Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36463 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Etty Rekawati; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Ella Nurlela Hadi
T-1588
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melinda Ariyanti; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Putri Bungsu, Mugia Bayu Rahardja
S-9940
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haniena Diva; Pembimbing: Nurhayati; Penguji: Helda, Eti Rohati
Abstrak: Antenatal care (ANC) merupakan pelayanan yang dilakukan selama kehamilan yang dimana tenaga kesehatan harus dapat memastikan bahwa kehamilan berlangsung normal, dan mampu mendeteksi dini komplikasi dan penyakit yang dialami ibu hamil. Namun, kunjungan ANC di 5 provinsi di Indonesia masih belum sesuai dengan rekomendasi WHO (minimal 4 kali dengan pola ideal 1-1-2). Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan analisis data sekunder SDKI 2012. Sampel penelitian adalah wanita yang pernah melahirkan 5 tahun terakhir yang menjadi responden dalam SDKI 2012 di 5 Provinsi di Indonesia. Analisis bivariat digunakan regresi logistik sederhana dan analisis multivariabel digunakan regresi logistik berganda.

Hasil bivariat memperlihatkan bahwa ada tren peningkatan kunjungan ANC tidak sesuai dengan rekomendasi WHO pada pendidikan ibu (pvalue=0.0001), status ekonomi (pvalue=0.0001), dan pendidikan suami (pvalue= 0.0001). Hasil multivariabel memperlihatkan prediktor kunjungan ANC tidak sesuai dengan rekomendasi WHO adalah usia ibu saat hamil > 35 tahun, pendidikan ibu rendah, status ekonomi rendah, dan dukungan suami. Oleh karena itu, disarankan kepada tenaga kesehatan untuk melakukan penyuluhan pentingnya kunjungan ANC sesuai dengan rekomendasi WHO terutama pada ibu hamil usia > 35 tahun, pendidikan rendah, dan status ekomomi rendah, serta pemberdayaan suami.

Kata kunci: ANC rekomendasi WHO, SDKI 2012, pola ANC 1-1-2
Read More
S-8968
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vina Aulia Fitriani; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Helda, Asep Sopari
Abstrak: ABSTRAK Kehamilan remaja merupakan masalah yang dihadapi pada hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Besarnya jumlah populasi remaja dan masa transisi yang dialami remaja tersebut menjadi sebuah tantangan dalam permasalahan yang berkaitan dengan perilaku berisiko dan kesehatan reproduksi. Berbagai situasi saat ini seperti tingginya angka perkawinan dini, pengetahuan kesehatan reproduksi yang belum memadai serta berbagai hal lainnya dapat menempatkan remaja pada kondisi yang berisiko untuk mengalami kehamilan dini. Hal tersebut juga mengarahkannya pada morbiditas dan mortalitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor- faktor yang berhubungan dengan kehamilan remaja dengan responden remaja putri usia 15-19 tahun yang pernah melakukan hubungan seksual di Indonesia tahun 2012. Metode penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan data yang dianalisis menggunakan data sekunder hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan yang signifikan (p responden, tingkat pendidikan (OR 1.69, 95% CI= 1.26-2.26), status pekerjaan (OR 1.86, 95%CI= 1.39-2.48), status kawin (OR 26.6, 95% CI= 12.6-56.4) dan hidup bersama (OR 17.4, 95%CI= 6.38-47.6), pengetahuan kontrasepsi (OR 0.54, 95%CI=0.39-0.73) dan riwayat penggunaan kontrasepsi (OR 0.24, 95%CI= 0.18- 0.32) dengan kehamilan pada remaja. Disarankan agar pihak yang fokus pada masalah remaja dan pembuat kebijakan dapat berkolaborasi dan mengkaji ulang kebijakan terkait batasan usia menikah, mendukung terus peningkatan status wanita dengan memastikan akses pendidikan yang juga memuat informasi kesehatan reproduksi yang memadai, melakukan sosialisasi kepada orang tua terkait peraturan menikahkan anak dan pemahaman akan bahaya kehamilan dini, mendukung penuh perekonomian yang dapat melibatkan remaja serta dilakukannya penelitian lebih lanjut. Kata kunci: Remaja, Kehamilan Remaja, Indonesia Teenage pregnancy is a problem faced by almost all countries in the world including Indonesia. The large number of adolescent populations and the transition experienced by adolescents is a challenge in issues related to risk behavior and reproductive health. Current situations such as high rates of early marriage, inadequate knowledge of reproductive health and other things can put teenager at risk for early pregnancy that also leads to morbidity and mortality. The purpose of this study was to determine the factors associated with teenage pregnancy. Respondents from this study were women aged 15-19 years who had sexual intercourse in Indonesia in 2012. The method used cross-sectional study and data were analyzed using secondary data from Indonesian Demographic and Health Survey 2012. The results of this study showed a significant age, educational level (OR 1.69, 95% CI = 1.26-2,26), employment status (OR 1.86, 95% CI = 1.39 -2.48), marital status (OR 26.6, 95% CI = 12.6-56.4) and coexistence (OR 17.4, 95% CI = 6.38-47.6) , knowledge of contraception (OR 0.54, 95% CI = 0.39-0.73) and history of contraceptive use (OR 0.24, 95% CI = 0.18- 0.32) with teenage pregnancy. It is recommended that teen- focused parties and policymakers can collaborate and review policies related to marriage age restrictions, supporting the continual improvement of women's status by ensuring access to education that also includes adequate reproductive health information, socialize to parents related to marriage rules and understanding of the dangers of early pregnancy, also fully supporting the economy that can involve adolescents and conduct further research. Key words: Adolescent, Teenage Pregnancy, Indonesia
Read More
S-9842
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sasa Syarifatul Qulbi; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Ahmad Hasanuddin
Abstrak: Angka kematian bayi di Indonesia masih cukup tinggi dengan posisi tertinggi kelima diantara negara Asia Tenggara lainnya. 75% kematian bayi di bawah lima tahun terjadipada fase bayi berusia 0 sampai sebelum 12 bulan (BKKBN et al., 2018). Penelitian inimenggunakan desain studi kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Tujuan daripenelitian adalah adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengankematian bayi di Indonesia menggunakan data sekunder SDKI tahun 2017 yangdikumpulkan oleh DHS (Demographic Health System). Sampel berjumlah 11.861 yangterdiri dari wanita berusia 15 sampai 49 tahun yang sudah melahirkan bayi lahir hidupminimal berusia 1 tahun dalam periode 5 tahun terakhir sebelum Wawancara untuk surveidilakukan. Analisis data dilakukan dengan model chi-square bivariat. Hasil akhir analisisbivariat menunjukkan variabel-variabel yang berhubungan dengan kejadian kematianbayi antara lain status ekonomi, usia ibu saat melahirkan, paritas, jarak kelahiran, beratbayi lahir, jenis kelamin bayi, tempat persalinan, penolong persalinan, dan kunjunganANC. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian kematian bayi diIndonesia tahun 2012-2017 adalah berat bayi lahir dengan nilai PR sebesar 5,49. Olehkarena itu, perlu dilakukan peningkatan pelayanan kesehatan serta kerjasama denganpihak-pihak terkait, seperti bidan desa sebagai tenaga kesehatan terdekat dan parajiataupun kader desa untuk melakukan tindakan-tindakan non-medis--khususnya upayapencegahan--terkait dengan faktor-faktor risiko kematian bayi.Kata kunci:Faktor risiko, kematian bayi, SDKI 2017.
Read More
S-10302
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Grace Mediana P.; Pembimbing: Nuning M. Kiptiyah; Penguji: Sudarti Kreno, Lukman Hakim Tarigan, Hernani, Sukmahadi Thawaf
T-1376
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lila Andari Hidayat; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Theresia Sandra Diah Ratih
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian prehipertensi pada penduduk usia ≥18 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis bivariat dan data sekunder dari Riset Kesehatan Dasar 2018 dengan total sampel sebesar 34.040 orang dewasa usia ≥18 tahun.
Read More
S-10724
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Putri Komalasari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda, Ning Sulistiyowati
Abstrak:
Penurunan kematian perinatal perlu terus dipertahankan untuk meraih target Sustainable Development Goals 2030 sebagai bentuk dukungan terhadap target penurunan angka KIA yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap kematian perinatal. Penelitian dilakukan di Indonesia menggunakan data sekunder SDKI 2017. Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional dengan analisis bivariat. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara berat bayi saat dilahirkan (PR 4,27; 95% CI 2,92-6,25), tipe gestasi (PR 5,88; 95% CI 2,96-11,70), ukuran bayi saat lahir (PR 4,84; 95% CI 3,41-6,87), pendidikan ibu (PR 4,30; 95% CI 1,94-9,50), usia ibu saat melahirkan (PR 1,92; 95% CI 1,42-2,60), paritas (PR 1,76; 95% CI 1,32-2,35), komplikasi kehamilan (PR 2,01; 95% CI 1,40-2,88), komplikasi persalinan (PR 1,62; 95% CI 1,08-2,45), pekerjaan ibu (PR 1,39; 95% CI 1,03-1,87), penggunaan tembakau (PR 2,12; 95% CI 1,09-4,11), antenatal care (PR 4,10; 95% CI 2,99-5,63), vaksinasi tetanus toxoid (PR 1,91; 95% CI 1,31-2,77), suplementasi zat besi (PR 1,93; 95% CI 1,31-2,86), akses toilet (PR 1,48; 95% CI 1,10-2,00), dan terpapar internet (PR 1,51; 95% CI 1,10-2,10) dengan kematian perinatal. Pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan ini bisa menjadi informasi dasar terkini dalam kejadian kematian perinatal di Indonesia.

The decline of perinatal mortality in Indonesia needs to be preserved to achieve Sustainable Development Goals 2030 as an underpinning process of reducing maternal and child death numbers that has been a public health issue. The objective of this research is to determine associated factors of perinatal mortality. This research is conducted with a cross-sectional design and bivariate analysis. Results shown that there are statistically-significant association between birth weight (PR 4,27; 95% CI 2,92-6,25), gestational type (PR 5,88; 95% CI 2,96-11,70), size at birth (PR 4,84; 95% CI 3,41-6,87), mother’s education (PR 4,30; 95% CI 1,94-9,50), mother’s age on labor (PR 1,92; 95% CI 1,42-2,60), parity (PR 1,76; 95% CI 1,32-2,35), pregnancy complication (PR 2,01; 95% CI 1,40-2,88), complications during labor (PR 1,62; 95% CI 1,08-2,45), mother’s occupation (PR 1,39; 95% CI 1,03-1,87), tobacco usage (PR 2,12; 95% CI 1,09-4,11), antenatal care (PR 4,10; 95% CI 2,99-5,63), tetanus toxoid vaccination (PR 1,91; 95% CI 1,31-2,77), iron supplementation (PR 1,93; 95% CI 1,31-2,86), toilet access (PR 1,48; 95% CI 1,10-2,00), and internet exposure (PR 1,51; 95% CI 1,10-2,10) to perinatal death. This additional knowledge is an updated version of basic information in perinatal death occurence in Indonesia.
Read More
S-11528
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ronauli Margaretha Silalahi; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Asep Adam Mutaqin
Abstrak:

Di Indonesia, prevalensi KEK pada ibu hamil meningkat dari 16,9% pada tahun 2018 menjadi 17% pada tahun 2023. Padahal, dalam rangka menekan angka KEK pada ibu hamil, pemerintah Indonesia sejak tahun 2014 menerapkan program intervensi gizi bagi ibu hamil diantaranya mengimplementasikan pemberian makanan tambahan sesuai bahan pangan lokal, pemberian tablet TTD, dan kelas ibu hamil. Meskipun program gizi dan kesehatan ibu telah lama diimplementasikan di Indonesia, masalah KEK pada ibu hamil masih menjadi salah satu bentuk malnutrisi yang belum tertangani secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan risiiko KEK pada ibu hamil berdasarkan data SKI 2023. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel ibu hamil yang berada pada kehamilan trimester 3 dan menggunakan uji regresi logsitik sederhana untuk analisis bivariat. Dari 5.055 ibu hamil yang berhasil disurvey, terdapat 1.383 data yang eligible untuk digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini terdapat 153 (11,1%) ibu hamil dengan risiko KEK. Provinsi dengan kasus ibu hamil risiko KEK terbanyak di Indonesia adalah Jawa Tengah sebanyak 103 kasus (7,2%) sedangkan provinsi dengan kasus terendah adaalah Papua Pegunungan sebanyak 3 kasus (0,2%). Status sosial ekonomi keluarga terendah (OR 2,13; 95% CI 1,28 – 3,54), konsumsi buah ≤ 3 kali per bulan (OR 0,26; 95% CI 1,15 – 5,94), dan mengalami stres (OR 3,17; 95% CI 1,03 – 9,75) adalah faktor risiko yang berasosiasi dengan risiko KEK pada ibu hamil. Selain itu, faktor yang menunjukkan protektif terhadap risiko KEK pada ibu hamil adalah berumur > 35 tahun (OR 0,37; 95% CI 0,18 – 0,76). Oleh karena itu, program bantuan bagi keluarga ibu hamil miskin mampu mendukung pencegahan risiko KEK pada ibu hamil.


In Indonesia, the prevalence of CED among pregnant women increased from 16.9% in 2018 to 17% in 2023. In fact, in order to reduce the rate of CED in pregnant women, the Indonesian government since 2014 has implemented nutrition intervention programmes for pregnant women including implementing supplementary feeding according to local food ingredients, providing TTD tablets, and pregnant women's classes. Although nutrition and maternal health programmes have long been implemented in Indonesia, the problem of CED in pregnant women is still one of the forms of malnutrition that has not been effectively addressed. This study aims to determine the factors associated with the risk of CED in pregnant women based on SKI 2023 data. The design of this study was cross sectional with a sample of pregnant women who were in the 3rd trimester of pregnancy and used simple logistic regression test for bivariate analysis. Of the 5,055 pregnant women surveyed, 1,393 were eligible to be used in this study. The results of this study showed that there were 153 (11.1%) pregnant women at risk of CED. The province with the most cases of pregnant women at risk of CED in Indonesia was Central Java with 103 cases (7.2%) while the province with the lowest cases was Papua Mountains with 3 cases (0.2%). Lowest family socioeconomic status (OR 2.13; 95% CI 1.28 - 3.54), fruit consumption ≤ 3 times per month (OR 0.26; 95% CI 1.15 - 5.94), and experiencing stress (OR 3.17; 95% CI 1.03 - 9.75) were risk factors associated with the risk of CED in pregnant women. In addition, the factor that showed protective against the risk of CED in pregnant women was being > 35 years old (OR 0.37; 95% CI 0.18 - 0.76). Therefore, the assistance programme for families of poor pregnant women can support the prevention of the risk of CED in pregnant women.

Read More
S-11867
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sibongire Blessings Ngoma; Pembimbing: Sibongire Blessings Ngoma; Penguji: Trisari Anggondowati, Alexander A. Kalimbira, Poppy Elvira Deviany
Abstrak:
Stunting masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat di Malawi. Menurut Malawi Survei Demografi dan Kesehatan (MDHS) 2024, sekitar 38% anak balita mengalami stunting, meningkat dari 37% pada tahun 2015/16. Meskipun berbagai program gizi dan kesehatan telah dilaksanakan selama beberapa dekade, penurunan stunting masih stagnan, yang menunjukkan bahwa strategi yang ada belum memadai untuk mengatasi faktor-faktor mendasar penyebab kurang gizi pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada anak usia 6–59 bulan di Malawi. Analisis data sekunder dari cross-sectional Malawi DHS 2024 telah dilakukan. Sebanyak 4.804 anak usia 6–59 bulan dengan data antropometri valid (sampel tertimbang: 4.550) diikutsertakan dalam penelitian ini. Analisis deskriptif berbobot survei dilakukan untuk mengestimasi prevalensi stunting dan menggambarkan karakteristik populasi. Analisis bivariat tidak berbobot dan analisis multivariat tersesuaikan dilakukan menggunakan regresi Cox termodifikasi dengan waktu konstan dan varians robust untuk mengestimasi prevalence ratio (PR) kasar dan tersesuaikan. Modifikasi efek berdasarkan wilayah juga dianalisis untuk menentukan apakah hubungan antara faktor-faktor yang diidentifikasi dengan stunting berbeda di berbagai wilayah Malawi. Prevalensi stunting berbobot survei adalah 39,1% (95% CI: 37,2%–41,0%) pada anak usia 6–59 bulan. Prevalensi stunting tertinggi ditemukan pada anak usia 24–35 bulan (48,5%; 95% CI: 44,9%–52,1%), anak laki-laki (41,3%; 95% CI: 38,9%–43,8%), anak yang berasal dari rumah tangga dengan kuintil kekayaan terendah (44,6%; 95% CI: 41,9%–47,3%), serta di wilayah Tengah (40,3%; 95% CI: 37,0%–43,6%) dan Selatan (40,2%; 95% CI: 37,6%–42,8%) Malawi. Usia anak (p<0,001), jenis kelamin (p<0,001), urutan kelahiran (p=0,027), berat lahir (p<0,001), durasi pemberian ASI (p<0,001), kunjungan antenatal (antenatal care/ANC) (p=0,011), usia ibu saat melahirkan (p<0,001), tingkat pendidikan ibu (p<0,001), Body Mass Index (BMI) ibu (p<0,001), tempat tinggal (p<0,001), wilayah (p<0,001), kuintil kekayaan (p<0,001), jumlah anggota rumah tangga (p<0,001), dan jenis fasilitas sanitasi (p<0,001) berhubungan dengan stunting. Setelah penyesuaian, usia anak, jenis kelamin, berat lahir, diare, BMI ibu, kuintil kekayaan, tingkat pendidikan ibu, wilayah, dan jumlah anggota rumah tangga (p<0,05) berhubungan secara independen dengan stunting. Tidak ditemukan adanya modifikasi efek yang bermakna berdasarkan wilayah terhadap kekuatan hubungan antara faktor-faktor independen yang diidentifikasi dengan stunting. Prevalensi stunting di Malawi masih tinggi dan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berkaitan pada tingkat anak, ibu, dan rumah tangga. Percepatan penurunan stunting di Malawi memerlukan penguatan koordinasi multisektoral, investasi gizi yang merata, pencegahan diare, serta edukasi gizi dan peningkatan status gizi ibu sebelum, selama, dan setelah kehamilan.

Stunting remains a major public health challenge in Malawi. According to the 2024 Malawi Demographic and Health Survey (MDHS), approximately 38% of children under five years of age are stunted from 37% in 2015/16. Despite decades of ongoing nutrition and health programs, progress in reducing stunting has largerly stagnated, suggesting that existing strategies have been insufficient to address the underying determinants of child undernutrition and achieve substantial reductions in stunting prevalence. This study aimed to examine factors associated with stunting among children aged 6-59 months in Malawi. A secondary data analysis of a cross-sectional 2024 Malawi DHS was conducted. A total of 4,804 children aged 6-59 months with valid anthropometric measurements corresponding to a weighted sample of 4,550 were included. Survey weighted descriptive analyses were perfomed to estimate stunting prevalence and describe population characteristics. Unweighted bivariate and adjusted multivariate analyses were conducted using modified Cox regression with constant time and robust variance to estimate crude and adjusted prevalence ratios (PRs). Effect modification by region were also assessed to determine whether the associations between the identified factors and stunting differed across Malawian regions. Survey-weighted prevalence of stunting was 39.1% (95% CI: 37.2%-41.0%) among children aged 6-59 months. Stunting was most prevalent among children aged 24-35 months (48.5%; 95% CI: 44.9%-52.1%), among male children (41.3%; 95% CI: 38.9%-43.8%), those from the lowest wealth quintile households (44.6%; 95% CI: 41.9%-47.3%) , Central (40.3%; 95% CI: 37.0%-43.6%) and Southern regions (40.2%; 95% CI: 37.6%-42.8%) of Malawi. Age of child (p<0.001), sex (p<0.001), birth order (p=0.027), birth weight (p<0.001), breastfeeding duration (p<0.001), ANC visits (p=0.011), mother’s age at delivery (p<0.001), mother’s education level (p<0.001), maternal Body Mass Index (BMI) (p<0.001), place of residence (p<0.001), region (p<0.001), wealth quintile (p<0.001), number of household members (p<0.001), and type of toilet facility (p<0.001) with stunting. After adjustment, child’s age, sex, birth weight, diarhoea, maternal BMI, wealth quintile, maternal education level, region, and number of household members (p<0.05) were independently associated with stunting. No significant effect mofification by region was observed in the strength of association of the identified independent factors on stunting. The prevalence of stunting remains high in Malawi driven by interconnected child, maternal, and household factors. Accelerating stunting reduction in Malawi requires strengthened multisectoral coordination, equitable nutrition investment, effective diarrhea prevention, and strengthening nutrition education for women and improving maternal nutritional status before, during, and after pregnancy.
Read More
T-7613
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive