Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38391 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rahayuwati; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Poppy Yuniar, Indra Kurniawan
Abstrak: Skripsi ini bertujuan untuk merancang suatu sistem informasi Telaah Material Transfer Agreement (MTA) berbasis web pada Tim Advokasi dan Penelaahan Perjanjian Alih Material (Tim MTA) guna membantu proses Telaah MTA agar menjadi lebih efektif dan efisisen sesuai dengan kebutuhan serta mampu laksana. Metode pengembangan sistem informasi yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode System Development Life Cycle (SDLC), yang dimulai dari tahap analisis, perancangan basis data, perancangan desain antar muka, hingga tahap uji coba sistem. Dari pengumpulan data yang dilakukan, ditemukan adanya permasalahan pada proses pengajuan permohonan MTA, proses telaah protokol, serta proses penyampaian hasil MTA yang masih dilakukan secara manual. Dari hasil analisis didapatkan pula adanya peluang pengembangan sistem informasi untuk membantu pelaksanaan telaah MTA. Berdasarkan hal tersebut, telah disusun suatu rancangan sistem informasi telaah MTA berbasis web pada Tim MTA.
Kata kunci: Sistem Informasi, Web, Telaah, Basis Data Daftar Pustaka : 32 (2000-2015)
Read More
S-8776
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Nirmala Sari; Promotor: Hadi Pratomo; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar, Hervita Diatri ; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Budi Anna Keliat, Sherly Saragih Turnip, Didi Danukusumo; Indra Supradewi
Abstrak:
Secara global, termasuk di Indonesia, ibu hamil merupakan populasi rentan untuk mengalami gejala kecemasan dan depresi. Apabila kedua gejala tersebut tidak teridentifikasi dan ditata laksana selama kehamilan akan menimbulkan dampak terhadap kesehatan ibu seperti, depresi pascapersalinan, pre eklampsi, bahkan bunuh diri, dan kesehatan anak seperti, prematur dan berat badan lahir rendah. Oleh karena itu, skrining gejala kecemasan dan depresi pada ibu hamil sangat penting dilakukan. Indonesia telah memiliki kebijakan penilaian kesehatan jiwa dalam antenatal care (ANC) sejak Juli 2021. Indonesia juga sedang melakukan transformasi kesehatan digital untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Namun, Indonesia belum memiliki instrumen dan protokol skrining gejala kecemasan dan depresi dalam pelayanan antenatal baik secara konvensional maupun pemanfaatan teknologi digital. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan sistem skrining gejala kecemasan dan depresi pada ibu hamil berbasis expert system dalam ANC. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Tahap ke-1 menguji validitas dan reliabilitas instrumen Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) versi bahasa Indonesia pada 125 ibu hamil secara daring melalui penyebaran formulir Google. Tahap ke-2 menilai kemampuan skrining instrumen EPDS dibandingkan dengan instrumen MINI-International Neuropsychiatric Interview (MINI) sebagai gold standard pada 298 ibu hamil. Tahap ke-2 ini dilakukan di Kota Depok (Puskesmas Beji, Cipayung, Jati Jajar, dan Pancoran Mas). Penilaian MINI dilakukan secara daring oleh dua orang enumerator terlatih. Tahap ke-3 dilakukan pengembangan prototipe sistem skrining gejala kecemasan dan depresi berbasis expert system. Analisis statistik pada tahap 1 dengan berbagai jenis uji validitas dan reliabilitas. Tahap ke-2 dilakukan penilaian sensitivitas dan spesifisitas. Tahap ke-3 dilakukan evaluasi terhadap akurasi expert system dan fisibilitas prototipe. Penelitian ini menghasilkan instrumen EPDS versi bahasa Indonesia yang terbukti valid dan reliabel untuk digunakan pada populasi ibu hamil. Instrumen ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas > 90% untuk skrining gejala kecemasan dan depresi kehamilan. Proporsi akurasi pada expert system > 90%. Ibu hamil menyatakan prototipe ini mudah, waktu penilaian singkat, dan bermanfaat untuk digunakan. Prototipe berbasis expert system yang disebut BMoms, layak dan mampu laksana untuk skrining gejala kecemasan dan depresi pada ibu hamil dalam ANC. Oleh karena itu, prototipe BMoms dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi aplikasi siap dan tepat guna sehingga menjadi solusi inovatif untuk skrining kesehatan jiwa pada ibu hamil.

Globally, including Indonesia, pregnant women are vulnerable population to experience symptoms of anxiety and depression. If these two symptoms are not identified and treated during pregnancy, it will have an impact on maternal and child health, such as suicide, pre-eclampsia, postpartum depression, premature, and low birth weight. Therefore, screening for symptoms of anxiety and depression in pregnant women is very important. However, Indonesia does not yet have instruments and protocols for screening symptoms of anxiety and depression in pregnant women in antenatal care (ANC) both conventionally and the use of digital technology. In fact, Indonesia already has a mental health assessment policy in ANC since July, 2021 and is currently carrying out a digital health transformation to improve the quality of health services. This study aimed to develop a screening system for symptoms of anxiety and depression in pregnant women based on an expert system in ANC.
The study consists of three stages. Phase 1 tested the validity and reliability of the Indonesian version of the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) instrument on 125 pregnant women online through the dissemination of Google forms. Phase 2 assessed the screening ability of EPDS instrument compared to MINI-International Neuropsychiatric Interview (MINI) instrument as gold standard in 298 pregnant women. This 2nd phase was carried out in Depok City (Beji, Cipayung, Jati Jajar, and Pancoran Mas public health centre). The MINI assessment was carried out online by two trained enumerators. The 3rd stage was carried out by developing a prototype of an anxiety and depression symptom screening system based on expert system. Statistical analysis at stage 1 employed various types of validity and reliability tests. The 2nd stage was carried out to test sensitivity and specificity. The 3rd stage was evaluated on the accuracy of the expert system and the feasibility of the prototype.
This study produced an Indonesian version of the EPDS instrument that was proven to be valid and reliable for use in the population of pregnant women. This instrument had a sensitivity and specificity of > 90% for screening for symptoms of pregnancy anxiety and depression. The proportion of accuracy in expert systems was > 90%. Pregnant women state that this prototype was easy, short assessment time, and useful to use.
The prototype based on expert system called BMoms, was feasible and able to be carried out for screening symptoms of anxiety and depression in pregnant women in ANC. The BMoms prototype can be further developed into a ready and appropriate application so that it becomes an innovative solution for mental health screening in pregnant women.

Read More
D-620
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novita sari Tri Utami Pamungkas; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Artha Prabawa, Lusia Dewi Sirait
S-6642
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delmaifanis; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Anhari Achadi, Kalamullah Ramli; Penguji: Sabarinah, Sutanto Priyo Hastono, Tris Eryando, Indra Supradewi; Elizabeth Jane Soepardi
Abstrak:
Salah satu upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) adalah melalui pelayanan antenatal. Adanya transformasi digital menjadikan pelayanan antenatal juga perlu menerapkan kesehatan digital untuk meningkatkan kualitas layanan. Salah satu petugas yang berperan penting dalam pelayanan antenatal adalah bidan. Sebanyak 85% pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh bidan, baik yang dilakukan di puskesmas maupun Praktik Mandiri Bidan. Untuk itu diperlukan model layanan antenatal oleh bidan yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model layanan antenatal oleh bidan yang didukung Web-based Apps ‘Bundaqusehat’ untuk meningkatkan kualitas layanan antenatal dan promosi kesehatan ibu hamil. Metode penelitian adalah pengembangan sistem yang terdiri dari 5 tahap. Tahap 1 adalah systematic literature review, tahap 2 adalah analisis kebutuhan sistem, tahap 3 merupakan pengembangan model pelayanan antenatal dengan proses bisnis baru, tahap 4 pengembangan prototipe Web-based Apps ‘Bundaqusehat’, tahap 5 melakukan uji prototype Web-based Apps ‘Bundaqusehat’ yang terdiri dari; uji usability, uji penerimaan oleh bidan dan ibu hamil dan uji efikasi. Uji efikasi dilakukan dengan desain studi quasi experiment pretest and posttest with control group design. Fitur utama Web-based apps ‘Bundaqusehat’ adalah pengecekan penerapan 10T layanan antenatal, catatan kesehatan, deteksi risiko, reminder, promosi kesehatan, link rujukan, telekonsultasi, pemantauan gerakan janin, dan laporan real time. Penelitian dilakukan di wilayah Jakarta Barat. Sebagai kelompok intervensi adalah 30 bidan dan 30 ibu hamil di Puskesmas Cengkareng, dan 30 bidan dan 30 ibu hamil di Puskesmas Kalideres sebagai kontrol. Analisis statistik uji T menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil (p value=0,009), kepuasan ibu hamil (p value=0,001), kepatuhan minum tablet Fe (p value=0,030) dan pemantauan gerakan janin (p value=0,039). Model layanan antenatal yang didukung oleh Web-based Apps ‘Bundaqusehat’ cukup efektifitas meningkatkan kualitas layanan antenatal. Agar transformasi kesehatan dapat terlaksana, diperlukan ekosistem dalam implementasi kesehatan digital.

One of the efforts to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) is through antenatal care. The existence of digital transformation makes antenatal services also need to implement digital health to improve service quality. One of the officers who play an important role in prenatal checks is the midwife; as much as 85% of prenatal checks are carried out by midwives at health centres and in independent midwifery practices. For this reason, an effective and efficient model of antenatal care by midwives is needed. This study aims to develop a model of antenatal care by midwives supported by the Web-based application 'Bundaqusehat' to improve the quality of antenatal care and the health of pregnant women. The research method is system development which consists of 5 stages. Stage 1 is a systematic literature review; stage 2 is an analysis of system requirements; stage 3 is the development of an antenatal care model with new business processes; stage 4 is the development of a Web-based 'Bundaqusehat' Application prototype; stage 5 has been testing the 'Bundaqusehat' Web-Based Application prototype consisting of; usability test, acceptance test by midwives and pregnant women and efficacy test. The efficacy test was carried out using a quasi-experimental research design with a pretest and a posttest with a control group design. The main features of the web-based 'Bundaqusehat' application are checking the implementation of 10T antenatal services, health records, risk detection, reminders, health promotion, referral links, teleconsultation, fetal movement monitoring, and real-time reports. The research was conducted in the West Jakarta area. As the intervention group, there were 30 midwives and 30 pregnant women at the Cengkareng Health Center and 30 midwives and 30 pregnant women at the Kalideres Health Center as controls. Statistical analysis of the t-test showed an increase in knowledge of pregnant women (p-value = 0.009), the satisfaction of pregnant women (p-value = 0.001), adherence to taking Fe tablets (p-value = 0.030) and fetal movement monitoring (p-value = 0.039). The antenatal care model supported by the web-based 'Bundaqusehat' application effectively improves the quality of antenatal care. For health transformation to occur, an ecosystem is needed to implement digital health.
Read More
D-490
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudhia Fratidhina; Komisi Pembimbing; Rizanda Machmud, Artha Budhi Duarsa; Ketua Program Studi: Delmi Sulastri
D-368
Padang : Andalas, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ike Anggraeni G.; Promotor : Purnawan Junadi; Kopromotor: Tris Eryando; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Adang Suhendra, Mardiati Nadjib, Didik Budijanto, Wahyu, Suprijanto Rijadi
D-331
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Nata Rina; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: Sjahrul Meizar Nasri, Jenny Endang Bashiruddin; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Indri Hapsari Susilowati, Sutanto Priyo Hastono, Dewi Sumaryani Soemarko, Iting Shofwati, Nana Sugiono
Abstrak:
Gangguan pendengaran akibat bising kerja (Occupational Noise-Induced Hearing Loss/ONIHL) masih menjadi masalah kesehatan kerja utama di industri minyak dan gas. Pemeriksaan audiometri konvensional berbasis Air Conduction (AC) sering kali kurang sensitif dalam mendeteksi kerusakan koklea tahap awal sehingga diperlukan pendekatan diagnostik yang lebih komprehensif. Penelitian ini bertuuan untuk menganalisis faktor individu dan lingkungan kerja yang berhubungan dengan Sensorineural Hearing Loss (SNHL) serta mengembangkan model prediksi risiko SNHL pada pekerja sektor migas. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder 497 pekerja yang terpajan bising di sektor migas Kalimantan Timur periode 2021–2022. Penetapan SNHL dilakukan melalui integrasi parameter Air Conduction (AC), Bone Conduction (BC), Air-Bone Gap (AB-Gaps), Standard Threshold Shift (STS), dan pola audiometric notch. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik bivariat dan multivariat dengan metode enter dan stepwise. Sebanyak 99 pekerja (19,9%) teridentifikasi mengalami SNHL, 31 pekerja (6,2%) mengalami Conductive Hearing Loss (CHL), dan 151 pekerja (43,6%) memiliki audiometric notch pada frekuensi 4.000 Hz. Faktor yang berhubungan signifikan dengan SNHL pada model akhir adalah usia ≥41 tahun (AOR=9,09; 95%CI: 2,28–36,21; p=0,002), hipertensi stadium 1 (AOR=1,98; 95%CI: 1,05–3,75; p=0,035), serta masa kerja 5–15 tahun yang bersifat protektif dibandingkan masa kerja >15 tahun (AOR=0,20; 95%CI: 0,09–0,45; p<0,001). Variabel dosis personal kebisingan, frekuensi bising, penggunaan alat pelindung pendengaran, diabetes melitus, hobi bising, dan pajanan benzena tidak menunjukkan hubungan signifikan pada model multivariat. Model prediksi risiko SNHL yang dikembangkan menunjukkan probabilitas risiko tertinggi mencapai 81,5%. Prevalensi SNHL pada pekerja sektor migas mencapai 19,9%. Usia ≥41 tahun dan hipertensi stadium 1 merupakan faktor risiko independen utama, sedangkan masa kerja >15 tahun mencerminkan akumulasi pajanan yang meningkatkan risiko SNHL. Pendekatan audiometri multi-parameter terbukti lebih sensitif dalam mendeteksi kerusakan pendengaran dini dan dapat digunakan sebagai dasar pengembangan program konservasi pendengaran berbasis risiko di lingkungan kerja.

Occupational Noise-Induced Hearing Loss (ONIHL) remains one of the leading occupational health problems in the oil and gas industry. Conventional audiometric examinations based on Air Conduction (AC) are often insufficiently sensitive to detect early cochlear damage, highlighting the need for a more comprehensive diagnostic approach. This study aimed to identify individual and occupational factors associated with Sensorineural Hearing Loss (SNHL) and to develop a predictive risk model for SNHL among oil and gas workers. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted using secondary data from 497 noise-exposed workers in East Kalimantan, Indonesia, collected between 2021 and 2022. SNHL was determined through an integrated assessment of Air Conduction (AC), Bone Conduction (BC), Air-Bone Gap (AB-Gaps), Standard Threshold Shift (STS), and audiometric notch patterns. Data were analyzed using bivariate and multivariate logistic regression with enter and stepwise methods. A total of 99 workers (19.9%) were diagnosed with SNHL, 31 (6.2%) with Conductive Hearing Loss (CHL), and 151 (43.6%) exhibited an audiometric notch at 4,000 Hz. Significant predictors of SNHL included age ≥41 years (AOR = 9.09; 95% CI: 2.28–36.21), stage 1 hypertension (AOR = 1.98; 95% CI: 1.05–3.75), while 5–15 years of employment was protective compared with employment duration >15 years (AOR = 0.20; 95% CI: 0.09–0.45). Personal noise dose, noise frequency, hearing protection use, diabetes mellitus, noisy hobbies, and benzene exposure were not significantly associated with SNHL. The developed prediction model demonstrated a maximum estimated SNHL probability of 81.5%. A multi-parameter audiometric approach was more sensitive for detecting early hearing impairment and may serve as a valuable basis for developing risk-based hearing conservation programs in the oil and gas industry.
Read More
D-647
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Surayya Mappangile; Promotor: Doni Hikmat Ramdhan; Kopromotor: Ede Surya Darmawan; Penguji: Besral, Dumilah Ayuningtyas, Indri Hapsari Susilowati, Iting Shofwati, Agus Triyono, Sudi Astono
Abstrak:

Pendahuluan : Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang mengelola dan mengontrol keselamatan dan kesehatan kerja menjadi tanda tanya akan efektivitas penerapannya, dengan kondisi saat ini yakni Kecelakaan kerja yang masih terus meningkat, yang menyebabkan peningkatan biaya, berkurangnya produktivitas, hingga mempengaruhi daya saing suatu negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai tingkat penerapan Sistem Manajemen K3 dan menganalisis hubungannya dengan kinerja K3 (safety climate, incidence rate, frequency rate, dan severity rate) di perusahaan.
Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan design cross sectional study pada perusahaan yang memenuhi kriteria penerapan SMK3 dan beroperasi di wilayah Kalimantan Timur, sebanyak 94 perusahaan. Total responden untuk pengukuran safety climate sebanyak 8.055 orang.
Hasil : Tingkat penerapan Sistem Manajemen K3 perusahaan di Kalimantan Timur berada pada Level 3/Konsisten yaitu penerapan SMK3 yang pendekatan sistematis dan konsisten, upaya pengendalian risiko dilakukan secara terstruktur, terukur secara kualitatif, integrasi antarprosedur dan manajemen risiko berjalan di semua divisi. Penerapan sistem pembelajaran melalui monitoring, laporan K3, dan proses perbaikan belum berjalan secara menyeluruh. Komponen tertinggi di Hazard control and prevention, dan skor terlemah di Education and training. Safety climate berada dalam kondisi baik, dengan skor tertinggi di dimensi 6 (Pembelajaran komunikasi dan inovasi) serta skor terendah di dimensi 5 (Prioritas keselamatan pekerja dan tidak ditoleransinya risiko bahaya). Faktor safety climate dan kinerja K3 (incidence rate dan frequency rate) memiliki hubungan signifikan dengan tingkat Sistem Manajemen K3 yang diterapkan di perusahaan. Terdapat hubungan antara tingkat penerapan SMK3 dengan safety climate, incidence rate, dan frequency rate berdasarkan tersertifikasi SMK3.
Kesimpulan : Semakin baik tingkat penerapan SMK3 pada suatu perusahaan maka akan menghasilkan kinerja K3 yang lebih baik. Pada perusahaan yang tersertifikasi SMK3 namun penerapan SMK3 masih pada tingkat Adhoc & Coping akan menghasilkan kinerja K3 yang buruk (safety climate membutuhkan perbaikan; incidence rate dan frequency rate cenderung meningkat).


Introduction: Work accidents that continue to increase has caused the increased costs, reduced productivity, and affect the competitiveness of a country, making the Implementation of Occupational Safety and Health Management System a question mark about its effectiveness. The purpose of this study was to assess the level of implementation of the OSH Management System and analyze its relationship with OSH performance (safety climate, incidence rate, frequency rate, and severity rate) in the company.
Method: This study uses a quantitative design with a cross-sectional study approach in companies that meet the criteria for implementing SMK3 (Occupational Safety and Health Management System) and operate in the East Kalimantan region, as many as 94 companies. Total respondents for safety climate measurement were 8,055 people.
Results: The level of implementation of the company's OSH Management System in East Kalimantan is at Level 3/Consistent, namely the implementation of SMK3 (OSH Management system) with a systematic and consistent approach, risk control efforts are carried out in a structured manner, measured qualitatively, integration between procedures and risk management runs in all divisions. The implementation of the learning system through monitoring, OSH reports, and improvement processes has not been carried out comprehensively. The highest component is in Hazard control and prevention, and the weakest score is in Education and training. The safety climate condition is in good condition, with the highest score in dimension 6 Learning, communication and innovation and the lowest score in dimension 5 Priority of worker safety and zero tolerance of hazard risks. Safety climate factors and OSH performance (incidence rate, frequency rate,) have a significant relationship with the level of OSH Management System implemented in the company. There is a relationship between the level of OHS implementation with safety climate, Incidence rate and frequency rate based on OHS certification.
Conclusion: The better the level of OHS implementation in a company, the better OHS performance will be. In companies that are SMK3 certified but the implementation of SMK3 is still at the Adhoc & Coping level, it will result in poor K3 performance (SC needs improvement; IR and FR tend to increase).

Read More
D-552
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irenel; Promotor; Haryoto Kusnoputranto; Kopromotor: I Made Djaja, Dewi Susana; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Sudijanto Kamso, Bambang Wispriyono, Tri Edhi Budhi Soesilo, Toni Wandra
D-245
Depok : FKM-UI, 2011
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilisa Rahmadani; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Adang Bachtiar, Besral, Fatma Lestari, Indri Hapsari Susilowati, Ali Ghufron Mukti, Sutoto, Astrid B. Sulistomo
Abstrak: Kelelahan kerja berdampak besar terhadap kinerja, keselamatan, dan kesehatan tenaga kesehatan rumah sakit. Penelitian ini mengembangkan model sistem manajemen risiko kelelahan berbasis pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui studi literatur, FGD, wawancara, dan observasi. Hasilnya adalah model ICHAFIT (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) dengan lima elemen utama dan strategi pencegahan berbasis data. Terdapat 24 indikator valid dan reliabel untuk menilai implementasinya. Model ini berfungsi sebagai kerangka konseptual dan alat praktis, serta menghasilkan policy brief untuk advokasi kebijakan nasional.
Work fatigue significantly affects hospital workers' performance, safety, and health. This study developed a fatigue risk management model using qualitative and quantitative approaches through literature review, FGD, interviews, and observations. The result is the ICHAFIT model (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) comprising five key elements and a data-driven prevention strategy). It includes 24 valid and reliable indicators to assess implementation. ICHAFIT serves as both a conceptual framework and practical tool, and also produced a policy brief to support national advocacy for fatigue risk management in hospitals.
Read More
D-591
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive