Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2748 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Badan Pusat Statistik
R 310 BAD k
Jakarta : BPS, 2015
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Buku II, Republika. hal : 65
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Enjelika Rakhmawati; Pembimbing: Helda; Penguji: Wahyu Septiono, Mutmainah Indriyati
Abstrak:
Latar Belakang: Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator mortalitas dalam mengukur derajat kesehatan suatu negara. Meskipun terjadi tren penurunan dalam kurun waktu satu dekade terakhir, nilai AKI nasional masih mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup, sedikit lebih tinggi dari target yang tercantum dalam RPJMN 2024 sebesar 183 per 100.000 kelahiran hidup serta menjadikan Indonesia sebagai peringkat kedua tertinggi di ASEAN dalam konteks kematian ibu. Kesenjangan dan ketidakadilan dalam mendapatkan layanan kesehatan ibu yang berkualitas menjadi faktor adanya disparitas AKI antar wilayah, terutama di wilayah Indonesia Timur. Masih tingginya AKI di Indonesia dan minimnya penelitian terkait determinan kematian ibu yang ditinjau di tingkat regional (cluster), menghambat upaya identifikasi strategi intervensi kesehatan yang lebih efektif guna percepatan penurunan AKI di Indonesia. Tujuan: Menganalisis pola determinan kematian ibu di Indonesia berdasarkan hasil pengelompokkan provinsi menggunakan metode K-Means Clustering. Metode: Desain studi ekologi dengan unit analisis berupa 34 provinsi di Indonesia. Data yang digunakan pada penelitian ini bersumber pada data Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023 dan Badan Pusat Statistik (BPS). Data akan diolah menggunakan analisis univariat, K-Means Clustering, dan analisis bivariat (uji korelasi Spearman). Hasil: Jumlah cluster yang optimal pada penelitian ini adalah 2 cluster di mana 30 provinsi berada pada cluster 0 (kurang berisiko) dan 4 provinsi di Indonesia Timur pada cluster 1 (lebih berisiko). Pada cluster 0, variabel persentase ibu hamil yang terdeteksi HbsAg reaktif (r = 0,662) dan persentase penduduk miskin (r = 0,394) menunjukan korelasi positif yang signifikan terhadap AKI. Sebaliknya, variabel IPM (r = -0,753), persentase kunjungan K6 (r = -0,605), persalinan di Fasyankes (r = -0,438), dan persentase kunjungan nifas lengkap (r = -0,377) menunjukkan korelasi negatif yang signifikan terhadap AKI. Pada cluster 1, variabel persentase penduduk miskin (r = 0,999) dan persentase ibu hamil yang terdeteksi positif HIV (r = 0,999) menunjukan korelasi positif yang signifikan terhadap AKI. Sebaliknya, variabel IPM (r = -0,999) menunjukkan korelasi negatif yang signifikan terhadap AKI. Kesimpulan: Terdapat perbedaan pola determinan kematian ibu antar cluster wilayah. Temuan ini menekankan pentingnya strategi intervensi yang sesuai dengan kondisi wilayah guna percepatan penurunan AKI di Indonesia.

Background: The Maternal Mortality Rate (MMR) is one of the mortality indicators used to measure the health status of a country. Although there has been a downward trend over the past decade, the national MMR still reaches 189 per 100,000 live births, slightly higher than the target set in the 2024 RPJMN of 183 per 100,000 live births, placing Indonesia as the second highest in ASEAN regarding maternal deaths. Disparities and injustices in accessing quality maternal health services are factors contributing to the MMR disparities across regions, particularly in Eastern Indonesia. The persistently high MMR in Indonesia and the lack of research on maternal mortality determinants analyzed at the regional (cluster) level hinder efforts to identify more effective health intervention strategies to accelerate the reduction of MMR in Indonesia. Objective: To analyze the patterns of maternal mortality determinants in Indonesia based on the clustering of provinces using the K-Means Clustering method. Method: An ecological study design with the unit of analysis being 34 provinces in Indonesia. The data used in this study comes from the 2023 Indonesian Health Profile and the Statistics Indonesia (BPS). Data will be processed using univariate analysis, K-Means Clustering, and bivariate analysis (Spearman correlation test). Results: The optimal number of clusters in this study is 2 clusters where 30 provinces are in cluster 0 (less at risk) and 4 provinces in Eastern Indonesia are in cluster 1 (more at risk). In cluster 0, the percentage of pregnant women detected with reactive HbsAg (r = 0.662) and the percentage of the population living in poverty (r = 0.394) show a significant positive correlation with MMR. Conversely, the HDI variable (r = -0.753), the percentage of K6 visits (r = -0.605), the percentage of deliveries in health facilities (r = -0.438), and the percentage of complete postpartum visit (r = -0.377) show a significant negative correlation with MMR. In cluster 1, the percentage of the population living in poverty (r = 0,999) and the percentage of pregnant women detected as HIV positive (r = 0,999) show a significant positive correlation with MMR. Conversely, the HDI variable (r = -0,999) shows a significant negative correlation with MMR. Conclusion: There are differences in the determinants of maternal mortality patterns among regional clusters. These findings emphasize the importance of intervention strategies that are tailored to regional conditions in order to expedite the reduction of MMR in Indonesia.
Read More
S-11891
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Teti Tejayanti; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Trihono, Putisari
Abstrak:

IPM merupakan indikator keberhasilan negara (pendidikan, kesehatan dan ekonomi). Kesehatan diukur dengan angka harapan hidup (AHH) yang perhitungannnya erat dengan angka kematian ibu dan anak. Metode : Analisa regresi logistic data sekunder : Riskesdas 2007 dan Susenas 2007 dan AHH BPS tahun 2007. Hasilnya indikator p value <0,05: persalinan oleh nakes (OR=6,590), imunisasi BCG (OR=2,686), prevalensi gizi kurang (OR=2,457) dan prevalensi diare (OR=1,893). Kesimpulan kabupaten/ kota dengan cakupan kurang baik mempunyai AHH ≤68,7 tahun lebih banyak. Kab/kota dengan prevalensi gizi kurang dan diare tinggi mempunyai AHH ≤68,7 tahun lebih banyak. Alokasi pembiayaan prioritas pada 52 kabupaten. Kata kunci : Angka harapan hidup, indikator anak, indikator ibu.


HDI (Human Development Index). HDI is measured by education, health and economic. From the health view point the measurement life expectancy (LE) at birth is heavily connected with child and maternal mortality. Methode with logistic regression analyzing data utilizing from Riskesdas 2007 and Susenas 2007 with LE from BPS 2007.Result: Indicators (p value < 0,05) are delivery helped by health providers (OR= 6.592), BCG immunization coverage (OR=2.686), prevalence of malnutrition (OR=2.457), prevalence of diarrhea ( OR=1.893). Conclusion: Districts/municipalities which have unsatisfactory category will have more LE ≤68,7 years. Districts/municipalities which have prevalence of malnutrition and diarrhea are high category will have more LE ≤68,7 years. Alocation budget must interes iteracy key words:Life expectancy, child health indicators, mother health indicators.

Read More
T-3309
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Departemen Kesehatan
615.1 IND k
Jakarta : Pusat Data Depkes, 2000
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosi Purnama Sari; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Hartono, Desy Mery Dorsanti
Abstrak: Pada tahun 2018, KLB diare di DKI Jakarta sebanyak 124 kasus yang tersebar di beberapa Kecamatan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan menganalisis secara statistik faktor lingkungan, permukiman kumuh dan bantaran sungai, kepadatan penduduk dengan kasus KLB diare di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan yakni studi ekologi dengan menggunakan data sekunder yang berasal dari data Potensi Desa Tahun 2018 dan data Kependudukan yang berasal dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta dan menampilkan hasil dengan analisis spasial, meliputi variabel-variabel kasus KLB diare, pembuangan sampah, tempat pembuangan sampah sementara (TPS), jamban keluarga, tempat pembuangan akhir tinja, pembuangan limbah cair, sumber air bersih, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai, dan kepadatan penduduk. Hasil penelitian ini ditemukan hubungan signifikan antara permukiman kumuh dengan kasus KLB diare tahun 2018 di DKI Jakarta. Secara spasial mengindikasikan adanya hubungan antara keberadaan TPS, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai dan kepadatan penduduk dengan kejadian KLB diare. Kesimpulan dari penelitian ini yakni kondisi sanitasi secara umum di DKI Jakarta memiliki kondisi yang lebih baik dari angka nasional, namun tingkat kepadatan peduduk di DKI Jakarta melebihi tingkat kepadatan nasional. Daerah tingkat kerawanan terjadi KLB diare yang tinggi terdapat pada 5 kecamatan. Upaya pencegahan peningkatan jumlah kasus KLB diare yang memiliki hubungan dengan sanitasi lingkungan sebaiknya dilakukan kerjasama dengan lintas sektor guna memenuhi cakupan sarana sumber air minum, pengelolaan tinja, pengelolaan limbah cair, relokasi permukiman, dan persebaran penduduk. Kata kunci: KLB diare, sanitasi, permukiman kumuh, kepadatan penduduk In 2018, outbreaks of diarrhea in DKI Jakarta were 124 cases spread across several districts. This research aims to provide an overview and statistically analyze environmental factors, slums and riverbanks, population density with the case of diarrhea outbreaks in DKI Jakarta in 2018. The design of the study uses an ecological study using secondary data from Potensi Desa 2018 data and Population data and presented the result with spatial analysis, including case variables Outbreaks of diarrhea, waste management, temporary landfills (TPS), family latrines, fecal landfills, disposal waste water, clean water, drinking water, slums, riverbank settlements, and population density. The results from this research found a significant association between slums and diarrhea outbreaks in 2018 in DKI Jakarta. Spatially indicate a relationship between the existence of temporary landfills, drinking water sources, slums, riverbank settlements and population density with the occurrence of diarrhea outbreaks. The conclusion from this research is that sanitation conditions in DKI Jakarta have better conditions than the national rate, but the population density in DKI Jakarta exceeds the national density level. Areas with high levels of vulnerability occur outbreaks of diarrhea that are high in 5 districts. To prevent the increasing number of cases of diarrhea outbreaks associated with environmental sanitation should be cooperation across the sector to meet the scope of drinking water, family latrines, disposal wastewater, settlement relocation, and population distribution. Keywords: diarrhea outbreak, sanitation, slums, population density
Read More
S-10499
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muliana; Pembimbing: Doni Hikmat Ramadhan
S-3202
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul. Pen. Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vol.16, No.1, Jan. 2013: hal. 88-98. ( ket. ada di bendel 2012-2013 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul. Pen. Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vol.17, No.3, Juli, 2014 : hal. 309-318. ( ket. ada di bendel 2013 - 2014 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rukmini, Zainul Nantabah
BPSK Vol.17, No.3
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive