Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36078 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sahat M. Ompusunggu ... [et al.]
BPK Vol.22, No.2
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 1994
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.55, No.12, Des., 2005 : hal. 724-729
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedk Indo. (MKI), Vol.44, No.6, juni. 1994, hal. 377-384
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekar Tuti ... [et al.]
Bulitkes Vol.35, No.3
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2007
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chandrayani Simanjorang; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Kopromotor: Tri Yunis Miko, Agnes Kurniawan; Penguji: Umar Fahmi Achmadi, Helda, Tri Krianto, Lukman Hakim, Rita Kusriastuti
Abstrak: Latar Belakang: Lamanya waktu pengobatan primakuin pada pasien malaria vivax diyakini dapat menyebabkan tingkat kepatuhan minum obat yang rendah. Oleh karena itu dibutuhkan suatu metode intervensi yang dapat meningkatkan kepatuhan minum obat sehingga kekambuhan dapat dicegah. Efektivitas metode ini belum diuji secara optimal di daerah endemis malaria seperti Sentani Papua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penyuluhan individu dan supervisi pengobatan terhadap kekambuhan malaria vivax di Sentani Kabupaten Jayapura. Faktor-faktor lain yang berpotensi menyebabkan terjadinya kekambuhan malaria vivax juga disertakan dalam penelitian ini. Metode: Sebuah metode quasi eksperimen yang dilakukan pada Januari-Agustus 2019 di Sentani Papua. Subjek penelitian adalah pasien yang didiagnosa malaria vivax konfirmasi mikroskop, usia ≥1 tahun, bukan malaria berat, tidak sedang hamil, tidak sedang menyusui, tidak meminum obat anti malaria dalam 4 minggu sebelumnya dan diberikan pengobatan sesuai standar nasional dengan DHP selama 3 hari dan primakuin 14 hari. Subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok standard therapy (STH) sebagai kontrol, kelompok intervensi penyuluhan individu (EDU), dan kelompok intervensi supervisi (SPV). Kemudian semua pasien difollow-up selama 90 hari dan dilihat kekambuhannya. Dinyatakan kambuh apabila ditemukan plasmodium vivax pada apusan darah subjek melalui pemeriksaan mikroskopis selama follow-up. Pemeriksaan dilakukan hari ke-3, 7, 14, 28, 60, dan 90 setelah diagnosa pertama. Hasil pemeriksaan dievaluasi dengan melakukan uji silang di BBPTKL-PP Jakarta. Intervensi pada kelompok EDU berupa penyuluhan individu oleh dokter dan perawat Puskesmas sebanyak 3 kali yaitu H0, H3, dan H7. Penyuluhan diberikan secara lisan kepada pasien dengan materi tentang kekambuhan malaria vivax yang sudah tertera di leaflet. Kemudian leaflet diberikan kepada pasien untuk dibaca dan dibawa pulang. Sementara kelompok SPV diberikan intervensi supervisi berupa kunjungan rumah untuk pengawasan minum obat sebanyak 7 kali yaitu H0, H2, H4, H6, H8, H10, H12. Serta mengirimkan pesan singkat/telepon untuk mengingatkan minum obat malaria pada H1, H3,H5, H7, H9, H11, H13. Kelompok kontrol (STH) merupakan kelompok yang didiagnosa malaria vivax di Puskesmas kemudian menerima pengobatan standar dan kembali ke rumah masing-masing. Hasil: Seluruh subjek penelitian (162 subjek) berasal dari pasien malaria vivax di wilayah Puskemas Sentani, Sentani Timur dan Sentani Barat. Terdapat 54 subjek masuk kelompok EDU (Puskesmas Sentani), 58 subjek masuk kelompok SPV (Puskesmas Sentani Timur), dan 50 subjek masuk kelompok STH (puskesmas Sentani Barat). Semua subjek sembuh tanpa komplikasi. Insiden kekambuhan malaria vivax pada kelompok EDU lebih rendah dibandingkan dengan kelompok STH (1.9% vs 20% atau 0.21/1.000 person-days vs 2.36/1.000 person-days). Insiden kekambuhan malaria vivax pada kelompok SPV juga lebih rendah dibandingkan dengan kelompok STH (1.7% vs 20% atau 0.19/1.000 person-days vs 2.36/1.000 person-days). Kekambuhan pada kelompok EDU terjadi di hari ke-48 (1 subjek), kelompok SPV terjadi di hari ke-7 dan 14 (1 subjek). Sementara kekambuhan pada kelompok STH terjadi di hari ke-38 ix Universitas Indonesia (1 subjek), 47 (1 subjek), 48 (1 subjek), 60 (2 subjek), 62 (1 subjek), 74 (2 subjek), dan 90 (2 subjek). Seluruh subjek dinyatakan kambuh melalui hasil pemeriksaan mikroskopis malaria vivax. Sebanyak 10 subjek (83%) dari seluruh subjek yang mengalami kekambuhan adalah anak-anak. Hazard Ratio (HR) intervensi EDU terhadap kekambuhan malaria vivax adalah 0.079 (CI 95%; 0.009-0.675). Hazard Ratio (HR) intervensi SPV terhadap kekambuhan malaria vivax adalah 0.087 (CI 95% = 0.010-0.734). Proporsi kasus yang dapat dicegah (PFu%) dengan intervensi EDU sebesar 92% dan intervensi SPV 91%. Artinya, sebanyak 92% kekambuhan pada kelompok STH dapat dicegah dengan pemberian penyuluhan individu dan sebesar 91% kekambuhan pada kelompok STH dapat dicegah dengan intervensi supervisi pengobatan. Kesimpulan: Intervensi berupa penyuluhan individu dan intervensi pengawasan minum obat sama-sama efektif meningkatkan kepatuhan pengobatan 14 hari primakuin sehingga dapat mencegah kekambuhan malaria vivax. Berkurangnya kekambuhan malaria vivax sejalan dengan berkurangnya transmisi dan morbiditas malaria di daerah endemis. Intervensi edukasi merupakan pilihan yang tepat diimplementasikan di daerah urban dimana mayoritas penduduknya berpendidikan tinggi, sementara di daerah rural sebaiknya memilih gabungan dari kedua intervensi dengan memberdayakan kader malaria yang sudah dilatih oleh Kementerian Kesehatan.
Read More
D-426
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.56, No.2, Pebr. 2006, hal. 51-55
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mecky Muchlis; Pembimbing: Ronnie Rivany, Pujiyanto; Penguji: Rina Fithri Anni Bahar, Marjuned Danoe
Abstrak:

Malaria merupakan salah satu penyakit yang menjadi ancaman masyarakat di daerah tropis dan sub tropis terutarna pada bayi, anak balita dan ibu melahirkan. Sejak krisis ekonomi 1997 daerah endemis malaria bertambah luas bahkan menimbulkan kejadian luar biasa pada daerah yang telah berhasil menanggulangi malaria. Kejadian penyakit malaria di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang merupakan Propinsi barn di Indonesia masih menunjukkan angka kesakitan malaria cukup tinggi. Dari data Departemen Kesehatan tahun 2005 untuk Iuar Jawa dan Bali, data 2001 - 2003, Propinsi Kepulauan Bangka-Belitung masih masuk dalam kategori Medium Incidence Area dengan AMI 45,85. Total anggaran bidang kesehatan selama orde baru hanya 2,5%-3% dan setelah krisis ekonami sangat tergantung kebijakan pemerintah daerah. Kabupaten Bangka Tengah di tahun 2006, anggaran biaya obatnya 1 milyar, untuk obat malaria 45 jutaan, Adanya obat baru Artesunate Combination Therapy (ACT) yang harganya lebih mahal dengan anggaran obat malaria masih kccil maka perlu melakukan studi efektititas-biaya dengan obat yang sudah lama dipakai. Penelitian ini merupakan evaluasi ekonomi kuantitatif bersifat deskriptif dengan melakukan studi perbandingan (comparative study) obat CO + PQ dan obat ACT + PQ secara prospektif di Puskesmas Koba. Diharapkan mendapatkan variasi biaya pengobatan malaria vivax dengan analisis efektifitas-biaya serta perhitungan biaya dilakukan dengan metode activity based costing (ABC). Tujuan penelitian untuk memilih biaya pengobatan malaria vivax yang lebih efektif antara obat CQ + PQ dan obat ACT + PQ di Puskesmas Koba. Dari basil penelitian di Puskesmas Koba selama bulan Pebruari sampai dengan April 2006 didapatkan aktifitas biaya investasi terbesar adalah pembacaan sediaan DDR dengan jenis investasi terbesar ruang laboratoriurn, mikroskop. Aktifitas biaya operasional langsung terbesar obat CQ + PQ adalah anarnnesis dan pemeriksaan fisik dan komponen operasional terbesar gaji dan kartu medical record. Obat ACT + PQ biaya operasional langsung terbesar adalah aktifitas menulis cara makan obat di etiket dengan komponen operasional terbesar obat dan gaji. Biaya operasional tidak langsung terbesar kedua alternatif obat adalah aktifitas anarnnesis dan pemeriksaan fisik dengan komponen gaji tak langsung. Biaya pemeliharaan terbesar adalah aktifitas anamnesis dan pemeriksaan fisik di ruang periksa. Dari biaya total yang terbesar adalah biaya operasional. Efektifitas cakupan makan obat CQ + PQ 27 orang dan ACT + PQ 26 orang, selesai makan obat CQ + PQ 25 orang dan obat ACT + PQ 24 orang, turun panas hari pertama obat CQ + PQ 16 orang dan obat ACT + PQ 10 orang dan respon klinis memadai obat CQ + PQ 24 orang dan obat ACT + PQ 22 orang. Hasil analisis rasio obat CQ + PQ lebih kecil daripada obat ACT + PQ, simulasi analisis sensitifitas rasio obat CQ + PQ lebih kecil dari pada obat ACT + PQ dan dari analisis cost recovery rate obat CQ + PQ Iebih sedikit yang disubsidi pernerintah dibandingkan obat ACT + PQ. Obat CQ + PQ lebih cost effective daripada obat ACT + PQ untuk semua analisis dengan semua efektifitas yang didapat. Obat CQ + PQ tetap pilihan utama pengobatan malaria vivax sedangkan obat ACT + PQ untuk malaria falsiparum. Perlunya penyuluhan cara makan obat dengan dosis yang tepat untuk pengobatan malaria vivax dan perlu melakukan penelitian dengan sampel yang lebih banyak sesuai standar.


Malaria was one of disease which becoming a public risk in tropical and sub tropical area. especially for baby, child under five years and child birth's mother. Since economic crisis in 1997, endemic area of malaria increased, even became extraordinary occurrence in the area which has succeeded to overcome of malaria Occurrence of malaria in Province of Archipelago of Bangka Befitting representing new Province in Indonesia still show the malaria index enough was high. In 2005 health data to outside Java and Bali, data 2001 - 2003, Province of Archipelago Bangka-Belitung still enter in category of Medium Incidence Area by AMI 45,85. Totally budget of health service during Orde Baru regime was only 2,5 - 3% and after economic crisis was most depend on locals government : policy. Drug budget of Bangka Tengah district was I billion rupiahs and drug. therapy of malaria was over 45 million rupiahs in 2006. The existence of new drug of Artesunate Combined Therapy (ACT) where its price was more expensive and in the other hand drug budget of malaria was not enough, so it need to cost-effectiveness study with drug which have been used before. This research was a descriptive quantitative economic evaluation with a comparative study of CQ + PQ and ACT + PQ prospectively. Expected to be got a variation of drug therapy of malaria vivax with cost-effectiveness analysis and calculating has been done with Activity Based Costing (ABC) method. These research was to calculated which one more effective in Koba community health center between Cloroquine + Primakuin (CQ + PQ) or Artesunate + Amodiaquine + primakuin (ACT + PQ). The resulth of research in Koba Community Health Center from February until April 2006 was got that the biggest activity investment cost is read of available DDR, with biggest investment component is laboratory room and microscope. The biggest of direct operational cost of CQ + PQ drug were anamnesis and physical examination and the biggest component of operational cost was salary and medical record card. The biggest activity cost of direct operational ACT + PQ was write etiquette of dosage and the biggest operational component was medicine and salary. The biggest cost of indirect operational both drug alternative were anamnesis and physical examination activity and indirect salary component The biggest maintenance cost were anamnesis and physical examination activity and polyclinic. The biggest total, cost was cost of operational. Effectiveness of respondence CQ + PQ were 27 people and ACT + PQ were 26 people; complete treatment CQ + PQ were 25 people and ACT + PQ were 24 people; afebris in the first day CQ + PQ were 16 people and ACT + PQ were 10 people; and the adequate clinical and parasitological response (ACPR) of CQ + PQ were 24 people and ACT + PQ were 22 people. Result analysis drug ratio of CQ + PQ was smaller than ACT + PQ ; analysis simulation of ratio sensitivity drug of CQ + PQ were smaller than ACT + PQ and analysis cost recovery rate drug of CQ + PQ was smaller subsidized by government compared with ACT + PQ. Drug of CQ + PQ was more cost effective than ACT + PQ for all analyses with all of their effectiveness. CQ + PQ was still remain to drug of choice a malaria vivax while ACT + PQ was drug of choice for malaria falcifarum. The importance was counseling of correct dosages for therapy malaria vivax and its importance to research with more minimal samples.

Read More
T-2256
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hery Djoko Subandriyo; Pembimbing: Sandi Iljanto, Yovsyah; Penguji: Pujiyanto, Ferdinand J. Laihad, Artha Budi Susila Duarsa
Abstrak: Selama lima tahun terakhir angka AMI di Puskesmas Hanura Kabupaten Lampung Selatan cenderung meningkat. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan kenaikan kasus ini adalah adanya resistensi obat. Resistensi obat malaria di Lampung pertama kali dilaporkan oleh NAMRU pada tahun 2000, penelitian terakhir yang dilakukan oleh Sutanto pada tahun 2002 memperlihatkan angka resistensi klorokuin di wilayah Puskesmas Hanura mencapai 80 %. Departemen Kesehatan menganjurkan untuk dilakukan penggantian obat malaria dengan Artemisin Combination Therapy ( ACT ), tapi di Puskesmas Hanura belum pernah dilakukan analisis kelayakan penggunaan obat Artemisin Combination Therapy ( ACT ). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelayakan Artemisin Combination Therapy ( ACT ) sebagai obat malaria pengganti Klorokuin di Puskesmas Hanura Lampung Selatan tahun 2005. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Efikasi obat berupa kecepatan menghilangkan parasit, kecepatan menghilangkan gejala klinis; Penerimaan Masyarakat berupa efek samping dan sikap terhadap obat serta perbedaan efektifitas biaya. Dari hasil penelitian terhadap 56 penderita malaria yang menggunakan obat klorokuin dan 53 yang menggunakan obat ACT, diketahui bahwa dari lima variabel yang ada dan diduga berhubungan dengan efek pengobatan ( variabel jenis obat malaria, kepadatan parasit, berat badan, umur, jenis kelamin ) setelah diuji dengan analisis regresi sederhana dengan variabel dependen yaitu Efek pengobatan, ternyata yang mempunyai batas nilai signifikan ( p-value < 0,25 ) didapat 4 variabel ( jenis obat malaria, kepadatan parasit, berat badan, umur ). Dari 4 variabel tersebut kemudian diseleksi ( full model ) dengan uji signifikansi p-wald untuk melihat seberapa penting variabel itu masuk model ( dengan cara mengeluarkan satu persatu variabel yang mempunyai p-wald paling besar ). Dari seleksi tersebut tinggal satu variabel yang bertahan ( Jenis obat malaria ) dan mempunyai p-wald signifikan ( < 0,05 ). Skor penilaian kelayakan obat malaria didapat ACT mempunyai skor 9,67 dan klorokuin mempunyai skor 5,62. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah Artemisin Combination Therapy ( ACT ) layak digunakan sebagai obat malaria pengganti Klorokuin di Puskesmas Hanura Lampung Selatan Melihat efikasi obat anti malaria terutama Klorokuin di Puskesmas Hanura 19,65 % perlu segera dilakukan kebijakan penggantian obat malaria yang efikasinya lebih baik (ACT). Pengobatan dengan menggunakan regimen obat anti malaria yang efektif (ACT) harus segera diperkenalkan dan dilaksanakan. Pemerintah daerah diharapkan dapat mengalokasikan anggaran daerah untuk pengadaan obat ACT.
In the last five years AMI (Anual Malaria Inciden) rate in Puskesmas Hanura Kabupaten Lampung Selatan trend increased.. One factors that are predicted relation to increase this case is drug resistance. The first findung of Malaria drug resistance in Lampung reported by NAMRU at 2000, the last research by Sutanto at 2002 showed that resistance rate of kloroquin at Puskesmas Hanura Area is 80 %. Health Departemen of Republic Indonesia suggest that is done to change malaria drug with Artemisin Combination Therapy ( ACT ), but at Puskesmas Hanura never be done to analysis the fesibility of Artemisin Combination Therapy ( ACT ) as malaria drug. The objective of this studi to know the feasibility of Artemisin Combination Therapy ( ACT ) as a changed of malaria drug from Kloroquin at Puskesmas Hanura Lampung Selatan tahun 2005. The Variabel are used in this study are Drug Eficacy consist of the speed to lose parasite, the speed to lose malaria syndrome; The Community Acceptance are side efect and respon to the drug and the different of cost efective. The result of this study to 56 patient of malaria that use kloroquin and 53 use ACT, known that 5 varible are drug efect ( malaria drug kinds, the density of parasite , body weight, age, sex ) after tested by simple regeration analysis with dependent variable are treatment side efect pengobatan, have p-value < 0,25 are 4 variable ( malaria drug kinds, parasite density, body weight, age). For those variable (4 variable) are selected ( full model ) by uji signifikansi p-wald to know how important those variable to became in model ( the way by to get out one by one the varible that have p-wald very big ). From this selection just one varible that have p-wald signifikan ( < 0,05 ) is malaria drug kinds. The value skore of malaria drug feasibility that ACT 9,67 and kloroquin have score 5,62. The result of this studi that Artemisin Combination Therapy ( ACT ) feasible to use as a changed of Kloroquin of malaria drug at Puskesmas Hanura Lampung Selatan The eficacy of malaria drug, Klorokuin at Puskesmas Hanura just 19,65 %, so need the policy to change the malaria drug that the eficacy more better (ACT). The treatment by malaria drug more efective (ACT) soonly to promote dan be done. The local goverment have to alocate the budget to the ACT drug.
Read More
T-2173
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rossa Avrina ... [et al.]
MPPK Vol.21, No.3
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indo. (MKI), Vol.45, No.4, Apr. 1995, hal: 223-229
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive