawati, Dadang Prihadi
Abstrak:
Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia sangat tinggi. Berdasarkan Biro Pusat Statistik (BPS), AKB pada tahun 1995 adalah 55 bayi per 1000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab utama kematian bayi adalah tetanus neonatorum, yang menempati urutan ke 3 (SKRT 1986 dan 1992). Upaya untuk mengeliminasi penyebab kematian terus dilakukan oleh Depatennen Kesehatan dengan target untuk menurunkan insiden tetanus neonatorum menjadi 1 per seribu kelahiran hidup pada tahun 2000. Salah satu kabupaten penyumbang kasus tetanus neonatorum adalah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, walaupun ada kecenderungan menurun namun masih diatas target nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia neonatus saat timbulnya gejala-gejala tetanus neonatorum dengan kematian akibat tetanus neonatorum di Kabupatan Indramayu dan Kabupaten Cirebon tahun 1996-2001 sehingga diketahui usia masa kritis neonatus yang menderita tetanus neonatorum untuk meninggal dunia. Rancangan penelitian ini adalah kasus kontrol dengan perbandingan jumlah kasus dan kontrol 1:1. Jumlah sample keseluruhannya adalah 160 neonatus yang menderita tetanus neonatorum, yang terdiri dari 80 kasus dan 80 kontrol. Sample adalah neonatus penderita teanus neonatorum yang berusia 3-28 hari yang tercatat pada Form T2 dan Medical record rumah sakit sejak 1 Januari 1996 sampai 31 Desamber 2001 di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon .Kasus adalah sample yang meninggal dan kontrol adalah sample yang hidup. Hasil penelitian pada analisa Muitivariat dengan uncondentional logistic regresion, variabel yang berhubungan dengan kematian akibat tetanus neonatorum secara bermakna (p<0.05) adalah usia neonatus yang menderita tetanus neonatorum, dimana neonatus yang menderita tetanus neonatorum yang berusia 7 hari atau kurang mempunyai risiko meninggal dunia 20.06 kali dibanding neonatus penderita tetanus neonatorum yang berusia lebih dari 7 hari, Penderita tetanus neonatorum yang dibawa ke rumah sakit pada hari yang ke 2 atau lebih setelah gejala pertama (tidak mau menyusu dan demam) mempunyai risiko meninggal dunia 6.95 kali dibandingkan dengan yang dibawa ke rumah sakit pada hari pertama setelah gejala pertama, neonatus yang menderita tetanus neonatorum yang diberi dosis obat antibiotik lebih rendah selama dirawat di rumah sakit mempunyai risiko meninggal dunia 4.34 kali di banding neonatus yang menderita tetanus neonatorum yang selama dirawat di rumah sakit di beri dosis obat antibiotik yang sesuai dengan Prosedur tata laksana kasus tetanus neonatorum di RSCM, Jakarta. Variabel kekebalan, antibiotik (jenis dan cara pemberian), anti kejang (jenis,dosis dan cara pemberian) dan cara pemberian ATS tidak berhubungan secara bermakna.(p>0.05) dengan kematian akibat tetanus neonatorum. Disarankan untuk perbaikan dan sosialisasi Protap Tata Laksana Kasus Tetanus Neonatorum baik di tingkat rumah sakit maupun Puskesmas, perbaikan surveillence kasus tetanus neonatorum dan intensifikasi upaya pencegahan tetanus neonatorum.

The Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesia is still high. Based on Central Bureau of Statistics (CBS) the IMR in 1995 was 55/1000 live births. One of the main reasons on infant death is tetanus neonatorum that take a place on the third (Household Health Survey, 1986 and 1992). The effort to eliminate the cause of infant death is still conducted by 1hP MOH with the target to reduce incident of tetanus neonatorum become 111000 live birth on 2000. One the District that contributes the case of tetanus neonatorum is Indramayu and Cirebon Districts, even showing tend to reduce; however it is over with the national target. The objective of this study was to determine the relationship of neonatus' age when showing the indications of tetanus neonatorum with the death caused by tetanus neonatorum at Indramany and Cirebon Districts in 1996-2001. So it can be known the age on neonatus crisis time that is suffering tetanus neonatorum to death. The study design was control cases with the comparison; the number of cases group and control group was 1:1. The total number of sample was 160 neonatus tetanus neonatorum that covers of 80-cases group and 80-control group. The sample was the sufferer of tetanus neonatorum whose age was 3-28 days that registered on the T2 Form and Medical Record at the Hospital, since January 1st, 1996 - December 31s', 2001 both in lndramayu and Cirebon Districts. The cases were the samples whose was death and control was the sample that is still alive. The result of this study based on Multivariate analysis by unconditional logistic regression, It was showed that the variable which related to the death that caused by tetanus neonatorum significantly (p<0.05) was the age of neonatus. The sufferer of neonatus tetanus neonatorum whose the age is 7 days or less, they were having risk to death as 20.06 times compared with the neonatus tetanus neonatorurn whose age over than 7 days. The sufferer of tetanus neonatorum that brought to the Hospital on second day or more after first indication (reluctant to breast-feed and fever) having risk to death as 6.95 times compared with those whom brought to the Hospital on the first day after the first indication. The neonatus tetanus neonatorum who is given lower doses of antibiotic medicine during hospitalized having risk to death 4.34 times compared with whom that hospitalized gave doses of antibiotic medicine that meet with management diagnose, the cases at Cipto Mangun Kusumo Hospital, Jakarta. The variable of immune, antibiotic (type and method of giving), anti-seized (type, doses and method of giving) and the way in giving the ATS was not related significantly (p>0.05) with the death of neonatus caused by tetanus neonatorum. It is recommended to increase and socialize the protap of Management Tetanus Neonatorum Cases both in the level of Hospital and to the Health Center. It is needed to improve the surveillance on the case of tetanus neonatorum and intensification effort in preventing the cases of tetanus neonatorum.
Read More
T-1465
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Padri H.; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
T-859
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilida Fitriana; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Renti Mahkota, Eni Gustina, Agus Rahmanto
Abstrak: Angka kejadian asfiksia neonatorum masih menjadi masalah serius di Indonesia.Salah satu penyebab tingginya kematian bayi di Indonesia adalah asfiksianeonatorum yaitu sebesar 33,6%. Salah satu faktor persalinan yang berhubungandengan kejadian asfiksia neonatorum adalah persalinan dengan sectio caesarea.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan persalinan tindakan dengansectio caesarea dengan kejadian asfiksia neonatorum setelah di kontrol variabel kovariat. Penelitian ini menggunakan rancangan desain kasus control dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis ibu bersalin di RSIA BudiKemuliaan, Jakarta pada tahun 2013. Sampel penelitian ini adalah neonatusasfiksia. Analisis menggunakan regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan66,2% bayi asfiksia dilahirkan dengan persalinan sectio caesarea. Selain didapatkan bahwa hubungan persalinan tindakan sectio caesarea dan kejadianasfiksia secara statistik mempunyai hubungan yang bermakna dengan p-value 0,042 dimana ibu yang melahirkan dengan persalinan tindakan sectio caesarea memiliki resiko 2 kali (95% CI 1,03-4,32) untuk terjadi asfiksia pada bayi yang dilahirkan dibanding ibu yang melahirkan dengan persalinan pervaginam (normal)setelah dikontrol dengan variabel kelainan letak, gawat janin, dan preeklamsi.Kata kunci: Sectia Caesarea, Asfiksia
The incidence of neonatal asphyxia remains a serious problem in Indonesia. Oneof the causes of the high infant mortality in Indonesia is asphyxia neonatorum isequal to 33.6%. One of the factors associated with the incidence of birth asphyxianeonatorum is the Sectio Caesarea delivery. The purpose of this study was todetermine the relationship of labor action by sectio Caesarea with the incidence ofneonatal asphyxia after covariate control variables. This study used a case controldesign design using secondary data from maternal medical records in RSIA BudiKemuliaan, Jakarta in 2013 samples of this study was neonatal asphyxia. Analysisusing logistic regression. The results showed 66.2% of babies born with birthasphyxia sectio Caesarea. In addition it was found that labor relations act sectioCaesarea and asphyxia events have statistically significant association with a p-value of 0.042 where the mother who gave birth to the labor action sectioCaesarea has 2 times the risk (95% CI 1.03 to 4.32) for the case of asphyxia ininfants born to mothers who gave birth compared with vaginal delivery (normal)after controlled with variable layout abnormalities, fetal distress, andpreeclampsia.Keywords : Sectio caesarea, asphyxia
Read More
T-4169
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yeni Suryamah; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, SUdarto Ronoatmodjo, Emita Aziz, Rusli
T-4487
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Juli Siswantari; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Ema Hermawanti, Laila Fitria, Bambang Setiaji
Abstrak: Diare masih menjadi masalah di Indonesia dan merupakan penyebab kematian pertama pada kelompok umur balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi sanitasi dan perilaku higiene ibu dengan kejadian diare balita di Kabupaten Sukabumi. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari studi EHRA Kabupaten Sukabumi tahun 2013. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional dengan pemilihan sampel metode purposive sampling. Uji statistik menggunakan chi square dengan sistem regresi logistik ganda model prediksi. Hasil penelitian didapatkan 25% balita terkena diare. Dari analisis bivariat didapat variabel yang signifikan mempengaruhi diare balita adalah sarana air bersih (p value 0,002) dengan OR 2,669 (CI 95% 1,44-4,93) dan variabel jarak septik tank-sumur gali (p value 0,000) OR 4,84 (CI 95% 2,15- 10,93). Hasil multivariat menunjukkan bahwa jarak sumur gali-septik tank adalah yang utama mempengaruhi diare balita (p value 0,000) OR 5,22.
Kesimpulan: dalam penelitian ini jarak antara sumur gali-septik tank sangat berpengaruh besar terhadap kejadian diare balita. Balita dalam rumah tangga yang menggunakan sumur gali dengan jarak kurang dari 10 meter dari septic tank memiliki risiko 5,221 kali untuk menderita diare dibandingkan jika jarak ≥ 10 meter. Oleh karena itu diperlukan penyuluhan atau sosialisasi tentang sarana sumur gali dengan septik tank yang memenuhi syarat. Jika kondisi lahan tidak memungkinkan maka perlu dikembangkan alternatif seperti septik tank komunal atau sistem IPAL terpusat oleh sektor terkait. Kata Kunci : Diare, balita, sanitasi
Read More
T-4405
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rindu Rachmiaty; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Nurhayati Adnan, Yoan H. Naomi
T-4749
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Djupuri: Pembimbing; Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Abbas Basuni Jahari, Bastaman Basuki, Kodrat Pramudho
Abstrak:

LATAR BELAKANG: Salah satu strategi yang digunakan oleh pemerintah dalam penanggulangan kekurangan gizi adalah dengan promosi kesehatan yang dilakukan di Posyandu, untuk itu ingin diketahui apakah ada hubungan antara kunjungan ke Posyandu dengan kejadian kurang energi protein. METODOLOGI: Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan memanfaatkan data sekunder hasil penelitian Baseline Survey A Longitudinal Study on Nutritional Status of Children at Early Child Development Project areas in Indonesia, dengan sampel anak usia 6-23 bulan di 4 Kabupaten di Jawa Barat. Data dianalisa dengan menggunakan analisa regresi logistik. HASIL: Kejadian KEP di 4 Kabupaten Jawa Barat tahun 1998 rata-rata adalah 35,9%, dan Kabupaten Indramayu adalah kabupaten dengan kejadian KEP tertinggi yaitu 40,9%. Kejadian KEP berhubungan dengan status pekerjaan ibu (OR 0,76; 95% Interval kepercayaan 0,59;0,98), jumlah balita dalam keluarga (OR=2,01; 95% Interval kepercayaan 1,22;3,31), umur anak (ORR3,48 95% Interval kepercayaan 2,71;4,47 dan OR==1,35 ;1,05;1,73) dan kejadian sakit dalam sebulan terakhir (OR=1,44; 95 Interval kepercayaan 1,31;1,83), sementara itu tidak ditemukan adanya hubungan antara kunjungan ke Posyandu dengan kejadian KEP (OR=0,88;95% Interval kepercayaan 0,69;1,13 dan OR=0,97; 0,73;1,28) KESIMPULAN : Hasil Analisa menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kunjungan ke Posyandu dengan kejadian KEP, baik sebelum maupun setelah dikendalikan dengan variabel Iainnya.


 

Associated Between Visit to Integrated Health Services Post with Protein Energy Malnutrition among Children 6-23 Months in 4 Districts in West Java, 1998BACKGROUND: A part of national strategy for tackling under nutrition problem with health promotion in Integrated Health Service Post. This study aims to know associated between visit to Integrated Health Services Post with Protein Energy Malnutrition METHODS: The research design used cross-sectional. Data used were secondary data from Baseline Survey a longitudinal Study on Nutritional Status of Children at Early Child Development Project areas in Indonesia by Centre for Food and Nutrition Studies University of Hasanuddin collaboration with Directorate of Community Nutrition, Ministry of Health. Data were then analysed using the logistic regression. RESULTS: Prevalence of PEM in four district in West Java 1998 was 35,9 %, and Indramayu the district with the highest the prevalence of protein energy malnutrition (PEM), 40,9%.PEM associated with mother occupation status (OR=-0,76; 95%CI 0,59;0,98), the number of under five years old in house (OR=2,01; 95%CI 1,22;3,3I), child-aged (OR=3,48 95% CI 2,71;4,47 and OR=1,35 95%C1 1,05;1,73)and the last month the incidence of child illness(OR=1,44; 95 CI 1,31;1,83) and no asssociated between visit to Integrated Health Services Post with Protein Energy Malnutrition (OR=0,88;95% CI 0,69;1,13 and OR=0,97;95% CI 0,73;1,28) CONCLUSION: Data analysis revealed no found associated between visit to Integrated Health Services Post with Protein Energy Malnutrition.

Read More
T-1079
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fatimah Resmiati; Pembimbing: Syahrizal Syarif
T-334
Depok : FKM UI, 1994
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive