Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33086 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Masrul Salim; Pembimbing: H.E. Kusdinar Achmad; Penguji: Yayuk Hartriyanti, Widyati N. Santoso, Siti Sumartini
Abstrak:
Petugas laboratorium Puskesmas Rujukan Mikroskopis merupakan tenaga yang sangat menentukan keberhasilan program P2TB dilingkungan wilayah kerja Sumatera Barat. Oleh karena itu tenaga laboratorium haruslah terampil dan memiliki kinerja yang baik. Tolok ukur kinerja adalah tingkat kesalahan pemeriksaan mikroskopis basil uji silang yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat bekerja sama dengan Balai Laboratorium Kesehatan Padang. Masih tingginya angka tingkat kesalahan di Sumatera Barat menunjukkan bahwa petugas laboratorium puskesmas terutama laboratorium PRM di Sumatera Barat belum memperlihatkan hasil yang diharapkan, dengan perkataan lain kinerja petugas laboratorium PRM belum baik. Tujuan penelitian ini adalah diperolehnya informasi tentang kinerja petugas laboratorium PRM Berta faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas laboratorium PRM di Sumatera Barat. Faktor-faktor tersebut adalah pembinaan pimpinan, prosedur tetap, masa kerja, beban kerja, motivasi dan sarana kerja. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Sampel penelitian adalah petugas laboratorium PRM yang ada di Sumatera Barat yaitu sebanyak 40 petugas. Data yang dikumpulkan merupakan data primer yang dilakukan dari 9 Oktober sampai 11 November 2000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja petugas laboratorium PRM di Sumatera Barat baik 57,5%. Faktor pembinaan pimpinan, prosedur tetap, masa kerja, motivasi kerja dan kelengkapan sarana mempunyai hubungan yang bermakna dengan kinerja petugas laboratorium. Sedangkan pembinaan pimpinan merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja petugas. Penelitian ini menyarankan agar pembinaan oleh pimpinan dengan cara merobah pola manajemen puskesmas yang ada sekarang.

Relationship of Factors with the Performance of Laboratory Workers of Microscopic Referral Community Health Center in West Sumatera in the Year 2000Microscopic Referral Community Health Center laboratory workers are very important personnel in achievement of P2TB program in the work area of West Sumatera. Therefore, the laboratory workers must be skillful and have good performance. The performance standard of the laboratory workers is the level of inaccuracy of the result of cross-microscopic examination done by the Health Office of the West Sumatera Province in cooperation with Padang Health Laboratory Center. The high level of inaccuracy in West Sumatera indicates that the community health center laboratory workers especially the PRM laboratory in West Sumatera have not indicated good result, in other words, the performance of the PRM laboratory is not good yet. The purpose of this research is to obtain information regarding the performance of the PRM laboratory workers and factors related to the performance of the PRM laboratory workers in West Sumatera. The factors are guidance by the leaders, fixed procedure, tenure, work load, motivation and facilities. This research used the cross sectional design. Sample of this research is the PRM laboratory workers that are available in West Sumatera namely 40 workers. The data collected are primary one and it was conducted from October 9 to November 11, 2000. The research result indicates that the PRM laboratory workers in West Sumatera who have good performance are 57.5%. The factors such as guidance by the leadership, fixed procedure, tenure, work motivation and availability of facilities have significant relationship with the performance of laboratory workers. While the leadership training is a predominant factor that affects the workers performance. This research suggests that guidance by the leader needs to be done better, in order to change the management pattern of the existing community health center.
Read More
T-880
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Helni; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Yayuk Hartriyanti, Mochamad Hasan, Anwar Hasan
Abstrak:

Tuberculosis merupakan penyakit infeksi penyebab kematian terbesar di dunia dimana jumlah penderita tuberculosis di Indonesia adalah nomor tiga terbesar di dunia, dan merupakan penyebab kematian nomor empat di Propinsi Jambi.Indonesia sejak tahun 1995/1996 telah melaksanakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse), dimana untuk melaksanakan strategi ini telah dibentuk Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Salah satu komponen yang berperan adalah petugas laboratorium dalam pemeriksaan sputum secara mikroskopis. Kinerja petugas Laboratorium PRM di Propinsi Jambi masih rendah, yang terlihat dari hasil cross check yang dilakukan oleh Balai Laboratorium Kesehatan Jambi mempunyai tingkat kesalahan diatas 5%.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai gambaran kinerja dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas laboratorium dalam pemeriksaan mikroskopis BTA + pada PRM di Propinsi Jambi. Penelitian ini merupakan studi observational dengan rancangan cross sectional. Sampel yang diambil adalah populasi total, dengan jumlah sampel sebanyak 38 orang petugas Laboratorium PRM. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi menggunakan instrument berupa kuesioner dan check list.Hasil penelitian menemukan, pada tingkat kepercayaan 95%, terdapat hubungan yang signifikan antara faktor internal seperti pendidikan, pelatihan, motivasi, dan faktor eksternal seperti supervisi, sarana dan prasarana, prosedur tetap, dan imbalan terhadap kinerja petugas laboratorium. Diantara variabel supervisi, pendidikan, pelatihan, imbalan dan prosedur tetap yang paling berhubungan adalah supervisi, diantara variabel motivasi, pendidikan, pelatihan, imbalan dan supervisi yang paling berhubungan adalah supervisi, sedangkan diantara variabel pendidikan, pelatihan, imbalan, sarana prasarana yang paling berhubungan adalah pendidikan.Upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung program pemerintah dalam pemberantasan tuberculosis, khusus dibidang laboratorium diantaranya adalah dengan melakukan supervisi oleh pimpinan secara terjadwal serta melengkapi sarana dan prasarana sesuai dengan kondisi puskesmas.Daftar bacaan : 47 (1974 - 2001)


 

Analysis of Factor that Related to Microscopic Referral Health Center Laboratory Officer's Performance at Jambi Province, 2002.Tuberculosis is an infection disease that causes the biggest death in the world, which the number of tuberculosis sufferers in Indonesia was the third biggest in the world, and as the number four causes of death in Jambi Province.Since 1995/1996 Indonesia has conducted the Directly Observed Treatment Short Course (DOTS), where to did this strategy has been established Microscopic Referral Health Center (MRH}. One of the component that having role was the laboratory officer who checking the sputum microscopically. The performance of MRH officer at Jambi Province is still low, it was seen from the result of cross-check that conducted by the Health Laboratory Center of Jambi that having error level over than 5%.The objective of this study is to obtain an information on the description of performance and the factors that related to the performance of laboratory officer in checking the BTA microscopic + on MRH at Jambi Province. This study was as observation study by cross-sectional design. The sample that taken was total population, with the number of sample was 38 MRH laboratory officers. The data collection that conducted was in-depth interview and observation using instrument in the form of questionnaire and checklist.The result of this study found that on the level of belief was 95%, there was significant relationship between internal factor, such as education, training, motivation, and external factor such supervision, means and infrastructure, permanent procedure, also income of laboratory officer's performance. Between supervisor variable, education, training, income and permanent procedure that the most relationship was supervision.Between motivation variable, education, training, income and supervision that the most having relationship was supervision, whereas between education variable, training, income, means and infrastructure that the most having relationship was means and infrastructure.The effort that can be done to support the government program in combating tuberculosis, especially in the field of laboratory, among others doing supervision by the leader as schedule and accompanied with the means and infrastructure that correspond to the health center condition.References: 47 (1974-2001).

Read More
T-1251
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuswati; Pembimbing: Adang Bachtiar
T-792
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edison Sinurat; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Mieke Savitri, Anwar Hassan, Nur Ginting
Abstrak: Telah dilakukan penelitian faktor-faktor yang berhubungan dengan petugas pengelola obat Puskesmas di Kabupaten Lampung Timur tahun 2005. Menurut Gibson (1987) ada tiga variabel yang dapat mempengaruhi perilaku dan penampilan kerja (kinerja) seseorang yaitu variabel individu, variabel organisasi, dan variabel psikologi. Ketiga variabel (termasuk sub variabel kompetensi, status pekerjaan dan sarana kerja diantaranya) tersebut mempengaruhi apa yang akan dikerjakan oleh seseorang, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai. Dengan demikian semestinya faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian yang serius agar tidak menimbulkan dampak terhadap kinerja seseorang. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional, untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas pengelola obat Puskesmas pada waktu bersamaan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Lampung Timur dengan mengambil lokasi di seluruh Puskesmas. Sumber data diambil dari seluruh petugas pengelola obat Puskesmas yang dijadikan sebagai responden penlitian. Pengambilan dan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen pengumpul data oleh petugas khusus yang terlebih dahulu telah diberikan pemahaman bagaimana cara responden menjawab kuesioner secara jujur, faktual dan benar, tanpa ada rekayasa. Hasil penelitian dengan menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa secara umum faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas pengelola obat Puskesmas di Kabupaten Lampung Timur seperti faktor kompetensi, status pekerjaan, sarana kerja serta pengalaman kerja menunjukkan tingkat kondisi cukup baik. Kecuali faktor motivasi dan imbalan menunjukkan kondisi sebaliknya. Namun dilihat dari kondisi kinerja petugas pengelola obat Puskesmas di Kabupaten Lampung Timur dilihat dari fungsi penerimaan, penyimpanan, pendistribusian serta pencatatan dan pelaporan justru memperlihatkan kondisi kurang optimal, khususnya fungsi penyimpanan dan pencatatan pelaporan sangat kurang optimal. Hal ini menunjukkan bahwa tidak cukup seorang petugas memiliki pengalaman cukup, kompetensi tinggi, status yang diakui serta sarana kerja memadai akan menampilkan kinerja baik bila tidak memiliki motivasi yang tinggi dan imbalan yang memadai serta faktor-faktor pengaruh lainnya. Kata kunci: kinerja penyimpanan, pencatatan pelaporan, motivasi, dan imbalan.
Read More
T-2142
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tariswan; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Pujiyanto, Diana, Wikandono
T-3574
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Handayani; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Purnawan Junadi, Amila Megraini
S-7105
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ginting; Pembimbing: Amila Megraini; Penguji: Jaslis Ilyas, Adang Bachtiar, Zaenal Komar, A.Y.G. Wibisono
T-2492
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syaelendra; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono
Abstrak:
Di Indonesia angka kematian ibu secara Nasional berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 1995 adalah 390 per 100.000 kelahiran hidup, yang merupakan angka tertinggi di antara negara-negara ASEAN (Dep. Kes. RI 1998). Berbagai upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi telah banyak dilakukan, salah satu diantaranya adalah peningkatan upaya pelayanan kesehatan dengan jalan mengikutsertakan oraganisasi/sektor terkait serta lembaga swadaya masyarakat dalam menunjang kesejahteraan ibu dan anak. Disamping itu, pemerintah telah menyebarkan bidan ke desa untuk membantu akselerasi penurunan angka kematian ibu dan bayi serta memperluas jangkauan pelayanan yang telah ada sekaligus meningkatkan cakupan program kesehatan ibu dan anak (KIA). Penelitian bertujuan untuk memperoleh gambaran kinerja bidan di desa dalam pelayanan antenatal (ANC) dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan desa. Kinerja bidan di desa diukur dengan hasil cakupan K4. Kinerja baik bila cakupan K4 > 80% dan kinerja kurang bila cakupan K4 < 80%. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Agam dengan menggunakan rancangan penelitian Cross Sectional. Sampel penelitian adalah bidan di desa yang bertugas di Kabupaten Agam dan pengambilan sampel dilakukan dengan cara sistematik random sampling sebanyak 100 orang, Hasil penelitian menunjukkan 78% kinerja bidan di desa di Kabupaten Agam masih kurang dan 22% dengan kinerja baik. Penelitian menunjukkan bahwa kinerja bidan di desa di Kabupaten Agam masih kurang. Faktor-faktor berikut ini, umur, status perkawinan, penghasilan, supervise Dinas Kesehatan Kabupaten dan kondisi kerja (gedung), mempunyai hubungan yang bermakna terhadap kinerja bidan di desa. Sedangkan faktor jumlah anak, pelatihan, masa kerja, rasa aman, dan perlengkapan kerja tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kinerja bidan di desa. Penelitian ini menyarankan agar : 1. Pemerintah daerah menyediakan biaya operasional untuk pelatihan daiam rangka meningkatkan profesionalisme bidan di desa sehingga cakupan K4 meningkat. 2. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Agam : a. Melakukan upaya dalam bentuk penegasan kepada Kepala Puskesmas tentang tugas dan wewenang bidan di desa agar cakupan K4 meningkat. b. Meningkatkan profesionalisme bidan di desa melalui kegiatan : -Pertemuan sekali tiga bulan di tingkat Kabupaten. -Pertemuan bulanan di Puskesmas. -Pemberdayaan belajar melalui Kalakarya dan Gugus Kendali Mutu. -Memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.

Analysis on Factors Which are Related to the Performance Villages Mid Wives in Antenatal Care Services (ANC) In Agam District, West Sumatera, October - December 2000Based on Indonesian Demographic Survey (1995), the Maternal Mortality Rate (MMR), in Indonesia were 390 per 100,000 life birth, which is the highest number of the ASEAN countries (Indonesian Department of Health, 1998). There are some programs to decrease number of Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR). One of the programs is to increase of health services by following the relevant sector and non government organization. Also the government has been already spread the village mid wives to decrease Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) number and to widening the health services. The purpose of this research is to know how the performance of the village mid wives in the Antenatal Care services and some related factors. The performance of the village mid wives is measures by four times health services visits. Good performance can be measures if the four times health services visits is 80% or more. Bad performance can be measures if the four times health services visits is less 80%. The research had already done in Agam district, West Sumatera Province by using Cross Sectional Random Sample. The sample of this research is village mid wives which were working in Agam district and by using Systematic Random Sampling method for 100 villages mid wives. The result of the research showed that 78% performance of the villages mid wives in Agam district still bad and 22% are good. There are some factors related to this performance such as age, marital status, salary, upper level health offices, supervision and working facilities. The unrelated factors to this performance are number of children, working duration, training, the mid wives feels of secure and nurse working kit. This research suggested that: 1. For District Government, is to provide the operational costs for trainings in order to increase the professionalism of mid wives at villages to increase K4. 2. For Agam District Health Department: a. Stressing the Head of Health Center about job and responsibility of mid wives at villages to increase K4. b. Increasing mid wife professionalism, through activities such as: -Once in three months meeting at District Level. -Monthly meeting at the Health Center. -Empowerment through Kalakarya learning and Total Quality Management. -Give prime quality services to pregnant mother.
Read More
T-1003
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iskandar; Pembimbing: Agustin Kusumayati
T-776
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
John Sihar Tony Marbun; Pembimbing: Mieke Savitri, Sandi Iljanto
T-1880
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive