Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40916 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Johanes Edy Siswanto; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Ko Promotor: Soemantri, Rita S. Sitorus; Penguji: Sudijanto Kamso, Ratna Djuwita, Asri C. Adisasmita, Iswari Setianingsih, Ratna Sitompul
Abstrak: Latar Belakang: Retinopati Prematuritas atau ROP merupakan gangguan vaskular retina bayi prematur yang dapat menyebabkan pelepasan retina dan terjadinya kebutaan. Variasi gen Norrie disease Pseudoglioma (NDP) serta paparan oksigen diduga terlibat dengan kejadian dan perkembangan ROP.
  
Tujuan: Mengetahui peran variasi NDP serta faktor layanan neonatal khususnya paparan oksigen dalam memprediksi kejadian ROP pada bayi prematur Indonesia. Metodologi: Studi dilaksanakan tahun 2009-2014 di beberapa pusat pelayanan perinatologi dan mata sekitar Jakarta. Sebanyak 6 situs mutasi pada ekson 3 dideteksi yaitu C597A, L108P, R121W, A105T, Val60Glu, dan C110G. Perubahan susunan basa gen NDP dianalisis dengan mengampilifikasi gen NDP bagian ekson 3 menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR-RFLP dan PCR-SSP). Hasil diverifikasi dengan sekuensing DNA. Model multivariat hasil analisis regresi logistik dan regresi Cox digunakan sebagai model skoring untuk memprediksi kejadian dan keparahan ROP.
 
 
Hasil: Tidak ditemukan polimorfisme dan mutasi pada situs NDP exon 3. Hasil analisis multivariat didapatkan BBL, PJT(NCB-KMK), transfusi tukar, lama suplementasi O2, SpO2 terendah, dan sosial ekonomi sebagai variabel yang berhubungan dengan kejadian ROP. Sedangkan dalam hubungannya dengan keparahan ROP, didapatkan usia gestasi, lama suplementasi O2 > 7 hari, SpO2 terendah, rujukan RS, dan sosial ekonomi.
 
 
Kesimpulan: Tidak didapatkan polimorfisme dan mutasi gen NDP exon 3 pada kasus ROP bayi prematur Indonesia. Lama suplementasi O2 dan nilai SpO2 terendah mempunyai peran dalam meningkatkan risiko kejadian dan berkembangnya ROP menjadi lebih berat.
 

 
Background: Retinopathy Prematurity or ROP is retinal vascularization disorder on premature infants that causing retina detachment and eventually blindness. NDP gene mutation and oxygen exposure might have role in incidence of ROP.
 
 
Objective: This study was conducted to determine the role of NDP gene polymorphism and mutation, and oxygen exposure for predicting the incidence of ROP in Indonesia.
 
 
Methodology: Data were collected from few Perinatology and Opthalmology centres around Jakarta during 2009-2014. DNA samples isolated from blood and buccal cell. This study tried to detect 6 mutations site on exon 3 of NDP gen which are C597A, L108P, R121W, A105T, Val60Glu, and C110G. Alterations of NDP gene were analized with amplification of NDP gene in exon 3 region using Polymerase Chain Reaction (PCR-RFLP dan PCR-SSP) methods. The result verified with DNA sequencing. Scoring model were made by using logistic regression to predict the incidence and development of ROP.
 
Result: No NDP gene polymorphism and mutations at exon 3 region was detected. The result have been analized with PCR-RFLP and verified with DNA sequencing. Multivariate analysis using logistic regression for incidence of ROP retain birth weight, IUGR, gender, respiratory distress, exchange transfussion, length of O2 supplementation, SpO2 minimum, and socioeconomic variables. As for ROP severity, multivariate analysis retain gestational age, gender, access to hospital (inborn/outborn), apnea, length of O2 supplementation, SpO2 minimum, and socioeconomic variables.
 
Conclusion: The relationship between polymorphisms and mutations of NDP gene and ROP cases that happened in Indonesian premature infants population did not showed in this study. Length of O2 supplementation and minimum value of SpO2 85 - 90% significantly increase the risk for ROP incidence and development of severe ROP.
Read More
D-319
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maygita Brilian Puspa Wardhani; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Chita Septiawati
Abstrak: Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit tidak menular kronis yang masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia pada penduduk usia tua maupun usia muda. Sementara itu, PJK di Provinsi NTT memiliki prevalensi 3 kali lebih tinggi berdasarkan diagnosis dokter/gejala dibandingkan dengan angka prevalensi nasional yang hanya sebesar 1,5% pada tahun 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kejadian PJK pada penduduk usia ≥15 tahun di Provinsi NTT tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2013 dengan desain cross sectional. Sampel adalah seluruh penduduk berusia ≥15 tahun di Provinsi NTT yang terpilih dan berhasil diwawancarai, dilakukan penimbangan bb dan tb serta memiliki data yang lengkap. Hasil penelitian didapatkan adanya hubungan yang bermakna (nilai p ≤0,05) antara umur, hipertensi, obesitas, diabetes mellitus, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, konsumsi makanan berisiko, tingkat pendidikan, pekerjaan dan status perkawinan dengan kejadian PJK pada penduduk usia ≥15 tahun. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini terhadap faktor risiko PJK serta gaya hidup sehat perlu dilakukan sedini mungkin. Kata kunci: faktor risiko, penyakit jantung koroner, NTT
Read More
S-8619
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erni Nurdin; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Lukman Hakim
S-4354
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khisnul Khasanah; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Nansrin Kodim, Titi Sari Renowati
S-6121
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muliana; Pembimbing: Doni Hikmat Ramadhan
S-3202
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwijo Siswoyo; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo
S-2521
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rivanna Latifa; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Artha Prabawa, Esty Wahyuningsih
Abstrak:

Pendahuluan Kementrian Kesehatan sedang berkomitmen untuk melakukan transformasi system Kesehatan guna meningkatkan layanan kesehatan yang lebih baik, merata, dan berkualitas bagi Masyarakat. Terdapat 6 pilar utama untuk menopang SKN. Melalui Keputusan Kemenkes RI No HK.0107/Menkes/11983/2022 ditaur mengenai penerapan sistem pemerintahan berbasis elektronik bidang kesehatan dan strategi transformasi digital kesehatan. Tetapi Kemenkes telah mempunyai banyak aplikasi pada setiap program. Pada Pada program KIA, ada 6 aplikasi yang terkait yaitu: e-Kohort, Komdat, EPPGBM, RME, ASIK dan SIP. E-Kohort dan EPPBGM merupakan aplikasi KIA yang mempunyai sasaran sama dan isian data yang sama. Sehingga perlu analisis untuk mengetahui gap pada kedua aplikasi tersebut. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Melakukan analisis secara komprehensif terhadap sistem pencatatan dan pelaporan KIA di E-Kohort dan EPPGBM di Jakarta Pusat. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan pendekatan Performance of Routine Information System Management (PRISM) Framework, dengan melihat pada aplikasi E-Kohort dan EPPBGM di Puskesmas didaerah Jakarta Pusat. Hasil dan Pembahasan Terjadinya perbedaan sasaran pada E-Kohort dan EPPBGM, yang mengakibatkan penjaringan permasalahan gizi di Ibu dan Anak juga tidak berjalan dengan baik. E-Kohort dan EPPBGM mempunyai isian data yang sama, meskipun E-Kohort lebih lengkap dibandingkan EPPBGM. Sehingga lebih efisien untuk dilakukan peleburan pada kedua aplikasi tersebut.


Introduction
The Ministry of Health is committed to transforming the national health system in order to provide better, more equitable, and higher-quality healthcare services for the population. There are six main pillars that support the National Health System (SKN). Through the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. HK.0107/Menkes/11983/2022, the implementation of an electronic-based government system in the health sector and a digital health transformation strategy has been regulated. However, the Ministry of Health currently operates numerous applications for each health program. In the Maternal and Child Health (MCH) program, there are six related applications: e-Kohort, Komdat, EPPGBM, RME, ASIK, and SIP. Among them, e-Kohort and EPPGBM are MCH applications that target the same population and collect similar data. This overlap necessitates an analysis to identify the gaps between the two systems.
Objective
This study aims to conduct a comprehensive analysis of the MCH recording and reporting systems in e-Kohort and EPPGBM in Central Jakarta.
Methods
This is a qualitative study using the Performance of Routine Information System Management (PRISM) framework, focusing on the use of e-Kohort and EPPGBM applications in community health centers (Puskesmas) located in Central Jakarta.
Results and Discussion
The study found inconsistencies in target populations between e-Kohort and EPPGBM, which have led to ineffective identification and management of maternal and child nutrition issues. Although both applications require similar data inputs, e-Kohort provides a more comprehensive dataset than EPPGBM. Therefore, integrating or merging the two systems would be a more efficient solution.

 

 

Read More
S-11998
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prasenohadi
JRI Vol.28, N0.1
Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yvonne Suzy Handajani, Charles Surjadi
MKP Vol.11, No.1
Jakarta : PPK Universitas Katolik Atma Jaya, 2004
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Laras Suminar; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Ede Surya Darmawan, Vetty Yulianty Permanasari, Franz Sinatra Yoga, Purwa Kurnia Sucahya
Abstrak:

Tantangan yang dihadapi RSU GMC dalam mengelola biaya pelayanan kesehatan, khususnya pada tindakan operasi pterygium yang memiliki variasi rawat inap dan rawat jalan pada pelayanannya, di tengah sistem pembayaran berbasis INA-CBGs BPJS Kesehatan yang seringkali tidak mencerminkan biaya riil pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya satuan dan tingkat pemulihan biaya (Cost Recovery Rate/CRR) pada layanan operasi pterygium di RSU GMC, Pesawaran Lampung tahun 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kuantitatif melalui analisis biaya menggunakan metode Double Distribution dan Relative Value Unit (RVU), serta pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan informan kunci di rumah sakit. Data yang dikumpulkan meliputi biaya investasi, operasional, dan pemeliharaan untuk seluruh unit terkait selama tahun 2024, baik biaya langsung maupun tidak langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya yang dikeluarkan RSU GMC untuk seluruh pelayanan rumah sakit pada tahun 2024 mencapai Rp18,4 miliar, dengan proporsi terbesar dialokasikan untuk biaya operasional (74%), diikuti investasi (25%) dan pemeliharaan (1%). Biaya satuan tindakan operasi pterygium rawat inap bervariasi menurut kelas, mulai dari Rp8.393.130 (VVIP) hingga Rp5.758.508 (kelas 3), sedangkan estimasi jika dilakukan rawat jalan sebesar Rp3.222.238 untuk metode konjungtival graft dan Rp2.680.442 untuk metode bare sclera. Terdapat selisih negatif yang signifikan antara unit cost aktual dan tarif INA CBGs, dengan tingkat pemulihan biaya (CRR) pada rawat inap hanya 80-87% dan rawat jalan 49-58%. Rekomendasi penelitian yaitu evaluasi ulang terhadap perjanjian KSO alat operasi, pengkajian ulang jasa medis, serta optimalisasi utilitas SDM dan ruang operasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tarif INA CBGs belum mampu menutupi biaya riil pelayanan operasi pterygium di RSU GMC, baik pada layanan rawat inap maupun rawat jalan, sehingga diperlukan evaluasi biaya rumah sakit dan efisiensi internal agar keberlanjutan dan mutu pelayanan tetap terjaga. 


 

The main challenge faced by RSU GMC in managing healthcare service costs is related to providing pterygium surgery, which includes both inpatient and outpatient care, within the limitations of the INA-CBGs payment system under BPJS Kesehatan that often does not reflect the actual service costs. This study aims to analyze the unit cost and cost recovery rate (CRR) of pterygium surgery services at RSU Gladish Medical Center (GMC) Pesawaran, Lampung, in 2024. The research applies a case study method with a quantitative approach using cost analysis based on the Double Distribution and Relative Value Unit (RVU) methods, supported by a qualitative approach through in-depth interviews with key hospital informants. The data collected include investment, operational, and maintenance costs for all related units in 2024, covering both direct and indirect costs. The results show that the total hospital expenditure in 2024 reached IDR 18.4 billion, with the majority allocated to operational costs (74%), followed by investment (25%) and maintenance (1%). The unit cost of inpatient pterygium surgery varied by class, from IDR 8,393,130 for VVIP to IDR 5,758,508 for Class 3. For outpatient procedures, the estimated cost was IDR 3,222,238 for the conjunctival graft method and IDR 2,680,442 for the bare sclera method. There is a significant negative gap between the actual unit cost and the INA-CBGs tariff. The CRR for inpatient care ranges from 80% to 87%, while for outpatient care it is lower, between 49% and 58%. Based on these findings, it is recommended that the hospital conduct a comprehensive review of the surgical equipment partnership agreement, reassess medical service fees, and optimize the use of human resources and operating room capacity. This study concludes that the INA-CBGs tariff does not sufficiently cover the actual costs of pterygium surgery at RSU GMC, for both inpatient and outpatient services. Therefore, regular cost evaluation and internal efficiency improvements are crucial to maintain the sustainability and quality of healthcare services.

Read More
B-2544
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive