Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 23657 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Safyanti; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma; Penguji: Krisnawati Bantas, Kusharisupeni, Djoko Kartono, Didid Damayanti
Abstrak:
Rendahnya kadar Hb atau anemia merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia yang disebabkan karena kekurangan zat besi. Hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) 1995 menunjukkan bahwa 57,1 % remaja putri usia 10 - 14 tahun menderita anemia gizi dan beberapa penelitian di Jawa Barat menunjukan prevalensi anemia gizi pada remaja putri masih tinggi. Penelitian lain menyatakan bahwa asupan protein hewani masyarakat Sumatera Barat (Suku Minang) cukup tinggi sehingga diduga asupan zat besi heme juga akan tinggi namun belum tentu pada remaja putri, selain itu timbulnya anemia disebabkan oleh berbagai faktor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia pada remaja putri SMUN 3 Padang Provinsi Sumatera Barat dengan disain potong Iintang. Populasi penelitian adalah remaja putri yang duduk di kelas 2 dan 3 dengan jumlah sample 192 orang yang diambil secara random sistematik. Hasil penelitian menunjukan prevalensi anemia pada rernaja putri SMUN3 Padang sebesar 30 %. Rata-rata asupan zat besi heme 1,6 mg dan zat besi non heme 9,5 mg. Rata-rata asupan zat gizi (zat besi, protein, energi, vitamin A, dan vitamin C) masih dibawah AKG. Sebanyak 59,4 % remaja putri baru mengalami menstruasi < 4 tahun dengan jumlah hari haid >= 6 hari sebauyak 73,8 %. Hasil analisis bivariat menunjukan adanya perbedaan yang bermakna antara asupan zat besi heme dan zat besi non heme dengan anemia. Hubungan yang bermakna juga ditemukan antara asupan zat gizi (protein, energi, dan vitamin C) dengan anemia dan tidak berhubungan secara bermakna dengan asupan vitamin A, jumlah tahun haid, dan jumlah hari haid. Berdasarkan analisis multivariat temyata hanya asupan zat besi heme dan asupan protein yang berhubungan dengan anemia dan faktor yang paling dominan berhubungan dengan anemia adalah asupan zat besi heme. Penelitian ini menyarankan kepada sekolah untuk memberikan penyuluhan tentang pola menu seimbang bagi siswa dan pengelola kantin, Serta memasukan materi gizi dan kesehatan dasar dalam muatan iokal. Bagi Dinas Kesehatan agar dapat memberikan penyuluhan kepada siswi, remaja, serta masyarakat dan perlunya menggalalkkan program pemberian tablet besi khususnya bagi remaja putri. Perlu penelitian lebih lanjut dalam skala yang Iebih Iuas khususnya di Provinsi Sumatera Barat dan penelitian lain tentang anemia gizi yang mencakup pola makan masyarakat yang berbeda-beda.
Read More
T-1415
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gusti Ayu Sindy Prabayuni; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sandra Fikawati, Farida Ekasari
S-8574
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra Gunawan; Pembimbing: Krisnawati Bantas
S-3873
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Rochmah; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Helda, Harni Wijiastuti
S-7776
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raharni; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Evi Martha, Lukman Hakim Tarigan, Al Bachri Husin, Suyatmo
Abstrak:
Penyalahgunaan napza merupakan penyakit endemik dalam masyarakat, penyakit kronik yang berulang kali kambuh dan merupakan proses gangguan mental adiktif. Angka kekambuhan cukup tinggi yaiu: sekitar 43,9%. Akibat penyalahgunaan napza banyak fihak yang dirugikan, bukan hanya individu yang bersangkutan, akan tetapi keluarga, masyarakat dan negara. Masa remaja merupakan masa yang paling rawan dalam kehidupan seseorang, pada masa ini merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Berdasarkan data dari Rumah sakit Ketergantungan Obat (RSKO) di Jakarta dalam kurun waktu 4 tahun terakhir yaitu dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2000 angka kunjungan korban napza untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan cenderung mengalami peningkatan. Baik pasien rawat inap maupun rawat jalan sebagian besar berpendidikan SLTA yakni 38% untuk rawat jalan dan 42,5% untuk rawat inap. Sebagian besar berusia 15 - 24 tahun yaitu sebesar 78,l%. Tujuan dari penelitian ini adalah diperolehnya informasi lentang faktor-faktor yang berhubungan dengan penyalahgunaan napza di kalangan siswa SMU negeri kota Bekasi. Manfaat dari penlitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengelola kurikulum pendidikan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan napza di kalangan siswa SMU. Jenis penelitian ini adalah potong lintang (Cross sectional), populasinya adalah siswa SMU Negeri di kota Bekasi. Cara pengambilan sampel adalah secara gugus bertahap (Multistage sampling) dan secara acak sederhana, besar sampel dihitung dengan rumus uji hipotesis proporsi tunggal, dengan jumlah sampel 386 siswa. Cara pengambilan data dilakukan dengan cara survey, pengolahan data menggunakan perangkat komputer, analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan Uji Chi-Square dan multivariat dengan uji multi regresi logistik ganda, dengan model prediksi. Hasil univariat didapat bahwa responden pria 53,6% dan responden wanita 46,1%, responder: yang berumur kurang dari 17 tahun 22,6% dan yang bemmur I7 tahun ke atas 77,4%. Prevalensi pengguna napza di kalangan siswa SMU Negeri kota Bekasi sebesar 16,8%. Hasil analisis bivariat dengan uji Chi-square di mana p < 0,05 diketahui bahwa variabel-variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan penyalahgunaan napza adalah faktor individu yaitu karakteristjk remaja (jenis kelamin dan umur), pengetahuan dan sikap, sedangkan dari faktor lingkungan yaitu pekerjaan ibu, keharmonisan keluarga, kebiasaan merokok di keluarga, teman sebaya, dan penggunaan waktu luang. Hasil analisis multivariat dengan uji multi regresi logistik didapat variabel yang paling dominan berhubungan dengan penyalahgunaan napza adalah jenis kelamin laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, disarankan kepada pengelola kurikulum pendidikan perlu segera mencari pemecahan untuk mencegah penyalahgunaan napza di kalangan siswa SMU, dengan bekerjasama dengan orang tua murid, misalnya menambah kegiatan ekstra kurikuler dan memberikan pelajaran tambahan mengenai napza, serta meningkatkan kerja sama secara optimal dengan instansi lain yakni depkes, kepolisian, kehakiman dengan memberikan penyuluhan tentang penyalahgunaan napza mengenai hahaya, akibat dan sangsi penyalahgunaan napza. Saran untuk peneliti, perlu dilakukan penelitian selanjutnya yang bersifat kualitatif sehingga paduan kedua jenis penelitian akan sangat bermanfaat sebagai masukan ke Institusi SMU dalam upaya pencegahan penyalahgunaan napza di kalangan siswa SMU.

Drug abuse, an endemic illness on society, is one of those cronic illness which continously come up an is a process of addictive mental disorder. From the research 49,3% relaps is obtained. It brings terrible effects not only the individual who consumes the drug itself, but also to the family, society, as well as the nation. Adolescence, a transitional time between childhood and adulthood, is the most crucial and dangerous phase in someone's life. Based on the data obtained from the Hospital of Dmg Dependence (RSKO) in Jakarta, on the past 4 years those are 1997 up to 2000, the number of drug abuse patient visit for out patient or the hospitalized ones tends to increase. Both out patients or the hospitalized patients are mostly have highschool diploma, those are 38% for out patient and 42,5% forthe hospitalized patient. Most of them are 15-24 years of age, estimated at 78,l%. The purpose of this research is to gather information about factors corellated to drug abuse among govemment-owned high school students in Bekasi region. It is highly expected that this research can be a source of input for the educational cuniculum experts, in preventing dmg abuse amonghigh school students to occur. This research is based on cross sectional method. and the population is government-owned high school students in Bekasi region. both male and female. Multistage sampling was used, and randomly, sample amount was calculated by single population proportion test method with the amount of 386 students. Data gathering it as completed by survey, data processing was completed by computer, data analysing was completed by univariat, bivariat with Chi-Square test, and multivariat with multi regression logistic test. 53,6% male respondents and 46,l% are the result of univariat. Respondents who are below 17 years old consist of 22,6% and those above 17 years old are 77,4%. Those who had ever tried or are using drugs, are 65 person ( l6,8%). The result of bivariat analysis with Chi-square test where p<0,05 determined that variables which have close relation to drug abuse are individual factors teenage characteristics (gender and age), knowledge and behaviour, and environmental factors, those are mont's accupation, family harmony, smoking habit in the family, peer friends. and the usage of leisure time. The result of multivariat analysis with multi regression logistic test determined that the most dominant variables correlated to dnig abuse is the male gender. Based at the research result, it is vivid that the educational curriculum experts should immediately seek for the solution to prevent further drug abuse among the high school students. with giving extra curricullar activities and giving an extra lesson of drugs. They can also incooperate with another institutions such as Health department, police department, law department in giving brief orientation about drug abuse and its danger, effect, and punishment of misusing drugs. As the advice for researchers, further quality oriented study is highly recommended, so that the combination of both types of research can be very useliil as an input for High school institution in the efibrt of preventing dwg abuse among high school student.
Read More
T-1483
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Pahlevi Marbun; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Trisari Anggondowati, Woro Riyadina
Abstrak: Diare merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan kematian pada bayi dan balita. Penyebab diare sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko baik dari faktor balita, faktor ibu, faktor lingkungan tempat tinggal dan faktor ekonomi keluarga. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan analisis univariat, bivariat, dan stratifikasi. Data yang digunakan adalah data sekunder SDKI 2017. Sampel yang digunakan sejumlah 906 balita. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara faktor usia balita (nilai p: 0,000; OR=2,54; 95%CI 1,67-3,85) dan sarana sanitasi keluarga (niai p= 0,004; OR= 1,71; 95%CI 1,19-2,47) dengan kejadian diare pada balita. Secara analisis usia balita memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare pada balita setelah distratifikas oleh pendidikan ibu, riwayat ASI Eksklusif, berat lahir balita, daerah tempat tinggal dan ekonomi keluarga.
Diarrhea is an infectious disease that causes death in infants and children under five. The cause of diarrhea is strongly influenced by various risk factors, including child factors and maternal, environment, and family economic factors. This study used a cross sectional study design with univariate, bivariate, and stratified analysis. The data used is secondary data from the 2017 IDHS. The sample used is 906 children under five. The result of this study indicate that there is a significant relationship between the age factor of child under five (nilai p: 0,000; OR=2,54; 95%CI 1,67-3,85) and family sanitation facilities (niai p= 0,004; OR= 1,71; 95%CI 1,19-2,47) with the incidence of diarrhea in children under five. The stratification analysis showed that there was a relation between the age of the child under five and the incidence of diarrhea in children under five according to the mother?s education, history of exclusive breastfeeding, birth weight, are of the residence and family economic.
Read More
S-11015
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akhmad Yani Suryana; Pembimbing: Buchari Lapau; Penguji: Luknis Sabri, Tri yunis Miko Wahyono, Sri Utami
Abstrak: Suksesnya pembangunan kesehatan dan gizi yang dilaksanakan Indonesia telah dapat menurunkan masalah gizi yang dihadapi secara bermakna. Tetapi suksesnya pembangunan tersebut mengakibatkan pula perubahan pola penyakit yang ada di Indonesia. Penyakit infeksi dan kekurangan gizi terlihat berkurang, sebaliknya penyakit degenaratif dan penyakit kanker meningkat. Peningkatan kemakmuran ternyata diikuti oleh perubahan gaya hidup. Pola makan terutama di kota-kota besar bergeser dari pola makan tradisional yang banyak mengkonsumsi karbohidrat, sayuran dan serat ke pola makanan masyarakat barat yang komposisinya terlalu banyak mengandung lemak, protein, gula dan garam tetapi miskin serat. Sejalan dengan itu pada beberapa tahun terakhir ini mulai terlihat peningkatan angka prevalerisi kegemukan/obesitas pada sebagian penduduk Indonesia terutama di kota-kota besar, yang diikuti pula pada akhir-akhir ini di pedesaan.
 
Kelebihan gizi dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi dan penyakit batu kandung empedu. Salah satu faktor yang berperan adalah adanya kebiasaan makan-makanan trendi, makan-makan berlemak. Disamping itu faktor aktivitas fisik juga berperan dalam mengatur kebutuhan energi, dalam hal ini menyangkut aktivitas pekerjaan dan aktivitas olah raga. Selain itu faktor-faktor lain yang berperan adalah umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya masalah status gizi lebih dan faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada orang dewasa di Kota Bogor.
 
Desain penelitian ini adalah "cross sectional" dengan memanfaatkan data sekunder hasil pengumpulan data status gizi pada orang dewasa yang dilakukan oleh Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Bogor tahun 1997. Kemudian data yang diperoleh dianalisa baik secara bivariat maupun multivariat dengan menggunakan regresi logistik antara faktor risiko (kebiasaan makan-makanan trendi. kebiasaan makan-makanan berlemak, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan olah raga) dengan status gizi lebih pada orang dewasa.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi status gizi lebih orang dewasa di Kota Bogor adalah sebesar 23,88% (klasifikasi Depkes).
 
Berdasarkan hasil analisis bivariat faktor risiko yang mempunyai hubungan bermakna antara lain : kebiasaan makan-makanan trendi. kebiasaan makan-makanan berlemak, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan.
 
Dari hasil analisis model multivariat dengan memasukkan secara bersama-sama semua faktor risiko yang diduga mempunyai hubungan dengan status gizi lebih pada orang dewasa. dapat diketahui ada tiga faktor risiko yang berhubungan dengan status gizi lebih pada orang dewasa yaitu, kebiasaan makan-makanan trendi, umur dan jenis kelamin.
 
Selanjutnya dari analisis model regresi menunjukkan bahwa proporsi status gizi lebih orang dewasa di Kota Bogor pada kelompok orang dewasa yang berumur 30-39 tahun kejadiannya 2,96 kali lebih tinggi, 40-49 tahun kejadiannya 5,01 kali lebih tinggi, 50-59 tahun kejadiannya 3,91 kali lebih tinggi, 60-65 tahun kejadiannya 2,73 kali lebih tinggi. dibandingkan kelompok umur < 30 tahun. Selain itu juga dapat diketahui hasil dari analisis model regresi bahwa proporsi status gizi lebih orang dewasa di Kota Bogor pada kelompok yang jarang mengkonsumsi makan-makanan trendi 1,31 kali lebih tinggi dan yang sering mengkonsumsi makan-makanan trendi kejadiannya 2,97 kali lebih tinggi, dibandingkan dengan kelompok yang tidak pernah mengkonsumsinya. Sementara itu proporsi status gizi lebih orang dewasa pada kelompok orang dewasa yang berjenis kelamin perempuan 2,29 kali lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.
 
Terdapat interaksi faktor kebiasaan makan-makanan trendi dengan jenis kelamin dalam kaitannya dengan status gizi lebih pada orang dewasa di Kota Bogor . Dimana pada kelompok perempuan yang jarang(1-4 kali/bulan) mengkonsumsi makan-makanan trendi proporsi status gizi lebilmya kemungkinannya 0,73 kali dari kelompok laki-laki yang jarang mengkonsumsinya. Demikian pula proporsi status gizi lebih orang dewasa pada kelompok perempuan yang sering mengkonsumsi makan-makanan trendi kemungkinannya 0,32 kali dari kelompok laki-laki yang sering mengkonsumsinya.
 

Factors Related to the Status of Excess of Nutrition on Adults in Bogor in 1997 (Analysis of Secondary Data)The success on health and nutrition development program carried out has been able to decrease nutritious problem that is faced by Indonesian significantly. However, the development also results in changing disease pattern that exists in Indonesia. Infectious disease and malnutrition seems decreased, on the contrary the generative and cancer diseases increased. The increasing of prosperity is followed by the changing of life style. The pattern of having food especially in the big cities moves from a traditional food pattern that consumes a lot of carbohydrate, vegetables and fiber into having a western food pattern that consumes a lot of fat, protein, sugar and salt but consumes less fiber. As consequences, the increase of over weight prevalent value can be seen in recent years in many part of Indonesia, especially in the big cities and also followed by the villages recently.
 
Excess in nutrition can cause various health problems such as coronary heart, diabetes, hypertension, and gall stone. One factor which plays role is a habit of consuming trend food and fat food. Moreover, physical activity factor also plays role in regulating energy need which includes work and exercise activity. Besides that, other factors that plays role are age, gender and education level.
 
The purpose of this research is to know the problems of excess of nutrition status and its related factors on the adults in Bogor.
 
This research design is "cross sectional" by utilizing secundary data on nutritional status of adults. This data collected by Directorate for the Establishment of Nutrition for Community (Direktorat Bina Gizi Masyarakat), Health Department (Departemen Kesehatan) Republic of Indonesia and Health Service Bogor in 1997. The collected data was analyzed by either ` bivariat" or "multivariat" using "Logistic Regression" between risk factors (habit of having trend food, habit of having fat food, age, gender, education level, type of jobs and exercise) and excess of nutrition status of the adults.
 
The result shows that the excess of nutrition status prevalent of adults in Bogor is 23,88% (Depkes' classification). According to the analysis of "Bivariat" model, the risk factors which have significant relation are: habit of having trend food, habit of having fat food, ages, gender, education levels, and type of jobs.
 
From the analysis of "multivariat" model using all of the risk factors that are assumed has =elation with the excess of nutrition status of adults, found that there are three risk factors related to the excess of nutrition status of the adults. The three risk factors are habit of having trend food, ages and gender.
 
Further more, regression analysis model shows that the proportion of excess of nutrition status of the adults in Bogor compare to the group of people with less than 30 years old are as follows:
 
- Group with the age between 30 and 39 is 2.96 higher,
 
- Group with the age between 40 and 49 is 5.01 higher,
 
- Group with the age between 50 and 59 is 3.91 higher, and
 
- Group with the age between 60 and 69 is 2,73 higher.
 
Besides that, the regression analysis model also shows that:
 
- the proportion of excess to nutrition status of the adults in Bogor for a group of people that seldom consumed trend food is 1.31 higher compare to that of group that never consumed trend food, and The group that often consumed trend food is 2.97 higher compare to that of group that never consumed trend food.
 
Meanwhile the proportion of excess of nutrition status of the female adults is 2.29 higher than male adults.
 
There is interaction between the habit of having trend food factor and gender that is related to excess of nutrition status of the adults in Bogor. The female group that seldom (1-4 times/month) consumed trend food; the proportion of their excess of nutrition status is 0.73 more than the male group that seldom consumed it. The proportion of excess of nutrition status of the female adults that often consumed trend food is 0.32 higher than the male group that often consumed trend food.
Read More
T-1319
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chandra Ilham El Anwary Junior; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Syahrizal Syarif, Lina R. Mangaweang
Abstrak: Remaja merupakan kelompok usia yang penting bagi bangsa. Namun, remaja rentan mengalami masalah mental, salah satunya gangguan mental emosional. Dari data Riskesdas 2018, didapatkan prevalensi gangguan mental emosional usia remaja 15-24 tahun sebesar 10%. Angka ini diatas angka prevalensi nasional. Sementara itu, Provinsi Jawa Barat yang memiliki jumlah usia produktif tertinggi sei-Indonesia termasuk ke dalam 10 besar Provinsi dengan prevalensi gangguan mental emosional tertinggi seIndonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor yang berhubungan dengan kejadian gangguan mental emosional pada remaja usia 15-24 tahun di Jawa Barat pada tahun 2018. Desain studi yang digunakan adalah studi cross-sectional dengan data lanjutan dari hasil Riskesdas 2018. Sampel yang digunakan pada penelitian ini ialah seluruh penduduk di wilayah Provinsi Jawa Barat yang berusia 15-24 tahun yang telah diwawancara dalam Riskesdas 2018 dan memiliki data lengkap. Total sampel pada penelitian ini, yaitu sebesar 10561 sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada remaja usia 15-24 tahun di Jawa Barat sebesar 11,2%. Prevalensi gangguan mental emosional tertinggi ditemukan pada remaja berjenis kelamin perempuan (13,3%), tingkat pendidikan rendah (11,7%), telah bercerai (12,2%), tidak bekerja (11,5%), status gizi yang kurus (13,8%), memiliki riwayat penyakit tidak menular (22,4%), mantan perokok (16,4%), dan mengonsumsi alkohol (27,0%). Berdasarkan hasil analisis multivariat, faktor yang paling dominan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian gangguan mental emosional, ialah konsumsi alkohol (PR = 2,43, 95%CI: 1,92-3,06). Kemudian, diikuti dengan jenis kelamin, perilaku merokok, riwayat penyakit tidak menular, dan status pekerjaan.
Kata kunci: Gangguan Mental Emosional, Faktor-faktor, Remaja, Jawa Barat

Adolescents are an important age group for the nation. However, adolescents are prone to experiencing mental problems, one of which is emotional mental disorders. From the 2018 Riskesdas data, the prevalence of mental emotional disorders in adolescents 15-24 years was 10%. This figure is above the national prevalence rate. Meanwhile, West Java Province, which has the highest number of productive ages in Indonesia, is among the top 10 provinces with the highest prevalence of emotional mental disorders in Indonesia. This study aims to determine the relationship between factors associated with the incidence of emotional mental disorders in adolescents aged 15-24 years in West Java in 2018. The study design used was a cross-sectional study with follow-up data from the results of the 2018 Riskesdas. Samples used in this study are all residents in West Java Province aged 15-24 years who have been interviewed in Riskesdas 2018 and have complete data. The total sample in this study, amounting to 10561 samples. The results of this study indicate the prevalence of emotional mental disorders in adolescents aged 15-24 years in West Java by 11.2%. The highest prevalence of mental emotional disorders was found in female adolescents (13.3%), low education level (11.7%), divorced (12.2%), unemployed (11.5%), underweight nutritional status (13.8%), had a history of non-communicable diseases (22.4%), were former smokers (16.4%), and consumed alcohol (27.0%). Based on the results of multivariate analysis, the most dominant risk factor has a significant relationship with the incidence of mental emotional disorders, is alcohol consumption (PR = 2,43, 95%CI: 1,92-3,06). Then, followed by gender, smoking behavior, history of non-communicable diseases, and employment status.
Key words: Emotional Mental Disorder, Determinants, Adolescents, West Java
Read More
S-10313
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tasya Nabila Purwaningtyas; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Trisari Anggondowati, Rakhmat Ari Wibowo
Abstrak:

Kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit tidak menular (PTM) yang sering kali tidak disadari. Data WHO menunjukkan bahwa lebih dari 85% remaja Indonesia kurang melakukan aktivitas fisik. Masa remaja penting sebagai tahap awal pembentukan kebiasaan aktivitas fisik agar kebiasaan ini dapat terbawa hingga dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat aktivitas fisik serta faktor-faktor yang berhubungan dengan aktivitas fisik kurang pada remaja dan dewasa muda di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data berasal dari SKI 2023, dengan sampel sebanyak 164.061 individu usia 10–24 tahun. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji regresi logistik sederhana, serta multivariat menggunakan regresi logistik ganda untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan aktivitas fisik. Sebanyak 40,4% responden beraktivitas fisik kurang. Aktivitas fisik kurang berasosiasi dengan usia muda 10-17 tahun (PR = 1,54; 95%CI = 1,5156 – 1,5595), jenis kelamin perempuan (PR = 1,12; 95%CI = 1,1060 – 1,1330), tidak bekerja/bersekolah (PR = 1,13; 95%CI = 1,1340 – 1,1650), dan IMT underweight (PR = 1,09; 95%CI = 1,0642 – 1,1081). Tidak ditemukan hubungan signifikan antara status ekonomi dengan aktivitas fisik dalam model akhir pada penelitian ini. Aktivitas fisik kurang masih menjadi masalah signifikan pada remaja dan dewasa muda di Indonesia. Faktor usia, jenis kelamin, status pekerjaan/sekolah, dan IMT berperan penting dalam mempengaruhi tingkat aktivitas fisik. Diperlukan intervensi yang disesuaikan dengan karakteristik demografis untuk meningkatkan aktivitas fisik kelompok usia muda.


Physical inactivity is one of the main risk factors for non-communicable diseases (NCDs), yet it often goes unnoticed. WHO data indicate that more than 85% of Indonesian adolescents engage in insufficient physical activity. Adolescence is a critical period for establishing physical activity habits that may carry into adulthood. This study aims to analyze physical activity levels and associated factors contributing to physical inactivity among adolescents and young adults in Indonesia, based on the 2023 Indonesia Health Survey (SKI). A cross-sectional study design with a quantitative approach was employed. Data were drawn from SKI 2023, comprising a sample of 164,061 individuals aged 10–24 years. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using simple logistic regression, and multivariate analysis using multiple logistic regression to identify associated factors. A total of 40.4% of respondents were classified as having physical inactivity. Insufficient activity was associated with younger age (10–17 years) (PR = 1.54; 95%CI = 1.5156 – 1.5595), female gender (PR = 1.12; 95%CI = 1.1060 – 1.1330), being unemployed or not in school (PR = 1.13; 95%CI = 1.1340 – 1.1650), and underweight BMI (PR = 1.09; 95%CI = 1.0642 – 1.1081). No significant association was found between economic status and physical activity in the final model of this study. Physical inactivity remains a significant issue among adolescents and young adults in Indonesia. Age, gender, occupational/school status, and nutritional status (BMI) play a key role in influencing physical activity levels. Targeted interventions tailored to demographic characteristics are needed to improve physical activity in younger age groups.

Read More
S-12149
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive