Ditemukan 32005 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Chaerul Anwar; Pembimbing: Yuniar, Tri Yunis Miko Wahyono, Victoria Indrawati, Linda Lidya
T-4370
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Elisabeth Sri Lestari Handayani; Pembimbing: Indang Trihandini, Penguji: Artha Prabawa, Kemal N. Siregar, Alexander K. Ginting, Erni Priyatni
T-3522
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dyana Santika Sari; Pembimbing: Milla Hedayati; Penguji: Artha Prabawa, Endang Faridah
S-6740
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Septiawati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Artha Prabawa, Trisna Setiawan
S-5857
Depok : FKM UI, 2009
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Asep Nurul Ridwan; Pembimbing: Pandu Riono, Sudijanto Kamso; Penguji: Iriani Samad, Eka Muhiriyah
Abstrak:
Penyakit DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada tahun 2014 kasus DBD di Indonesia berjangkit di 433 Kota atau Kabupaten dengan angka kesakitan sebesar 39,83 per 100.000, sementara itu jumlah kasus DBD sendiri di Jawa Barat, hingga 28 Januari 2019 tercatat ada 2.204 orang yang terjangkit DBD. Sebanyak 14 orang di antaranya meninggal dunia. Kota Cimahi dan Kabupaten Cianjur merupakan wilayah dengan jumlah kasus DBD tinggi yakni sebanyak 292 kasus dan jumlah kematian sebanyak 2 kasus di Kota Cimahi sementara di Kabupaten Cianjur jumlah kasus 532 kasus dan 2 kasus kematian upaya pengendalian DBD monitoring serta upaya pencegahaan yang dilakukan dengan surveilan DBD belum optimal menekan jumlah kasus DBB di Kota Cimahi dan Kabupaten Cianjur. Maka kemudian perlu dilakukan upaya evaluasi untuk mengetahui dan memberikan solusi perbaikan sistem informasi demam berdarah dengue di Kabupaten Cianjur dan Kota Cimahi pada komponen masukan, proses dan luaran, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara, observasi dan telaah dokumen sebagai instrumen penelitiannya dengan jumlah informan sebanyak 12 orang dimana 6 orang berada di wilayah kota Cimahi dan 6 orang informan berada diwilayah kabupaten Cianjur. Hasil penelitian menunjukan bahwa komponen masukan komponen proses dan komponen luaran berbeda antara kota Cimahi dan kabupaten Cianjur serta perbedaan sistem informasi DBD di Kota Cimahi Menggunakan aplikasi sistem informasi Demam berdarah dengue (SI DBD) dan pengiriman laporan melalui surat elektronik sementara di Kabupaten Cianjur Pengumpulan data dan pengolahaan data dilakukan secara manual, dan laporkan dikirimkan melalui pos atau petugas pelaksana program ke dinas kesehatan. Kesimpulan dari penelitian ini 1) Komponen masukan sistem informasi DBD berkaitan dengan masalah kelengkapan dan ketepatan laporan pada luaran ketenagaan memerlukan tenaga terlatih sehingga upaya pelatihan dan kursus singkat diperlukan 2) Permasalah pada komponen proses adalah pengolahaan data selama ini belum dilakukan secara terstruktur dan masih manual walaupun menggunakan komputer sehingga memerlukan waktu relatif lama serta frekuensi pengolahaan yang tidak menentu pada akhirnya data jarang diolah dan di analisa untuk menghasilkan informasi DBD 3) Kondisi pada komponen proses dapat menyebabkan permasalahan pada komponen Luaran yaitu informasi tidak dapat mendukung para pengambil kebijakan dalam pengambilan keputusan 4) Adanya peluang dalam pengembangan Sistem Informasi DBD yaitu, otomatisasi pelaporan sehingga dapat menghasilkan informasi yang cepat, akurat dan relevan sesuai dengan kebutuhan manajemen
Read More
T-5672
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syarifah Khodijah; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Ida Kusumaningrum
Abstrak:
Angka kasus HIV di dunia saat ini masih tinggi. Jumlah kasus HIV yang mengalamipeningkatan saat ini adalah pada kelompok penasun (Pengguna NAPZA Suntik).Prevalensi HIV pada kelompok penasun di Asia Tenggara tahun 2012 mencapai 28%.Hal ini terjadi karena pencegahan perilaku berisiko pada penasun belum berhasil.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dari 240 penasun di DKIJakarta. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang untuk mengetahuideterminan status HIV pada penasun di DKI Jakarta tahun 2013. Pengetahuan tentangdeterminan status HIV pada penasun diharapkan dapat menjadi masukan untukprogram pencegahan dan penanggulangan HIV di DKI Jakarta.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi HIV pada penasun di DKI Jakarta tahun 2013mencapai 49,2%. Selain itu, proporsi penasun yang positif HIV terbanyak pada penasun yang memiliki umur tidak lebih dari 31 tahun dan berjenis kelamin laki-laki.Kemudian proporsi penasun yang positif HIV terbanyak pada penasun yang berpendidikan tinggi dan penasun yang memiliki pekerjaan tidak tetap. Pada perilaku penasun, proporsi penasun yang positif HIV juga paling banyak pada penasun yang menyuntik NAPZA setiap hari, yang menggunakan kondom tidak konsisten dan yang mengunjungi LASS tidak lebih dari 4 kali dalam sebulan.
Kata Kunci : Determinan, HIV, Penasun, Proporsi
Today, number of HIV cases in the world is still high. The number of HIV cases hasincreased is in the group of IDUs (Injecting Drug Users). HIV prevalence amonginjecting drug users groups reached 28% in Southeast Asia 2012. This happens due tothe prevention of risk behavior in IDUs has not been successful. This study uses aquantitative research methode of 240 IDUs in Jakarta. This study used a cross-sectional design to determine the determinants of HIV status in IDUs in Jakarta 2013.Knowledge about determinants of HIV status in IDUs expected to become inputs forHIV prevention and treatment program in DKI Jakarta.
Results of this study showedthat the prevalence of HIV in IDUs in Jakarta in 2013 reached 49.2%. In addition, theproportion of HIV-positive IDUs highest in IDUs who have aged under 31 years andmale sex. Then the proportion of HIV-positive IDUs in the most highly is educatedIDUs and IDUs are IDUs employment not permanent. On the behavior of injectingdrug users, the proportion of HIV-positive IDUs also most IDUs who inject drugsevery day, use condoms inconsistently and visit LASS less than 4 times a month.
Key Words : Determinant, HIV, IDUs, Proportion
Read More
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi HIV pada penasun di DKI Jakarta tahun 2013mencapai 49,2%. Selain itu, proporsi penasun yang positif HIV terbanyak pada penasun yang memiliki umur tidak lebih dari 31 tahun dan berjenis kelamin laki-laki.Kemudian proporsi penasun yang positif HIV terbanyak pada penasun yang berpendidikan tinggi dan penasun yang memiliki pekerjaan tidak tetap. Pada perilaku penasun, proporsi penasun yang positif HIV juga paling banyak pada penasun yang menyuntik NAPZA setiap hari, yang menggunakan kondom tidak konsisten dan yang mengunjungi LASS tidak lebih dari 4 kali dalam sebulan.
Kata Kunci : Determinan, HIV, Penasun, Proporsi
Today, number of HIV cases in the world is still high. The number of HIV cases hasincreased is in the group of IDUs (Injecting Drug Users). HIV prevalence amonginjecting drug users groups reached 28% in Southeast Asia 2012. This happens due tothe prevention of risk behavior in IDUs has not been successful. This study uses aquantitative research methode of 240 IDUs in Jakarta. This study used a cross-sectional design to determine the determinants of HIV status in IDUs in Jakarta 2013.Knowledge about determinants of HIV status in IDUs expected to become inputs forHIV prevention and treatment program in DKI Jakarta.
Results of this study showedthat the prevalence of HIV in IDUs in Jakarta in 2013 reached 49.2%. In addition, theproportion of HIV-positive IDUs highest in IDUs who have aged under 31 years andmale sex. Then the proportion of HIV-positive IDUs in the most highly is educatedIDUs and IDUs are IDUs employment not permanent. On the behavior of injectingdrug users, the proportion of HIV-positive IDUs also most IDUs who inject drugsevery day, use condoms inconsistently and visit LASS less than 4 times a month.
Key Words : Determinant, HIV, IDUs, Proportion
S-8435
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wijayanti; Pembimbing: Besral; Penguji: R. Sutiawan, Andreas Dwi Atmoko
Abstrak:
Pada tahun 2012 penyakit gigi dan mulut menempati urutan empat besar penyakit utama di Kota Bogor , dalam proses pencatatan dan pelaporan program kesehatan gigi dan mulut Puskesmas Kota Bogor terdapat beberapa permasalahan yaitu keterlambatan saat melaporkan ke Dinas Kesehatan dikarenakan banyaknya penyalinan data, isi laporan masih ada tidak sesuai format laporan dan tidak memiliki basis data. Aplikasi SIKDA Generik menyediakan basis data dan pencatatan terintegrasi antar unit sehingga memudahkan pencatatan dan pelaporan di Puskesmas, namun masih belum tersedia indikator pelaporan program kesehatan gigi dan mulut, sehingga diperlukan pengembangan modul sistem informasi kesehatan gigi dan mulut pada aplikasi SIKDA Generik . Telah dihasilkan modul sistem informasi kesehatan gigi dan mulut pada aplikasi SIKDA Generik berbasis komputer yang dapat mempermudah dalam pencatatan dan pelaporan program kesehatan gigi dan terintegrasi antar pelayanan tanpa terjadi data yang duplikasi, tidak valid, dan keterlambatan pelaporan . Sistem informasi kesehatan gigi dan mulut pada Aplikasi SIKDA Generik masih diperlukan perbaikan dalam penerapannya sehingga membutuhkan kerjasama antar pihak yaitu Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan dan Puskemas dalam penerapan aplikasi tersebut.
Read More
S-8310
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Slamet Hidayat; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Pandu Riono, Felly Philipus Senewe, Miladi Kurniasari
Abstrak:
Read More
Notifikasi penemuan kasus TB di Indonesia mengalami penurunan sebesar 20,5% Pada tahun 2019-2020 dan kenaikan 6,8% pada tahun 2020-2021. tujuan penelitian ini untuk mengetahui evaluasi program TB-HIV pada program penanggulangan Tuberkulosis di Provinsi Jawa Barat Tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan data sekunder dari database Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. hasil analisis deskriptif diketahui bahwa Proporsi orang dengan TB dengan diagnosis TB Klinis lebih besar 64.44%, dibandingkan orang dengan TB dengan diagnosis TB Bakteriologis lebih sedikit yaitu 35.56%. Proporsi ODHIV yang terdiagnosa TB secara klinis sebanyak 64.33%, sedangkan proporsi ODHIV yang terdiagnosa secara bakteriologis lebih sedikit hanya 35.67%. Proporsi orang dengan TB dengan HIV positif lebih besar pada TB klinis yaitu 67.12%, sedangkan orang dengan TB dengan hasil HIV Positih lebih sedikit pada TB klinis sebanyak 32.88%. Proporsi orang dengan TB dengan HIV positif lebih besar pada TB klinis yaitu 67.12%, sedangkan orang dengan TB dengan hasil HIV Positif lebih sedikit pada TB klinis sebanyak 32.88%. Proporsi orang dengan TB pada laki-laki lebih besar pada diagnosis bakteriologis sebesar 56.88%, sedangkan proporsi laki-laki pada diagnosis klinis 43.12%. Untuk peningkatan program dapat dilakukan dengan memaksimalkan kolaborasi program TB-HIV sehingga semua penderita TB dapat diperiksa HIV agar kasus bisa ditemukan dengan cepat sehingga juga bisa mendapatkan pengobatan lebih awal.
Notifications for finding TB cases in Indonesia have decreased by 20.5% in 2019-2020 and increased by 6.8% in 2020-2021. the purpose of this study was to determine the evaluation of the TB-HIV program in the Tuberculosis control program in West Java Province in 2022. This research is a descriptive study using secondary data from the Tuberculosis Information System (SITB) database from the West Java Provincial Health Office. The results of the descriptive analysis revealed that the proportion of people with TB with a clinical TB diagnosis was 64.44% greater, compared to people with TB with a bacteriological diagnosis of TB which was less, namely 35.56%. The proportion of PLHIV who were clinically diagnosed with TB was 64.33%, while the proportion of PLHIV who were diagnosed bacteriologically was less, only 35.67%. The proportion of people with HIV positive TB was greater in clinical TB, namely 67.12%, while people with TB with HIV positive results were less in clinical TB as much as 32.88%. The proportion of people with HIV positive TB was greater in clinical TB, namely 67.12%, while people with TB with positive HIV results were less in clinical TB as much as 32.88%. The proportion of people with TB in men was greater with a bacteriological diagnosis of 56.88%, while the proportion of men with a clinical diagnosis was 43.12%. Then, the proportion of people with TB in women based on a bacteriological diagnosis was 51.45% and the proportion of women with a clinical diagnosis was 48.55%. Program improvement can be done by maximizing the TB-HIV collaboration program so that all TB sufferers can be tested for HIV so that cases can be found quickly so they can also get treatment earlier.
T-6794
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andini Ayu Lestari; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Milla Herdayati, Nurhalina Afriana
Abstrak:
Kelompok Penasun merupakan kelompok berisiko HIV dengan agka prevalensi HIV lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok berisiko HIV lainnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku berisiko HIV pada Penasun dewasa muda dan dewasa madya di 3 kota di Indonesia. Desain penelitian ini adalah cross sectional menggunakan data STBP tahun 2011 dan 2015. Sampel dalam penelitian ini adalah Penasun di kota Medan, Bandung, dan Malang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi HIV lebih tinggi pada Penasun dewasa madya, namun meningkat 10% pada Penasun dewasa muda. Analisis multivariabel menunjukkan perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif tahun 2011 pada Penasun dewasa muda adalah mulai menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, tidak mengurangi praktik setting basah, pernah melakukan hubungan seks, berhubungan seks dengan lebih dari 1 orang, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik dan berhubungan seks pada usia ≤ 18 tahun dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya.
Pada tahun 2015 perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif pada Penasun dewasa muda adalah menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, pinjam meminjam jarum, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik pada usia ≤ 18 tahun, dan memiliki pasangan seks tidak tetap dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya. Perlu adanya peningkatan layanan pencegahan HIV ke Penasun dewasa muda dan intervensi terhadap jejaring Penasun.
Kata kunci : Penasun, dewasa muda, dewasa madya, perilaku berisiko HIV
IDU is population-at-risk that has the highest HIV prevalance in Indonesia. This study aims to know different risk behavior among young adult and middle-aged adult IDU in 3 cities in Indonesia. This study design is cross sectional by using IBBS data 2011 and 2015. Samples in this study were IDU in 3 cities in Indonesia that meet inclusion and exclusion criteria.
The result shows that HIV prevalence is higher among middle-aged adult IDU, but increase 10% among young adult IDU. Multivariable analysis shows risk behaviors that increase risk of HIV positive among young adult IDU in 2011 are age at first injection ≤ 18 years, not reduce sharing drugs with water, ever had sex, and having multiple sex partners; whereas first injection and first had sex at ≤ 18 years old increase risk of HIV positive status among middle-aged adult IDU.
In 2015, risk behaviors that increase HIV positive status among young adult IDU are age at first injection ≤ 18 years, sharing syringes to inject, and not consistent using condom; whereas first injection at ≤ 18 years old and having casual sex partner increase risk of HIV positive among middle-aged adult IDU. Prevention HIV services should be improved for young adult IDU and also network intervention should be improved.
Keywords : IDU, young adult, middle-aged adult, hiv risk behavior
Read More
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi HIV lebih tinggi pada Penasun dewasa madya, namun meningkat 10% pada Penasun dewasa muda. Analisis multivariabel menunjukkan perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif tahun 2011 pada Penasun dewasa muda adalah mulai menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, tidak mengurangi praktik setting basah, pernah melakukan hubungan seks, berhubungan seks dengan lebih dari 1 orang, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik dan berhubungan seks pada usia ≤ 18 tahun dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya.
Pada tahun 2015 perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif pada Penasun dewasa muda adalah menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, pinjam meminjam jarum, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik pada usia ≤ 18 tahun, dan memiliki pasangan seks tidak tetap dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya. Perlu adanya peningkatan layanan pencegahan HIV ke Penasun dewasa muda dan intervensi terhadap jejaring Penasun.
Kata kunci : Penasun, dewasa muda, dewasa madya, perilaku berisiko HIV
IDU is population-at-risk that has the highest HIV prevalance in Indonesia. This study aims to know different risk behavior among young adult and middle-aged adult IDU in 3 cities in Indonesia. This study design is cross sectional by using IBBS data 2011 and 2015. Samples in this study were IDU in 3 cities in Indonesia that meet inclusion and exclusion criteria.
The result shows that HIV prevalence is higher among middle-aged adult IDU, but increase 10% among young adult IDU. Multivariable analysis shows risk behaviors that increase risk of HIV positive among young adult IDU in 2011 are age at first injection ≤ 18 years, not reduce sharing drugs with water, ever had sex, and having multiple sex partners; whereas first injection and first had sex at ≤ 18 years old increase risk of HIV positive status among middle-aged adult IDU.
In 2015, risk behaviors that increase HIV positive status among young adult IDU are age at first injection ≤ 18 years, sharing syringes to inject, and not consistent using condom; whereas first injection at ≤ 18 years old and having casual sex partner increase risk of HIV positive among middle-aged adult IDU. Prevention HIV services should be improved for young adult IDU and also network intervention should be improved.
Keywords : IDU, young adult, middle-aged adult, hiv risk behavior
S-9554
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Miftachudin; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: R. Sutiawan, Heri Radison
Abstrak:
Penyelenggaraan upaya pengobatan di Puskesmas membutuhkan ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan obat yang efisien, efektif dan rasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem informasi manajemen Puskesmas sehingga mampu mendukung perencanaan kebutuhan obat di Puskesmas TegalTimur. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus.Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara observasi dan wawancaramendalam, sedangkan data sekunder diperoleh dari laporan Puskesmas danBidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Tegal. Penentuan Informan dengan cara purposive sampling. Informan utama dalam wawancara mendalam adalah Kepala Puskesmas, petugas farmasi Puskesmas, dan Kepala Dinas Kesehatan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara mendalam dan pedoman observasi.Analisis terhadap sistem informasi yang saatini ada di Puskesmas Tegal Timur menunjukkan bahwa sistem informasi yang adadi Puskesmas Tegal Timur belum mampu memenuhi kebutuhan pengguna.Informasi ketersediaan obat di gudang obat Puskesmas belum akurat dan sistem belum mampu menghasilkan keluaran yang mendukung pelaporan pengelolaanobat Puskesmas. Pengembangan sistem informasi diharapkan dapat memperbaikisistem informasi pengelolaan obat yang saat ini berjalan di Puskesmas TegalTimur. Desain logik sistem informasi pengelolaan obat di Puskesmas Tegal Timurperlu dilanjutkan dengan penyusunan desain fisik dan pembuatan koding,sehingga dihasilkan sistem informasi pengelolaan obat yang mampu mendukung perencanaan kebutuhan obat Puskesmas.
Kata kunci : Sistem informasi, Puskesmas, obat.
Implementation of treatment efforts in the primary healthcare requires theavailability and affordability of drugs that are efficient, effective and rational. Thisstudy aims to develop a management information system that is capable ofsupporting the health center planning drug needs in East Tegal Primary HealthCare. This research is a qualitative case study approach. Primary data werecollected by means of observation and in-depth interviews, and secondary dataobtained from primary healthcare reports and Health Department City of Tegal.2Determination of the informant by purposive sampling. Key informant in-depthinterviews was Head of primary healthcare, pharmacy officer in , and ChiefMedical Officer. The research instrument used is in-depth interview guide andobservation guide.Analysis of the information systems that currently exist at EastTegal Primary Health Care shows that existing information systems in East TegalPrimary Health Care not able to meet the needs of users. Information availabilityof drugs in health centers drug warehouse is not accurate and the system has notbeen able to produce output that supports the reporting of medication managementhealth center. Information system development is expected to improve drugmanagement information system that is currently running at East Tegal PrimaryHealth Care. Logical design of information systems management in health centersdrug East Tegal need to proceed with the preparation of the physical design andmanufacture of coding, so that the resulting drug management information systemthat is capable of supporting the health center planning needs medication.
Keyword :Information system, Primary Healthcare, drug
Read More
Kata kunci : Sistem informasi, Puskesmas, obat.
Implementation of treatment efforts in the primary healthcare requires theavailability and affordability of drugs that are efficient, effective and rational. Thisstudy aims to develop a management information system that is capable ofsupporting the health center planning drug needs in East Tegal Primary HealthCare. This research is a qualitative case study approach. Primary data werecollected by means of observation and in-depth interviews, and secondary dataobtained from primary healthcare reports and Health Department City of Tegal.2Determination of the informant by purposive sampling. Key informant in-depthinterviews was Head of primary healthcare, pharmacy officer in , and ChiefMedical Officer. The research instrument used is in-depth interview guide andobservation guide.Analysis of the information systems that currently exist at EastTegal Primary Health Care shows that existing information systems in East TegalPrimary Health Care not able to meet the needs of users. Information availabilityof drugs in health centers drug warehouse is not accurate and the system has notbeen able to produce output that supports the reporting of medication managementhealth center. Information system development is expected to improve drugmanagement information system that is currently running at East Tegal PrimaryHealth Care. Logical design of information systems management in health centersdrug East Tegal need to proceed with the preparation of the physical design andmanufacture of coding, so that the resulting drug management information systemthat is capable of supporting the health center planning needs medication.
Keyword :Information system, Primary Healthcare, drug
S-8214
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
